Sabtu, 15 Maret 2014

Chapter 15

"Mom tidak akan terlalu ikut campur masalah rumah tanggamu, sayang. Kau sudah dewasa dan Mom percaya kau bisa menyelesaikan semuanya dengan baik." Ucap Mom dengan tulus.

"Terima kasih sudah mendukungku selama ini, Mom. Aku ingin semua ini segera berakhir, aku lelah melakukan semua kebohongan ini terus." Jawabku sambil memeluk erat dirinya.

"Bersabarlah sayang, Mom yakin kakakmu pasti akan membantu agar semua ini segera berakhir." Hiburnya sambil membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.

Sore harinya Eric datang menjemputku di rumah kak Tom. Selama dalam perjalanan menuju ke apartemen tak banyak hal yang kami perbincangkan. Mungkin karena aku merasa sangat lelah sekali. Aku lelah dengan semuanya.

Sesampainya di apartemen aku langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Setelah membersihkan diri aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku memejamkan mataku sambil mengelu perutku yang sudah besar secara perlahan.

Hanya bayi inilah yang saat ini jadi pusat kehidupanku dan menjadi kekuatan untukku dalam menghadapi Mary Jane. Aku benar-benar menginginkan Kyle kembali kepadaku lagi seperti dulu. Karena aku benar-benar sangat merindukannya.

"Izzie, bolehkah aku masuk?" Suara Eric terdengar dari balik pintu kamar.

"Masuklah Eric, pintunya tidak di kunci." Sahutku sambil bangun dan duduk di tempat tidur.

Tak berapa lama kemudian Eric masuk ke dalam kamarku dan di sampingku.

"Izzie ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ungkapnya.

"Ada apa, Eric?"

"Mary Jane ternyata benar-benar wanita murahan." Aku hanya mengernyitkan keningku, membiarkannya untuk kembali melanjutkan kata-katanya "Tadi setelah jam makan siang tiba-tiba Mary Jane mendatangiku. Kau tahu tiba-tiba saja dia menciumku." Nada suaranya terdengar jijik ketika mengatakannya.

"Ap-apa? Mary Jane menciummu?" Astaga, rencana apa lagi yang saat ini sedang di rencanakan oleh wanita jalang itu? Tiba-tiba saja tubuhku terasa tegang.

"Wanita itu berusaha untuk menggodaku, tanpa perlu susah payah memancingnya dengan senang hati Mary Jane menceritakan semua alasannya mendekati Kyle suamimu."

"Maksudmu?" Aku mengernyitkan kening tak mengerti.

"Ya, di bilang padaku bahwa ia mendekati Kyle karena hanya ingin menguasai seluruh harta kekayaannya saja. Apalagi dia tahu bahwa Kyle itu merupakan pewaris tunggal." Jelasnya sambil menatapku dalam.

"Oke, dan wanita itu sekarang mendekatimu karena kau memiliki harta yang lebih banyak daripada suamiku, begitu?" Tanyaku sambil mengernyitkan keningku. Aku benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Astaga, semoga Eric tidak benar-benar terjebak oleh wanita ular itu. Cukup Kyle yang tergoda olehnya.

"Kau baik-baik saja, Izzie?" Tanya Eric dengan ekspresi yang khawatir.

"Aku baik-baik saja, Eric. Hanya sedikit terkejut dengan semua penjelasan yang kau berikan kepadaku." Jawabku sambil berusaha tersenyum, meyakinkan Eric bahwa aku baik-baik saja.

"Rencana kita berjalan sesuai rencana, bukan? Sebentar lagi kau akan kembali bersatu dengan Kyle." Ungkapnya sambil tersenyum, namun aku bisa melihat kesedihan di matanya.

"Oh, Eric..." aku langsung menariknya ke dalam pelukanku, "Terima kasih untuk semuanya, aku benar-benar tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu selama ini."

"Kau tak perlu melakukan apapun, Izzie. Hanya satu yang aku inginkan dan aku minta. Berbahagialah. Karena kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga." Aku bisa merasakan tangannya yang mengusap punggungku dengan begitu lembut.

"Terima kasih, Eric." Gumamku, sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan kehangatan dan rasa nyaman ketika berada di situ.

"Sudah malam, sebaiknya kau segera berisitirahat. Bukankah kau sudah sangat lelah." Ucapnya masih mengelus punggungku.

"Biarkan aku berada di dalam pelukanmu sebentar lagi, Eric." Jawabku sambil mempererat pelukanku di tubuhnya.

Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku bertindak seperti ini, karena tindakanku hanya akan membuat Eric semakin berharap namun semakin terluka dalam waktu yang bersamaan. Tapi keadaanlah yang memaksaku untuk melakukan semua kegilaan ini.

Tiba-tiba saja wajah Eric semakin mendekat. Ketika bibirnya hampir beradu dengan bibirku aku langsung tersadar, "Maafkan aku, Eric. Aku tidak bisa." Ucapku sambil melepaskan pelukanku pada tubuh Eric.

"Tidak apa-apa Izzie, aku mengerti." Ucapnya sambil tersenyum getir. "Seharusnya akulah yang meminta maaf. Sebaiknya kau beristirahat saja, hari sudah semakin larut. Selamat malam." Pamitnya lalu beranjak meninggalkan kamarku.

Aku hanya memandangi sosok Eric hingga ia menghilang dari pintu kamarku. Maafkan aku Eric, jika saja keadaannya tidak seperti ini dan statusku bukan istri dari Kyle aku pasti mau bersamamu. Kau pria yang sangat baik, aku yakin kau akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dariku, Eric.

Sepeninggalannya aku kembali termenung. Semua kejadian ini membuatku kembali teringat saat Mary Jane belum masuk ke dalam kehidupan kami. Aku merindukan masa-masa itu.

Andai saja waktu dapat kuputar kembali, aku lebih memilih kembali ke waktu sebelum keberangkatan Kyle ke Paris lalu akan kucegah dia pergi. Dan semua kekacauan ini takkan pernah terjadi. Aku tak perlu melakukan semua kebohongan ini. Tapi rupanya kenyataan yang terjadi berbanding terbalik.

Aku merindukanmu Kyle... Sangat merindukanmu.

***

KYLE

Izzie... Izzie... Izzie... Apa yang harus aku lakukan padamu? Semakin lama tinggal bersamamu aku semakin tidak bisa menahan diri dan perasaanku. Aku tahu bahwa kau mencintai Kyle, tapi tak bisakah kau memberikanku kesempatan?

Meskipun aku selalu mengatakan bahwa cinta itu tak harus memiliki. Tapi jika keadaannya seperti ini aku jadi kembali memiliki keinginan untuk memilikimu. Menjadikanmu milikku seutuhnya, aku tak peduli bahwa kau saat ini sedang mengandung anak dari Kyle dan aku akan merebutmu darinya.

Eric, apa yang kau pikirkan? Tak seharusnya kau memiliki pikiran bodoh seperti itu. Memisahkan Izzie dari Kyle itu sama saja dengan menjerumuskan Izzie ke dalam neraka. Dan aku tak mau melihat Izzie menderita dan terluka.

Tapi ini saat yang tepat untuk mendapatkan Izzie. Karena saat ini Izzie sedang rapuh. Ia membutuhkan seseorang yang selalu siaga di sampingnya. Bisik kata hatiku yang lainnya. Karena saat ini suara2 itu sedang saling beradu di dalam kepalaku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mandi. Semoga saja dengan berendam di air hangat akan bisa membuatku menjadi jauh lebih rileks dan bisa berpikir lebih rasional.

***

Siang itu aku berjalan mondar mandir di ruanganku. Entah mengapa semakin hari aku semakin yakin bahwa Leona Hamilton itu adalah Izzie, yang tak lain adalah istriku.

Aku yakin sekali karena setiap menatap matanya aku merasakan kenyamanan dan ketenangan yang selalu aku rasakan ketika berada di dekat Izzie.

Senyuman itu, caranya berbicara, tertawa, memandang dan melirik benar-benar sama seperti milik Izzie. Bahkan wajahnya pun mirip Izzie. Tuhan, mengapa aku terus terbayang wajah istri dari salah satu rekan bisnisku?

Lalu kapan aku bisa bertemu kembali dengan Izzie? Aku sangat sangat merindukannya. Karena pada akhirnya aku menyadari bahwa semuanya hanya kesalah pahaman saja.

Izzie tak pernah sekalipun berselingkuh dengan Eric. Izzie bukan tipe wanita yang mudah luluh oleh rayuan seorang pria. Aku yang salah dan dengan begitu bodohnya percaya dengan semua kata-kata Mary Jane.

Kyle... Kyle... Lagi-lagi kau melakukan kesalahan yang sama. Lagi-lagi aku menyakiti istriku dan menuduhnya dengan tuduhan yang belum pasti kebenarannya. Kau benar-benar bodoh Kyle, sangat bodoh. Bisa-bisanya aku menyia-nyiakan wanita sebaik Izzie. Aku hanya bisa merutuki semua tindakan bodohku.

Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menyelidiki tentang Leona Hamilton. Ya aku harus segera melakukannya. 

Lalu aku langsung menghubungi seseorang yang bisa di percaya dan berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan ini. Dan semoga saja semua keraguanku ini akan terjawab. Tapi yang terpenting adalah aku sangat berharap bahwa Leona Hamilton itu adalah Lizzie Dickherber, istriku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar