Senin, 10 Desember 2012

Chapter 14


Chapter 14

            “Sebaiknya kita bicarakan masalah ini nanti saja, kau tak ingin penyamaranmu terbongkar bukan.”

            Aku semakin terpaku mendengar ucapan kakakku ini. Seharusnya Kak Tom menjadi seorang detektif saja bukan menjadi seorang CEO seperti saat ini. Dan aku tidak bisa mengeluarkan suaraku untuk menjawab ucapan kakakku itu.

            “Nah, jadi bagaimana kalau besok malam kita bertemu di rumahku saja sambil makan malam.”
            “Baiklah, kita bertemu besok malam.” Ucap Eric dengan cepat karena ternyata Kyle sedang menuju ke arah kami. Dan tentu saja wanita menyebalkan itu selalu menepel pada Kyle.
            “Halo semua bagaimana acaranya? Apakah kalian menikmatinya?”
            “Acara yang cukup menyenangkan, Kyle. Sayangnya Izzie tidak ada bersama kita hari ini.’
            “Ah, kau mengingatkanku kembali pada Izzie, Manda.”
            “Izzie ada di Berlin, Kyle. Mom dan Dad sudah berusaha untuk mengajaknya datang kemari tapi ia tetap tidak ingin ikut.”
            “Pasti ia sekarang sedang bersama Eric Dill di sana.”
            “Tidak Miss Brown, putriku bukan wanita yang seperti itu. Dan bagi kami Eric Dill sudah seperti putra kami, apalagi Eric dan Amanda memiliki hubungan darah.”
            “SUdahlah, Paa jangan terlalu menanggapinya. Karena dia akan semakin menjelekkan Izzie di depan kita. Sayangnya, ia tidak terlalu pintar.”
            “Jadi kau menganggapku bodoh Mr. Williams?” suara Mary Jeane terdengar marah.
            “Aku tidak bilang bodoh, hanya berkata tidak terlalu pintar. Karena kau menjelekkan Izzie pada keluarganya. Apa aku salah?”
            “Ah, sebaiknya saya dan istri saya permisi. Kami akan pergi mengambil minuman, sepertinya ada yang harus kalian selesaikan. Ayo, sayang.” Eric mengajakku menjauh dari sana.

            Eric mengajakku ke sisi yang lain dari halaman. Sepertinya akan terjadi pertengkaran lagi antara kakakku dan Mary Jeane. Ya Tuhan, mengapa semakin hari wanita itu semakin menjengkelkan sekali. Aku hampir saja menaparnya untukng saja Eric langsung membawaku menjauh dari sana.

            “Mari kita duduk saja, kau terlihat lelah.”
            “Aku lelah tapi bukan dalam arti yang sebenarnya.”
            “Aku mengerti, maka dari itu aku langsung mengajakmu menjauh dari sana.”
            “Ya Tuhan, Eric. Wanita itu benar-benar menyebalkan sekali, aku hampir saja menamparnya. Untung saja kau segera membawaku pergi. Kalau tidak, pasti acara ini akan kacau.”
            “Dan sepertinya Tom juga mulai mencurigaiku.”
            “Aku hampir pingsan ketika ia memanggilku Izzie, seharusnya kakak menjadi seorang detektif daripada menjadi seorang CEO, benarkan? Kau tahu ketika kami masih kecil kerjaannya itu hanya menyelidiki dan mengawasiku saja.”
            Eric tertawa mendengar ucapanku itu, “Aku sangat setuju padamu, saat pertama kali aku bertemu dengannya ia langsung menyelidikiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.”
            “Yah, begitulah kakakku tapi aku merasa sangat beruntung dan bersyukur sekali memiliki seorang kakak seperti dia.”
            “Izzie bolehkah aku memegang perutmu? Karena aku yakin sekali bayimu tadi sempat tegang ketika mendengar keributan tadi.”
            “Tentu saja, sepertinya bayiku menyukaimu juga.”

            Dengan perlahan Eric meletakkan tangannya di perutku yang sudah membesar dan dengan perlahan mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Ada perasaan senang ketika melihat Eric mengelus-elus kandunganku. Harusnya Kyle yang melakukan hal seperti ini bukan Eric, karena pasti akan berbeda sekali rasanya.

            “Hey, mengapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”
            “Aku tidak tertawa, Ethan, tapi tersenyum.”
            “Sama saja, apa ada yang lucu denganku?”
            “Iya, kau sangat lucu sekali. Sedang berbicara apa dengan bayiku, sampai-sampai kau tersenyum seperti itu?”
            “Kau mau tahu?”
            “Tentu saja aku ingin tahu, aku kan ibunya.”
            “Rahasia.”
            “Hey, kau tidak mau memberitahuku.”
            “Tidak Mrs. Hamilton yang cantik.”
           
            Aku langsung cemberut mendengar ucapan Eric, meskipun aku tahu kalau dia hanya bencanda dan menggodaku saja. Dan ia semakin tersenyum lebar melihat wajahku yang semakin di tekuk karena kesal. Aku tidak sengaja memalingkan wajahku ke arah dimana keluargaku dan Kyle sedang berkkumpul. Kyle sedang memandangku dan Eric dengan tatapan yang sangat sedih. Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku langsung memeluk dan mencium keningnya untuk menglihangkan kesedihan yang di rasakannya saat ini.

            “Kau tidak apa-apa?”
            “Kyle sedang memandangi kita, aku tak tahan melihat tatapan dan wekspresi wajahnya yang menjadi sedih seperti itu. Kapan semua sandiwara ini akan segera berakhirn?”
            “Semoga bisa secepatnya, aku tidak mau melihatmu tersiksa seperti ini.”
             “Bisakah kita pulang setelah pengumpulan dananya selesai? Aku merasa lelah sekali.”
            “Iya, kita tidak akan berada disini sampai acara selesai. Wajahmu terlihat agak pucat apakah kau baik-baik saja?”
            “Hanya sedikit pusing saja.”
            “Apa kau mau pulang sekarang saja?”
            “Tidak, nanti saja jika acara pengumpulan dananya sudah selesai barulah kita pulang.”
            “Baiklah kalau begitu, tapi jika kau merasa tidak kuat katakanlah padaku.”
            “Baiklah, aku akan mengnatakannya padamu.”

            Acara pengumpulan dana pun di mulai, setelai menyerahkan uang untuk di sumbangkan aku dan Eric berencana untuk langsung pulang, tentu saja setelah berpamitan pada keluargaku dan keluarga Kyle.

            Aku mendekati Mom sambil berbisik, “Mom aku pamit sekarang, ya.”
            “Kau memang harus beristirahat, sayang. Wajahmu terlihat agak pucat.”
            “Aku mau istirahat karena besok harus cek up ke rumah sakit.”
            “Mom sebenarnya ingin menemanimu tapi pastinya itu akan menimbulkan kecurigaan. Bagaimana kalau kita bertemu di rumah kakakmu untuk makan siang bersama?”
            “Baiklah Mom, besok siang kita akan bertemu. Dad, aku pamit dulu, ya.”
            “Hati-hati di jalan telepon Dad jika sudah sampai.”
           
            Aku mengangguk dan setelah pamitan pada keluargaku aku dan Eric pamitan pada Kyle dan keluarganya lalu kami berduapun pulang. Sesampainya di apartemen aku langsung tidur karena kelelahan. Semua hal yang terjadi tadi benar-benar membuatku merasa sangat lelah sekali.

            Keesokkan harinya aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek rutin kamdunganku. Hari ini Eric tidak bisa menemaniku dan gantinya ia menugaskan beberapa orang petugas keamanannya untuk menjagaku saat ke rumah sakit.   

            Siang harinya aku langsung menuju ke kediaman kakakku, Eric bilang bahwa ia akan menyusul ke sana begitu juga dengan Kak Tom yang memutuskan untuk ikut makan siang di rumah. Ketika sampai di sana Eric dan kak Tom sudah menunggu kedatanganku.

            “Maaf terlambat tadi aku terjebat macet dalam perjalanan.” Sambil duduk di samping Eric.
            “Eric atau Ethan sudah menceritakannya padaku. mengapa kau tidak mengatakan hal ini pada kakakmu sendiri Izzie?”
            “Karena aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku, Kak. Cukup Eric saja yang sudah ikut terseret dalam permasalahanku.”
            “Jadi kau merubah warna rambutmu, Izzie?”
            “Iya Manda, aku  merubah warna rambutku jadi pirang apakah ini terlihat aneh?”
            “Tentu saja tidak, kau tetap terlihat cantik seperti biasanya, Izzie. Yang membuatku kaget adalah penampilan Eric, aku hampir tidak bisa mengenalinya.”
            “Anak-anak ssebaiknya kita makan dulu, makan siangnya sudah siap.”

            Lalu kami semua bergegas menuju ke ruang makan. Acara makan siang kami di selingi dengan membicarakan beberapa rencana untuk menjebak Mary Jeane. Kak Tom bersedia untuk membantu rencanaku dan Eric. Sepertinya kakakku memang bisa di andalkan untuk urusan yang seperti ini. Kak Tom dan Eric kembali meneruskan pekerjaan mereka setelah makan siang sedangkan aku memutuskan untuk tinggal. Karena aku sangat merindukan kedua orang tuaku.

            “Sayang Mom perhatikan sepertinya Kyle terus saja memperhatikanmu ketika di pesta gala tadi malam.”
            “Bukan hanya tadi malam, Mom. Sejak pertama kali aku kembali ke New York dan menghadiri pertemuan di kantornya, Kyle terus saja memandangiku. Kakak bilang setelah aku pergi Kyle mengatakan bahwa Leona Hamilton mengingatkannya pada Izzie.”
            “Sepertinya Kyle bisa merasakan kehadiranmu meskipun saat ini kamu sedang menyamar, sayang.”
            “Sepertinya begitu Mom, aku sebenarnya ingin sekali bisa berbinca-bincang dengannya tapi Mary Jeane selalu  saja berada di samping Kyle. Wanita itu benar-benar sangat menyebalkan sekali. Dan aku juga sangat marah pada Kyle, karena dia masih saja termakan bujuk rayu wanita itu.”

Jumat, 23 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 13


Chapter 13

          
             Hari ini aku bertemu dengan Ethan Hamilton, seorang CEO dari Jerman. Ia datang bersama istrinya, Ya Tuhan istrinya mengingatkanku pada Izzie. Meskipun warna mata dan rambutnya berbeda tapi ia seperti Izzie. Bahkan aku merasa bahwa Leona Hamilton itu adalah Izzie-ku.

            Tatapan matanya yang sendu itu benar-benar seperti matanya Izzie, bahkan suara dan cara ia tersenyum sangat mirip sekali dengan Izzie-ku.

            “Kyle kau kenapa?” Tom membuyarkan lamunanku tentang Izzie dan istrnya Ethan.
            “Aku tidak apa-apa, Tom, hanya saja aku merasa bahwa Mrs. Hamilton itu adalah Izzie. Meskipun warna rambut dan warna matanya berbeda tapi aku merasa kalau dia itu Izzie. Cara dia berbicara, tersenyum dan menatap sama seperti Izzie.”
            “Mungkin kau sedang merindukan dia saja, Kyle. Percayalah saat ini Izzie baik-baik saja di sana, meskipun aku juga merindukannya.”
            “Tom maukah kau memberitahuku keberadaan Izzie saat ini, aku mohon.”
            “Dia ada di Jerman bersama Mom dan Dad, dan ia tidak mau di ganggu oleh siapapun termasukn oleh dirimu.”
            “Bisakah kita berhenti membicarakan tentang Izzie. Aku benar-benar muak mendengar namanya.”
            “Jaga ucapanmu itu Miss Brown, Izzie itu adalah adik kandungku. Jika kau tidak ingin mendengar kami membicarakannya, sebaiknya kau pergi saja dari sini.”
           
            Mary jeane mendengus kesal mendapatkan teguran dari Tom itu. Sedangkan aku tidak peduli padanya saat ini. Melihat Mrs. Hamilton aku langsung teringat pada Izzie yang saat ini tengah mengandung sama seperti Mrs. Hamilton itu.

            “Kyle, mengapa kau masih memikirkan wanita itu. Kau sudah melihat dengan jelas bahwa ia sudah mengkhianatimu dengan Eric Dill. Apa itu belum cukup bagimu untuk menceraikannya.”
            “Diam Miss Brown, jadi kau yang sudah membuat rumah tangga adikku dan Kyle berantakan menjadi seperti ini. Apa yang kau tahu tentang hubungan Eric dan adikku? Kau hanya membuat kesimpulan secara asal.”
            “Aku tidak membuat kesimpulan secara asal-asalan Mr. Williams, aku memiliki bukti bahwa adikmu itu sudah mengkhianati Kyle. Buktinya dia terlihat baik-baik saja ketika Kyle menghilang dalam kecelakaan pesawat, tidak terlihat sedikitpun ada perasaan sedih dan khwatir di wajahnya.”
            “Itu karena adikku lulusan terbaik dari fakultas psikologi, jadi ia tahu bagaimana caranya untuk tetap terlihat baik-baik saja meskipun hatinya sedang sangat hancur sekali. Kau jangan seenaknya menuduh adikku macam-macam. Kau tidak tahu apa-apa tentang Izzie.”
            “Sudah hentikan, mengapa kalian berdua jadi bertengkar? Mary Jeane sebaiknya kau pergi dari sini. Karena aku akan membahas tentang Izzie bersama Tom.”
            “Tapi Kyle…”
            “Tidak ada tapi, sebaiknya kau pergi sekarang juga.”
                                                                                           
            Dengan perasaan kesal Mary Jeane pergi dari ruanganku. Dia menutup pintu dengan kasar sekali. Yang ingin aku lakukan saat ini adalah mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang Izzie dari Tom. Aku ingin tahu keadaan istriku dan aku juga ingin menyakinkan diriku bahwa bayi yang sedang dikandung oleh Izzie saat ini adalah darah dagingku.

***

            Aku benar-benar merasa lega bisa keluar dari perusahaan Kyle. aku bisa terbebas dari tatapan Kyle dan Kak Tom yang menyelidiki itu. Ya Tuhan, aku benar-benar muak melihat tingkah Mary Jeane di ruangan itu. Ia berkelakuan seolah-olah ialah Mrs. Dickherber. Aku sangat sangat sangat ingin menjambak rambut dan mencakar wajahnya itu. Yang aku tak habis pikir mengapa Kyle diam saja diciumi Mary Jeane seperti itu.

            “Kau baik-baik saja?”
            “Tidak terlalu baik, mengingat pertemuan tadi membuatku mual. Kyle dan Mary Jeane benar-benar tak tahu malu.”
            “Sabar Izzie, kau jangan sampai terpancing. Bisa saja ini ulah Mary Jeane.”
            “Kau benar bisa saja Mary Jeane memang sengaja berkelakuan seperti itu. Eric, apakah aku masih terlihat seperti Izzie yang biasanya?’
            “Memang ada apa?”
            “Sepertinya Kak Tom tahu kalau ini adalah aku. Kau tahu dari dulu aku tak pernah bisa membohongi kakakku. Dia selalu tahu jika ada yang aku sembunyikan.”
            “Kita lihat saja, kalau Tom masih tetap mencurigai kita sebaiknya kita beritahu dia yang sebenarnya. Siapa tahu ia bisa membantu kita.”
            “Kau benar, Eric siapa tahu kakak bisa membantu kita untuk membuat Mary Jeane jera.”
            “Sebaiknya kita mencari tempat untuk makan siang.”
            “Kapan kita akan melakukan pertemuan kembali dengan mereka bertiga?”
            “Lusa kita mendapatkan undangan dari Kyle untuk menghadiri acara penggalangan dana di rumah orang tuanya.”
            “Ya Tuhan, secepat ini aku harus bertemu dengan ayah dan ibu mertuaku. Apakah mereka akan mengenaliku?”
            “Mereka tidak akan mengenalimu, percaya padaku.”

            Sejak pertemuanku dengan Kyle aku jadi lebih banyak menghabiskan waktu berdiam diri di apartemen saja. Mau pergi keluarpun aku enggan, karena Eric sudah menyiapkan beberapa orang untuk mengawalku. Tapi aku tidak mau, jadi lebih baik diam di apartemen saja daripada harus menjadi pusat perhatian orang-orang karena orang-orang dengan stelan jas hitam berada di depan dan belakang mengawalku.

            Malam penggalangan danapun tiba. Acara itu akan di laksanakan di kediaman orang tua Kyle, yang aku dengar Mom dan Dad juga akan datang menghadiri acara itu. Semoga saja Mom dan Dad tidak akan menyapaku dengan nama Izzie.                                                                                                                      Mobil limo yang kami tumpangi memasuki sebuah rumah dengan bangunan bergaya bangunan di Venice Italia. Eric membantuku turun dari dalam mobil. Ketika masuk ke dalam kami langsung di sambut oleh Kyle dan orang tuanya, tapi tunggu dulu mengapa Mary Jeane berada di samping Kyle?

            “Mr. Hamilton selamat datang, senang sekali anda bisa memenuhi undangan kami.” Sapa Kyle pada Eric sambil memandangku.
            “Hallo Mrs. Hamilton anda terlihat sangat cantik seperti biasanya.”
            “Terima kasih Miss Brown.” Jawabku datar
            “Maa, Paa kenalkan ini rekan bisnis aku yang baru Mr. Ethan Hamilton dari Jerman dan ini istrinya Mrs. Leona Hamilton.”
            “Halo, Mrs. Hamilton senang bisa bertemu dengan anda.”
            “Terima kasih sudah mengundang saya dan suami saya.”
            “Suatu kehormatan bagi keluarga kami anda berdua bisa datang. Silakan masuk dan nikmati acaranya.” Paa mempersilakan aku dan Eric untuk masuk dan menuju ke halaman belakang rumah, tempat acanya berlangsung.

            Aku dan Eric langsung menuju ketempat yang di maksud sambil berbisik-bisik.

            “Kau lihatkan, semakin hari Mary Jeane semakin menjengkelkan.”
            “Tenanglah, aku tahu perasaanmu. Tahan emosimu, mari kita jalankan rencana ini. ”
           
            Akhirnya aku dan Eric pun sampai di halaman belakang, sebuah tenda besar di pasang di situ sebagai atap di halaman yang luas itu. Dekorasinya di dominasi oleh warna putih dan cukup sederhana tetapi berkesan mewah dan elegan. Para tamu yang hadir sudah banyak sekali dan rata-rata mereka adalah para pengusaha dan orang-orang penting di New York.

            Tak jauh dari kolam renang aku melihat Mom, Dad, Kak Tom dan Amanda sedang mengobrol. Aku ingin sekali memeluk mereka berempat dan mengobrol bersama, tapi saat ini itu tidak mungkin di lakukan karena aku sedang melakukan penyamaran.
            “Leona, ayo kita menyapa Tom dan kedua orang tuamu.”
            Aku sangat senang sekali karena tidak di duga-duga Eric mengajakku untuk bertemu dengan keluargaku, “Benarkah itu?”
            Eric tersenyum lalu berkata, “Tentu saja kau sangat merindukan mereka bukan?”
            “Iya, aku sangat ingin sekali mengobrol dengan mereka.”
            “Baiklah kalau begitu ayo kita hampiri mereka.” Ucapnya sambil menggandeng tanganku menuju ke tempat keluargaku sedang berkumpul.

            Semakin dekat ketempat mereka berada aku semakin merakan gugup. Ternyata Mom mengetahui kedatangaku dan Eric, ketika melihatnya tersenyum hatiku langsung tenang.

            Kak Tom langsung menyapa kami ketika melihat kedatangan kami, “Mr. Hamilton, senang bisa bertemu dengan anda di luar jam kerja seperti ini.”
            “Begitu juga dengan saya Mr. Williams.”
            “Hai, aku Amanda senang bisa bertemu dengan anda berdua Mr dan Mrs Hamilton. Tapi Mrs Hamilton...”
            “Tolong panggil saja Leona.”
            “Ah, baiklah Leona wajahmu mengingatkanku pada seseorang. Benarkan sayang? Wajahya mirip dengan Izzie hanya warna rambut dan mata saja yang berbeda.”

            Aku langsung terpaku dan memandang Eric dengan gelisah, rasanya keringat dingin sudah bermunculan di tubuhku bahkan wajahku mungkin sudah berubah menjadi pucat pasi.

            Kak Tom bergerak mendekatiku dan berbicara tetap di telingaku sambil berbisik, “Kau sebenarnya Izzie kan Mrs. Hamilton?”
            Aku semakin pucat ketika mendengar ucapan yang meluncur dari mulut kakakku. “D-d-darimana kakak tahu? Apa Mom dan Dad memberitahu?”

Light At The End of The Tunnel Chapter 12


Chapter 12



            “Jangan menghiburku, Eric. Hahaha…”

            Selama perjalanan itu aku dan Eric berbincang banyak. Membicarakan berbagai hal, tentu saja membicarakan langkah kami selanjutnya ketika sampai di New York nanti. Eric orang yang sangat menyenangkan, wanita yang menjadi pendampingnya kelak pasti akan beruntung sekali.

            Setelah perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan akhirnya aku dan Eric menginjakkan kaki kembali di New York setelah menghilang kurang lebih selama dua minggu. Aku benar-benar gugup ketika melangkahkan kaki keluar dari bandara menuju ke salah satu apartemen mewah yang dimiliki oleh Eric.

            “Sebaiknya kau pergi istirahat Izzie, aku akan menyelesaikan beberapa urusan. Agar besok kita bisa bertemu dengan Kyle dan Mary Jeane untuk membicarakan bisnis.”
            “Eric, apakah itu tidak terlalu cepat?”
            “Tidak, Izzie, aku sudah menyusunnya selama di Jerman.”
            “Memang rencanamu hari ini apa?”
            “Aku akan membuat janji dengan Kyle untuk pertemuan besok.”
            “Bolehkah aku ikut?”
            “Kau boleh ikut besok, tapi hari ini kau harus beristirahat. Kau terlihat sangat kelelahan sekali Izzie, ingat kau sedang mengandung saat ini. Selama aku pergi anak buahku akan berjaga-jaga di sekitar sini kalau ada apa-apa kau bisa langsung menghubungiku.”
            “Baiklah, kalau begitu bisakah kau memanggilku dengan nama Leona mulai hari ini Mr. Ethan Hamilton?” tanyaku sambil tersenyum.
            “Ah, tentu saja Mrs. Leona Hamilton yang cantik. Kalau begitu aku pergi dulu, kau hati-hati, ya.” Eric mengecup keningku cepat lalu ia pergi meninggalkanku di apartemennya yang mewah ini.

            Aku bergegas untuk pergi ke kamarku sedangkan kamar Eric berada di atas. Meskipun aku tahu perasaannya padaku seperti apa tapi dia tidak pernah memaksaku untuk menerimanya. Padahal ia tahu sekali pernikahanku dan Kyle saat ini sedang berada di ujung tanduk. Eric malah melakukan sebaliknya, membantuku untuk memperbaiki kembali hubunganku dengan Kyle. Tidak seperti Edward yang semakin berambisi untuk memilikiku lagi.

            Setelah mandi dan berpakaian aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku benar-benar merasa sangat lelah sekali. Aku terkantuk-kantuk sampai akhirnyaaku tertidur. Dan ketika Eric membangunkanku di luar sana matahari sudah menghilang.

            “Berapa lama aku tertidur?” jawabku masih terkantuk-kantuk.
            “Cukup lama, sebenarnya aku tidak ingin membangunkanmu tapi kau harus makan. Ayo. Kita ke ruang makan.”
            “Baiklah, karena aku merasa sangat lapar sekali.” Jawabkku sambil turun dari tempat tidur. Lalu kami berdua makan malam berdua sambil sesekali membahas tentang rencana kami.

            Keesokkan harinya…
            Ketika sedang sarapan aku benar-benar sangat gugup sekali karena hari ini aku akan bertemu dengan suamiku tercinta. Tentu saja Mary Jeane pasti akan berada bersama suamiku nanti. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi disana.
           
            “Kau baik-baik saja?” tiba-tiba Eric bertanya padaku.
            “Aku baik-baik saja, hanya sedikit gugup saja Mr. Hamilton.”
            Eric memegang pundakku dengan lembut, “Kau pasti bisa menjalaninya Mrs. Hamilton, kau pasti akan bisa menghadapi Kyle dan Mary Jeane nanti. Aku akan selalu ada bersamamu.”
            “Terima kasih Mr. Hamilton, aku akan berusaha dengan semua kekuatanku. Apakah kita bisa pergi sekarang?” tanyaku.
            “Apa kau tidak ingin menghabiskan dulu sarapannya? Kau harus makan dengan teratur.”
            “Aku sudah kenyang Mr. Hamilton.”
            “Baiklah kalau begitu ayo kita pergi menuju ke DIckherber Cooperation Inc.”

            Eric mengulurkan tangannya padaku, lalu aku menyambut uluran tangannya lalu pergi sambil bergandengan dengan Eric. Dalam perjalanan Eric terus menguatkanku, dia tak pernah lelah untuk menyemangatiku. Dan perasaan gugup yang aku rasakan sejak kemarinpun berangsur-angsur hilang. Setelah cukup lama menghilang akhirnya hari dimana aku akan bertemu dengan suamiku tiba. Tapi aku harus menjelma sebagai orang lain pada pertemuan kali ini.

            “Mrs. Hamilton kita sudah sampai.” Suara menyadarkanku dari lamunanku. “Apakah kau sudah siap?”
            “Ah, iya aku sudah siap Mr. Hamilton.”
            “Baiklah mari kita turun dan memulai semua ini.”

            Eric membantuku turun dari dalam mobil. Setelah merapikan pakaianku sedikit, aku dan Eric mulai masuk ke dalam gedung. Aku langsung di landa panic karena takut ada orang yang mengenali kami berdua. Eric yang tahu kepanikanku mempererat genggaman tangannya untuk menenangkanku.  Lalu kami masuk kedalam lift yang akan langsung menuju ke lantai tempat ruangan Kyle berada.

            “Aku benar-benar gugup.” Ucapku dengan suara berbisik pada Eric.
            “Tenanglah, kau pasti bisa melakukannya, takkan ada yang mengenali kita berdua. Kita sudah sampai. Ayo, semua akan baik-baik saja.”
            “Aku sudah siap.” Ucapku sambil menggenggam erat tangannya.

            Kami mulai melangkah, menuju ke ruangan Kyle. Liz sekretarisnya Kyle sempat memelototiku dari unjung kepala hingga ujung rambut dengan tatapan bertanya-tanya.

            “Miss, apakah ada yang salah dengan istriku?” tanya Eric dengan nada tegas.
            “Maaf, Mr. Hamilton istri anda sangat cantik sekali makanya saya memandanginya seperti itu. Silakan langsung saja masuk Mr. DIckherber, Miss Brown dan Mr. Williams sudah menunggu didalam.”
           
            Liz mengetuk pintu ruangan Kyle dan setelah mendapatkan jawaban dari dalam ia mengantarkan kami berdua masuk. Mendengar nama Mr. Williams aku langsung memandang Eric dengan tatapan bertanya. Mengapa Kak Tom ada disini? Tapi Eric hanya menggeleng kepalanya pelan.

            Kyle langsung menyapa Eric ketika kami sudah berada di dalam. “Selamat datang di kantorku Mr. Hamilton.” Sapanya sambil menjabat tangan Eric.
            “Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda Mr. Dickherber, perkenalkan ini istri saya, ia juga merupakan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan saya.”
            Kyle menjabat tanganku cukup lama, matanya menerawang ke dalam mataku, menatap dengan sangat intens. “Mrs. Hamilton senang bertemu dengan anda.”
            “Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami Mr. Dickherber.” Ucapku datar.
            “Perkenalkan ini Miss Mary Jeane Brown dan Mr. Thomas Williams. Mereka berdua tertarik untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan anda Mr. Hamilton.”
           
            Selama kami membicarakan tentang bisnis Kyle dan Kak Tom selalu memandangiku, bahkan Mary Jeane pun beberapa kali tertangkap sedang memandangiku dengan pandangan menyelidik. Tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja bahkan terkesan dingin. Berhentilah memandangiku seperti itu.

            “Maaf, bisakah kita focus membicarakan rencana kerjasama ini? Saya benar-benar terganggung dan merasa risih jika kalian terus saja memandangiku seperti itu.” Ucapku dengan nada suara yang agak kesal.
            “Ah, maafkan kami Mrs. Hamilton.” Kak Tom meminta maaf.
            “Maafkan atas sikap istri saya, maklum ia saat ini sedang hamil jadi emosinya tidak stabil.”
            “Tidak apa-apa Mr. Hamilton, saya mengerti sekali karena istri saya juga sama sedang hamil.” Timpal Kyle.
            Deegggg!!! Detak jantungku seperti berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Kyle barusan. Apakah ia sudah menyadari kesalah pahamannya dan mau mengakui bayi yang sedang aku kandung sekarang. Tidak, tidak Kyle masih tetap beranggapan bahwa bayi ini adalah darah daging Eric. Jika ia memang masih mencintaiku harusnya ia pergi mencariku atau menelepon Mom dan Dad untuk menanyakan keberadaanku. Tapi pada kenyataannya, ia tidak menelepon Mom dan Dad sekalipun untuk mencari keberadaanku di mana.

            Pembicaraan kami selesai pada saat jam makan siang tiba.

            “Kami permisi dulu, senang bisa bekerja sama dengan anda sekalian.”
            “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Kyle menawarkan.
            “Tidak terima kasih Mr. Dickherber, mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama.”
            “Sayang sekali padahal aku ingin lebih mengenalmu Mrs. Hamilton.” Ucap Mary Jeane.
           
            Tapi aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya itu.

            “Senang bisa bertemu dengan kalian berdua Mr dan Mrs Hamilton.”
            “Kami juga Mr. Williams, kalau begitu kami berdua pamit dulu. Selamat siang, permisi.”

            Aku dan Eric keluar dari ruangan Kyle dengan penuh kelegaan. Karena rencana kami berjalan dengan lancar. Aku benar-benar muak melihat wajah Mary Jeane yang memasang wajah baik. Rasanya aku ingin sekali menjambak rambutnya, apalagi dia seperti dengan sengaja memeluk dan menciumi pipi Kyle. dan yang membuatku semakin emosi Kyle sama sekali tidak menolaknya. Ya Tuhan.

***