Sabtu, 15 Maret 2014

Chapter 16 (END)

KYLE

Setelah melakukan penyelidikan dua minggu lama akhirnya hari ini aku akan mendapatkan laporan hasil penyelidikan tentang Leona Hamilton yang aku yakini sebagai Izzie. Istriku. Orang suruhanku baru saja pergi meninggalkan ruanganku setelah meletakkan sebuah amplop besar berwarna coklat di atas meja kerjaku.

Selama beberapa menit aku hanya memandangi amplop tersebut tanpa menyentuhnya sedikitpun. Dadaku bergemuruh dan berdetak tak beraturan. Aku merasa cemas dan takut untuk membukanya. Takut dengan kenyataan yang akan kuterima tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku mengambil amplop tersebut dan mulai membukanya dengan perlahan. Keringat dingin mulai membasahi wajahku, tanganku gemetaran membuka amplop itu. Tegang. Itulah yang aku rasakan saat memegang dan mulai membuka amplop ini.

Perlahan aku mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalamnya. Kemudian mulai membaca satu persatu rangkaian kata yang tersusun dan tercetak di kertas yang aku pegang. Dadaku semakin berdebar begitu hebatnya ketika membaca kertas-kertas itu.

Leona Hamilton adalah Lizzie Dickherber yang tak lain adalah istriku yang berbulan-bulan ini menghilang. Tepatnya pergi meninggalkanku karena kebodohan yang telah aku perbuat. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Perasaan senang dan hangat membuncah memenuhi rongga dadaku, meskipun aku masih tak mengerti mengapa istriku melakukan hal ini. Dan Ethan Hamilton itu adalah Eric Dill.

Setelah selesai membaca aku merapikan kertas-kertas itu dan memasukannya kembali ke dalam amplop. Dengan langkah pasti aku pergi meninggalkan ruanganku tak lupa sambil membawa amplop itu tentu saja. Aku melajukan mobilku menuju ke perusahaan milik Ethan atau Eric. Pantas saja tiba-tiba Eric menghilang tanpa kabar sedikitpun, karena ternyata ia menyamae menjadi Ethan Hamilton.

Yang harus aku lakukan saat ini adalah mengetahui alasan Eric mengapa ia sampai harus melakukan penyamaran ini bersama Izzie, istriku. Kau pikir siapa yang telah membuat Izzie pergi dan melakukan hal ini? Cibir kata hatiku. Oke, memang aku penyebab semua ini.

Kebodohanku yang telah membuat pernikahanku dan Izzie berada di ujung tanduk. Seharusnya aku tak percaya begitu saja dengan semua kata-kata Mary Jane. Semestinya aku memberikan Izzie kesempatan untuk menjelaskan, setidaknya aku harus tahu alasan Izzie seperti apa.

Namun apa yang kulakukan? Aku malah menuduhnya telah berselingkuh dengan Eric. Ya Tuhan, pria macam apa aku ini? Seharusnya aku tahu Izzie seperti apa, ia tak mungkin mengkhianatiku dengan pria lain. Tidak sepertiku yang terkadang berperilaku seperti seorang pria brengsek yang kadang lupa jika sudah memiliki seorang istri.

Bahkan yang terparah aku tidak mau mengakui bahwa bayi yang sedang di kandungnya saat ini adalah anakku, darah dagingku. Tuhan, maafkan aku karena aku kembali menyakiti istriku dan membuatnya menderita. Harusnya aku bersyukur memiliki istri seperti Izzie, ia benar-benar istri yang menjadi idaman para pria di balik sikapnya yang manja.

Aku hanya bisa berharap dan berdoa semua ini belum terlambat. Semoga Izzie mau memaafkan semua kesalahanku dan mau kembali lagi bersamaku. Semoga saja Tom tidak menghajarku dan membunuhku karena telah menyakiti adik kesayangannya. Aku telah mengkhianati kepercayaannya untuk menjaga Izzie.

Argh, kau sungguh bodoh Kyle. Pria terbodoh di muka dunia ini, pria pengecut yang mudah di bodohi dan di pengaruhi oleh orang lain. Aku terus merutuki semua kebodohanku. Andai saja aku tidak mengikuti emosi dan amarahku, saat ini pasti aku sedang menjalani hari-hariku bersama Izzie dengan bahagia. Tak sabar menanti kelahiran anak kami, karena sebelumnya Izzie sempat mengalami keguguran. Namun nasi sudah menjadi bubur, waktu tak bisa kuputar kembali. Aku hanya berharap Izzie mau memaafkanku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Setelah menempuh perjalanan yang agak jauh akhirnya aku sampai di perusahaan milik Eric. Aku langsung menyerobot masuk ke dalam ruangan Eric tanpa menggubris sekretarisnya yang memintaku untuk menunggu. Kebetulan sekali Leona maksudku Izzie ada disini. Bagus, aku jadi bisa langsung membicarakan dan meluruskan semuanya masalah ini.

"Ah, Mr. Dickherber kunjungan yang cukup mengejutkan sekali." Sapa Eric masih berpura-pura tidak menjadi Ethan Hamilton.

"Berhenti bersandiwara Eric, aku sudah tahu semuanya." Aku menjawab, bisa kulihat ekspresi terkejut di wajah Eric dan Izzie. "Jadi tak usah berpura-pura menjadi Ethan dan Leona Hamilton lagi di hadapanku." Cecarku.

"Ah, rupanya kau sudah tahu." Izzie yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Mengapa kalian melakukan ini?" Tanyaku sambil menatap Izzie dan Eric secara bergantian.

"Kau tahu alasannya mengapa aku melakukan semua ini, Kyle. Asal kau tahu akulah yang meminta Eric untuk menjalankan semua rencanaku. Dan asemua berhasil, buruanku sudah masuk perangkap." Jelas Izzie dengan tatapan datar.

"Aku tahu aku salah sayang, seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu. Tapi pada kenyataannya apa yang telah aku lakukan kepadamu dan bayi kita." Tuturku dengan pandangan yang tak lepas dari Izzie.

"Ah, sebaiknya aku pergi. Kalian membutuhkan privasi untuk menyelesaikan masalah kalian. Permisi." Eric pamit kemudian pergi meninggalkan aku dan Izzie di ruangannya.

"Kau tahu Kyle, bahwa perlakuanmu kepadaku pada hari itu sangat menyakitkan. Terlebih lagi ketika kau menuduhku berselingkuh dengan Eric, bahkan kau menuduhku sedang mengandung anaknya. Kau benar-benar kejam Kyle." Izzie mulai terisak, nafasnya naik turun menahan segala emosi yang hampir membuatnya meledak, "Mengapa kau bisa berpikiran sepicik itu kepadaku, Kyle? Bukankah kita ini sudah lama bersama, tapi  mengapa kau masih saja tidak mempercayaiku." Pertahannya yang di bangunnya sedari tadi akhirnya runtuh. Izzie menangis sesenggukkan dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.

Aku langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Menghirup aroma tubuhnya yang selama ini aku rindukan dan selalu memabukkanku. Hatiku terasa sakit, lagi-lagi aku membuat wanitaku menangis dan terluka.

"Tidak sayang, kumohon jangan menangis. Jangan membuatku semakin merasa bersalah, aku tak pantas untuk kau tangisi, Izzie." Bisikku sambil terus mengelus punggungnya dengan lembut.

"Aku menangis karena aku masih mencintaimu, Kyle. Tapi hatiku masih terluka oleh perbuatanmu kepadaku. Kau tahu aku mengetahui kehamilanku setelah tiga hari kepergianmu ke Paris. Aku ingin sekali memberitahumu tapi tidak lewat telepon." Tuturnya di iringi oleh suara isakkan.

"Maafkan aku sayang maafkan aku." Hanya itulah kata-kata yang bisa terucap dari bibirku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Kesalahanku benar-benar tak termaafkan.

Tiba-tiba Izzie menarik diri dari pelukanku. Matanya yang sembab menatapku dengan tatapan yang sayu. Terlihat jelas kesedihan dan luka yang teramat dalam di matanya. Dan penyebab kesedihan wanitaku adalah aku.

Aku benar-benar tak becus menjadi seorang suami dan calon ayah. Karena aku telah menyia-nyiakan istri dan calon anakku yang kini sedang tumbuh di dalam rahim istriku.

"Maafkan aku sayang, aku tahu bahwa kesalahanku sangat fatal dan tak termaafkan. Namun aku mohon, berilah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Aku menundukkan kepalaku sambil menggenggam erat kedua tangannya.

"Aku sudah memaafkanmu, Kyle. Sudah sejak lama aku memaafkan ssmua kesalahanmu." Ucapnya lirih, bisa kurasakan belaian hangatnya di puncak kepalaku.

"Benarkah itu, sayang?" Aku mendongkakkan kepalaku untuk menatapnya. Izzie hanya mengangguk, "Jadi maukah kau kembali kepadaku? Bersama-sama kita memulai semuanya dari awal?" Tanyaku dengan penuh kesungguhan.

Mendengar kata-kataku ekspresi wajahnya berubah menjadi murung. Sinar matanya meredup dan menampilkan kesedihan yang mendalam di dalam sana.

"Kau mau kan, sayang?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku. Namun Izzie hanya terdiam dengan pandangan yang terfokus kepadaku. Keheningan melingkupi kami selama beberapa menit.

Aku memilih untuk melakukan hal yang sama dengam Izzie. Aku harus bersabar, tak boleh terpancing lagi oleh emosiku. Sebaiknya aku nikmati saja keheningan ini, memandangi wajah Izzie dari jarak sedekat ini setelah sekian lama aku tak melihatnya.

"Aku sangat merindukanmu, Izzie." Gumamku lirih, namun Izzie masih tak bergeming. Diam. "Izzie, sayang." Panggilku lagi

Izzie menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar dan kembali menatapku. Entah apa yang sedang di pikirkam olehnya saat ini. Aku lebuh memilih Izzie memarahiku atau memakiku daripada mendiamkanku seperti ini. Aku jadi serba salah jika ia mendiamkan aku seperti ini.

"Kyle, sebesar dan sefatal apapun kesalahan yang kau buat aku hanya ingin kau tahu bahwa aku masih tetap mencintaimu. Karena bagaimana pun juga kau adalah ayah dari bayi yang sedang kukandung." Izzie menghentikan kata-katanya dan kembali menghela nafasnya, "Tapi untuk saat ini aku butuh waktu untuk diriku sendiri, Kyle. Setidaknya berikan aku waktu agar aku bisa menerimamu kembali." Lanjutnya.

"Maksudmu apa, sayang? Apakah, apakah kau berniat meninggalkanku dan memilih hidup bersama, Eric?" Tidak boleh, Izzie tidak boleh dengan siapapun. Hanya aku yang berhak untuk memilikinya, tak ada orang lain yang boleh memilikinya.

"See, kau sudah menuduhku lagi, Kyle. Aku hanya meminta waktu untuk diriku sendiri, tapi kau malah berkata bahwa aku akan tinggal bersama Eric." Wajah Izzie terlihat frustasi.

Bodoh kau Kyle bodoh. Kau menyakitinya lagi. "Maafkan aku sayang, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu, aku..."

"Cukup Kyle cukup, aku tak mau mendengarmu lagi. Aku rasa apa yang aku katakan sudah jelas. Untuk saat ini maaf aku tidak bisa kembali bersamamu." Izzie beranjak dari hadapanku setelah menyelesaikan kata-katanya.

Hatiku langsung remuk redam mendengar kata-kata yang baru saja terlonyar dari mulut Izzie. Selama beberapa menit aku hanya terdiam, berusaha memahami kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Izzie.

Dengan langkah lunglai aku pergi meninggalkan perusahaan Eric. Pikiranku kalut, seharusnya aku tak perlu merasa seperti ini karena kesahalan yang kulakukan tak termaafkan. Sudah sewajarnya jika Izzie tidak mau kembali lagi bersamaku.

Aku mengendarai mobil dengan perasaan yang kacau. Seperti inilah perasaan yang di rasakan oleh Izzie ketika aku menyakitinya. Rasanya begitu sakit, entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan rasa sakit ini. Tuhan, aku hanya ingin Izzie memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku bersumpah takkan membuatnya menangis lagi.

***

Dengan tatapan menerawang aku memandangi pemandangan kota yang berada di bawahku. Kerlap kerlip lampu di bawah sana terlihat begitu indah. Namun di mataku semuanya terlihat abu-abu, tak ada warna lain. Abu-abu, seperti itulah hubunganku dengan Izzie saat ini.

Sudah seminggu sejak kejadian di ruangan Eric. Namun Izzie masih belum mau menemuiku kembali. Tom memintaku untuk bersabar, terlebih lagi dengan kondiri Izzie yang sedang hamil saat ini. Izzie harus menghindari hal-hal yang akan menganggu kehamilannya.

Akhirnya aku mengalah, karena aku tak mau Izzie dan bayiku mengalami hal yang tidak di inginkan. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan tanpa bisa mendekatinya. Padahal aku ingin sekali berada di sampingnya, mendampinginya menjalani kehamilannya.

Tuhan sedang menghukumku, ini hukuman yang setimpal atas apa yang telah aku perbuat selama ini. Hukuman yang begitu menyiksa, karena Izzie berada dekat namun begitu jauh untuk kugapai.

Chapter 15

"Mom tidak akan terlalu ikut campur masalah rumah tanggamu, sayang. Kau sudah dewasa dan Mom percaya kau bisa menyelesaikan semuanya dengan baik." Ucap Mom dengan tulus.

"Terima kasih sudah mendukungku selama ini, Mom. Aku ingin semua ini segera berakhir, aku lelah melakukan semua kebohongan ini terus." Jawabku sambil memeluk erat dirinya.

"Bersabarlah sayang, Mom yakin kakakmu pasti akan membantu agar semua ini segera berakhir." Hiburnya sambil membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.

Sore harinya Eric datang menjemputku di rumah kak Tom. Selama dalam perjalanan menuju ke apartemen tak banyak hal yang kami perbincangkan. Mungkin karena aku merasa sangat lelah sekali. Aku lelah dengan semuanya.

Sesampainya di apartemen aku langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Setelah membersihkan diri aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku memejamkan mataku sambil mengelu perutku yang sudah besar secara perlahan.

Hanya bayi inilah yang saat ini jadi pusat kehidupanku dan menjadi kekuatan untukku dalam menghadapi Mary Jane. Aku benar-benar menginginkan Kyle kembali kepadaku lagi seperti dulu. Karena aku benar-benar sangat merindukannya.

"Izzie, bolehkah aku masuk?" Suara Eric terdengar dari balik pintu kamar.

"Masuklah Eric, pintunya tidak di kunci." Sahutku sambil bangun dan duduk di tempat tidur.

Tak berapa lama kemudian Eric masuk ke dalam kamarku dan di sampingku.

"Izzie ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ungkapnya.

"Ada apa, Eric?"

"Mary Jane ternyata benar-benar wanita murahan." Aku hanya mengernyitkan keningku, membiarkannya untuk kembali melanjutkan kata-katanya "Tadi setelah jam makan siang tiba-tiba Mary Jane mendatangiku. Kau tahu tiba-tiba saja dia menciumku." Nada suaranya terdengar jijik ketika mengatakannya.

"Ap-apa? Mary Jane menciummu?" Astaga, rencana apa lagi yang saat ini sedang di rencanakan oleh wanita jalang itu? Tiba-tiba saja tubuhku terasa tegang.

"Wanita itu berusaha untuk menggodaku, tanpa perlu susah payah memancingnya dengan senang hati Mary Jane menceritakan semua alasannya mendekati Kyle suamimu."

"Maksudmu?" Aku mengernyitkan kening tak mengerti.

"Ya, di bilang padaku bahwa ia mendekati Kyle karena hanya ingin menguasai seluruh harta kekayaannya saja. Apalagi dia tahu bahwa Kyle itu merupakan pewaris tunggal." Jelasnya sambil menatapku dalam.

"Oke, dan wanita itu sekarang mendekatimu karena kau memiliki harta yang lebih banyak daripada suamiku, begitu?" Tanyaku sambil mengernyitkan keningku. Aku benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Astaga, semoga Eric tidak benar-benar terjebak oleh wanita ular itu. Cukup Kyle yang tergoda olehnya.

"Kau baik-baik saja, Izzie?" Tanya Eric dengan ekspresi yang khawatir.

"Aku baik-baik saja, Eric. Hanya sedikit terkejut dengan semua penjelasan yang kau berikan kepadaku." Jawabku sambil berusaha tersenyum, meyakinkan Eric bahwa aku baik-baik saja.

"Rencana kita berjalan sesuai rencana, bukan? Sebentar lagi kau akan kembali bersatu dengan Kyle." Ungkapnya sambil tersenyum, namun aku bisa melihat kesedihan di matanya.

"Oh, Eric..." aku langsung menariknya ke dalam pelukanku, "Terima kasih untuk semuanya, aku benar-benar tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu selama ini."

"Kau tak perlu melakukan apapun, Izzie. Hanya satu yang aku inginkan dan aku minta. Berbahagialah. Karena kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga." Aku bisa merasakan tangannya yang mengusap punggungku dengan begitu lembut.

"Terima kasih, Eric." Gumamku, sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan kehangatan dan rasa nyaman ketika berada di situ.

"Sudah malam, sebaiknya kau segera berisitirahat. Bukankah kau sudah sangat lelah." Ucapnya masih mengelus punggungku.

"Biarkan aku berada di dalam pelukanmu sebentar lagi, Eric." Jawabku sambil mempererat pelukanku di tubuhnya.

Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku bertindak seperti ini, karena tindakanku hanya akan membuat Eric semakin berharap namun semakin terluka dalam waktu yang bersamaan. Tapi keadaanlah yang memaksaku untuk melakukan semua kegilaan ini.

Tiba-tiba saja wajah Eric semakin mendekat. Ketika bibirnya hampir beradu dengan bibirku aku langsung tersadar, "Maafkan aku, Eric. Aku tidak bisa." Ucapku sambil melepaskan pelukanku pada tubuh Eric.

"Tidak apa-apa Izzie, aku mengerti." Ucapnya sambil tersenyum getir. "Seharusnya akulah yang meminta maaf. Sebaiknya kau beristirahat saja, hari sudah semakin larut. Selamat malam." Pamitnya lalu beranjak meninggalkan kamarku.

Aku hanya memandangi sosok Eric hingga ia menghilang dari pintu kamarku. Maafkan aku Eric, jika saja keadaannya tidak seperti ini dan statusku bukan istri dari Kyle aku pasti mau bersamamu. Kau pria yang sangat baik, aku yakin kau akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dariku, Eric.

Sepeninggalannya aku kembali termenung. Semua kejadian ini membuatku kembali teringat saat Mary Jane belum masuk ke dalam kehidupan kami. Aku merindukan masa-masa itu.

Andai saja waktu dapat kuputar kembali, aku lebih memilih kembali ke waktu sebelum keberangkatan Kyle ke Paris lalu akan kucegah dia pergi. Dan semua kekacauan ini takkan pernah terjadi. Aku tak perlu melakukan semua kebohongan ini. Tapi rupanya kenyataan yang terjadi berbanding terbalik.

Aku merindukanmu Kyle... Sangat merindukanmu.

***

KYLE

Izzie... Izzie... Izzie... Apa yang harus aku lakukan padamu? Semakin lama tinggal bersamamu aku semakin tidak bisa menahan diri dan perasaanku. Aku tahu bahwa kau mencintai Kyle, tapi tak bisakah kau memberikanku kesempatan?

Meskipun aku selalu mengatakan bahwa cinta itu tak harus memiliki. Tapi jika keadaannya seperti ini aku jadi kembali memiliki keinginan untuk memilikimu. Menjadikanmu milikku seutuhnya, aku tak peduli bahwa kau saat ini sedang mengandung anak dari Kyle dan aku akan merebutmu darinya.

Eric, apa yang kau pikirkan? Tak seharusnya kau memiliki pikiran bodoh seperti itu. Memisahkan Izzie dari Kyle itu sama saja dengan menjerumuskan Izzie ke dalam neraka. Dan aku tak mau melihat Izzie menderita dan terluka.

Tapi ini saat yang tepat untuk mendapatkan Izzie. Karena saat ini Izzie sedang rapuh. Ia membutuhkan seseorang yang selalu siaga di sampingnya. Bisik kata hatiku yang lainnya. Karena saat ini suara2 itu sedang saling beradu di dalam kepalaku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mandi. Semoga saja dengan berendam di air hangat akan bisa membuatku menjadi jauh lebih rileks dan bisa berpikir lebih rasional.

***

Siang itu aku berjalan mondar mandir di ruanganku. Entah mengapa semakin hari aku semakin yakin bahwa Leona Hamilton itu adalah Izzie, yang tak lain adalah istriku.

Aku yakin sekali karena setiap menatap matanya aku merasakan kenyamanan dan ketenangan yang selalu aku rasakan ketika berada di dekat Izzie.

Senyuman itu, caranya berbicara, tertawa, memandang dan melirik benar-benar sama seperti milik Izzie. Bahkan wajahnya pun mirip Izzie. Tuhan, mengapa aku terus terbayang wajah istri dari salah satu rekan bisnisku?

Lalu kapan aku bisa bertemu kembali dengan Izzie? Aku sangat sangat merindukannya. Karena pada akhirnya aku menyadari bahwa semuanya hanya kesalah pahaman saja.

Izzie tak pernah sekalipun berselingkuh dengan Eric. Izzie bukan tipe wanita yang mudah luluh oleh rayuan seorang pria. Aku yang salah dan dengan begitu bodohnya percaya dengan semua kata-kata Mary Jane.

Kyle... Kyle... Lagi-lagi kau melakukan kesalahan yang sama. Lagi-lagi aku menyakiti istriku dan menuduhnya dengan tuduhan yang belum pasti kebenarannya. Kau benar-benar bodoh Kyle, sangat bodoh. Bisa-bisanya aku menyia-nyiakan wanita sebaik Izzie. Aku hanya bisa merutuki semua tindakan bodohku.

Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menyelidiki tentang Leona Hamilton. Ya aku harus segera melakukannya. 

Lalu aku langsung menghubungi seseorang yang bisa di percaya dan berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan ini. Dan semoga saja semua keraguanku ini akan terjawab. Tapi yang terpenting adalah aku sangat berharap bahwa Leona Hamilton itu adalah Lizzie Dickherber, istriku.