Chapter 13
Hari ini aku bertemu dengan Ethan Hamilton, seorang CEO
dari Jerman. Ia datang bersama istrinya, Ya Tuhan istrinya mengingatkanku pada
Izzie. Meskipun warna mata dan rambutnya berbeda tapi ia seperti Izzie. Bahkan
aku merasa bahwa Leona Hamilton itu adalah Izzie-ku.
Tatapan matanya yang sendu itu benar-benar seperti
matanya Izzie, bahkan suara dan cara ia tersenyum sangat mirip sekali dengan
Izzie-ku.
“Kyle kau kenapa?” Tom membuyarkan lamunanku tentang Izzie
dan istrnya Ethan.
“Aku tidak apa-apa, Tom, hanya saja aku merasa bahwa Mrs.
Hamilton itu adalah Izzie. Meskipun warna rambut dan warna matanya berbeda tapi
aku merasa kalau dia itu Izzie. Cara dia berbicara, tersenyum dan menatap sama
seperti Izzie.”
“Mungkin kau sedang merindukan dia saja, Kyle. Percayalah
saat ini Izzie baik-baik saja di sana, meskipun aku juga merindukannya.”
“Tom maukah kau memberitahuku keberadaan Izzie saat ini,
aku mohon.”
“Dia ada di Jerman bersama Mom dan Dad, dan ia tidak mau
di ganggu oleh siapapun termasukn oleh dirimu.”
“Bisakah kita berhenti membicarakan tentang Izzie. Aku
benar-benar muak mendengar namanya.”
“Jaga ucapanmu itu Miss Brown, Izzie itu adalah adik
kandungku. Jika kau tidak ingin mendengar kami membicarakannya, sebaiknya kau
pergi saja dari sini.”
Mary jeane mendengus kesal mendapatkan teguran dari Tom
itu. Sedangkan aku tidak peduli padanya saat ini. Melihat Mrs. Hamilton aku
langsung teringat pada Izzie yang saat ini tengah mengandung sama seperti Mrs.
Hamilton itu.
“Kyle, mengapa kau masih memikirkan wanita itu. Kau sudah
melihat dengan jelas bahwa ia sudah mengkhianatimu dengan Eric Dill. Apa itu
belum cukup bagimu untuk menceraikannya.”
“Diam Miss Brown, jadi kau yang sudah membuat rumah tangga
adikku dan Kyle berantakan menjadi seperti ini. Apa yang kau tahu tentang
hubungan Eric dan adikku? Kau hanya membuat kesimpulan secara asal.”
“Aku tidak membuat kesimpulan secara asal-asalan Mr.
Williams, aku memiliki bukti bahwa adikmu itu sudah mengkhianati Kyle. Buktinya
dia terlihat baik-baik saja ketika Kyle menghilang dalam kecelakaan pesawat,
tidak terlihat sedikitpun ada perasaan sedih dan khwatir di wajahnya.”
“Itu karena adikku lulusan terbaik dari fakultas
psikologi, jadi ia tahu bagaimana caranya untuk tetap terlihat baik-baik saja
meskipun hatinya sedang sangat hancur sekali. Kau jangan seenaknya menuduh
adikku macam-macam. Kau tidak tahu apa-apa tentang Izzie.”
“Sudah hentikan, mengapa kalian berdua jadi bertengkar?
Mary Jeane sebaiknya kau pergi dari sini. Karena aku akan membahas tentang
Izzie bersama Tom.”
“Tapi Kyle…”
“Tidak ada tapi, sebaiknya kau pergi sekarang juga.”
Dengan perasaan kesal Mary Jeane pergi dari ruanganku.
Dia menutup pintu dengan kasar sekali. Yang ingin aku lakukan saat ini adalah
mendapatkan sebanyak mungkin informasi tentang Izzie dari Tom. Aku ingin tahu
keadaan istriku dan aku juga ingin menyakinkan diriku bahwa bayi yang sedang
dikandung oleh Izzie saat ini adalah darah dagingku.
***
Aku benar-benar merasa lega bisa keluar dari perusahaan
Kyle. aku bisa terbebas dari tatapan Kyle dan Kak Tom yang menyelidiki itu. Ya
Tuhan, aku benar-benar muak melihat tingkah Mary Jeane di ruangan itu. Ia
berkelakuan seolah-olah ialah Mrs. Dickherber. Aku sangat sangat sangat ingin
menjambak rambut dan mencakar wajahnya itu. Yang aku tak habis pikir mengapa
Kyle diam saja diciumi Mary Jeane seperti itu.
“Kau baik-baik saja?”
“Tidak terlalu baik, mengingat pertemuan tadi membuatku
mual. Kyle dan Mary Jeane benar-benar tak tahu malu.”
“Sabar Izzie, kau jangan sampai terpancing. Bisa saja ini
ulah Mary Jeane.”
“Kau benar bisa saja Mary Jeane memang sengaja
berkelakuan seperti itu. Eric, apakah aku masih terlihat seperti Izzie yang
biasanya?’
“Memang ada apa?”
“Sepertinya Kak Tom tahu kalau ini adalah aku. Kau tahu
dari dulu aku tak pernah bisa membohongi kakakku. Dia selalu tahu jika ada yang
aku sembunyikan.”
“Kita lihat saja, kalau Tom masih tetap mencurigai kita
sebaiknya kita beritahu dia yang sebenarnya. Siapa tahu ia bisa membantu kita.”
“Kau benar, Eric siapa tahu kakak bisa membantu kita
untuk membuat Mary Jeane jera.”
“Sebaiknya kita mencari tempat untuk makan siang.”
“Kapan kita akan melakukan pertemuan kembali dengan
mereka bertiga?”
“Lusa kita mendapatkan undangan dari Kyle untuk
menghadiri acara penggalangan dana di rumah orang tuanya.”
“Ya Tuhan, secepat ini aku harus bertemu dengan ayah dan
ibu mertuaku. Apakah mereka akan mengenaliku?”
“Mereka tidak akan mengenalimu, percaya padaku.”
Sejak pertemuanku dengan Kyle aku jadi lebih banyak
menghabiskan waktu berdiam diri di apartemen saja. Mau pergi keluarpun aku
enggan, karena Eric sudah menyiapkan beberapa orang untuk mengawalku. Tapi aku
tidak mau, jadi lebih baik diam di apartemen saja daripada harus menjadi pusat
perhatian orang-orang karena orang-orang dengan stelan jas hitam berada di
depan dan belakang mengawalku.
Malam
penggalangan danapun tiba. Acara itu akan di laksanakan di kediaman orang tua
Kyle, yang aku dengar Mom dan Dad juga akan datang menghadiri acara itu. Semoga
saja Mom dan Dad tidak akan menyapaku dengan nama Izzie. Mobil
limo yang kami tumpangi memasuki sebuah rumah dengan bangunan bergaya bangunan
di Venice Italia. Eric membantuku turun dari dalam mobil. Ketika masuk ke dalam
kami langsung di sambut oleh Kyle dan orang tuanya, tapi tunggu dulu mengapa
Mary Jeane berada di samping Kyle?
“Mr. Hamilton selamat datang, senang sekali anda bisa
memenuhi undangan kami.” Sapa Kyle pada Eric sambil memandangku.
“Hallo Mrs. Hamilton anda terlihat sangat cantik seperti
biasanya.”
“Terima kasih Miss Brown.” Jawabku datar
“Maa, Paa kenalkan ini rekan bisnis aku yang baru Mr.
Ethan Hamilton dari Jerman dan ini istrinya Mrs. Leona Hamilton.”
“Halo, Mrs. Hamilton senang bisa bertemu dengan anda.”
“Terima kasih sudah mengundang saya dan suami saya.”
“Suatu kehormatan bagi keluarga kami anda berdua bisa
datang. Silakan masuk dan nikmati acaranya.” Paa mempersilakan aku dan Eric
untuk masuk dan menuju ke halaman belakang rumah, tempat acanya berlangsung.
Aku dan Eric langsung menuju ketempat yang di maksud
sambil berbisik-bisik.
“Kau lihatkan, semakin hari Mary Jeane semakin
menjengkelkan.”
“Tenanglah, aku tahu perasaanmu. Tahan emosimu, mari kita
jalankan rencana ini. ”
Akhirnya aku dan Eric pun sampai di halaman belakang,
sebuah tenda besar di pasang di situ sebagai atap di halaman yang luas itu.
Dekorasinya di dominasi oleh warna putih dan cukup sederhana tetapi berkesan
mewah dan elegan. Para tamu yang hadir sudah banyak sekali dan rata-rata mereka
adalah para pengusaha dan orang-orang penting di New York.
Tak jauh dari kolam renang aku melihat Mom, Dad, Kak Tom
dan Amanda sedang mengobrol. Aku ingin sekali memeluk mereka berempat dan
mengobrol bersama, tapi saat ini itu tidak mungkin di lakukan karena aku sedang
melakukan penyamaran.
“Leona, ayo kita menyapa Tom dan kedua orang tuamu.”
Aku sangat senang sekali karena tidak di duga-duga Eric mengajakku
untuk bertemu dengan keluargaku, “Benarkah itu?”
Eric tersenyum lalu berkata, “Tentu saja kau sangat merindukan
mereka bukan?”
“Iya, aku sangat ingin sekali mengobrol dengan mereka.”
“Baiklah kalau begitu ayo kita hampiri mereka.” Ucapnya sambil
menggandeng tanganku menuju ke tempat keluargaku sedang berkumpul.
Semakin dekat ketempat mereka berada aku semakin merakan gugup.
Ternyata Mom mengetahui kedatangaku dan Eric, ketika melihatnya tersenyum hatiku
langsung tenang.
Kak Tom langsung menyapa kami ketika
melihat kedatangan kami, “Mr. Hamilton, senang bisa bertemu dengan anda di luar
jam kerja seperti ini.”
“Begitu juga dengan saya Mr. Williams.”
“Hai, aku Amanda senang bisa bertemu
dengan anda berdua Mr dan Mrs Hamilton. Tapi Mrs Hamilton...”
“Tolong panggil saja Leona.”
“Ah, baiklah Leona wajahmu mengingatkanku
pada seseorang. Benarkan sayang? Wajahya mirip dengan Izzie hanya warna rambut dan
mata saja yang berbeda.”
Aku langsung terpaku dan memandang Eric
dengan gelisah, rasanya keringat dingin sudah bermunculan di tubuhku bahkan wajahku
mungkin sudah berubah menjadi pucat pasi.
Kak Tom bergerak mendekatiku dan berbicara
tetap di telingaku sambil berbisik, “Kau sebenarnya Izzie kan Mrs. Hamilton?”
Aku semakin pucat ketika mendengar ucapan
yang meluncur dari mulut kakakku. “D-d-darimana kakak tahu? Apa Mom dan Dad memberitahu?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar