Jumat, 23 November 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 12


Chapter 12



            “Jangan menghiburku, Eric. Hahaha…”

            Selama perjalanan itu aku dan Eric berbincang banyak. Membicarakan berbagai hal, tentu saja membicarakan langkah kami selanjutnya ketika sampai di New York nanti. Eric orang yang sangat menyenangkan, wanita yang menjadi pendampingnya kelak pasti akan beruntung sekali.

            Setelah perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan akhirnya aku dan Eric menginjakkan kaki kembali di New York setelah menghilang kurang lebih selama dua minggu. Aku benar-benar gugup ketika melangkahkan kaki keluar dari bandara menuju ke salah satu apartemen mewah yang dimiliki oleh Eric.

            “Sebaiknya kau pergi istirahat Izzie, aku akan menyelesaikan beberapa urusan. Agar besok kita bisa bertemu dengan Kyle dan Mary Jeane untuk membicarakan bisnis.”
            “Eric, apakah itu tidak terlalu cepat?”
            “Tidak, Izzie, aku sudah menyusunnya selama di Jerman.”
            “Memang rencanamu hari ini apa?”
            “Aku akan membuat janji dengan Kyle untuk pertemuan besok.”
            “Bolehkah aku ikut?”
            “Kau boleh ikut besok, tapi hari ini kau harus beristirahat. Kau terlihat sangat kelelahan sekali Izzie, ingat kau sedang mengandung saat ini. Selama aku pergi anak buahku akan berjaga-jaga di sekitar sini kalau ada apa-apa kau bisa langsung menghubungiku.”
            “Baiklah, kalau begitu bisakah kau memanggilku dengan nama Leona mulai hari ini Mr. Ethan Hamilton?” tanyaku sambil tersenyum.
            “Ah, tentu saja Mrs. Leona Hamilton yang cantik. Kalau begitu aku pergi dulu, kau hati-hati, ya.” Eric mengecup keningku cepat lalu ia pergi meninggalkanku di apartemennya yang mewah ini.

            Aku bergegas untuk pergi ke kamarku sedangkan kamar Eric berada di atas. Meskipun aku tahu perasaannya padaku seperti apa tapi dia tidak pernah memaksaku untuk menerimanya. Padahal ia tahu sekali pernikahanku dan Kyle saat ini sedang berada di ujung tanduk. Eric malah melakukan sebaliknya, membantuku untuk memperbaiki kembali hubunganku dengan Kyle. Tidak seperti Edward yang semakin berambisi untuk memilikiku lagi.

            Setelah mandi dan berpakaian aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku benar-benar merasa sangat lelah sekali. Aku terkantuk-kantuk sampai akhirnyaaku tertidur. Dan ketika Eric membangunkanku di luar sana matahari sudah menghilang.

            “Berapa lama aku tertidur?” jawabku masih terkantuk-kantuk.
            “Cukup lama, sebenarnya aku tidak ingin membangunkanmu tapi kau harus makan. Ayo. Kita ke ruang makan.”
            “Baiklah, karena aku merasa sangat lapar sekali.” Jawabkku sambil turun dari tempat tidur. Lalu kami berdua makan malam berdua sambil sesekali membahas tentang rencana kami.

            Keesokkan harinya…
            Ketika sedang sarapan aku benar-benar sangat gugup sekali karena hari ini aku akan bertemu dengan suamiku tercinta. Tentu saja Mary Jeane pasti akan berada bersama suamiku nanti. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi disana.
           
            “Kau baik-baik saja?” tiba-tiba Eric bertanya padaku.
            “Aku baik-baik saja, hanya sedikit gugup saja Mr. Hamilton.”
            Eric memegang pundakku dengan lembut, “Kau pasti bisa menjalaninya Mrs. Hamilton, kau pasti akan bisa menghadapi Kyle dan Mary Jeane nanti. Aku akan selalu ada bersamamu.”
            “Terima kasih Mr. Hamilton, aku akan berusaha dengan semua kekuatanku. Apakah kita bisa pergi sekarang?” tanyaku.
            “Apa kau tidak ingin menghabiskan dulu sarapannya? Kau harus makan dengan teratur.”
            “Aku sudah kenyang Mr. Hamilton.”
            “Baiklah kalau begitu ayo kita pergi menuju ke DIckherber Cooperation Inc.”

            Eric mengulurkan tangannya padaku, lalu aku menyambut uluran tangannya lalu pergi sambil bergandengan dengan Eric. Dalam perjalanan Eric terus menguatkanku, dia tak pernah lelah untuk menyemangatiku. Dan perasaan gugup yang aku rasakan sejak kemarinpun berangsur-angsur hilang. Setelah cukup lama menghilang akhirnya hari dimana aku akan bertemu dengan suamiku tiba. Tapi aku harus menjelma sebagai orang lain pada pertemuan kali ini.

            “Mrs. Hamilton kita sudah sampai.” Suara menyadarkanku dari lamunanku. “Apakah kau sudah siap?”
            “Ah, iya aku sudah siap Mr. Hamilton.”
            “Baiklah mari kita turun dan memulai semua ini.”

            Eric membantuku turun dari dalam mobil. Setelah merapikan pakaianku sedikit, aku dan Eric mulai masuk ke dalam gedung. Aku langsung di landa panic karena takut ada orang yang mengenali kami berdua. Eric yang tahu kepanikanku mempererat genggaman tangannya untuk menenangkanku.  Lalu kami masuk kedalam lift yang akan langsung menuju ke lantai tempat ruangan Kyle berada.

            “Aku benar-benar gugup.” Ucapku dengan suara berbisik pada Eric.
            “Tenanglah, kau pasti bisa melakukannya, takkan ada yang mengenali kita berdua. Kita sudah sampai. Ayo, semua akan baik-baik saja.”
            “Aku sudah siap.” Ucapku sambil menggenggam erat tangannya.

            Kami mulai melangkah, menuju ke ruangan Kyle. Liz sekretarisnya Kyle sempat memelototiku dari unjung kepala hingga ujung rambut dengan tatapan bertanya-tanya.

            “Miss, apakah ada yang salah dengan istriku?” tanya Eric dengan nada tegas.
            “Maaf, Mr. Hamilton istri anda sangat cantik sekali makanya saya memandanginya seperti itu. Silakan langsung saja masuk Mr. DIckherber, Miss Brown dan Mr. Williams sudah menunggu didalam.”
           
            Liz mengetuk pintu ruangan Kyle dan setelah mendapatkan jawaban dari dalam ia mengantarkan kami berdua masuk. Mendengar nama Mr. Williams aku langsung memandang Eric dengan tatapan bertanya. Mengapa Kak Tom ada disini? Tapi Eric hanya menggeleng kepalanya pelan.

            Kyle langsung menyapa Eric ketika kami sudah berada di dalam. “Selamat datang di kantorku Mr. Hamilton.” Sapanya sambil menjabat tangan Eric.
            “Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda Mr. Dickherber, perkenalkan ini istri saya, ia juga merupakan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan saya.”
            Kyle menjabat tanganku cukup lama, matanya menerawang ke dalam mataku, menatap dengan sangat intens. “Mrs. Hamilton senang bertemu dengan anda.”
            “Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami Mr. Dickherber.” Ucapku datar.
            “Perkenalkan ini Miss Mary Jeane Brown dan Mr. Thomas Williams. Mereka berdua tertarik untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan anda Mr. Hamilton.”
           
            Selama kami membicarakan tentang bisnis Kyle dan Kak Tom selalu memandangiku, bahkan Mary Jeane pun beberapa kali tertangkap sedang memandangiku dengan pandangan menyelidik. Tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja bahkan terkesan dingin. Berhentilah memandangiku seperti itu.

            “Maaf, bisakah kita focus membicarakan rencana kerjasama ini? Saya benar-benar terganggung dan merasa risih jika kalian terus saja memandangiku seperti itu.” Ucapku dengan nada suara yang agak kesal.
            “Ah, maafkan kami Mrs. Hamilton.” Kak Tom meminta maaf.
            “Maafkan atas sikap istri saya, maklum ia saat ini sedang hamil jadi emosinya tidak stabil.”
            “Tidak apa-apa Mr. Hamilton, saya mengerti sekali karena istri saya juga sama sedang hamil.” Timpal Kyle.
            Deegggg!!! Detak jantungku seperti berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Kyle barusan. Apakah ia sudah menyadari kesalah pahamannya dan mau mengakui bayi yang sedang aku kandung sekarang. Tidak, tidak Kyle masih tetap beranggapan bahwa bayi ini adalah darah daging Eric. Jika ia memang masih mencintaiku harusnya ia pergi mencariku atau menelepon Mom dan Dad untuk menanyakan keberadaanku. Tapi pada kenyataannya, ia tidak menelepon Mom dan Dad sekalipun untuk mencari keberadaanku di mana.

            Pembicaraan kami selesai pada saat jam makan siang tiba.

            “Kami permisi dulu, senang bisa bekerja sama dengan anda sekalian.”
            “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Kyle menawarkan.
            “Tidak terima kasih Mr. Dickherber, mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama.”
            “Sayang sekali padahal aku ingin lebih mengenalmu Mrs. Hamilton.” Ucap Mary Jeane.
           
            Tapi aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya itu.

            “Senang bisa bertemu dengan kalian berdua Mr dan Mrs Hamilton.”
            “Kami juga Mr. Williams, kalau begitu kami berdua pamit dulu. Selamat siang, permisi.”

            Aku dan Eric keluar dari ruangan Kyle dengan penuh kelegaan. Karena rencana kami berjalan dengan lancar. Aku benar-benar muak melihat wajah Mary Jeane yang memasang wajah baik. Rasanya aku ingin sekali menjambak rambutnya, apalagi dia seperti dengan sengaja memeluk dan menciumi pipi Kyle. dan yang membuatku semakin emosi Kyle sama sekali tidak menolaknya. Ya Tuhan.

***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar