Chapter 12
“Jangan menghiburku, Eric. Hahaha…”
Selama perjalanan itu aku dan Eric berbincang banyak.
Membicarakan berbagai hal, tentu saja membicarakan langkah kami selanjutnya
ketika sampai di New York nanti. Eric orang yang sangat menyenangkan, wanita
yang menjadi pendampingnya kelak pasti akan beruntung sekali.
Setelah perjalanan yang cukup panjang dan cukup
melelahkan akhirnya aku dan Eric menginjakkan kaki kembali di New York setelah
menghilang kurang lebih selama dua minggu. Aku benar-benar gugup ketika
melangkahkan kaki keluar dari bandara menuju ke salah satu apartemen mewah yang
dimiliki oleh Eric.
“Sebaiknya kau pergi istirahat Izzie, aku akan
menyelesaikan beberapa urusan. Agar besok kita bisa bertemu dengan Kyle dan
Mary Jeane untuk membicarakan bisnis.”
“Eric, apakah itu tidak terlalu cepat?”
“Tidak, Izzie, aku sudah menyusunnya selama di Jerman.”
“Memang rencanamu hari ini apa?”
“Aku akan membuat janji dengan Kyle untuk pertemuan
besok.”
“Bolehkah aku ikut?”
“Kau boleh ikut besok, tapi hari ini kau harus
beristirahat. Kau terlihat sangat kelelahan sekali Izzie, ingat kau sedang
mengandung saat ini. Selama aku pergi anak buahku akan berjaga-jaga di sekitar
sini kalau ada apa-apa kau bisa langsung menghubungiku.”
“Baiklah, kalau begitu bisakah kau memanggilku dengan
nama Leona mulai hari ini Mr. Ethan Hamilton?” tanyaku sambil tersenyum.
“Ah, tentu saja Mrs. Leona Hamilton yang cantik. Kalau
begitu aku pergi dulu, kau hati-hati, ya.” Eric mengecup keningku cepat lalu ia
pergi meninggalkanku di apartemennya yang mewah ini.
Aku bergegas untuk pergi ke kamarku sedangkan kamar Eric
berada di atas. Meskipun aku tahu perasaannya padaku seperti apa tapi dia tidak
pernah memaksaku untuk menerimanya. Padahal ia tahu sekali pernikahanku dan
Kyle saat ini sedang berada di ujung tanduk. Eric malah melakukan sebaliknya,
membantuku untuk memperbaiki kembali hubunganku dengan Kyle. Tidak seperti
Edward yang semakin berambisi untuk memilikiku lagi.
Setelah mandi dan berpakaian aku merebahkan tubuhku di
atas tempat tidur. Aku benar-benar merasa sangat lelah sekali. Aku
terkantuk-kantuk sampai akhirnyaaku tertidur. Dan ketika Eric membangunkanku di
luar sana matahari sudah menghilang.
“Berapa lama aku tertidur?” jawabku masih
terkantuk-kantuk.
“Cukup lama, sebenarnya aku tidak ingin membangunkanmu
tapi kau harus makan. Ayo. Kita ke ruang makan.”
“Baiklah, karena aku merasa sangat lapar sekali.”
Jawabkku sambil turun dari tempat tidur. Lalu kami berdua makan malam berdua
sambil sesekali membahas tentang rencana kami.
Keesokkan harinya…
Ketika sedang sarapan aku benar-benar sangat gugup sekali
karena hari ini aku akan bertemu dengan suamiku tercinta. Tentu saja Mary Jeane
pasti akan berada bersama suamiku nanti. Aku tak bisa membayangkan apa yang
akan terjadi disana.
“Kau baik-baik saja?” tiba-tiba Eric bertanya padaku.
“Aku baik-baik saja, hanya sedikit gugup saja Mr.
Hamilton.”
Eric memegang pundakku dengan lembut, “Kau pasti bisa
menjalaninya Mrs. Hamilton, kau pasti akan bisa menghadapi Kyle dan Mary Jeane
nanti. Aku akan selalu ada bersamamu.”
“Terima kasih Mr. Hamilton, aku akan berusaha dengan
semua kekuatanku. Apakah kita bisa pergi sekarang?” tanyaku.
“Apa kau tidak ingin menghabiskan dulu sarapannya? Kau
harus makan dengan teratur.”
“Aku sudah kenyang Mr. Hamilton.”
“Baiklah kalau begitu ayo kita pergi menuju ke DIckherber
Cooperation Inc.”
Eric mengulurkan tangannya padaku, lalu aku menyambut
uluran tangannya lalu pergi sambil bergandengan dengan Eric. Dalam perjalanan
Eric terus menguatkanku, dia tak pernah lelah untuk menyemangatiku. Dan
perasaan gugup yang aku rasakan sejak kemarinpun berangsur-angsur hilang.
Setelah cukup lama menghilang akhirnya hari dimana aku akan bertemu dengan
suamiku tiba. Tapi aku harus menjelma sebagai orang lain pada pertemuan kali
ini.
“Mrs. Hamilton kita sudah sampai.” Suara menyadarkanku
dari lamunanku. “Apakah kau sudah siap?”
“Ah, iya aku sudah siap Mr. Hamilton.”
“Baiklah mari kita turun dan memulai semua ini.”
Eric membantuku turun dari dalam mobil. Setelah merapikan
pakaianku sedikit, aku dan Eric mulai masuk ke dalam gedung. Aku langsung di
landa panic karena takut ada orang yang mengenali kami berdua. Eric yang tahu
kepanikanku mempererat genggaman tangannya untuk menenangkanku. Lalu kami masuk kedalam lift yang akan
langsung menuju ke lantai tempat ruangan Kyle berada.
“Aku benar-benar gugup.” Ucapku dengan suara berbisik
pada Eric.
“Tenanglah, kau pasti bisa melakukannya, takkan ada yang
mengenali kita berdua. Kita sudah sampai. Ayo, semua akan baik-baik saja.”
“Aku sudah siap.” Ucapku sambil menggenggam erat
tangannya.
Kami mulai melangkah, menuju ke ruangan Kyle. Liz
sekretarisnya Kyle sempat memelototiku dari unjung kepala hingga ujung rambut
dengan tatapan bertanya-tanya.
“Miss, apakah ada yang salah dengan istriku?” tanya Eric
dengan nada tegas.
“Maaf, Mr. Hamilton istri anda sangat cantik sekali
makanya saya memandanginya seperti itu. Silakan langsung saja masuk Mr.
DIckherber, Miss Brown dan Mr. Williams sudah menunggu didalam.”
Liz mengetuk pintu ruangan Kyle dan setelah mendapatkan
jawaban dari dalam ia mengantarkan kami berdua masuk. Mendengar nama Mr.
Williams aku langsung memandang Eric dengan tatapan bertanya. Mengapa Kak Tom
ada disini? Tapi Eric hanya menggeleng kepalanya pelan.
Kyle langsung menyapa Eric ketika kami sudah berada di
dalam. “Selamat datang di kantorku Mr. Hamilton.” Sapanya sambil menjabat
tangan Eric.
“Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda Mr. Dickherber,
perkenalkan ini istri saya, ia juga merupakan salah satu pemegang saham
terbesar di perusahaan saya.”
Kyle menjabat tanganku cukup lama, matanya menerawang ke
dalam mataku, menatap dengan sangat intens. “Mrs. Hamilton senang bertemu
dengan anda.”
“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan
kami Mr. Dickherber.” Ucapku datar.
“Perkenalkan ini Miss Mary Jeane Brown dan Mr. Thomas
Williams. Mereka berdua tertarik untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan
anda Mr. Hamilton.”
Selama kami membicarakan tentang bisnis Kyle dan Kak Tom
selalu memandangiku, bahkan Mary Jeane pun beberapa kali tertangkap sedang
memandangiku dengan pandangan menyelidik. Tapi aku berusaha untuk bersikap
biasa saja bahkan terkesan dingin. Berhentilah memandangiku seperti itu.
“Maaf, bisakah kita focus membicarakan rencana kerjasama
ini? Saya benar-benar terganggung dan merasa risih jika kalian terus saja
memandangiku seperti itu.” Ucapku dengan nada suara yang agak kesal.
“Ah, maafkan kami Mrs. Hamilton.” Kak Tom meminta maaf.
“Maafkan atas sikap istri saya, maklum ia saat ini sedang
hamil jadi emosinya tidak stabil.”
“Tidak apa-apa Mr. Hamilton, saya mengerti sekali karena
istri saya juga sama sedang hamil.” Timpal Kyle.
Deegggg!!! Detak jantungku seperti berhenti berdetak
ketika mendengar ucapan Kyle barusan. Apakah ia sudah menyadari kesalah pahamannya
dan mau mengakui bayi yang sedang aku kandung sekarang. Tidak, tidak Kyle masih
tetap beranggapan bahwa bayi ini adalah darah daging Eric. Jika ia memang masih
mencintaiku harusnya ia pergi mencariku atau menelepon Mom dan Dad untuk
menanyakan keberadaanku. Tapi pada kenyataannya, ia tidak menelepon Mom dan Dad
sekalipun untuk mencari keberadaanku di mana.
Pembicaraan kami selesai pada saat jam makan siang tiba.
“Kami permisi dulu, senang bisa bekerja sama dengan anda
sekalian.”
“Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Kyle
menawarkan.
“Tidak terima kasih Mr. Dickherber, mungkin lain kali
kita bisa makan siang bersama.”
“Sayang sekali padahal aku ingin lebih mengenalmu Mrs.
Hamilton.” Ucap Mary Jeane.
Tapi aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya itu.
“Senang bisa bertemu dengan kalian berdua Mr dan Mrs
Hamilton.”
“Kami juga Mr. Williams, kalau begitu kami berdua pamit
dulu. Selamat siang, permisi.”
Aku dan Eric keluar dari ruangan Kyle dengan penuh
kelegaan. Karena rencana kami berjalan dengan lancar. Aku benar-benar muak
melihat wajah Mary Jeane yang memasang wajah baik. Rasanya aku ingin sekali
menjambak rambutnya, apalagi dia seperti dengan sengaja memeluk dan menciumi
pipi Kyle. dan yang membuatku semakin emosi Kyle sama sekali tidak menolaknya.
Ya Tuhan.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar