Senin, 10 Desember 2012

Chapter 14


Chapter 14

            “Sebaiknya kita bicarakan masalah ini nanti saja, kau tak ingin penyamaranmu terbongkar bukan.”

            Aku semakin terpaku mendengar ucapan kakakku ini. Seharusnya Kak Tom menjadi seorang detektif saja bukan menjadi seorang CEO seperti saat ini. Dan aku tidak bisa mengeluarkan suaraku untuk menjawab ucapan kakakku itu.

            “Nah, jadi bagaimana kalau besok malam kita bertemu di rumahku saja sambil makan malam.”
            “Baiklah, kita bertemu besok malam.” Ucap Eric dengan cepat karena ternyata Kyle sedang menuju ke arah kami. Dan tentu saja wanita menyebalkan itu selalu menepel pada Kyle.
            “Halo semua bagaimana acaranya? Apakah kalian menikmatinya?”
            “Acara yang cukup menyenangkan, Kyle. Sayangnya Izzie tidak ada bersama kita hari ini.’
            “Ah, kau mengingatkanku kembali pada Izzie, Manda.”
            “Izzie ada di Berlin, Kyle. Mom dan Dad sudah berusaha untuk mengajaknya datang kemari tapi ia tetap tidak ingin ikut.”
            “Pasti ia sekarang sedang bersama Eric Dill di sana.”
            “Tidak Miss Brown, putriku bukan wanita yang seperti itu. Dan bagi kami Eric Dill sudah seperti putra kami, apalagi Eric dan Amanda memiliki hubungan darah.”
            “SUdahlah, Paa jangan terlalu menanggapinya. Karena dia akan semakin menjelekkan Izzie di depan kita. Sayangnya, ia tidak terlalu pintar.”
            “Jadi kau menganggapku bodoh Mr. Williams?” suara Mary Jeane terdengar marah.
            “Aku tidak bilang bodoh, hanya berkata tidak terlalu pintar. Karena kau menjelekkan Izzie pada keluarganya. Apa aku salah?”
            “Ah, sebaiknya saya dan istri saya permisi. Kami akan pergi mengambil minuman, sepertinya ada yang harus kalian selesaikan. Ayo, sayang.” Eric mengajakku menjauh dari sana.

            Eric mengajakku ke sisi yang lain dari halaman. Sepertinya akan terjadi pertengkaran lagi antara kakakku dan Mary Jeane. Ya Tuhan, mengapa semakin hari wanita itu semakin menjengkelkan sekali. Aku hampir saja menaparnya untukng saja Eric langsung membawaku menjauh dari sana.

            “Mari kita duduk saja, kau terlihat lelah.”
            “Aku lelah tapi bukan dalam arti yang sebenarnya.”
            “Aku mengerti, maka dari itu aku langsung mengajakmu menjauh dari sana.”
            “Ya Tuhan, Eric. Wanita itu benar-benar menyebalkan sekali, aku hampir saja menamparnya. Untung saja kau segera membawaku pergi. Kalau tidak, pasti acara ini akan kacau.”
            “Dan sepertinya Tom juga mulai mencurigaiku.”
            “Aku hampir pingsan ketika ia memanggilku Izzie, seharusnya kakak menjadi seorang detektif daripada menjadi seorang CEO, benarkan? Kau tahu ketika kami masih kecil kerjaannya itu hanya menyelidiki dan mengawasiku saja.”
            Eric tertawa mendengar ucapanku itu, “Aku sangat setuju padamu, saat pertama kali aku bertemu dengannya ia langsung menyelidikiku dari ujung rambut sampai ujung kaki.”
            “Yah, begitulah kakakku tapi aku merasa sangat beruntung dan bersyukur sekali memiliki seorang kakak seperti dia.”
            “Izzie bolehkah aku memegang perutmu? Karena aku yakin sekali bayimu tadi sempat tegang ketika mendengar keributan tadi.”
            “Tentu saja, sepertinya bayiku menyukaimu juga.”

            Dengan perlahan Eric meletakkan tangannya di perutku yang sudah membesar dan dengan perlahan mengelusnya dengan penuh kasih sayang. Ada perasaan senang ketika melihat Eric mengelus-elus kandunganku. Harusnya Kyle yang melakukan hal seperti ini bukan Eric, karena pasti akan berbeda sekali rasanya.

            “Hey, mengapa kau tertawa? Apa ada yang lucu?”
            “Aku tidak tertawa, Ethan, tapi tersenyum.”
            “Sama saja, apa ada yang lucu denganku?”
            “Iya, kau sangat lucu sekali. Sedang berbicara apa dengan bayiku, sampai-sampai kau tersenyum seperti itu?”
            “Kau mau tahu?”
            “Tentu saja aku ingin tahu, aku kan ibunya.”
            “Rahasia.”
            “Hey, kau tidak mau memberitahuku.”
            “Tidak Mrs. Hamilton yang cantik.”
           
            Aku langsung cemberut mendengar ucapan Eric, meskipun aku tahu kalau dia hanya bencanda dan menggodaku saja. Dan ia semakin tersenyum lebar melihat wajahku yang semakin di tekuk karena kesal. Aku tidak sengaja memalingkan wajahku ke arah dimana keluargaku dan Kyle sedang berkkumpul. Kyle sedang memandangku dan Eric dengan tatapan yang sangat sedih. Ya Tuhan, ingin sekali rasanya aku langsung memeluk dan mencium keningnya untuk menglihangkan kesedihan yang di rasakannya saat ini.

            “Kau tidak apa-apa?”
            “Kyle sedang memandangi kita, aku tak tahan melihat tatapan dan wekspresi wajahnya yang menjadi sedih seperti itu. Kapan semua sandiwara ini akan segera berakhirn?”
            “Semoga bisa secepatnya, aku tidak mau melihatmu tersiksa seperti ini.”
             “Bisakah kita pulang setelah pengumpulan dananya selesai? Aku merasa lelah sekali.”
            “Iya, kita tidak akan berada disini sampai acara selesai. Wajahmu terlihat agak pucat apakah kau baik-baik saja?”
            “Hanya sedikit pusing saja.”
            “Apa kau mau pulang sekarang saja?”
            “Tidak, nanti saja jika acara pengumpulan dananya sudah selesai barulah kita pulang.”
            “Baiklah kalau begitu, tapi jika kau merasa tidak kuat katakanlah padaku.”
            “Baiklah, aku akan mengnatakannya padamu.”

            Acara pengumpulan dana pun di mulai, setelai menyerahkan uang untuk di sumbangkan aku dan Eric berencana untuk langsung pulang, tentu saja setelah berpamitan pada keluargaku dan keluarga Kyle.

            Aku mendekati Mom sambil berbisik, “Mom aku pamit sekarang, ya.”
            “Kau memang harus beristirahat, sayang. Wajahmu terlihat agak pucat.”
            “Aku mau istirahat karena besok harus cek up ke rumah sakit.”
            “Mom sebenarnya ingin menemanimu tapi pastinya itu akan menimbulkan kecurigaan. Bagaimana kalau kita bertemu di rumah kakakmu untuk makan siang bersama?”
            “Baiklah Mom, besok siang kita akan bertemu. Dad, aku pamit dulu, ya.”
            “Hati-hati di jalan telepon Dad jika sudah sampai.”
           
            Aku mengangguk dan setelah pamitan pada keluargaku aku dan Eric pamitan pada Kyle dan keluarganya lalu kami berduapun pulang. Sesampainya di apartemen aku langsung tidur karena kelelahan. Semua hal yang terjadi tadi benar-benar membuatku merasa sangat lelah sekali.

            Keesokkan harinya aku pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek rutin kamdunganku. Hari ini Eric tidak bisa menemaniku dan gantinya ia menugaskan beberapa orang petugas keamanannya untuk menjagaku saat ke rumah sakit.   

            Siang harinya aku langsung menuju ke kediaman kakakku, Eric bilang bahwa ia akan menyusul ke sana begitu juga dengan Kak Tom yang memutuskan untuk ikut makan siang di rumah. Ketika sampai di sana Eric dan kak Tom sudah menunggu kedatanganku.

            “Maaf terlambat tadi aku terjebat macet dalam perjalanan.” Sambil duduk di samping Eric.
            “Eric atau Ethan sudah menceritakannya padaku. mengapa kau tidak mengatakan hal ini pada kakakmu sendiri Izzie?”
            “Karena aku tidak ingin melibatkanmu dalam masalahku, Kak. Cukup Eric saja yang sudah ikut terseret dalam permasalahanku.”
            “Jadi kau merubah warna rambutmu, Izzie?”
            “Iya Manda, aku  merubah warna rambutku jadi pirang apakah ini terlihat aneh?”
            “Tentu saja tidak, kau tetap terlihat cantik seperti biasanya, Izzie. Yang membuatku kaget adalah penampilan Eric, aku hampir tidak bisa mengenalinya.”
            “Anak-anak ssebaiknya kita makan dulu, makan siangnya sudah siap.”

            Lalu kami semua bergegas menuju ke ruang makan. Acara makan siang kami di selingi dengan membicarakan beberapa rencana untuk menjebak Mary Jeane. Kak Tom bersedia untuk membantu rencanaku dan Eric. Sepertinya kakakku memang bisa di andalkan untuk urusan yang seperti ini. Kak Tom dan Eric kembali meneruskan pekerjaan mereka setelah makan siang sedangkan aku memutuskan untuk tinggal. Karena aku sangat merindukan kedua orang tuaku.

            “Sayang Mom perhatikan sepertinya Kyle terus saja memperhatikanmu ketika di pesta gala tadi malam.”
            “Bukan hanya tadi malam, Mom. Sejak pertama kali aku kembali ke New York dan menghadiri pertemuan di kantornya, Kyle terus saja memandangiku. Kakak bilang setelah aku pergi Kyle mengatakan bahwa Leona Hamilton mengingatkannya pada Izzie.”
            “Sepertinya Kyle bisa merasakan kehadiranmu meskipun saat ini kamu sedang menyamar, sayang.”
            “Sepertinya begitu Mom, aku sebenarnya ingin sekali bisa berbinca-bincang dengannya tapi Mary Jeane selalu  saja berada di samping Kyle. Wanita itu benar-benar sangat menyebalkan sekali. Dan aku juga sangat marah pada Kyle, karena dia masih saja termakan bujuk rayu wanita itu.”

2 komentar:

  1. wah…tambah seru nih ceritanya.
    Tom udah tau skrg Eric sm Izzie nyamar

    Next chapter jgn lama2 ya sist ツ

    :*

    BalasHapus
  2. Lama ya bru kluar lagi, hehehe

    Mary Jeane..
    Aku pngen jambak dia deh, ngeselin bgt.

    Kyle pngen tuh, sentuh K Jr. Makanya dia lit-liat Izzie trus.

    next Chapter ya kak :*

    BalasHapus