Sabtu, 15 Maret 2014

Chapter 16 (END)

KYLE

Setelah melakukan penyelidikan dua minggu lama akhirnya hari ini aku akan mendapatkan laporan hasil penyelidikan tentang Leona Hamilton yang aku yakini sebagai Izzie. Istriku. Orang suruhanku baru saja pergi meninggalkan ruanganku setelah meletakkan sebuah amplop besar berwarna coklat di atas meja kerjaku.

Selama beberapa menit aku hanya memandangi amplop tersebut tanpa menyentuhnya sedikitpun. Dadaku bergemuruh dan berdetak tak beraturan. Aku merasa cemas dan takut untuk membukanya. Takut dengan kenyataan yang akan kuterima tak sesuai dengan apa yang aku harapkan.

Setelah menimbang-nimbang akhirnya aku mengambil amplop tersebut dan mulai membukanya dengan perlahan. Keringat dingin mulai membasahi wajahku, tanganku gemetaran membuka amplop itu. Tegang. Itulah yang aku rasakan saat memegang dan mulai membuka amplop ini.

Perlahan aku mengeluarkan lembaran kertas yang ada di dalamnya. Kemudian mulai membaca satu persatu rangkaian kata yang tersusun dan tercetak di kertas yang aku pegang. Dadaku semakin berdebar begitu hebatnya ketika membaca kertas-kertas itu.

Leona Hamilton adalah Lizzie Dickherber yang tak lain adalah istriku yang berbulan-bulan ini menghilang. Tepatnya pergi meninggalkanku karena kebodohan yang telah aku perbuat. Aku menghembuskan nafas dengan kasar. Perasaan senang dan hangat membuncah memenuhi rongga dadaku, meskipun aku masih tak mengerti mengapa istriku melakukan hal ini. Dan Ethan Hamilton itu adalah Eric Dill.

Setelah selesai membaca aku merapikan kertas-kertas itu dan memasukannya kembali ke dalam amplop. Dengan langkah pasti aku pergi meninggalkan ruanganku tak lupa sambil membawa amplop itu tentu saja. Aku melajukan mobilku menuju ke perusahaan milik Ethan atau Eric. Pantas saja tiba-tiba Eric menghilang tanpa kabar sedikitpun, karena ternyata ia menyamae menjadi Ethan Hamilton.

Yang harus aku lakukan saat ini adalah mengetahui alasan Eric mengapa ia sampai harus melakukan penyamaran ini bersama Izzie, istriku. Kau pikir siapa yang telah membuat Izzie pergi dan melakukan hal ini? Cibir kata hatiku. Oke, memang aku penyebab semua ini.

Kebodohanku yang telah membuat pernikahanku dan Izzie berada di ujung tanduk. Seharusnya aku tak percaya begitu saja dengan semua kata-kata Mary Jane. Semestinya aku memberikan Izzie kesempatan untuk menjelaskan, setidaknya aku harus tahu alasan Izzie seperti apa.

Namun apa yang kulakukan? Aku malah menuduhnya telah berselingkuh dengan Eric. Ya Tuhan, pria macam apa aku ini? Seharusnya aku tahu Izzie seperti apa, ia tak mungkin mengkhianatiku dengan pria lain. Tidak sepertiku yang terkadang berperilaku seperti seorang pria brengsek yang kadang lupa jika sudah memiliki seorang istri.

Bahkan yang terparah aku tidak mau mengakui bahwa bayi yang sedang di kandungnya saat ini adalah anakku, darah dagingku. Tuhan, maafkan aku karena aku kembali menyakiti istriku dan membuatnya menderita. Harusnya aku bersyukur memiliki istri seperti Izzie, ia benar-benar istri yang menjadi idaman para pria di balik sikapnya yang manja.

Aku hanya bisa berharap dan berdoa semua ini belum terlambat. Semoga Izzie mau memaafkan semua kesalahanku dan mau kembali lagi bersamaku. Semoga saja Tom tidak menghajarku dan membunuhku karena telah menyakiti adik kesayangannya. Aku telah mengkhianati kepercayaannya untuk menjaga Izzie.

Argh, kau sungguh bodoh Kyle. Pria terbodoh di muka dunia ini, pria pengecut yang mudah di bodohi dan di pengaruhi oleh orang lain. Aku terus merutuki semua kebodohanku. Andai saja aku tidak mengikuti emosi dan amarahku, saat ini pasti aku sedang menjalani hari-hariku bersama Izzie dengan bahagia. Tak sabar menanti kelahiran anak kami, karena sebelumnya Izzie sempat mengalami keguguran. Namun nasi sudah menjadi bubur, waktu tak bisa kuputar kembali. Aku hanya berharap Izzie mau memaafkanku dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya.

Setelah menempuh perjalanan yang agak jauh akhirnya aku sampai di perusahaan milik Eric. Aku langsung menyerobot masuk ke dalam ruangan Eric tanpa menggubris sekretarisnya yang memintaku untuk menunggu. Kebetulan sekali Leona maksudku Izzie ada disini. Bagus, aku jadi bisa langsung membicarakan dan meluruskan semuanya masalah ini.

"Ah, Mr. Dickherber kunjungan yang cukup mengejutkan sekali." Sapa Eric masih berpura-pura tidak menjadi Ethan Hamilton.

"Berhenti bersandiwara Eric, aku sudah tahu semuanya." Aku menjawab, bisa kulihat ekspresi terkejut di wajah Eric dan Izzie. "Jadi tak usah berpura-pura menjadi Ethan dan Leona Hamilton lagi di hadapanku." Cecarku.

"Ah, rupanya kau sudah tahu." Izzie yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara.

"Mengapa kalian melakukan ini?" Tanyaku sambil menatap Izzie dan Eric secara bergantian.

"Kau tahu alasannya mengapa aku melakukan semua ini, Kyle. Asal kau tahu akulah yang meminta Eric untuk menjalankan semua rencanaku. Dan asemua berhasil, buruanku sudah masuk perangkap." Jelas Izzie dengan tatapan datar.

"Aku tahu aku salah sayang, seharusnya aku mendengarkan penjelasanmu. Tapi pada kenyataannya apa yang telah aku lakukan kepadamu dan bayi kita." Tuturku dengan pandangan yang tak lepas dari Izzie.

"Ah, sebaiknya aku pergi. Kalian membutuhkan privasi untuk menyelesaikan masalah kalian. Permisi." Eric pamit kemudian pergi meninggalkan aku dan Izzie di ruangannya.

"Kau tahu Kyle, bahwa perlakuanmu kepadaku pada hari itu sangat menyakitkan. Terlebih lagi ketika kau menuduhku berselingkuh dengan Eric, bahkan kau menuduhku sedang mengandung anaknya. Kau benar-benar kejam Kyle." Izzie mulai terisak, nafasnya naik turun menahan segala emosi yang hampir membuatnya meledak, "Mengapa kau bisa berpikiran sepicik itu kepadaku, Kyle? Bukankah kita ini sudah lama bersama, tapi  mengapa kau masih saja tidak mempercayaiku." Pertahannya yang di bangunnya sedari tadi akhirnya runtuh. Izzie menangis sesenggukkan dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.

Aku langsung menarik tubuhnya ke dalam pelukanku. Menghirup aroma tubuhnya yang selama ini aku rindukan dan selalu memabukkanku. Hatiku terasa sakit, lagi-lagi aku membuat wanitaku menangis dan terluka.

"Tidak sayang, kumohon jangan menangis. Jangan membuatku semakin merasa bersalah, aku tak pantas untuk kau tangisi, Izzie." Bisikku sambil terus mengelus punggungnya dengan lembut.

"Aku menangis karena aku masih mencintaimu, Kyle. Tapi hatiku masih terluka oleh perbuatanmu kepadaku. Kau tahu aku mengetahui kehamilanku setelah tiga hari kepergianmu ke Paris. Aku ingin sekali memberitahumu tapi tidak lewat telepon." Tuturnya di iringi oleh suara isakkan.

"Maafkan aku sayang maafkan aku." Hanya itulah kata-kata yang bisa terucap dari bibirku. Aku tak tahu harus bagaimana lagi. Kesalahanku benar-benar tak termaafkan.

Tiba-tiba Izzie menarik diri dari pelukanku. Matanya yang sembab menatapku dengan tatapan yang sayu. Terlihat jelas kesedihan dan luka yang teramat dalam di matanya. Dan penyebab kesedihan wanitaku adalah aku.

Aku benar-benar tak becus menjadi seorang suami dan calon ayah. Karena aku telah menyia-nyiakan istri dan calon anakku yang kini sedang tumbuh di dalam rahim istriku.

"Maafkan aku sayang, aku tahu bahwa kesalahanku sangat fatal dan tak termaafkan. Namun aku mohon, berilah aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya." Aku menundukkan kepalaku sambil menggenggam erat kedua tangannya.

"Aku sudah memaafkanmu, Kyle. Sudah sejak lama aku memaafkan ssmua kesalahanmu." Ucapnya lirih, bisa kurasakan belaian hangatnya di puncak kepalaku.

"Benarkah itu, sayang?" Aku mendongkakkan kepalaku untuk menatapnya. Izzie hanya mengangguk, "Jadi maukah kau kembali kepadaku? Bersama-sama kita memulai semuanya dari awal?" Tanyaku dengan penuh kesungguhan.

Mendengar kata-kataku ekspresi wajahnya berubah menjadi murung. Sinar matanya meredup dan menampilkan kesedihan yang mendalam di dalam sana.

"Kau mau kan, sayang?" Aku kembali mengulangi pertanyaanku. Namun Izzie hanya terdiam dengan pandangan yang terfokus kepadaku. Keheningan melingkupi kami selama beberapa menit.

Aku memilih untuk melakukan hal yang sama dengam Izzie. Aku harus bersabar, tak boleh terpancing lagi oleh emosiku. Sebaiknya aku nikmati saja keheningan ini, memandangi wajah Izzie dari jarak sedekat ini setelah sekian lama aku tak melihatnya.

"Aku sangat merindukanmu, Izzie." Gumamku lirih, namun Izzie masih tak bergeming. Diam. "Izzie, sayang." Panggilku lagi

Izzie menghembuskan nafasnya dengan sedikit kasar dan kembali menatapku. Entah apa yang sedang di pikirkam olehnya saat ini. Aku lebuh memilih Izzie memarahiku atau memakiku daripada mendiamkanku seperti ini. Aku jadi serba salah jika ia mendiamkan aku seperti ini.

"Kyle, sebesar dan sefatal apapun kesalahan yang kau buat aku hanya ingin kau tahu bahwa aku masih tetap mencintaimu. Karena bagaimana pun juga kau adalah ayah dari bayi yang sedang kukandung." Izzie menghentikan kata-katanya dan kembali menghela nafasnya, "Tapi untuk saat ini aku butuh waktu untuk diriku sendiri, Kyle. Setidaknya berikan aku waktu agar aku bisa menerimamu kembali." Lanjutnya.

"Maksudmu apa, sayang? Apakah, apakah kau berniat meninggalkanku dan memilih hidup bersama, Eric?" Tidak boleh, Izzie tidak boleh dengan siapapun. Hanya aku yang berhak untuk memilikinya, tak ada orang lain yang boleh memilikinya.

"See, kau sudah menuduhku lagi, Kyle. Aku hanya meminta waktu untuk diriku sendiri, tapi kau malah berkata bahwa aku akan tinggal bersama Eric." Wajah Izzie terlihat frustasi.

Bodoh kau Kyle bodoh. Kau menyakitinya lagi. "Maafkan aku sayang, sungguh aku tidak bermaksud seperti itu, aku..."

"Cukup Kyle cukup, aku tak mau mendengarmu lagi. Aku rasa apa yang aku katakan sudah jelas. Untuk saat ini maaf aku tidak bisa kembali bersamamu." Izzie beranjak dari hadapanku setelah menyelesaikan kata-katanya.

Hatiku langsung remuk redam mendengar kata-kata yang baru saja terlonyar dari mulut Izzie. Selama beberapa menit aku hanya terdiam, berusaha memahami kata-kata yang baru saja di ucapkan oleh Izzie.

Dengan langkah lunglai aku pergi meninggalkan perusahaan Eric. Pikiranku kalut, seharusnya aku tak perlu merasa seperti ini karena kesahalan yang kulakukan tak termaafkan. Sudah sewajarnya jika Izzie tidak mau kembali lagi bersamaku.

Aku mengendarai mobil dengan perasaan yang kacau. Seperti inilah perasaan yang di rasakan oleh Izzie ketika aku menyakitinya. Rasanya begitu sakit, entah sampai kapan aku bisa bertahan dengan rasa sakit ini. Tuhan, aku hanya ingin Izzie memberikanku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku bersumpah takkan membuatnya menangis lagi.

***

Dengan tatapan menerawang aku memandangi pemandangan kota yang berada di bawahku. Kerlap kerlip lampu di bawah sana terlihat begitu indah. Namun di mataku semuanya terlihat abu-abu, tak ada warna lain. Abu-abu, seperti itulah hubunganku dengan Izzie saat ini.

Sudah seminggu sejak kejadian di ruangan Eric. Namun Izzie masih belum mau menemuiku kembali. Tom memintaku untuk bersabar, terlebih lagi dengan kondiri Izzie yang sedang hamil saat ini. Izzie harus menghindari hal-hal yang akan menganggu kehamilannya.

Akhirnya aku mengalah, karena aku tak mau Izzie dan bayiku mengalami hal yang tidak di inginkan. Aku hanya bisa memandanginya dari kejauhan tanpa bisa mendekatinya. Padahal aku ingin sekali berada di sampingnya, mendampinginya menjalani kehamilannya.

Tuhan sedang menghukumku, ini hukuman yang setimpal atas apa yang telah aku perbuat selama ini. Hukuman yang begitu menyiksa, karena Izzie berada dekat namun begitu jauh untuk kugapai.

Chapter 15

"Mom tidak akan terlalu ikut campur masalah rumah tanggamu, sayang. Kau sudah dewasa dan Mom percaya kau bisa menyelesaikan semuanya dengan baik." Ucap Mom dengan tulus.

"Terima kasih sudah mendukungku selama ini, Mom. Aku ingin semua ini segera berakhir, aku lelah melakukan semua kebohongan ini terus." Jawabku sambil memeluk erat dirinya.

"Bersabarlah sayang, Mom yakin kakakmu pasti akan membantu agar semua ini segera berakhir." Hiburnya sambil membelai rambutku dengan penuh kasih sayang.

Sore harinya Eric datang menjemputku di rumah kak Tom. Selama dalam perjalanan menuju ke apartemen tak banyak hal yang kami perbincangkan. Mungkin karena aku merasa sangat lelah sekali. Aku lelah dengan semuanya.

Sesampainya di apartemen aku langsung masuk ke kamar untuk beristirahat. Setelah membersihkan diri aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku memejamkan mataku sambil mengelu perutku yang sudah besar secara perlahan.

Hanya bayi inilah yang saat ini jadi pusat kehidupanku dan menjadi kekuatan untukku dalam menghadapi Mary Jane. Aku benar-benar menginginkan Kyle kembali kepadaku lagi seperti dulu. Karena aku benar-benar sangat merindukannya.

"Izzie, bolehkah aku masuk?" Suara Eric terdengar dari balik pintu kamar.

"Masuklah Eric, pintunya tidak di kunci." Sahutku sambil bangun dan duduk di tempat tidur.

Tak berapa lama kemudian Eric masuk ke dalam kamarku dan di sampingku.

"Izzie ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Ungkapnya.

"Ada apa, Eric?"

"Mary Jane ternyata benar-benar wanita murahan." Aku hanya mengernyitkan keningku, membiarkannya untuk kembali melanjutkan kata-katanya "Tadi setelah jam makan siang tiba-tiba Mary Jane mendatangiku. Kau tahu tiba-tiba saja dia menciumku." Nada suaranya terdengar jijik ketika mengatakannya.

"Ap-apa? Mary Jane menciummu?" Astaga, rencana apa lagi yang saat ini sedang di rencanakan oleh wanita jalang itu? Tiba-tiba saja tubuhku terasa tegang.

"Wanita itu berusaha untuk menggodaku, tanpa perlu susah payah memancingnya dengan senang hati Mary Jane menceritakan semua alasannya mendekati Kyle suamimu."

"Maksudmu?" Aku mengernyitkan kening tak mengerti.

"Ya, di bilang padaku bahwa ia mendekati Kyle karena hanya ingin menguasai seluruh harta kekayaannya saja. Apalagi dia tahu bahwa Kyle itu merupakan pewaris tunggal." Jelasnya sambil menatapku dalam.

"Oke, dan wanita itu sekarang mendekatimu karena kau memiliki harta yang lebih banyak daripada suamiku, begitu?" Tanyaku sambil mengernyitkan keningku. Aku benar-benar tak habis pikir dengan wanita itu. Astaga, semoga Eric tidak benar-benar terjebak oleh wanita ular itu. Cukup Kyle yang tergoda olehnya.

"Kau baik-baik saja, Izzie?" Tanya Eric dengan ekspresi yang khawatir.

"Aku baik-baik saja, Eric. Hanya sedikit terkejut dengan semua penjelasan yang kau berikan kepadaku." Jawabku sambil berusaha tersenyum, meyakinkan Eric bahwa aku baik-baik saja.

"Rencana kita berjalan sesuai rencana, bukan? Sebentar lagi kau akan kembali bersatu dengan Kyle." Ungkapnya sambil tersenyum, namun aku bisa melihat kesedihan di matanya.

"Oh, Eric..." aku langsung menariknya ke dalam pelukanku, "Terima kasih untuk semuanya, aku benar-benar tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu selama ini."

"Kau tak perlu melakukan apapun, Izzie. Hanya satu yang aku inginkan dan aku minta. Berbahagialah. Karena kebahagianmu adalah kebahagiaanku juga." Aku bisa merasakan tangannya yang mengusap punggungku dengan begitu lembut.

"Terima kasih, Eric." Gumamku, sambil menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku bisa merasakan kehangatan dan rasa nyaman ketika berada di situ.

"Sudah malam, sebaiknya kau segera berisitirahat. Bukankah kau sudah sangat lelah." Ucapnya masih mengelus punggungku.

"Biarkan aku berada di dalam pelukanmu sebentar lagi, Eric." Jawabku sambil mempererat pelukanku di tubuhnya.

Aku tahu ini salah. Tak seharusnya aku bertindak seperti ini, karena tindakanku hanya akan membuat Eric semakin berharap namun semakin terluka dalam waktu yang bersamaan. Tapi keadaanlah yang memaksaku untuk melakukan semua kegilaan ini.

Tiba-tiba saja wajah Eric semakin mendekat. Ketika bibirnya hampir beradu dengan bibirku aku langsung tersadar, "Maafkan aku, Eric. Aku tidak bisa." Ucapku sambil melepaskan pelukanku pada tubuh Eric.

"Tidak apa-apa Izzie, aku mengerti." Ucapnya sambil tersenyum getir. "Seharusnya akulah yang meminta maaf. Sebaiknya kau beristirahat saja, hari sudah semakin larut. Selamat malam." Pamitnya lalu beranjak meninggalkan kamarku.

Aku hanya memandangi sosok Eric hingga ia menghilang dari pintu kamarku. Maafkan aku Eric, jika saja keadaannya tidak seperti ini dan statusku bukan istri dari Kyle aku pasti mau bersamamu. Kau pria yang sangat baik, aku yakin kau akan mendapatkan pendamping yang lebih baik dariku, Eric.

Sepeninggalannya aku kembali termenung. Semua kejadian ini membuatku kembali teringat saat Mary Jane belum masuk ke dalam kehidupan kami. Aku merindukan masa-masa itu.

Andai saja waktu dapat kuputar kembali, aku lebih memilih kembali ke waktu sebelum keberangkatan Kyle ke Paris lalu akan kucegah dia pergi. Dan semua kekacauan ini takkan pernah terjadi. Aku tak perlu melakukan semua kebohongan ini. Tapi rupanya kenyataan yang terjadi berbanding terbalik.

Aku merindukanmu Kyle... Sangat merindukanmu.

***

KYLE

Izzie... Izzie... Izzie... Apa yang harus aku lakukan padamu? Semakin lama tinggal bersamamu aku semakin tidak bisa menahan diri dan perasaanku. Aku tahu bahwa kau mencintai Kyle, tapi tak bisakah kau memberikanku kesempatan?

Meskipun aku selalu mengatakan bahwa cinta itu tak harus memiliki. Tapi jika keadaannya seperti ini aku jadi kembali memiliki keinginan untuk memilikimu. Menjadikanmu milikku seutuhnya, aku tak peduli bahwa kau saat ini sedang mengandung anak dari Kyle dan aku akan merebutmu darinya.

Eric, apa yang kau pikirkan? Tak seharusnya kau memiliki pikiran bodoh seperti itu. Memisahkan Izzie dari Kyle itu sama saja dengan menjerumuskan Izzie ke dalam neraka. Dan aku tak mau melihat Izzie menderita dan terluka.

Tapi ini saat yang tepat untuk mendapatkan Izzie. Karena saat ini Izzie sedang rapuh. Ia membutuhkan seseorang yang selalu siaga di sampingnya. Bisik kata hatiku yang lainnya. Karena saat ini suara2 itu sedang saling beradu di dalam kepalaku.

Akhirnya aku memutuskan untuk pergi mandi. Semoga saja dengan berendam di air hangat akan bisa membuatku menjadi jauh lebih rileks dan bisa berpikir lebih rasional.

***

Siang itu aku berjalan mondar mandir di ruanganku. Entah mengapa semakin hari aku semakin yakin bahwa Leona Hamilton itu adalah Izzie, yang tak lain adalah istriku.

Aku yakin sekali karena setiap menatap matanya aku merasakan kenyamanan dan ketenangan yang selalu aku rasakan ketika berada di dekat Izzie.

Senyuman itu, caranya berbicara, tertawa, memandang dan melirik benar-benar sama seperti milik Izzie. Bahkan wajahnya pun mirip Izzie. Tuhan, mengapa aku terus terbayang wajah istri dari salah satu rekan bisnisku?

Lalu kapan aku bisa bertemu kembali dengan Izzie? Aku sangat sangat merindukannya. Karena pada akhirnya aku menyadari bahwa semuanya hanya kesalah pahaman saja.

Izzie tak pernah sekalipun berselingkuh dengan Eric. Izzie bukan tipe wanita yang mudah luluh oleh rayuan seorang pria. Aku yang salah dan dengan begitu bodohnya percaya dengan semua kata-kata Mary Jane.

Kyle... Kyle... Lagi-lagi kau melakukan kesalahan yang sama. Lagi-lagi aku menyakiti istriku dan menuduhnya dengan tuduhan yang belum pasti kebenarannya. Kau benar-benar bodoh Kyle, sangat bodoh. Bisa-bisanya aku menyia-nyiakan wanita sebaik Izzie. Aku hanya bisa merutuki semua tindakan bodohku.

Sepertinya aku harus melakukan sesuatu. Aku harus menyelidiki tentang Leona Hamilton. Ya aku harus segera melakukannya. 

Lalu aku langsung menghubungi seseorang yang bisa di percaya dan berpengalaman dalam melaksanakan pekerjaan ini. Dan semoga saja semua keraguanku ini akan terjawab. Tapi yang terpenting adalah aku sangat berharap bahwa Leona Hamilton itu adalah Lizzie Dickherber, istriku.

Senin, 10 Desember 2012

Chapter 14


Chapter 14

            “Sebaiknya kita bicarakan masalah ini nanti saja, kau tak ingin penyamaranmu terbongkar bukan.”

            Aku semakin terpaku mendengar ucapan kakakku ini. Seharusnya Kak Tom menjadi seorang detektif saja bukan menjadi seorang CEO seperti saat ini. Dan aku tidak bisa mengeluarkan suaraku untuk menjawab ucapan kakakku itu.

            “Nah, jadi bagaimana kalau besok malam kita bertemu di rumahku saja sambil makan malam.”
            “Baiklah, kita bertemu besok malam.” Ucap Eric dengan cepat karena ternyata Kyle sedang menuju ke arah kami. Dan tentu saja wanita menyebalkan itu selalu menepel pada Kyle.
            “Halo semua bagaimana acaranya? Apakah kalian menikmatinya?”
            “Acara yang cukup menyenangkan, Kyle. Sayangnya Izzie tidak ada bersama kita hari ini.’
            “Ah, kau mengingatkanku kembali pada Izzie, Manda.”
            “Izzie ada di Berlin, Kyle. Mom dan Dad sudah berusaha untuk mengajaknya datang kemari tapi ia tetap tidak ingin ikut.”
            “Pasti ia sekarang sedang bersama Eric Dill di sana.”
            “Tidak Miss Brown, putriku bukan wanita yang seperti itu. Dan bagi kami Eric Dill sudah seperti putra kami, apalagi Eric dan Amanda memiliki hubungan darah.”
            “SUdahlah, Paa jangan terlalu menanggapinya. Karena dia akan semakin menjelekkan Izzie di depan kita. Sayangnya, ia tidak terlalu pintar.”
            “Jadi kau menganggapku bodoh Mr. Williams?” suara Mary Jeane terdengar marah.
            “Aku tidak bilang bodoh, hanya berkata tidak terlalu pintar. Karena kau menjelekkan Izzie pada keluarganya. Apa aku salah?”
            “Ah, sebaiknya saya dan istri saya permisi. Kami akan pergi mengambil minuman, sepertinya ada yang harus kalian selesaikan. Ayo, sayang.” Eric mengajakku menjauh dari sana.

            Eric mengajakku ke sisi yang lain dari halaman. Sepertinya akan terjadi pertengkaran lagi antara kakakku dan Mary Jeane. Ya Tuhan, mengapa semakin hari wanita itu semakin menjengkelkan sekali. Aku hampir saja menaparnya untukng saja Eric langsung membawaku menjauh dari sana.

            “Mari kita duduk saja, kau terlihat lelah.”
            “Aku lelah tapi bukan dalam arti yang sebenarnya.”
            “Aku mengerti, maka dari itu aku langsung mengajakmu menjauh dari sana.”
            “Ya Tuhan, Eric. Wanita itu benar-benar menyebalkan sekali, aku hampir saja menamparnya. Untung saja kau segera membawaku pergi. Kalau tidak, pasti acara ini akan kacau.”
            “Dan sepertinya Tom juga mulai mencurigaiku.”
            “Aku hampir pingsan ketika ia memanggilku Izzie, seharusnya kakak menjadi seorang detektif daripada menjadi seorang CEO, benarkan? Kau tahu ketika kami masih kecil kerjaannya itu hanya menyelidiki dan mengawasiku saja.”
            Eric tertawa mendengar ucapanku itu, “Aku sangat setuju padamu, saat pertama kali aku bertemu dengannya ia langsung menyelidikiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.”
            “Yah, begitulah kakakku tapi aku merasa sangat beruntung dan bersyukur sekali memiliki seorang kakak seperti dia.”
            “Izzie bolehkah aku memegang perutmu? Karena aku yakin sekali bayimu tadi sempat tegang ketika mendengar keributan tadi.”
            “Tentu saja, sepertinya bayiku menyukaimu juga.”

            Dengan perlahan Eric meletakkan tangannya di perutku yang sudah membesar dan dengan perlahan mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Ada perasaan senang ketika melihat Eric mengelus-elus kandunganku. Harusnya Kyle yang melakukan hal seperti ini bukan Eric, karena pasti akan berbeda sekali rasanya.

            “Hey, mengapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”
            “Aku tidak tertawa, Ethan, tapi tersenyum.”
            “Sama saja, apa ada yang lucu denganku?”
            “Iya, kau sangat lucu sekali. Sedang berbicara apa dengan bayiku, sampai-sampai kau tersenyum seperti itu?”
            “Kau mau tahu?”
            “Tentu saja aku ingin tahu, aku kan ibunya.”
            “Rahasia.”
            “Hey, kau tidak mau memberitahuku.”
            “Tidak Mrs. Hamilton yang cantik.”
           
            Aku langsung cemberut mendengar ucapan Eric, meskipun aku tahu kalau dia hanya bencanda dan menggodaku saja. Dan ia semakin tersenyum lebar melihat wajahku yang semakin di tekuk karena kesal. Aku tidak sengaja memalingkan wajahku ke arah dimana keluargaku dan Kyle sedang berkkumpul. Kyle sedang memandangku dan Eric dengan tatapan yang sangat sedih. Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku langsung memeluk dan mencium keningnya untuk menglihangkan kesedihan yang di rasakannya saat ini.

            “Kau tidak apa-apa?”
            “Kyle sedang memandangi kita, aku tak tahan melihat tatapan dan wekspresi wajahnya yang menjadi sedih seperti itu. Kapan semua sandiwara ini akan segera berakhirn?”
            “Semoga bisa secepatnya, aku tidak mau melihatmu tersiksa seperti ini.”
             “Bisakah kita pulang setelah pengumpulan dananya selesai? Aku merasa lelah sekali.”
            “Iya, kita tidak akan berada disini sampai acara selesai. Wajahmu terlihat agak pucat apakah kau baik-baik saja?”
            “Hanya sedikit pusing saja.”
            “Apa kau mau pulang sekarang saja?”
            “Tidak, nanti saja jika acara pengumpulan dananya sudah selesai barulah kita pulang.”
            “Baiklah kalau begitu, tapi jika kau merasa tidak kuat katakanlah padaku.”
            “Baiklah, aku akan mengnatakannya padamu.”

            Acara pengumpulan dana pun di mulai, setelai menyerahkan uang untuk di sumbangkan aku dan Eric berencana untuk langsung pulang, tentu saja setelah berpamitan pada keluargaku dan keluarga Kyle.

            Aku mendekati Mom sambil berbisik, “Mom aku pamit sekarang, ya.”
            “Kau memang harus beristirahat, sayang. Wajahmu terlihat agak pucat.”
            “Aku mau istirahat karena besok harus cek up ke rumah sakit.”
            “Mom sebenarnya ingin menemanimu tapi pastinya itu akan menimbulkan kecurigaan. Bagaimana kalau kita bertemu di rumah kakakmu untuk makan siang bersama?”
            “Baiklah Mom, besok siang kita akan bertemu. Dad, aku pamit dulu, ya.”
            “Hati-hati di jalan telepon Dad jika sudah sampai.”
           
            Aku mengangguk dan setelah pamitan pada keluargaku aku dan Eric pamitan pada Kyle dan keluarganya lalu kami berduapun pulang. Sesampainya di apartemen aku langsung tidur karena kelelahan. Semua hal yang terjadi tadi benar-benar membuatku merasa sangat lelah sekali.

            Keesokkan harinya aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek rutin kamdunganku. Hari ini Eric tidak bisa menemaniku dan gantinya ia menugaskan beberapa orang petugas keamanannya untuk menjagaku saat ke rumah sakit.   

            Siang harinya aku langsung menuju ke kediaman kakakku, Eric bilang bahwa ia akan menyusul ke sana begitu juga dengan Kak Tom yang memutuskan untuk ikut makan siang di rumah. Ketika sampai di sana Eric dan kak Tom sudah menunggu kedatanganku.

            “Maaf terlambat tadi aku terjebat macet dalam perjalanan.” Sambil duduk di samping Eric.
            “Eric atau Ethan sudah menceritakannya padaku. mengapa kau tidak mengatakan hal ini pada kakakmu sendiri Izzie?”
            “Karena aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku, Kak. Cukup Eric saja yang sudah ikut terseret dalam permasalahanku.”
            “Jadi kau merubah warna rambutmu, Izzie?”
            “Iya Manda, aku  merubah warna rambutku jadi pirang apakah ini terlihat aneh?”
            “Tentu saja tidak, kau tetap terlihat cantik seperti biasanya, Izzie. Yang membuatku kaget adalah penampilan Eric, aku hampir tidak bisa mengenalinya.”
            “Anak-anak ssebaiknya kita makan dulu, makan siangnya sudah siap.”

            Lalu kami semua bergegas menuju ke ruang makan. Acara makan siang kami di selingi dengan membicarakan beberapa rencana untuk menjebak Mary Jeane. Kak Tom bersedia untuk membantu rencanaku dan Eric. Sepertinya kakakku memang bisa di andalkan untuk urusan yang seperti ini. Kak Tom dan Eric kembali meneruskan pekerjaan mereka setelah makan siang sedangkan aku memutuskan untuk tinggal. Karena aku sangat merindukan kedua orang tuaku.

            “Sayang Mom perhatikan sepertinya Kyle terus saja memperhatikanmu ketika di pesta gala tadi malam.”
            “Bukan hanya tadi malam, Mom. Sejak pertama kali aku kembali ke New York dan menghadiri pertemuan di kantornya, Kyle terus saja memandangiku. Kakak bilang setelah aku pergi Kyle mengatakan bahwa Leona Hamilton mengingatkannya pada Izzie.”
            “Sepertinya Kyle bisa merasakan kehadiranmu meskipun saat ini kamu sedang menyamar, sayang.”
            “Sepertinya begitu Mom, aku sebenarnya ingin sekali bisa berbinca-bincang dengannya tapi Mary Jeane selalu  saja berada di samping Kyle. Wanita itu benar-benar sangat menyebalkan sekali. Dan aku juga sangat marah pada Kyle, karena dia masih saja termakan bujuk rayu wanita itu.”

Jumat, 23 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 13


Chapter 13

          
             Hari ini aku bertemu dengan Ethan Hamilton, seorang CEO dari Jerman. Ia datang bersama istrinya, Ya Tuhan istrinya mengingatkanku pada Izzie. Meskipun warna mata dan rambutnya berbeda tapi ia seperti Izzie. Bahkan aku merasa bahwa Leona Hamilton itu adalah Izzie-ku.

            Tatapan matanya yang sendu itu benar-benar seperti matanya Izzie, bahkan suara dan cara ia tersenyum sangat mirip sekali dengan Izzie-ku.

            “Kyle kau kenapa?” Tom membuyarkan lamunanku tentang Izzie dan istrnya Ethan.
            “Aku tidak apa-apa, Tom, hanya saja aku merasa bahwa Mrs. Hamilton itu adalah Izzie. Meskipun warna rambut dan warna matanya berbeda tapi aku merasa kalau dia itu Izzie. Cara dia berbicara, tersenyum dan menatap sama seperti Izzie.”
            “Mungkin kau sedang merindukan dia saja, Kyle. Percayalah saat ini Izzie baik-baik saja di sana, meskipun aku juga merindukannya.”
            “Tom maukah kau memberitahuku keberadaan Izzie saat ini, aku mohon.”
            “Dia ada di Jerman bersama Mom dan Dad, dan ia tidak mau di ganggu oleh siapapun termasukn oleh dirimu.”
            “Bisakah kita berhenti membicarakan tentang Izzie. Aku benar-benar muak mendengar namanya.”
            “Jaga ucapanmu itu Miss Brown, Izzie itu adalah adik kandungku. Jika kau tidak ingin mendengar kami membicarakannya, sebaiknya kau pergi saja dari sini.”
           
            Mary jeane mendengus kesal mendapatkan teguran dari Tom itu. Sedangkan aku tidak peduli padanya saat ini. Melihat Mrs. Hamilton aku langsung teringat pada Izzie yang saat ini tengah mengandung sama seperti Mrs. Hamilton itu.

            “Kyle, mengapa kau masih memikirkan wanita itu. Kau sudah melihat dengan jelas bahwa ia sudah mengkhianatimu dengan Eric Dill. Apa itu belum cukup bagimu untuk menceraikannya.”
            “Diam Miss Brown, jadi kau yang sudah membuat rumah tangga adikku dan Kyle berantakan menjadi seperti ini. Apa yang kau tahu tentang hubungan Eric dan adikku? Kau hanya membuat kesimpulan secara asal.”
            “Aku tidak membuat kesimpulan secara asal-asalan Mr. Williams, aku memiliki bukti bahwa adikmu itu sudah mengkhianati Kyle. Buktinya dia terlihat baik-baik saja ketika Kyle menghilang dalam kecelakaan pesawat, tidak terlihat sedikitpun ada perasaan sedih dan khwatir di wajahnya.”
            “Itu karena adikku lulusan terbaik dari fakultas psikologi, jadi ia tahu bagaimana caranya untuk tetap terlihat baik-baik saja meskipun hatinya sedang sangat hancur sekali. Kau jangan seenaknya menuduh adikku macam-macam. Kau tidak tahu apa-apa tentang Izzie.”
            “Sudah hentikan, mengapa kalian berdua jadi bertengkar? Mary Jeane sebaiknya kau pergi dari sini. Karena aku akan membahas tentang Izzie bersama Tom.”
            “Tapi Kyle…”
            “Tidak ada tapi, sebaiknya kau pergi sekarang juga.”
                                                                                           
            Dengan perasaan kesal Mary Jeane pergi dari ruanganku. Dia menutup pintu dengan kasar sekali. Yang ingin aku lakukan saat ini adalah mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang Izzie dari Tom. Aku ingin tahu keadaan istriku dan aku juga ingin menyakinkan diriku bahwa bayi yang sedang dikandung oleh Izzie saat ini adalah darah dagingku.

***

            Aku benar-benar merasa lega bisa keluar dari perusahaan Kyle. aku bisa terbebas dari tatapan Kyle dan Kak Tom yang menyelidiki itu. Ya Tuhan, aku benar-benar muak melihat tingkah Mary Jeane di ruangan itu. Ia berkelakuan seolah-olah ialah Mrs. Dickherber. Aku sangat sangat sangat ingin menjambak rambut dan mencakar wajahnya itu. Yang aku tak habis pikir mengapa Kyle diam saja diciumi Mary Jeane seperti itu.

            “Kau baik-baik saja?”
            “Tidak terlalu baik, mengingat pertemuan tadi membuatku mual. Kyle dan Mary Jeane benar-benar tak tahu malu.”
            “Sabar Izzie, kau jangan sampai terpancing. Bisa saja ini ulah Mary Jeane.”
            “Kau benar bisa saja Mary Jeane memang sengaja berkelakuan seperti itu. Eric, apakah aku masih terlihat seperti Izzie yang biasanya?’
            “Memang ada apa?”
            “Sepertinya Kak Tom tahu kalau ini adalah aku. Kau tahu dari dulu aku tak pernah bisa membohongi kakakku. Dia selalu tahu jika ada yang aku sembunyikan.”
            “Kita lihat saja, kalau Tom masih tetap mencurigai kita sebaiknya kita beritahu dia yang sebenarnya. Siapa tahu ia bisa membantu kita.”
            “Kau benar, Eric siapa tahu kakak bisa membantu kita untuk membuat Mary Jeane jera.”
            “Sebaiknya kita mencari tempat untuk makan siang.”
            “Kapan kita akan melakukan pertemuan kembali dengan mereka bertiga?”
            “Lusa kita mendapatkan undangan dari Kyle untuk menghadiri acara penggalangan dana di rumah orang tuanya.”
            “Ya Tuhan, secepat ini aku harus bertemu dengan ayah dan ibu mertuaku. Apakah mereka akan mengenaliku?”
            “Mereka tidak akan mengenalimu, percaya padaku.”

            Sejak pertemuanku dengan Kyle aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu berdiam diri di apartemen saja. Mau pergi keluarpun aku enggan, karena Eric sudah menyiapkan beberapa orang untuk mengawalku. Tapi aku tidak mau, jadi lebih baik diam di apartemen saja daripada harus menjadi pusat perhatian orang-orang karena orang-orang dengan stelan jas hitam berada di depan dan belakang mengawalku.

            Malam penggalangan danapun tiba. Acara itu akan di laksanakan di kediaman orang tua Kyle, yang aku dengar Mom dan Dad juga akan datang menghadiri acara itu. Semoga saja Mom dan Dad tidak akan menyapaku dengan nama Izzie.                                                                                                                      Mobil limo yang kami tumpangi memasuki sebuah rumah dengan bangunan bergaya bangunan di Venice Italia. Eric membantuku turun dari dalam mobil. Ketika masuk ke dalam kami langsung di sambut oleh Kyle dan orang tuanya, tapi tunggu dulu mengapa Mary Jeane berada di samping Kyle?

            “Mr. Hamilton selamat datang, senang sekali anda bisa memenuhi undangan kami.” Sapa Kyle pada Eric sambil memandangku.
            “Hallo Mrs. Hamilton anda terlihat sangat cantik seperti biasanya.”
            “Terima kasih Miss Brown.” Jawabku datar
            “Maa, Paa kenalkan ini rekan bisnis aku yang baru Mr. Ethan Hamilton dari Jerman dan ini istrinya Mrs. Leona Hamilton.”
            “Halo, Mrs. Hamilton senang bisa bertemu dengan anda.”
            “Terima kasih sudah mengundang saya dan suami saya.”
            “Suatu kehormatan bagi keluarga kami anda berdua bisa datang. Silakan masuk dan nikmati acaranya.” Paa mempersilakan aku dan Eric untuk masuk dan menuju ke halaman belakang rumah, tempat acanya berlangsung.

            Aku dan Eric langsung menuju ketempat yang di maksud sambil berbisik-bisik.

            “Kau lihatkan, semakin hari Mary Jeane semakin menjengkelkan.”
            “Tenanglah, aku tahu perasaanmu. Tahan emosimu, mari kita jalankan rencana ini. ”
           
            Akhirnya aku dan Eric pun sampai di halaman belakang, sebuah tenda besar di pasang di situ sebagai atap di halaman yang luas itu. Dekorasinya di dominasi oleh warna putih dan cukup sederhana tetapi berkesan mewah dan elegan. Para tamu yang hadir sudah banyak sekali dan rata-rata mereka adalah para pengusaha dan orang-orang penting di New York.

            Tak jauh dari kolam renang aku melihat Mom, Dad, Kak Tom dan Amanda sedang mengobrol. Aku ingin sekali memeluk mereka berempat dan mengobrol bersama, tapi saat ini itu tidak mungkin di lakukan karena aku sedang melakukan penyamaran.
            “Leona, ayo kita menyapa Tom dan kedua orang tuamu.”
            Aku sangat senang sekali karena tidak di duga-duga Eric mengajakku untuk bertemu dengan keluargaku, “Benarkah itu?”
            Eric tersenyum lalu berkata, “Tentu saja kau sangat merindukan mereka bukan?”
            “Iya, aku sangat ingin sekali mengobrol dengan mereka.”
            “Baiklah kalau begitu ayo kita hampiri mereka.” Ucapnya sambil menggandeng tanganku menuju ke tempat keluargaku sedang berkumpul.

            Semakin dekat ketempat mereka berada aku semakin merakan gugup. Ternyata Mom mengetahui kedatangaku dan Eric, ketika melihatnya tersenyum hatiku langsung tenang.

            Kak Tom langsung menyapa kami ketika melihat kedatangan kami, “Mr. Hamilton, senang bisa bertemu dengan anda di luar jam kerja seperti ini.”
            “Begitu juga dengan saya Mr. Williams.”
            “Hai, aku Amanda senang bisa bertemu dengan anda berdua Mr dan Mrs Hamilton. Tapi Mrs Hamilton...”
            “Tolong panggil saja Leona.”
            “Ah, baiklah Leona wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Benarkan sayang? Wajahya mirip dengan Izzie hanya warna rambut dan mata saja yang berbeda.”

            Aku langsung terpaku dan memandang Eric dengan gelisah, rasanya keringat dingin sudah bermunculan di tubuhku bahkan wajahku mungkin sudah berubah menjadi pucat pasi.

            Kak Tom bergerak mendekatiku dan berbicara tetap di telingaku sambil berbisik, “Kau sebenarnya Izzie kan Mrs. Hamilton?”
            Aku semakin pucat ketika mendengar ucapan yang meluncur dari mulut kakakku. “D-d-darimana kakak tahu? Apa Mom dan Dad memberitahu?”