Senin, 29 Oktober 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 4


Chapter 4

            “Baik, aku akan pergi. Tapi ingat, suatu hari nanti kau akan kembali lagi padaku Izzie, kau akan menjadi milikku lagi. Ingat itu.”

            Aku langsung pergi meninggalkan ruangan Izzie. Ya, suatu hari nanti aku akan mendapatkan Izzie kembali. Biarlah sekarang aku pergi dan mengalah, tapi suatu hari nanti akku akan kembali datang untuk merebutmu dari lelaki itu Izzie.

***

            Aku mulai bangkit dari keterpurukanku karena kehilanngan bayi yang sangat aku tunggu. Aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Toh, yang terpenting Kyle masih tetap ada disampingku meskipun aku tahu ia masih sangat ingin memiliki seorang bayi.

            Setelah kejadian ini sikap Kyle memang tidak berubah sama sekali. Ia tetap Kyle yang seperti biasanya. Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan, karena aku yakin jika sudah tiba waktunya aku akan bisa memberikan Kyle keturunan lagi.

            “Kyle, bolehkah aku mulai masuk kerja besok?”
            “Kau mau masuk kerja?”
            “Iya, aku ingin segera masuk kerja. Aku sudah tidak apa-apa, aku butuh kesibukan saat ini. Bolehkan?”
            “Iya, tentu saja kau boleh masuk ke kantor sayang.”
            “Terima kasih, suamiku tersayang.” Ucapku sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.

            Ciuman kami menjadi panas, setelah Kyle mendorong lidahnya memasuki rongga mulutku. Benar-benas sangat panas dan membakar diriku. Ini yang aku rindukan dari suamiku tercinta. Dan ia masih tetap panas seperti dulu.

            “Aku menginginkanmu, sayang?” ucapnya dengan nafas yang mulai terbata-bata.
            “Ya, aku juga sangat menginginkanmu mala mini, Kyle.”
            “Kau tahu, apapun yang terjadi selama ini aku akan tetap mencintaimu. Kau milikku, Izzie meskipun seandainya kau tidak bisa memberikanku keturunan. Aku benar-benar tidak peduli, Izzie.”

            Deg…!!! Kata-katanya benar-benar menusuk hatiku. Anak, bagaimana jika aku tidak bisa memiliki anak? Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan Kyle keturunan. Ya Tuhan, ini sangat sangat membuatku takut. Aku langsung melepaskan diri dari ciumannya. Tiba-tiba saja semua gairah yang ada dalam diriku padam.

            “Kau kenapa, sayang?” tanyanya keheranan.
            “Maaf, Kyle, aku tidak bisa, tiba-tiba aku merasa tidak enak badan. Bisakah jika kita langsung tidur saja?”
            “Baiklah, jika kau yang meminta. Sebaiknya kita memang beristirahat saja, besok kau sudah mulai kembali bekerja.”

            Aku merasakan perubahan sikapnya yang menjadi dingin. Maafkan aku Kyle, tapi aku tidak bisa melakukannya dengan perasaan tertekan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa.


            Keesokkkan harinya, kami tetap pergi ke kantor bersama-sama. Namun aku merasakan sikap Kyle yang tidak seperti biasanya. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah mengecewakan suamiku.

            Di kantor aku memulai kembali pekerjaanku yang sempat tertunda. Dan keadaan kali ini benar-benar terasa seperti seorang atasan dan asistennya. Tak ada candanya lagi di tengah-tengah pekerjaan kami. Dan aku begitu merindukannya.

            “Sir, saya harus mencetak brosur-brosur ini dulu. Permisi.”
            “Pergilah.” Jawabnya singkat.

            Tuhan, itu sangat sangat menyakitkan. Kata-katanya benar-benar sangat dingin. Hatiku jadi semakin sakit di buatnya. Rasanya aku ingin menangis dan berteriak tapi itu tidak mungkin aku lakukan.

            Akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju ketempat percetakan yang berada tak jau dari kantorku. Aku berjalan menuju tempat percetakan dengan pikiran yang agak kacau.

            Ketika semua brosur itu telah selesai di cetak akku bergegas untuk kembali ke kantorku. Tiba-tiba saja sebuah tangan menyergap lenganku. Ternyata orang itu adalah Edward.

            “Kau, lepaskan tanganmu dariku, Ed?” aku meronta dan berusaha untuk melepaskan pegangannya. Tapi tenagangya lebih besar.
            “Tidak, Izzie, aku ingin mengajakmu pergi. Aku harus berbicara denganmu.”
            “Tidak, aku sedang bekerja. Dan aku tak ingin membicarakan apapun denganmu, Ed. Lepaskan aku sekarang juga,” ucapku setengah berteriak.
            “Tidak akan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

            Tiba-tiba ada sebuah suara dari belakangku.
           
            “Sebaiknya kau lepaskan tangannya, jika kau tidak ingin babak belur.”
            Aku melihat kearah belakangku, ternyata itu adalah suara Eric Dill. “Mr. Dill…” ucapkku penuh dengan kelegaan.
            “Siapa kau? Jangan ikut campur dengan urusanku.” Cerca Edward.
            “Tentu saja akan menjadi urusanku, jika kau tidak segera melepaskan tangannya.”
            Akhirnya Edward melepaskan lenganku, lalu pergi sambil mengumpat tidak jelas.

            “Kau tidak apa-apa Miss Williams?” tanyanya dengan sorot mata yang khawatir.
            “Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku Mr. Dill.”
            “Aku akan menolongmu jika lelaki itu kembali menganggumu. Memangnya siapa lelaki itu jika aku boleh tahu?”
            “Ah, dia hanya mantan kekasihku yang memaksa ingin kembali lagi. Saya harus segera kemballi, Mr. Dickherber pasti sudah menunggu. Permisi Mr. Dill.”Pamitku.
            “Tunggu Izzie, aku akan datang menemui nanti pada saat makan siang.”
           
            Aku hanya bisa tersenyum tak tahu harus menjawab apa. Aku buru-buru masuk kedalam kantor dan menuju ke ruanganku dengan tergesa=gesa. Dan ketika sampai aku medapati Kyle sedang menopang kedua tangannya dengan ekspresi yang menyeramkan.

            “Darimana saja kau Miss Williams?”
            “Maaf, tadi ada sedikit masalah pada mesin cetaknya,” maafkan aku sudah berbohong padamu Kyle.
            “Lain kali aku takkan mentolelirnya Miss Williams. Sekarang kembalilah ke mejamu dan selesaikan semua pekerjaanmu. Karena aku harus pergi menemui salah satu rekan bisnisku. Dan mungkin aku akan makan siang di luar jadi kau tak perlu menungguku.”
            “Baiklah, saya mengerti.” Jawabku singkat.

            Lalu Kyle pergi dan tinggalah aku di ruangan yang luas ini seorang diri. Ya Tuhan, kesalahan apa lagi yang sudah aku perbuat? Mengapa sikapnya menjadi seperti itu, aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.

            Tanpa terasa air mataku sudah membasahi kedua pipiku. Aku menangis terisak di ruangan itu sambil melanjutkan kembali semua pekerjaanku. Ketika jam makan siang tiba aku bermaksud akan pergi mencari makan. Tapi ternyata Eric Dill sudah menungguku di depan kantor. Ya Tuhan, bagaimana jika Kyle melihat ini?

            “Hai Miss Williams, bagaimana jika kita pergi makan siang bersama? Kebetulan aku butuh teman untuk makan siang dan bertemu dengan sepupuku.”
            “Maaf Mr. Dill saya tidak bisa. Karena saya harus segera kembali ke kantor karena Mr. Dickherber sedang tidak ada di tempat.”
            “Hanya sebentar saja. Aku mohom Miss Williams hanya setengah jam saja?”
            Aku berpikir sejenak lalu menerima ajakan makan siang dari Eric. “Baiklah Mr. Dill hanya tiga puluh menit saja.”

            Wajahnya langsung berseri ketika mendengar persetujuan dariku. Lalu kami pergi menggunakan mobilnya menuju kesebuah kedai kopi yang tak jauh dari kantorku. Ketika sampai disana Eric langsung mengajakku keseduah meja dan sudah ada seseorang yang menunggu di sana.

            “Hey, sudah lama menunggu?” sapa Eric pada seorang wanita yang sedang duduk di situ.
            Dan aku langsung terkejut ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Amanda, calon kakak iparku. “Amanda… sedang apa kau ada disini?” tanyaku.
            “Ah, Izzie, sayang, apa kabar kau terlihat sehat tapi agak sedikit kacau. Apa kau baik-baik saja?”
            “Aku bohong kalau bilang baik-baik saja. Bagaimana keadaan kakak?”
            “Dia baik, Izzie.”

Light At The End of The Tunnel Chapter 3


Chapter 3

            Aku benar-benar gila, ketika melihat Izzie mengalami pendarahan di toilet. Aku takut kehilangan bayi yang sangat aku tunggu, aku juga takut kehilangan Izzie. Aku takut kehilangan mereka berdua.

            Ya Tuhan, bagaimana bisa ini semua terjadi? Izzie tak pernah seceroboh ini. Tuhan, tolong selamatkan istri dan calon bayi kami.

            Aku dilanda perasaan panic, takut dan khawatir yang akan membuatku menjadi gila. Yang kulakukan hanya mondar mandir di depat ruang UGD, menunggu dokter yang menangani Izzie keluar dari sana.

            “Kyle, Izzie bagaimana?” tida-tida Tom dan Manda datang dan itu tetap saja membuatku panic.
            “Bagaimana bisa ini terjadi, Kyle?” tanya Manda.
            “Aku juga tidak tahu pasti, Manda. Izzie pamit ke toilet, dan tak lama kemudian aku nendengarnya berteriak memanggilku. Dan ketika sampai, ia sudah mengalami pendarahan.”
            “Ya Tuhan, bagaimana mungkin. Tidak mungkin petugas kebersihan di perusahaanmu teledorkan.” Ucap Tom.
            “Mary Jeane…” tiba-tiba mulutku menyebutkan nama itu.
            “Mary Jeane?” tanya Tom dan Manda .
            “Iya, tadi dia datang ke kantorku. Tapi aku tidak melihat gelagat yang mencurigakan dari dia. Mungkin memang Izzie tidak berhati-hati.”
            “Ah iya, Kyle, aku juga sudah mengetahui siapa orang yang menerobos masuk ke kamar Izzie di asrama waktu itu.”
            “Jadi kau sudah menemukannya, Tom? Siapa dia?” aku benar-benar ingin tahu siapa orang yang sudah masuk kekamar Izzie tanpa izin beberapa waktu yang lalu.
            “Edward…” jawab Tom singkat.
            “Apa? Edward? Tapi bagaimana mungkin.” Aku benar-benar shock mendengarnya, ternyata Edward masih berkeinginan untuk memiliki Izzie-ku.
            “Karena aku menemukan sebuah gelang yang kebetulan terjatuh disana. Aku mengenalinya karena gelang itu di berikan Izzie untuk Edward sebelum kepergiannya ke Irlandia.”
            “Tapi, bagaimana kau tahu gelang itu milik Edward, Tom?”
            “Karena Izzie membeli gelang itu bersamaku.”
            “Ah, aku baru ingat sekitar tiga bulan yang lalu ketika aku dan Izzie pergi belanja di swalayan yang berada di sebrang kami bertemu dengan Edward.”
            “Apa? Jadi Izzie sudah bertemu dengan Edward? Kenapa dia tidak pernah bercerita padaku.”
            “Izzie tidak ingin membuatmu khawatir, Kyle. Lagipula pada saat itu aku ada bersamanya. Edward tidak mengganggu Izzie, hanya saja ia memang terlihat sangat ingin sekali mendapatkan Izzie kembali. Dan ia sangat shock ketika mengetahui kalian sudah menikah.”
            “Sudahlah, Kyle, jangan terlalu kau pikirkan. Yang penting saat ini adalah Izzie.” Tom mengingatkan.
            “Kau benar, Tom, yang penting saat ini adalah keadaan Izzie. Aku berharap tidak terjadi hal yang buruk pada Izzie dan janinnya.”

            Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan UGD, aku langsung menghampirinya dengan segera dan menanyakan keadaan istriku dan bayi kami, “Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan bayinya?”
            “Istri anda mengalami pendarahan yang cukup hebat, sehingga kami tidak dapat menyelamatkan bayinya. Meskipun dipaksakan untuk dipertahankan itu akan membahayakan nyawa istri anda.
            Penjelasan dari dokter benar-benar menghantamku dengan amat sangat keras sekali. “Ya Tuhan…” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu melepaskannya, “Tapi apakah istri saya masih bisa hamil lagi, dok?”
            “Tentu saja, usia istri anda masih muda. Hanya saja butuh waktu untuk memulihkan rahimnya. Jadi anda harus menunda beberapa waktu untuk kembali memulai program kehamilan.”
            “Terima kasih, Dok, apakah saya boleh meilhat keadaan istri saya?”
            “Tentu saja, istri anda akan segera kami pindahkan ke ruang pemulihan. Permisi.”
            Lalu dokter itu pun pergi. Aku hanya bisa bersandar di dinding rumah sakit, penjelas yang di berikan oleh dokter benar-benar membuatku lemas dan membuat semangatku menghilang.

            “Kyle, kau harus tabah. Yang pentingkan kalian masih bisa mempunyai keturunan.” Ucap Tom sambil menepuk pundakku.
            “Aku tahu, Tom. Aku hanya sangat terkejut, kau tahu aku sudah sangat menantikannya. Aku sudah tidak sabar menanti bayi kami lahir.”
            “Aku mengerti perasaanmu, Kyle. meskipun aku belum pernah merasakannnya. Bukankah kau seharusnya bersyukur bahwa Izzie bisa melewati masa kritisnya. Kau tahu dalam beberapa kasus seperti ini bisa saja merenggut nyawa keduanya. Apalagi Izzie mengalami pendarahan yang cukup hebat.”
            “Maafkan aku, Tom, aku benar-benar egois. Aku malah lebih memikirkan bayi kami yang sudah tidak ada. Aku malah melupakan Izzie.”
            “Sudahlah, aku sangat menngerti keadaanmu Kyle.”
            “Kalian berdua, bisa berdebat dulu sebentar, kan. Sebaiknya sekarang kita melihat keadaan izzie.” Manda menghentikan pembicaraan kami berdua.

            Lalu kami bertiga menuju ke ruangan tempat Izzie di rawat. Dengan perlahan aku membuka pintu ruangan itu. Aku hanya bisa menunduk lemas melihat keadaannya. Ini kali kedua aku melihatnya terbaring seperti ini di rumah sakit dan hampir kehilangan nyawanya.

            Tuhan, tolong lindunganlah istriku selalu. Jangan biarkan ia menderita dan mengalami hal-hal yang buruk lagi. Cukup sampai di sini. Iz mengalami hal yang membahayakan nyawanya.

            “Aku benar-benar tak sanggupp melihatnya seperti ini,Tom.”
            “Ini bukan kesalahanmu, Kyle. ini kecelakaan.”

            Tiba-tiba Izzie sadar…
            “K-Kyle…” panggilnya dengan suara yang terbata-bata.
            “Sayang, kau sudah sadar.”
            “Kyle, bagaimana dengan bayi kita? Ia baik-baik saja, kan?”
            Mendengar pertanyaannya itu aku langsung terdiam dan memandang Tom serta Manda bergantian. “Sayang, kau harus sabar, ya.” Jawabku kelu.
            “Maksudmu apa?”
            “Dokter tidak bisa menyelamatkannya, sayang.”
            “Tidak… Tidak, mungkin. Aku mau bayiku, Kyle.”

            Mengetahui kenyataan bahwa Izzie kehilangan bayi yang sedang di kandungnya membuat ia histeris dan hilang kendali. Dokter sampai memberinya obat penenang agar Izzie tidak histeris lagi.

            “Izzie pasti sangat hancur sekali mendengar semua ini. Ia bahkan sampai histeris. Ya Tuhan.” Ucapku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
            “Sabar, Kyle. Izzie hanya shock saja. Nanti juga ia bisa menerima semua ini. Yang perlu kau lakukan adalah selalu berada di sampingnya.”
            “Makasih, Tom.”
***

            Akhirnya aku kembali kesini, dengan begitu aku bisa dengan mudah mengawasi izzie. Aku akan mengambilnya kembali dari tangan Kyle. aku tak peduli bahwa mereka berdua sudah menikah. Aku akan mendapatkannya lagi.

            Kalau aku tak bisa memisahkan mereka berdua. Aku yang akan melenyapkan Kyle dari sisi Izzie. Aku akan melenyapkannya, agar aku bisa memiliki Izzie kembali.
           
­­­            Kyle memang tidak bisa menjaga Izzie, bagaimana mungkin Izzie bisa dua kali menglamai kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Izzie lebih baik bersamaku, karena aku pasti akan menjaganya dengan benar.

            Siang itu aku memutuskan untuk menjenguk Izzie di rumah sakit. Kebetulan saat itu tidak ada siapa-siapa di ruangannya.

            “Kau mau apa kemari, Ed? Sebaiknya kau pergi, karena aku tidak ingin bertemu denganmu.”
            “Tapi aku ingin bertemu, Izzie aku khawatir dengan keadaanmu, makanya aku datang kemari.”
            “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sudah baik-baik saja saat ini. Jadi sebaiknya kau pergi, Ed.”
            “Tidak, aku tidak akan pergi. Izzie, kau harus meninggalkan lelaki itu. Kalau ia benar-benar mencintaimu pasti ia takkan membuatmu menjadi seperti ini.”
            “Jangan pernah menyalahkan suamiku, Ed. Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, lagipula semua ini hanya kecelakaan. Tak ada yang harus di salahkan dari kejadiian ini.”
            “Aku mencintaimu, Izzie. Sangat sangat mencintaimu.’
            “Tapi aku tidak, jadi sebaiknya kau pergi sekarang juga, Ed.”
            “Astaga, Izzie, mangapa kau begitu keras kepala. Mengapa kau begitu mempercayai lelaki itu.”
            “Karena dia suamiku, Ed. Dan sudah seharusnya aku mempercayai suamiku. Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga. Aku tak mau berdebat lagi denganmu, mengerti.”

Light At The End of The Tunnel Chapter 2


Chapter 2

            Setelah Eric Dill meninggalkan ruanganku tepat pukul tiga sore. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Kami berncana untuk melakukan kembali pertemuan kembali pada hari Rabu. Dan ia meminta agar pertemuan dilakukan di perusahaanku, tepatnya di ruanganku.

            Aku sudah sangat yakin apa tujuannya. Ya, karena ia ingin bertemu dan memandangi lagi wajah istriku. Aku sangat yakin sekali kalau Eric jatuh cinta pada Izzie-ku.

            “Sir, apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba suara Izzie mengagetkan lamunanku.
            “Kalau boleh jujur aku tidak baik-baik saja.”
            “Apa ada masalah dengan Mr. Dill?”
            “Ya, masalah yang sangat besar Miss Williams.”
            “Masalah apa kalau boleh aku tahu Mr. Dickherber?”
            “Kau…” jawabku singkat.
            “Apa? Aku…” ia kaget mendengar jawabanku, “Bagaimana bisa aku menjadi sebuah ‘masalah’ yang sangat besar itu?” lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.
            “Iya, karena Dill terus saja memandangimu, Izzie. Bahkan ia berkata kalau kau menjadi asisten pribadinya, ia tak hanya akan menjadikanmu seorang asisten. Tapi CEO dari Seattle itu memiliki keinginan untuk memperistrimu.” Jawabku emosi.

            Mendengar penjelasanku Izzie malah tertawa. Sudah lama aku tidak melihatnya tertawa seperti itu, tapi meksipun begitu aku tetap kesal. Karena ia tidak merasakan ketakutanku akan kehilangannya.

            “Kau lucu sekali Mr. DIckherber.” Jawabnya sambil berusaha menghentikan tawanya.
            “Tidak lucu Miss Williams. Aku tidak sedang membuat lelucon denganmu.”
            “Aku tahu, aku minta maaf. Hanya saja kau terlalu berlebihan, Kyle. Ketakutanmu terlalu berlebihan.” Ucapnya sambil mendekat lalu duduk di kursi depan mejaku,
            “Aku benar-benar takut, Izzie.”
            “HIlangkan ketakutanmu itu. Aku ada disini, disampingmu dan itu yang akan aku lakukan sampai maut benar-benar memisahkan kita. Aku milikmu selamanya, Kyle. aku takkan pernah berpaling pada lelaki manapun. Apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai seorang bayi. Aku mohon hilangkan semua perasaan itu dan percayalah padaku.

            Izzie menggenggam tangunku erat lalu mendaratkan sebuah ciuman yang lembut dibibirku. Dan itu membuatku kembali tenang. Aku memang harus mempercayainya, tak ada yang perlu aku takutkan. Karena saat ini Izzie sudah menjadi milikku, kami juga akan segera mempunyai seorang bayi.

            Seorang bayi yang akan mengikat kami berdua selamanya. Aku benar-benar sangat mencintai istriku ini. Lalu kami berdua kembali menyelesesaikan pekerjaan kami sampai waktu menunjukan jam pulang.

***

            “Kau punya informasi apa John?”
            “Saya mempunyai dua informasi yang penting Miss Brown.”
            “Cepat katakana padaku, John.”
            “Saat ini Miss Williams bekerja di perusahaan Mr. Dickerber dan menjadi asisten pribadinya, Miss. Dan menurut info yang berhasil saya kumpulkan Mr. Dickerber telah menikah dengan Miss Williams tiga bulan yang lalu.
            “APA!!!! Apa kau yakin, John?” kabar yang aku terima seperti petir yang menyambar disiang hari. Kyle dan Izzie sudah menikah? Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.
            “Iya, Miss Brown. Saya mendapatkan informasi itu dari saah satu staf eksekutif di perusahaan Mr. Dickherber.”
            “Lanjutkan pekerjaanmu, John.” Aku menutup telepon dengan kasar dan langsung melemparnya.

            Aku berjalan mondar mandir di dalam ruannganku. Kabar yang baru aku terima benar-benar membuatku gila.

            “Bagaimana mungkin Kyle dan Izzie menikah? Aku tak bisa membiarkan semua ini, aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka selamanya. Kau akan menerima pembalasan dariku Izzie. Sepertinya aku mendapatkan ide untuk menyingkirkan Izzie dari hidup Kyle selamanya.”

            Sejak mendapatkan kabar penikahan Izzie dan Kyle hidupku benar-benar seperti neraka. Sangat sangat kacau dan buruk. Rasanya aku ingin mati saja, karena lelaki yang kucintai sudah menikahi wanita lain.

            Aku tidak bisa menerima semua itu. Terlalu mudah jika aku mati, dan membuat mereka berdua bahagia diatas penderitaanku. Aku takkan pernah membiarkannya. Takkan pernah.

            Keesokkan harinya aku memberanikan diri untuk mendatangi Kyle di perusahaannya. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Dan ternyata benar saja, Izzie membukakan pintu ruangan Kyle, bahkan meja kerjanya berada satu ruangan dengan Kyle.

            Ya Tuhan, semua pemandangan ini benar-benar membuatku gila. Ingin rasanya aku langsung menjambak dan menampar Izzie. Tapi, semua itu tidak mungkin aku lakukan di kantornya Kyle.

            “Ah, Miss Brown. Selamat datang lama tak berjumpa.” Sapanya padaku.
            “Rupanya kau bekerja disini?”
            “Yup, dan aku menyukai pekerjaanku ini. Karena bisa terus berada dekat dengan suamiku tersayang. Ah, iya aku hampir lupa Kyle sedang ada pertemuan, mungkin ia akan lama, jadi silakan tunggu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.”
           
            Izzie, meninggalkanku dan kembali duduk di kursinya. Sialan, rupanya sekarang ia tidak selemah waktu itu.

            Aku pun menuju sofa yang ada diruangan itu dan duduk. Aku terus memperhatikan Izzie dari tempatku duduk. Di sela pekerjaannya tak jarang ia mengelus-elus perutnya. Dan itu membuatku penasaran, apakah ia sedang hamil? Tapi mengapa secepat ini.

            Tiba-tiba saja aku mendapatkan ide. Kalau dia memang benar-benar sedang hamil, aku akan membuatnya kehilangan bayinya.

            “Bolehkah aku menggunakan toilet di ruangan ini?”
            “Ya, tentu saja, silakan.”
           
            Aku langsung beranjak dan menuju toilet yang ada  di situ. Lalu aku menuangkan salah satu sabun cair yang di situ dan menuangkannya kelantai. Sabun cair ini akan membuat lantai menjadi licin. Tentu saja tidak akan terlihat karena sabunnya berwarna transparan.

            Setelah selesai aku buru-buru kembali. Dan bersikap seperti biasa.

            “Apa Kyle masih belum kembali?”
            “Lima menit lagi ia tiba Miss Brown, karena aku sudah menghubunginya barusan.’

            Lima menit kemudian Kyle datang, wajahnya benar-benar tidak bersahabat padaku. “Mau apa kau datang kemari, Mary?”
            “Aku kemari untuk membicarakan tentang bisnis.”
            “Aku sudah tidak ingin bekerja sama lagi denganmu. Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku bertindak kasar padamu.”
            “Kyle, sudahlah. Tahan emosimu, mungkin Mary Jeane memang datang untuk membicarakan pekerjaan denganmu.’
            “Kau tidak apa-apa? Ia tidak melukaimu kan, sayang?”
            “Tidak, aku baik-baik saja. Ia tidak melakukan apa-apa padaku.”
            Kyle kembali mengarahkan panangannya padaku. “Sebaiknya kau pergi dari sini, hubungan kerja sama kita sudah berakhir.”
            “Kau benar-benar keterlaluan, Kyle.” ucapku sambil menghambur keluar dari ruangan itu.

            Tapi ketika di luar aku tersenyum senang, karena aku akan segera mendapatkanmu Kyle. Aku akan membuat Izzie benar-benar tidak bisa memberikanmu keturunan.

***

            Setelah wanita itu pergi Kyle langsung memelukku erat. “Sayang, kau tidak apa-apa, kan?”
            “Aku baik-baik saja Kyle, sungguh aku baik-baik saja. Ia tidak melakukan apapun padaku.”
            “Maaf aku sudah meninggalkanmu lama.”
            “Kyle, aku tidak apa-apa, jadi berhentilah bersikap seperti itu. Dan sekarang aku mau ke toilet, bisakah kau melepaskan pelukanmu? Ini masih jam kerja Mr. Dickherber.”
            Pelukannya melonggar dan akhirnya terlepas, “Maafkan aku, sayang, pergilah.”
            Aku membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu melangkahkan kakiku menuju ke toilet yang ada di ruang kerja suamiku.

            Ketika aku akan masuk kedalam bilik tiba-tiba saja aku terpeleset dan terjatuh. Dan perutku langsung mengalami sakit yang sangat hebat. Aku benar-benar ketakutan, aku takut terjadi sesuatu pada kandunganku.

            Sambil meringis menahan sakit aku berusaha untuk bangun. Betapa terkejutnya aku ketika  melihat darah segar yang meluncur dengan mulus di pahaku. Ya Tuhan, jangan, aku tak ingin kehilangan bayiku.

            Aku mengumpulkan segenap kekuatanku untuk memanggil Kyle, “ Kyle… Kyle…” teriakku dengan suara yang lebih keras namun terdengar serak.

            Tak lama kemudian Kyle tiba dengan wajah yang sangat panic sekali, “Apa apa, sayang?” tanyanya. Belum sempat aku menjawab ia sudah terpekik melihat darah yang keluar dari pahaku, “Ya Tuhan, kau kenapa, sayang?”
            “Aku terpeleset dan perutku sangat sakit sekali. Cepat bawa aku ke rumah sakit, Kyle. aku tak ingin terjadi sesuatu pada bayi ini.”

            Kyle langsung memangkuku dan bergegas membawaku ke rumah sakit terdekat secepat mungkin. Wajahnya terlihat menegang keras dan sangat pucat.

            Ya Tuhan, aku mohon selamatkan bayi ini, jangan ambil bayi ini dari kami. Karena bayi ini sangat inginkan oleh Kyle. Aku meringis menahan rasa sakit yang kurasakan, rasanya seperti mau mati. Ya Tuhan…

Light At The End of The Tunnel Chapter 1


Chapter 1

            “Kyle, bolehkah aku bekerja? Aku benar-benar bosan berada terus di apartemen ini.” Keluhku pada suatu pagi di hari Minggu.
            Mendengar perkataanku Kyle langsung mengalihkan perhatiannya padaku sambil mengernyitkan dahi, “Kau mau bekerja, sayang?”
            “Ya, aku ingin memiliki kegiatan, agar aku tak merasa bosan.”
            “Tapi sayang, kau harus banyak istirahat.”
            “Aku bosan, Kyle. Lagipula aku akan mencari pekerjaan yang tidak terlalu menguras tenaga dan tidak akan membuatku kelelahan.”

            Kyle memutar bola matanya sambil berpikir keras. “Baiklah, sepertinya aku punya pekerjaan yang cocok untukmu, sayang.”
            “Apa maksudmu?”
            “Kau akan bekerja padaku dan menjadi asisten pribadiku.”
            “Tidak, aku ingin mencari pekerjaanku dengan jerih payahku sendiri.”
            “Kalau begitu jangan harap aku akan memberikanmu izin untuk bekerja.” Ucapnya tegas.

            Oh, ia benar-benar tidak memberiku ruang gerak sedikitpun. Mengapa ia tidak membiarkan aku untuk mandiri. Aku bukan anak kecil yang harus selalu di awasi setiap waktu. Aku pasti akan menjaga kandunganku dengan sangat baik, tapi mengapa suamiku sendiri tidak mempercayaiku. Aku berpikir keras.

            “Bagaimana sayang? Kau mau menerimanya atau kau takkan pernah mendapatkan izin itu selamanya.”
            Aku mendengus kesal, “Baiklah, aku terima tapi aku punya syarat.”
            Kyle menatapku dengan mata yang melebar, “Syarat? Kau punya syarat apa yang ingin aku penuhi istriku tercinta?”
            “Pada saat jam kerja kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan sayangku, cintaku, istriku ataupun Mrs. Dickherber. Kau harus memanggilku Izzie Williams selama jam kerja.”
            “Apa? Tidak mungkin, tidak aku tidak mau, mana mungkin Izzie.’
            “Ya sudah terserah kau saja. Aku akan tetap nekat mencari pekerjaan sendiri.” Ancamku sambil mendelikkan mataku padanya.
            Mendengar persyaratan yang aku ajukan Kyle terlihat sangat berpikir keras. “Baiklah, aku akan menerima semua persyaratan itu. Dengan catatan meja kerjamu harus berada satu ruangan denganku!”
`           “Kyle…”
            “Tidak, sayang. Jangan membantah lagi.” Ucapnya sambil mengacungkan tangannya.
            “Baiklah, kapan aku bisa memulai pekerjaanku, Sir?”
            “Besok, kau sudah boleh untuk mulai bekerja.”

            Aku menarik nafas dalam-dalam. Suamiku ini benar-benar sangat posesif dan overprotective. Tak bisakah ia membiarkan aku untuk bekerja sendiri, dengan usahaku sendiri.
           
            Menginjak minggu kelima kehamilanku, aku mulai merasakan banyak tekanan. Dan kehamilanku terasa sangat berat sekali. Apalagi saat ini aku memutuskan untuk bekerja di kantor suamiku tersayang. Setelah berdebat cukup panjang akhirnya Kyle memperbolehkanku untuk beraktifitas.

            Dengan catatan aku harus menjadi asisten pribadinya. Bahkan meja kerjaku harus berada satu ruangan dengannya. Aku hanya bisa menurutinya saja, karena aku tidak ingin berdebat lagi yang pada akhirnya hanya akan berakhir dengan pertengkaran saja.


***
            Kehidupanku saat ini benar-benar sempurna. Karena pada akhirnya Izzie menjadi istriku, ia menjadi miliku. Betapa bahagianya aku saat ini, apalagi sekarang Izzie tengah mengandung buah cinta kami berdua.

            Kebahagian yang kurasakan semakin bertambah saja ketika mengetahui kehamilan istri tercintaku itu. Yah, meskipun sekarang aku harus lebih ekstra sabar menghadapinya. Karena emosinya sedang tidak stabil. Tak jarang kami bertengkar hanya gara-gara masalah sepele.

            Dan perasaan senang yang lainnya lagi adalah aku bisa terus berada di sampingnya sepanjang waktu. Seperti saat ini. Aku mengawasinya dari mejaku. Ah, Izzie memang benar-benar sangat cantik sekali.

            “Hey, Sir, bisakah berhenti memandangiku seperti seekor singa jantan yang kelaparan seperti itu?” tegurnya ketika mendapati aku sedang serius menatapnya.
            “Ya, aku memang selalu merasa kelaparan melihatmu, Mrs. Dickherber-ku tersayang.”
            “Panggil aku Miss Williams atau Izzie. Kau lupa pada perjanjian kita?” ucapnya sambil memelototiku.
            “Ah, ya, maafkan aku Miss Williams yang cantik.”
            “Baiklah Mr. Dickherber yang terhormat, bisakah berhenti memandangiku seperti itu dan membiarkan aku menyelesaikan pekerjaan ini untukmu sebelum jam makan siang. Bukankah kau ada janji dengan Mr. Dill dari Seattle setelah makan siang nanti.”
            “Ah, ya, aku hampir saja lupa dengan janji itu. Mr. Dill akan datang menemuiku setelah jam makan siang. Terima kasih sudah mengingatkanku Miss. Williams, kau sangat membantu sekali. Dan silakan kembali bekerja.” Ucapku sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku.

            Aku hanya boleh memanggilnya dengan sebutan istriku ketika jam makan siang saja. Tapi setelah itu, kami berdua kembali bersikap seperti atasan dan asistennya saja. Tom sampai tertawa terbahak-bahak melihat kami berdua kemarin.
            Izzie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyolku yang setiap hari berusaha menggodanya. Dan Izzie berhasil tidak tergoda oleh semua rayuanku, padahal aku sangat ingin sekali merasakan bercinta dengannya di dalam ruanganku. Tapi itu akan sangat sulit sekali.

            Lima menit sebelum jam makan siang Izzie menyerahkan berkas-berkas yang aku butuhkan. Lalu kami berdua memutuskan untuk makan siang di kantor saja, kebetulan Nanny Kelly membawakan makanan dari rumah. Karena Izzie sedang hamil, jadi makanannya harus benar-benar bergizi dan di jaga.

            “Sayang, apa kau sudah selesai makan?” tanyaku melihat kotak bekalnya yang masih penuh itu.
            “Ya, aku sudah kenyang. Terima kasih.”
            “Tapi kau hampir tidak menyentuh makananmu. Kau hanya memakan mashed potato-nya saja.”
            “Tapi aku benar-benar sudah kenyang, Kyle. aku tak ingin mengeluarkan kembali semua makanan yang sudah aku makan.”

***

            Tepat pukul satu siang Eric Dill tiba di kantorku. Saat pertama kali masuk dan duduk di ruanganku. Tatapannya langsung terfokus pada istriku yang sedang sibuk bekerja.

            Ya Tuhan, jangan-jangan CEO dari Seattle ini menaruh hati pada istriku. Itu terbukti karena ia selalu melirik Izzie di sela-sela pembicaraan rencana kerja sama yang sedang kami bahas. Sampai akhirnya ia menanyakan sesuatu yang membuatku kaget.

            “Siapa nama asistenmu itu Mr. Dickherber?” tanyanya sambil menatap Izzie.
            “Ah, dia Izzie Williams,” jawabku tergugu, “Memangnya ada apa?”
            “Kau sangat beruntung sekali memiliki asisten pribadi secantik dia. Andai saja dia asisten pribadiku. Dia tidak hanya akan menjadi asistenku saja tapi akan kujadikan sebagai istriku.”
            Brengsek, dia istriku tahu. Rasanya aku ingin sekali memukul wajahnya karena dia sudah memandangi istriku seperti itu.

            “Mr. Dickherber, bagaimana kalau pertemuan selanjutnya kita laksanakan pada hari Rabu. Aku akan menemuimu disini. Bagaimana?
            “Ah, iya. Ide bagus, kita bisa sekalian makan siang disini.” Jawabku sambil berusaha menekan emosiku.
            “Senang sekali bekerja sama dengan anda Mr. Dickherber.” Ucapnya sambil menjabat tanganku sambil tersenyum penuh arti.

***

Selasa, 23 Oktober 2012

Light At The End Of The Tunnel ( Teaser )


A Little Bit Teaser

            Menginjak minggu kelima kehamilanku, aku mulai merasakan banyak tekanan. Dan kehamilanku terasa sangat berat sekali. Apalagi saat ini aku memutuskan untuk bekerja di kantor suamiku tersayang. Setelah berdebat cukup panjang akhirnya Kyle memperbolehkanku untuk beraktifitas.

            Dengan catatan aku harus menjadi asisten pribadinya. Bahkan meja kerjaku harus berada satu ruangan dengannya. Aku hanya bisa menurutinya saja, karena aku tidak ingin berdebat lagi yang pada akhirnya hanya akan berakhir dengan pertengkaran saja.

***

            Kehidupanku saat ini benar-benar sempurna. Karena pada akhirnya Izzie menjadi istriku, ia menjadi miliku. Betapa bahagianya aku saat ini, apalagi sekarang Izzie tengah mengandung buah cinta kami berdua.


            Dan perasaan senang yang lainnya lagi adalah aku bisa terus berada di sampingnya sepanjang waktu. Seperti saat ini. Aku mengawasinya dari mejaku. Ah, Izzie memang benar-benar sangat cantik sekali.

            “Hey, Sir, bisakah berhenti memandangiku seperti seekor singa jantan yang kelaparan seperti itu?” tegurnya ketika mendapati aku sedang serius menatapnya.
            “Ya, aku memang selalu merasa kelaparan melihatmu, Mrs. Dickherber-ku tersayang.”
            “Panggil aku Miss Williams atau Izzie. Kau lupa pada perjanjian kita?” ucapnya sambil memelototiku.
            “Ah, ya, maafkan aku Miss Williams yang cantik.”
            “Baiklah Mr. Dickherber yang terhormat, bisakah berhenti memandangiku seperti itu dan membiarkan aku menyelesaikan pekerjaan ini untukmu sebelum makan siang. Bukankah kau ada janji dengan Mr. Dill dari Seattle setelah makan siang nanti.”
            “Ah, ya, aku hampir saja lupa dengan janji itu. Mr. Dill akan datang menemuiku setelah jam makan siang. Terima kasih sudah mengingatkanku Miss. Williams, kau sangat membantu sekali. Dan silakan kembali bekerja.” Ucapku sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku.

            Aku hanya boleh memanggilnya dengan sebutan istriku ketika jam makan siang saja. Tapi setelah itu, kami berdua kembali bersikap seperti atasan dan asistennya saja. Tom sampai tertawa terbahak-bahak melihat kami berdua kemarin.

            Izzie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyolku yang setiap hari berusaha menggodanya. Dan Izzie berhasil tidak tergoda oleh semua rayuanku, padahal aku sangat ingin sekali merasakan bercinta dengannya di dalam ruanganku. Tapi itu akan sangat sulit sekali.

            Lima menit sebelum jam makan siang Izzie menyerahkan berkas-berkas yang aku butuhkan. Lalu kami berdua memutuskan untuk makan siang di kantor saja, kebetulan Nanny Kelly membawakan makanan dari rumah. Karena Izzie sedang hamil, jadi makanannya harus benar-benar bergizi dan di jaga.

            “Sayang, apa kau sudah selesai makan?” tanyaku melihat kotak bekalnya yang masih pebuh itu.
            “Ya, aku sudah kenyang. Terima kasih.”
            “Tapi kau hampir tidak menyentuh makananmu. Kau hanya memakan mashed potato-nya saja.”
            “Tapi aku benar-benar sudah kenyang, Kyle. aku tak ingin mengeluarkan kembali semua makanan yang aku makan.”

***

            Tepat pukul satu siang Eric Dill tiba di kamtorku. Saat pertama kali masuk dan duduk di ruanganku. Tatapannya langsung terfokus pada istriku yang sedang sibuk bekerja.

            Ya Tuhan, jangan-jangan CEO dari Seattle ini menarush hati pada istriku. Itu terbukti karena ia selalu melirik Izzie di sela-sela pembicaraan rencana kerja sama kami. Sampai akhirnya ia menanyakan sesuatu yang membuatku kaget.

            “Siapa nama asistenmu itu Mr. Dickherber?” tanyanya sambil menatap Izzie.
            “Ah, dia Izzie Williams,” jawabku tergugu, “Memangnya ada apa?”
            “Kau sangat beruntung sekali memiliki asisten pribadi secantik dia. Andai saja dia asisten pribadiku. Dia tidak hanya akan menjadi asistenku saja tapi akan kujadikan istriku.”

            Brengsek, dia istriku tahu. Rasanya aku ingin sekali memukul wajahnya karena dia sudah berani menatap izzie, istriku tercinta itu.

***

Sooooooo penasarankahh????????
Tunggu kisah selengkapnya di buku kedua dengan judul yang berbeda..
Oke, thanks for reading my crazy #wildways imagination..

See ya :*

Senin, 22 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 20 ( The Ending )


Chapter 20
           
            Aku tahu siapa yang di maksud oleh Ed dengan sebutan lelaki itu. “Bukan urusanmu, Ed.” Ucapku sambil hendak berlalu, tapi ia menahanku. “Lepaskan tanganku, Ed.”
            “Tidak, Izzie, aku tidak akan melepaskanmu. Kau ingin tahu kenapa aku ada disini? Karena aku ingin kau kembali menjadi milikku lagi.”
            “Jangan mimpi, Ed. Aku sudah bersama Kyle sekarang dank au takkan bisa memisahkan aku dengannya. Sekarang lepaskan tanganku.”
            “Terserah kau mau mengatakan apa, yang jelas aku akan merebutmu kembali dari lelaki itu.” Ed lalu melepaskan tangnku, “Sampai bertemu lagi, Izzie-ku yang cantik.” Uccapnya sambil membelai wajahku.
            Tapi aku menepisnya, “SIngkirkan tangan kotormu itu dariku, Ed. Dan jangan sekali-kali kau berani menyentuhku.”

            Aku langsung berlari ke dalam kampusku untuk menghindarinya. Samar-samar aku mendengar Ed tertawa di belakangku. Dasar Ed sialan, mau apa dia muncul? Enak saja di menyentuh wajahku seenaknya. Aku ingin tahu bagaimana ekspresinya jika tahu bahwa aku sekarang sudah menjadi istri Kyle.

            Sejak pertemuanku dengan Edward tadi pagi di depan kampus. Pikiranku jadi benar-benar kacau. Aku merasa pasti aka nada sesuatu lagi. Ya Tuhan, apapun yang akan terjadi nanti aku mohon kuatkanlah aku dan Kyle agar bisa melewati itu semua.

***

            Tepat pukul satu siang aku sampai di kantor suamiku tercinta. Ketika keluar dari dalam lift aku berpapasan dengan Kyle yang baru saja selesai menghadiri pertemuan. Lalu kami bersama-sama menuju ke ruangan Kyle.

            “Selamat siang Mr. Dickherber. Siang Miss Williams,” sapa Lisa sekretarisnya Kyle.
            “Bukan Miss Williams Lisa, mulai sekarang kau harus memanggilnya Mrs. Dickherber, ingat itu.” Kyle memberitahu.
            “Baik, Sir.” Jawab Lisa sambil membungkung.

            Aku tertawa kecil melihat Kyle berkata seperti itu pada sekretarisnya. Benar-benar lucu sekali suamiku ini.

            “Hey, mengapa kau memarahi Lisa? Kasihan dia.” Ucapku ketika kami sudah berada di dalam.
            “Aku tidak memarahinya, sayang. Aku hanya memberitahunya bahwa sekarang kau ini istriku.”
            “Wah, sepertinya akan susah sekali, ya aku mengaku kalau aku ini masih single.”
            Mendengar perkataanku Kyle langsung memelototiku, “Jangan coba-coba sayang, aku takkan membiarkan orang lain menganggap bahwa kau belum menikah dan masih berpacaran denganku. Dengar kau ini sekaranga istriku.”
            “Ataga, Kyle, aku hanya bercanda, mengapa kau jadi emosi? Apa pekerjaanmu baik-baik saja?”
            “Maafkan aku sayang, di ruang pertemuan tadi hampir saja membuatku gila. Maafkan aku, ya.”
            “Iya, aku memaafkanmu. Jadi, kita mau makan siang dimana? Aku sudah sangat lapar sekali.” Ucapku sambil memegangi perutku yang mulai bernyanyi minta diisi.
            “Baiklah, ayo kita berangkat sekarang.”

            Kami berdua pergi keluar untuk makan siang bersama. Sebenarnya aku sangat ingin sekali bercerita tentang pertemuanku dengan Edward tadi pagi. Tapi aku langsung mengurungkan niatku itu. Aku tidak ingin membuat suamiku khawatir apalagi sepertinya ia sedang pusing dengan pekerjaannya.

            Lagipula Ed belum melakukan hal yang macam-macam, jadi aku merasa belum waktunya untuk memberitahu Kyle, bahwa Edward saat ini ada di New York.

            Selesai makan siang, Kyle mengantarkanku pulang ke apartemen sedangkan dia kembali ke kantor.
            “Kau hati-hati di rumah, ya. Kunci pintu dan jangan sembarang membuka pintu. Oke.”
            “Iya, aku mengerti. Aku hanya akan pergi ke swalayan terdekat untuk bebelanja bahan-bahan makanan untuk nanti malam.”
            “Kau akan keluar denganku, Izzie. Tunggulah aku pulang.”
            “Kyle, aku hanya sebentar. Lagipula aku akan pergi ke swalayan yang ada di sebrang, tidak akan jauh.”
            “Aku takut kau kenapa-napa, sayang.”
            “Kyle, aku akan baik-baik saja, aku juga akan berhati-hati. Percayalah padaku.” ucapku sambil mengecup lembut bibirnya.
            “Baiklah kalau begitu. Kau harus berhati-hati, oke.”
            “Iya, aku berjanji. Sekarang kembalilah ke kantor, agar semua pekerjaanmu cepat selesai.”
            “Baiklah, sayang kalau begitu aku pergi dulu, ya.”
            “Hati-hati di jalan, jangan mengebut.”
           
            Kyle mengangguk lalu mencium bibirku beberapa lama dan pergi meninggalkanku sendiri di apartemen. Aku benar-benar merasa kesepian di apartemen seluas ini, kebetulan Nanny Kelly sedang cuti jadi selama dua minggu kedepan ia tidak akan datang.

            Hal yang pertama aku lakukan adalah menyimpan tas dan buku-bukuku di kamar lalu pergi mandi. Tentu saja aku sudah mengunci pintu depan, sesuai dengan perintah suamiku tersayang.

            Setelah mandi dan berpakaian aku menonton TV sambil duduk di sofa mengeringkan rambutku yang basah. Tiba-tiba ponselku berdengung, ternyata pesan dari Amanda. Ia memberitahu bahwa akan sampai di apartemenku lima menit lagi.

***
            Lalu aku pergi ke swalayan di temani oleh calon kakak iparku itu. Aku membeli cukup banyak bahan makanan. Karena persediaan di dalam kulkas sudah mulai menipis.

            Setelah membayar semua belanjaan di kasir aku dan Manda berjalan keluar hendak menyebrang kembali ke apartemenku. Tiba-tiba Edward muncul, kemunculannya hampir saja membuatku menjatuhkan semua belanjaan yang sedang kupegang.
           
            “Jadi kau tinggal bersama lelaku itu, Izzie?” ia berkata dengan nada yang jijik padaku.
            “Bukan urusanmu.” Jawabku sengit.
            “Aku tak mengira bahwa kau menjadi wanita yang murahan seperti ini.”
            “Apa maksudmu perkataanmu itu, Ed?” sentakku.
            “Dulu, saat bersamaku kau sangat susah sekali untuk kucium. Tapi sekarang mengapa dengan mudahnya kau mau tinggal dengan lelaki itu. Aku yakin bahwa kau sudah tidur dengannya dank au sudah tidak perawan lagi.”

            Plakkk….!!! Aku mendaratkan sebuah tamparan dipipi Edward. Kata-katanya benar-benar sudah keterlaluan dan membuatku naik pitam. Bahkan Manda pun marah mendengar kata-kata Edward.

            “Dengar, Edward. Apapun yang aku lakukan saat ini tidak ada urusannya denganmu. Aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan. Jadi kau jangan sekali-kali mencoba untuk menuduhku dan menyebut aku wanita murahan. Bukankah kau sama saja, kau sama busuknya. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan dengan Jenny atau mungkin dengan gadis-gadis lainnya.”
            Tiba-tiba Manda mengangkat tangan kananku, “Heh, Edward, lihat cincin di jari manis Izzie ini. Dia dan Kyle sudah terikat, jadi mau Izzie tidur atao bercinta dengan Kyle pun tidak akan ada yang berani melarang mereka berdua.”

            Mata Edward terbelalak melihat cincin yang melingkar di jari manisku itu. Sepertinya ia mulai menebak-nebak cincin apa yang ada di jariku itu.        

            “Kau sudah bertunangan dengan lelaki itu?” tanyanya sambil menatap tajam wajahku.
            “Sayangnya lebih dari itu, Ed. Seminggu yang lalu aku dan Kyle resmi menjadi suami istri.” Jawabku dengan mantap
            “Tidak mungkin, kau pasti bercanda. Aku sangat mencintaimu Izzie, bahkan kau sempat berpacaran denganku selama 2 tahun. Mengapa kau mau menikah dengan lelaki itu, lelaki yang baru kau kenal.”
            “Karena aku sangat sangat mencitai Kyle, Edward. Kau salah, aku sudah lama mengenal Kyle, bahkan ketika kau masih menjadi pacarku. Aku sudah mengenal Kyle. Jadi sekarang pergilah, jangan mengganggu hubunganku dan Kyle.”

            Mendengar penjelasan itu Edward benar-benar sangat kaget. Itu terlihat jelas sekali di wajahnya. Sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi dengan taxi yang melintas di depan kami.

            “Izzie, kau tidak apa-apa? Apa perlu kita melaporkannya pada Tom dan Kyle.”
            “Tidak, Manda, aku mohon jangan ceritakan msalah ini pada mereka berdua. Aku yakin Edward tidak akan kembali mengangguku, karena aku telah memberitahunya bahwa aku ini sudah menikah dengan Kyle.”
            “Baiklah kalau begitu. Ayo, kita kembali ke apartemenmu, aku harus segera menemui kakakmu di kantornya.

***

Tiga bulan kemudian…

            Akhirnya aku berhasil menyelesaikan skripsiku. Saat ini aku sedang mengunggu hasil sidangku. Aku berharap mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan.          

            Sejak hari itu Edward tidak terlihat lagi, mungkin ia sudah kembali ke Irlandia. Dan aku sangat bersyukur sekali, bahwa Ed sudah tidak ada di New York. Dan Kyle, ia nanggih janji padaku. aku pikir ia sudah lupa dengan perjanjian kami ketika dalam pesawat menuju Venice.

            Saat ini kami sedang merencanakan program untuk mempunyai anak. Aku dan Kyle rutin mengikuti berbagai pemeriksaan. Dan hasilnya menyenangkan, aku dan Kyle di nyatakan dalam keadaan sehat. Dokter juga bilang bahwa tubuhku sudah siap untuk mengalami kehamilan.

            Tak perlu menunggu lama. Karena saat ini janin itu sedang mulai tumbuh dalam tubuhku. Jangan tanya bagaimana ekspresi Kyle ketika mengetahui kehamilanku yang baru berusia empat minggu. Semua keluarga senang sekali mendengar kabar kehamilanku ini. Bahkan Mom dan Dad jadi sering datang berkunjung ke New York.

            Dan Kyle, ia menjadi sangat sangat sangat sangat overprotective. Aku yang semenjak wisuda belum memutuskan untuk bekerja di mana memang lebih memilih untuk diam di rumah mengurus suamiku. Apalagi saat ini aku sedang hamil dan Kyle tidak mengizinkanku untuk bekerja.

            Jadi kerjaanku di rumah hanya menonton TV atau membaca buku. Benar-benar bosan, aku tidak bisa pergi keluar dengan leluasa. Kyle akan mengizinkanku keluar jika Nanny Kelly datang ke apartemen saja.

            Tapi aku sangat menikmatinya. Hidupku ternyata benar-benar berubah sejak bertemu dengan Kyle. ia benar-benar sangat mencintaiku, begitupun aku. Kedua orang tuaku sekarang tinggal di Jerman. Dan bersama Kyle aku seperti menemukan tempatku untuk pulang dan berlindung selama-lamanya.

                                                                                                                                                Tamat