Jumat, 23 November 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 12


Chapter 12



            “Jangan menghiburku, Eric. Hahaha…”

            Selama perjalanan itu aku dan Eric berbincang banyak. Membicarakan berbagai hal, tentu saja membicarakan langkah kami selanjutnya ketika sampai di New York nanti. Eric orang yang sangat menyenangkan, wanita yang menjadi pendampingnya kelak pasti akan beruntung sekali.

            Setelah perjalanan yang cukup panjang dan cukup melelahkan akhirnya aku dan Eric menginjakkan kaki kembali di New York setelah menghilang kurang lebih selama dua minggu. Aku benar-benar gugup ketika melangkahkan kaki keluar dari bandara menuju ke salah satu apartemen mewah yang dimiliki oleh Eric.

            “Sebaiknya kau pergi istirahat Izzie, aku akan menyelesaikan beberapa urusan. Agar besok kita bisa bertemu dengan Kyle dan Mary Jeane untuk membicarakan bisnis.”
            “Eric, apakah itu tidak terlalu cepat?”
            “Tidak, Izzie, aku sudah menyusunnya selama di Jerman.”
            “Memang rencanamu hari ini apa?”
            “Aku akan membuat janji dengan Kyle untuk pertemuan besok.”
            “Bolehkah aku ikut?”
            “Kau boleh ikut besok, tapi hari ini kau harus beristirahat. Kau terlihat sangat kelelahan sekali Izzie, ingat kau sedang mengandung saat ini. Selama aku pergi anak buahku akan berjaga-jaga di sekitar sini kalau ada apa-apa kau bisa langsung menghubungiku.”
            “Baiklah, kalau begitu bisakah kau memanggilku dengan nama Leona mulai hari ini Mr. Ethan Hamilton?” tanyaku sambil tersenyum.
            “Ah, tentu saja Mrs. Leona Hamilton yang cantik. Kalau begitu aku pergi dulu, kau hati-hati, ya.” Eric mengecup keningku cepat lalu ia pergi meninggalkanku di apartemennya yang mewah ini.

            Aku bergegas untuk pergi ke kamarku sedangkan kamar Eric berada di atas. Meskipun aku tahu perasaannya padaku seperti apa tapi dia tidak pernah memaksaku untuk menerimanya. Padahal ia tahu sekali pernikahanku dan Kyle saat ini sedang berada di ujung tanduk. Eric malah melakukan sebaliknya, membantuku untuk memperbaiki kembali hubunganku dengan Kyle. Tidak seperti Edward yang semakin berambisi untuk memilikiku lagi.

            Setelah mandi dan berpakaian aku merebahkan tubuhku di atas tempat tidur. Aku benar-benar merasa sangat lelah sekali. Aku terkantuk-kantuk sampai akhirnyaaku tertidur. Dan ketika Eric membangunkanku di luar sana matahari sudah menghilang.

            “Berapa lama aku tertidur?” jawabku masih terkantuk-kantuk.
            “Cukup lama, sebenarnya aku tidak ingin membangunkanmu tapi kau harus makan. Ayo. Kita ke ruang makan.”
            “Baiklah, karena aku merasa sangat lapar sekali.” Jawabkku sambil turun dari tempat tidur. Lalu kami berdua makan malam berdua sambil sesekali membahas tentang rencana kami.

            Keesokkan harinya…
            Ketika sedang sarapan aku benar-benar sangat gugup sekali karena hari ini aku akan bertemu dengan suamiku tercinta. Tentu saja Mary Jeane pasti akan berada bersama suamiku nanti. Aku tak bisa membayangkan apa yang akan terjadi disana.
           
            “Kau baik-baik saja?” tiba-tiba Eric bertanya padaku.
            “Aku baik-baik saja, hanya sedikit gugup saja Mr. Hamilton.”
            Eric memegang pundakku dengan lembut, “Kau pasti bisa menjalaninya Mrs. Hamilton, kau pasti akan bisa menghadapi Kyle dan Mary Jeane nanti. Aku akan selalu ada bersamamu.”
            “Terima kasih Mr. Hamilton, aku akan berusaha dengan semua kekuatanku. Apakah kita bisa pergi sekarang?” tanyaku.
            “Apa kau tidak ingin menghabiskan dulu sarapannya? Kau harus makan dengan teratur.”
            “Aku sudah kenyang Mr. Hamilton.”
            “Baiklah kalau begitu ayo kita pergi menuju ke DIckherber Cooperation Inc.”

            Eric mengulurkan tangannya padaku, lalu aku menyambut uluran tangannya lalu pergi sambil bergandengan dengan Eric. Dalam perjalanan Eric terus menguatkanku, dia tak pernah lelah untuk menyemangatiku. Dan perasaan gugup yang aku rasakan sejak kemarinpun berangsur-angsur hilang. Setelah cukup lama menghilang akhirnya hari dimana aku akan bertemu dengan suamiku tiba. Tapi aku harus menjelma sebagai orang lain pada pertemuan kali ini.

            “Mrs. Hamilton kita sudah sampai.” Suara menyadarkanku dari lamunanku. “Apakah kau sudah siap?”
            “Ah, iya aku sudah siap Mr. Hamilton.”
            “Baiklah mari kita turun dan memulai semua ini.”

            Eric membantuku turun dari dalam mobil. Setelah merapikan pakaianku sedikit, aku dan Eric mulai masuk ke dalam gedung. Aku langsung di landa panic karena takut ada orang yang mengenali kami berdua. Eric yang tahu kepanikanku mempererat genggaman tangannya untuk menenangkanku.  Lalu kami masuk kedalam lift yang akan langsung menuju ke lantai tempat ruangan Kyle berada.

            “Aku benar-benar gugup.” Ucapku dengan suara berbisik pada Eric.
            “Tenanglah, kau pasti bisa melakukannya, takkan ada yang mengenali kita berdua. Kita sudah sampai. Ayo, semua akan baik-baik saja.”
            “Aku sudah siap.” Ucapku sambil menggenggam erat tangannya.

            Kami mulai melangkah, menuju ke ruangan Kyle. Liz sekretarisnya Kyle sempat memelototiku dari unjung kepala hingga ujung rambut dengan tatapan bertanya-tanya.

            “Miss, apakah ada yang salah dengan istriku?” tanya Eric dengan nada tegas.
            “Maaf, Mr. Hamilton istri anda sangat cantik sekali makanya saya memandanginya seperti itu. Silakan langsung saja masuk Mr. DIckherber, Miss Brown dan Mr. Williams sudah menunggu didalam.”
           
            Liz mengetuk pintu ruangan Kyle dan setelah mendapatkan jawaban dari dalam ia mengantarkan kami berdua masuk. Mendengar nama Mr. Williams aku langsung memandang Eric dengan tatapan bertanya. Mengapa Kak Tom ada disini? Tapi Eric hanya menggeleng kepalanya pelan.

            Kyle langsung menyapa Eric ketika kami sudah berada di dalam. “Selamat datang di kantorku Mr. Hamilton.” Sapanya sambil menjabat tangan Eric.
            “Senang akhirnya bisa bertemu dengan anda Mr. Dickherber, perkenalkan ini istri saya, ia juga merupakan salah satu pemegang saham terbesar di perusahaan saya.”
            Kyle menjabat tanganku cukup lama, matanya menerawang ke dalam mataku, menatap dengan sangat intens. “Mrs. Hamilton senang bertemu dengan anda.”
            “Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami Mr. Dickherber.” Ucapku datar.
            “Perkenalkan ini Miss Mary Jeane Brown dan Mr. Thomas Williams. Mereka berdua tertarik untuk melakukan kerjasama dengan perusahaan anda Mr. Hamilton.”
           
            Selama kami membicarakan tentang bisnis Kyle dan Kak Tom selalu memandangiku, bahkan Mary Jeane pun beberapa kali tertangkap sedang memandangiku dengan pandangan menyelidik. Tapi aku berusaha untuk bersikap biasa saja bahkan terkesan dingin. Berhentilah memandangiku seperti itu.

            “Maaf, bisakah kita focus membicarakan rencana kerjasama ini? Saya benar-benar terganggung dan merasa risih jika kalian terus saja memandangiku seperti itu.” Ucapku dengan nada suara yang agak kesal.
            “Ah, maafkan kami Mrs. Hamilton.” Kak Tom meminta maaf.
            “Maafkan atas sikap istri saya, maklum ia saat ini sedang hamil jadi emosinya tidak stabil.”
            “Tidak apa-apa Mr. Hamilton, saya mengerti sekali karena istri saya juga sama sedang hamil.” Timpal Kyle.
            Deegggg!!! Detak jantungku seperti berhenti berdetak ketika mendengar ucapan Kyle barusan. Apakah ia sudah menyadari kesalah pahamannya dan mau mengakui bayi yang sedang aku kandung sekarang. Tidak, tidak Kyle masih tetap beranggapan bahwa bayi ini adalah darah daging Eric. Jika ia memang masih mencintaiku harusnya ia pergi mencariku atau menelepon Mom dan Dad untuk menanyakan keberadaanku. Tapi pada kenyataannya, ia tidak menelepon Mom dan Dad sekalipun untuk mencari keberadaanku di mana.

            Pembicaraan kami selesai pada saat jam makan siang tiba.

            “Kami permisi dulu, senang bisa bekerja sama dengan anda sekalian.”
            “Bagaimana kalau kita makan siang bersama?” Kyle menawarkan.
            “Tidak terima kasih Mr. Dickherber, mungkin lain kali kita bisa makan siang bersama.”
            “Sayang sekali padahal aku ingin lebih mengenalmu Mrs. Hamilton.” Ucap Mary Jeane.
           
            Tapi aku hanya tersenyum simpul menanggapi ucapannya itu.

            “Senang bisa bertemu dengan kalian berdua Mr dan Mrs Hamilton.”
            “Kami juga Mr. Williams, kalau begitu kami berdua pamit dulu. Selamat siang, permisi.”

            Aku dan Eric keluar dari ruangan Kyle dengan penuh kelegaan. Karena rencana kami berjalan dengan lancar. Aku benar-benar muak melihat wajah Mary Jeane yang memasang wajah baik. Rasanya aku ingin sekali menjambak rambutnya, apalagi dia seperti dengan sengaja memeluk dan menciumi pipi Kyle. dan yang membuatku semakin emosi Kyle sama sekali tidak menolaknya. Ya Tuhan.

***

Light At The End Of The Tunnel Chapter 11


Chapter 11



            “Nanny…” aku langsung memeluknya dan membuatnya kaget.
            “Izzie, ada apa? Kau membuatku kaget.”
            “Aku rindu Nanny.” Ucapku sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku.
            “Ada apa, sayang? Mengapa kau menangis?”
            “Nanny, siang ini aku akan pergi ke Jerman. Entah sampai kapan aku akan berada disina, kerena yang pasti aku akan sangat merindukan Nanny.”
            “Itu lebih baik, sayang. Karena aku tak sanggup harus mendengarmu selalu menangis setiap malam. Dan tentu saja lelaki yang bernama Ed itu tidak akan mengganggumu.”
            “Nanny, terima kasih untuk semuanya. Maaf karena aku selalu membuat Nanny khawatir dan repot.”
            “Tidak sayang kau sama sekali tidak menyusahkanku sama sekali.”
            “Nanny boleh aku minta tolong?”
            “Tentu saja sayang, apa itu?”
            Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku lalu memberikannya pada Nanny, “Tolong berikan ini pada Kyle, siapa tahu nanti dia akan datang kemari.”
            “Bukankah sampai saat ini Kyle masih belum di temukan?”
            “Dia sudah kembali Nanny dia ada di sini. Nanny pasti akan mengerti mengapa aku pergi dari New York. Nanny, aku pamit, ya.”
            “Hati-hati disana, sayang. Jaga cucu Nanny baik-baik.”
           
            Aku hanya bisa mengangguk lalu pergi dari apartemen itu. Mungkin untuk selamanya, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah pernikahanku dan Kyle bisa di selamatkan atau tidak. Yang pasti aku akan berjuang mempertahankan semua yang menjadi milikku sampai titik darah penghabisan.

            Setelah menemui Nanny Kelly aku dan Eric langsung pergi menuju ke bandara.

***

            Aku benar-benar tidak percaya Izzie bisa mengatakan kata-kata yang menyakitkan seperti. Apa maksudnya dia bilang akan pergi dari kehidupanku. Ya Tuhan, ada apa denganku? Mengapa aku jadi seperti ini. Ayolah Kyle, Izzie sudah mengkhianatimu semua yang dikatakan oleh Mary Jeane benar.

            Siang itu aku memutusskan untuk pergi ke kantor. Ketika masuk semua karyawan disana terlihat sangat terkejut sekali melihat kehadiranku. Lalu aku masuk ke dalam ruannganku, ternyata disana ada ada Paa dan Tom. Paa terlihat kaget melihat kedatanganku tapi tidak dengan Tom yang tidak terlalu kaget melihat kedatanganku.

            “Senang bisa melihatmu lagi, Kyle.” sapa Tom dengan nada datar.
            “Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Jadi yang mengambil alih perusahaan selama aku menghilang itu Paa?” aku bertanya pada Paa.
            “Tidak, Kyle, selama kau menghilang Izzie yang menjalankan semua pekerjaanmu. Dia benar-benar wanita yang hebat bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Tapi waktu mendengar pesawatmu menghilang Paa yang mengambil alih, karena keadaan Izzie tidak memingkinkan. Izzie sangat syok sampai harus di bawa ke rumah sakit apalagi saat itu Izzie baru mengetahui bahwa dia sedang hamil.”
            “Dan kau menuduh adikku berselingkuh dengan Eric Dill dan tidak mau mengakui bayi yang sedang di kandungnya saat ini. Kau tidak tahu bagaimana hancurnya Izzie, selama kau menghilang ia seperti mayat hidup meskipun dia masih bisa tersenyum dan tertawa.”
            “Tapi kenapa dia malah pergi dengan Eric? Bukankah itu sudah jelas bahwa Izzie sudah mengkhianatiku.”
            “Izzie tidak seperti itu Kyle, Paa sangat tahu apa yang Izzie lakukan selama keu menghilang. Ia pergi bolak balik menemui seorang terapis. Karena stresss bisa berpengaruh buruk pada kandungannya.”
            “Sudahlah Paa, aku tahu Paa sangat menyayangi Izzie. Tapi dia sudah mengkhianatiku dengan cara berselingkuh dengan Eric Dill.”
            “Terserah kau saja, Kyle. Paa harap kau tidak akan menyesali tindakanmu ini.”
            “Dan kau juga takkan bisa melihat Izzie dimanapun, Kyle. tadi pagi dia pamit padaku, sepertinya Izzie akan pergi jauh dalam waktu yang sangat lama.”
            “Itu lebih baik, Tom, dengan begitu Izzie bisa menjalani kehamilannya dengan tenang,”
            “Apa? Izzie pergi? Dia pergi kemana apakah dia pergi bersama Eric?”
            “Tidak, dia tidak pergi bersama Eric dan aku tidak akan memberitahukannya padamu. Baiklah kalau begitu aku permisi dulu.”

            Tom pergi meninggalkan aku dan Paa berdua. Hatiku benar-benar sangat sakit sekali mendengar ucapan Tom. Istriku pergi tapi ia tak mengizinka aku untuk menemui istriku sendiri.

            “Karena kau sudah kembali Paa serahkan kembali perusahaan padamu. Paa harap kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Izzie. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan dan membuatmu menyesail seumur hidup. Ya sudah, kalau begitu Paa pergi.”

            Aku langsung terduduk lemas du kursiku. Berusaha untuk mengembalikan semua control dan emosi dalam diriku saat ini. Mendinginkan otakku yang memanas sejak menemui Izzie. Ketika sedang termenung diruanganku tibatiba Mary Jeane datang.

            “Halo, sayang aku sangat khawatir karena beberapa hari ini aku tidak bisa menemuimu.” Ucapnya sambil membelai wajahku dan mencium pipiku.
            “Mau apa kau ada disini? Sebaiknya kau pergi tinggalkan aku sendiri,”
            “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, Kyle. aku ingin membuktikan padamu bahwa akulah yang layak menjadi pendampingmu. Bukan Izzie yang sekarang malah bersenang-senang dengan lelaki lain.”
            “Berhenti menyembut nama Izzie dan Eric di depanku, Mary. Atau akiu akan mengusirmu dari ruanganku.”
            “Oke, oke aku minta maaf.”

            Sejak hari itu Mary Jeane selalu datang menemuiku, baik di kantor maupun di apartemen yang dulu aku tempati bersama izzie. Hanya saja aku tidak tidur di kamar utama, terlalu banyak kenangan di kamar itu. Dan sudah hampir satu minggu Izzie menghilang aku tak bisa menemukannya dan bahkan aku sudah hampir melupakan Izzie.

***

            Sementara itu di kota Berlin, Izzie dan Eric sudah siap untuk menjalankan rencana mereka. Izzie sudah mencat rambutnya yang hitam menjadi warna pirang dan memakai lensa kontak berwarna biru tua, sedangkan Eric menumbuhkan kumisnya. Penampilan mereka benar-benar berbeda dan cukup sulit untuk di kenali. Apalagi penampilan Izzie saat ini, sangat berbeda sekali, Eric mengganti namanya menjadi Ethan Hamilton sedangkan Izzie menjadi Leona Hamilton.

            Sehari sebeleum keberangkatan mereka menuju kembali ke New York…

            “Mom apa penampilankku sekarang sudah berubah?’
            “Sangat sayang, Mom hampir tidak mengenalimu, tapi matamu tetap Izzie meskipun kau sudah memakai lensa kontak berwarna biru tua untuk menutupi warna matamu yang abu-abu.”
            “Dad akan tetap berada di sampingmu sayang. Apapun yang akan kau lakukan kami akan mendukungnya.”
            “Aku terpaksa melakukan ini, untuk member pealajaran pada Mary Jeane. Aku ingin Kyle kembali, Dad.”
            “Kami mengerti sayang. Ya sudah sebaiknya sekarang kau pergi tidur saja.”

            Aku pergi ke kamar untuk tidur, namun pada kenyataannya aku tidak bisa tidur sama sekali. Pikiranku menerawang jauh, apalagi kalau bukan memikirkan Kyle. Apakah dia akan mengenaliku atau tidak? Apakah ia masih mencintaiku? Atau Kyle sudah berpaling pada Mary Jeane. Tuhan, tolong jaga cinta kami berdua, agar tetap kuat menghadai semua ini. Dan semoga rencana ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.

            Keesokan harinya aku dan Eric berangkat ke New York di antar oleh Mom dan Dad. Setelah mendapatkan nasihat yang cukup panjang dari mereka berdua. Aku dan Eric mendengarkannya dengan penuh perhatian karena kami berdua yakin mereka sangat peduli pada kami dan ingin rencana yang sedang kami jalankan ini berjalan dengan lancar.

            Di dalam pesawat menuju ke New York…

            “Kau sudah siap untuk berhadapan dengan Kyle?” tanya Eric padaku.
            “Ya, aku sudah siap, Eric. Aku harap Kyle tidak akan mengenaliku dengan penampilan seperti ini.”
            “Tidak aka nada yang mengenalimu, Izzie. Penampilanmu benar-benar sempurna dan cantik seperti biasanya tentu saja.”
            “Terima kasih atas pujiannya, Eric. Kau juga terlihat sangat berbeda dengan penampilanmu saat ini, apalagi dengan kumis itu.”
            “Aku merasa sangat lucu dengan kumis ini, Izzie.” Ucapnya sambil tertawa kecil.
            “Tidak, kau terlihat tampan Eric, sungguh aku tidak berbohong.”
            “Terima kasih juga atas pujianmu padaku.” jawabnya sambil tersenyum.
            “Semoga rencana kita berjalan lancer. Oh iya, bagaimana keadaan kamdunganmu? Sudah mulai terlihat, ya.”
            “Baik-baik sajaEric, terima kasih. Benar perutku sudah mulai membesar, aku merasa sangat lucu sekali kau tahu.” Jawabku sambil tersenyum.
            “Kau tetap cantik Izzie meskipun sedang hamil.”

Senin, 19 November 2012

My Character on my book (just vision)

Lizzie Isabella Williams
 Kyle Patrick Dickherber
 Thomas Alexander Williams
 Amanda Leona Johanson
 Edward James Adam
 Mary Jeane Brown
 Eric Dill
Jenny Suzzanne Clarkson

Selasa, 13 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 10


Chapter 10

            Eric benar, aku harus kuat menghadapi semua ini. Demi bayiku dan demi pernikahanku dengan Kyle. Aku harus bisa melawan Mary Jeane. Aku akan ikut permainanmu Mary Jeane. Sampai tiba-tiba munculah sebuah ide gila.

            “Eric, sepertinya aku punya ide untuk memberi pelajaran Mary Jeane agar dia mengakui semua perbuatan jahatnya. Dan aku rasa kaulah orang yang tepat untuk membantu rencanaku ini.”
            “Apa rencanamu?”
            Aku langsung menarik Eric lalu membisikan ide gila yang terlintas dalam pikiranku. “Bagaimana?”
            Eric terlihat mengerutkan keningnya ketika mendengar ide gilaku tersebut, “Apa kau yakin, Izzie? Ide ini cukup beresiko, kau tahu kan maksudku.”
            “Aku sudah memperhitungakan semuanya Eric, aku sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan aku terima. Hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat Mary Jeane tak berkutik.”
            “Aku pasti akan selalu membantu dan mendukungmu, Izzie. Hanya saja, apakah kau sudah benar-benar yakin dengan semua ini.”
            “Aku sangat yakin Eric, dan kita akan memulai semua setelah aku keluar dari rumah sakit. Sekali-kali aku juga ingin member pelajaran pada Kyle yang selalu tunduk pada wanita cantik.”

            Eric tertawa mendengar ucapanku yang terakhir itu.
            Keesokkan harinya, tiba-tiba saja Kyle datang menemuiku. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk bersikap kejam padanya.

            “Mau apa kau datang kemari? Bukankah kau sudah muak untuk menemuiku!” tuduhku.
            Kyle terlihat agak tersentak mendengar ucapanku itu. “Aku datang kemari hanya ingin melihat keadaanmu dan minta maaf saja.”
            “Untuk apa? Toh kau sudah tidak peduli dan percaya lagi padaku, jadi untuk apa kau masih datang kemari. Aku tak butuh rasa iba dan simpati darimu, Kyle. Karena kau sudah sangat sangat sangat melukai hatiku.”
            “Mengapa kau menjadi ketus terhadapku?”
            “Kau yang memaksaku untuk bersikap seperti ini. Dan Kyle, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu. Aku takkan pernah mengganggumu lagi, jadi sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.”
            “Apa karena Eric?”
            “Ya, karena Eric, aku tidak bisa ingin bayiku nanti lahir tapi ia tidak mendapatkan kasih sayang dan pengakuan dari ayahnya. Jadi aku berpikir akan lebih baik jika bayiku lahir nanti dia akan menganggap Eric sebagai ayahnya.”
            “Kau… kau… kau…” ucapnya dengan nafas yang memburu, karena amarah sudah menguasai dirinya.

             Kyle benar-benar marah mendengar perkataanku. Sepertinya aku sudah berhasll membuatnya marah dan membenciku sepenuhnya. Hatiku juga sangat sakit, karena pada akhirnya aku harus menyakiti suamiku sendiri. Tapi itulah yang terbaik, dan akan memudahkanku menjalankan semua rencana gilaku itu. Maafkan aku Kyle, aku terpaksa harus melakukannya, kalau kau memang masih mencintaiku kau pasti merasakan perasaanku yang sebenarnya.

            Mendengar perkataanku itu Kyle langsung keluar dari ruanganku sambil membanting pintu dengan sangat keras sekali. Aku hanya bisa menangis terisak setelah kepergiannya, tak lama kemudia Eric datang. Ia terkejut dan khawatir ketika mendapatiku sedang menangis.

            “Izzie, apa ada? Mengapa kau menangis?” tanyanya dengan lembut.
            “Tadi… Tadi Kyle datang kemari, dan aku sudah menjalankan rencanaku untuk membuatnya membenciku, Eric. Hatiku benar-benar sakit, meskipun hal itu yang sangat aku harapkan. Tapi…”
            “Sttt, aku mengerti Izzie, sangat mengerti perasaanmu. Sudah jangan menangis.” Ucap Eric sambil memelukku dengan erat. “Oh iya, tadi aku mampir ke ruangan dokter katanya kau sudah boleh keluar dari rumah sakit besok pagi. Apa yang akan kau lakukan?”
            “AKu harus menemui Nanny Kelly, aku harus pamitan padanya. Aku harus meyakinkan kakakku, kau tahu dia seperti apa. Tetap mengkhawatirkanku dengan berlebihan.”
            “Baiklah, apa kau ingin aku temani besok?”
            “Tidak usah, aku bisa sendiri. Apakah semua persiapannya sudah selesai?”
            “Masih ada yang harus aku urus tapi semuanya akan selesai besok.”
            “Aku akan memberitahukan rencana ini pada Mom dan Dad, aki tak ingin mereka terus-terusan mengkhawatirkan aku.”
            “Ide yang sangat bagus Izzie. Ya sudah, sebaiknya kau beristirahat saja, aku harus menyelesaikan beberapa urusan. Anak buahku akan berjaga didepan.”
            “Terima kasih untuk semuanya Eric, aku tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu padaku.”
            “Tak usah kau pikirkan, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, Izzie. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”

            Eric mencium keningku dengan cepat lalu ia pergi meninggalkanku.
            Ya Tuhan, mengapa Eric selalu bersikap seperti itu padaku. jangan sampai perasaanku pada Kyle berubah meskipun saat ini aku dan dia sedang jauh. Dan jangan sampai aku jatuh cinta pada Eric. Besok aku harus bisa berpamitan pada semua orang, yang penting Kak Tom harus bisa di yakinkan.

            Keesokkan harinya Eric menjemputku dan mengantarkanku ke kantor Kak Tom.

            “Apa kau yakin tidak ingin aku temani?” tanya Eric khawatir.
            “Aku tidak apa-apa, kau tak usah khawatir. Jika kau ikut kakakku pasti akan curiga.”
            “Ya sudah, jika kau sudah selesai telepon saja aku.”
            “Baiklah, aku masuk dulu.”

            Lalu aku keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk kedalam gedung perkantoran milik kakakku tersayang. Aku langsung menuju ke ruangannya yang berada di lantai paling atas gedung ini. Untung saja kakak ada di ruangannya dan tidak sedang sibuk.

            “Izzie, apa kabar?” sapa kakak sambil memelukku erat.
            “Aku baik-baik saja, Kak.”
            “Tapi kau terlihat agak pucat, apa kau yakin baik-baik saja?” sambil memandangiku dengan curiga.
            “Aku baik-baik saja, Kak. Hanya sedikit kelelahan saja.”
            “Syukurlah kalau kau baik-baik saja.”
            “Kak, Kyle sudah kembali.”
            “Kyle sudah kembali?” ungkap kakakku terkejut.
            “Iya, dia selamat dari kecelakaan itu, Kak. Aku sangat bersyukur sekali.”  Aku benar-benar tidak bisa menutupi perasaan sakitku.
            “Apa kalian baik-baik saja?”
            “Sejujurnya tidak, Kak, hubunganku dengan Kyle sangat tidak baik. Ia menuduhku berselingkuh dengan Eric, bahkan ia tidak mau mengakui bayi yang sedang aku kandung saat ini.”
            “Mengapa ia jadi seperti itu? Benar-benar seperti bukan Kyle.”
            “Entah apa yang sudah Mary Jeane lakukan padanya, Kak. Dan untuk itu pula aku datang kesini untuk pamitan sama kakak.”
            “Kau mau pergi kemana, Izzie?”
            “Aku akan pergi menemui Mom dan Dad di Jerman, Kak. Aku saat ini benar-benar butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Dan pergi jauh dari Kyle adalah pilihan yang tepat, aku harus menjaga kandunganku, Kak.”
            “Kakak mengerti Izzie. Kapan kau akan berangkat kesana?”
            “Siang ini, Kak. Semuanya sudah siap, semakin cepat akan lebih baik.”
            Tiba-tiba kakak memelukku dengan erat, “Hati-hati, aku pasti akan sangat merindukanmu. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu Izzie. Kau seorang wanita yang kuat, aku yakin kau akan bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”
            “Terima kasih, Kak. Aku juga sangat sayang sekali padamu, aku beruntung memiliki seorang kakak yang hebat sepertimu.”
            “Aku berharap bisa mengantarmu ke bandara siang ini, tapi sayangnya aku harus menemui sebuah pertemuan penting dengan ayah mertuamu siang ini.”
            “Sampaikan salamku untuk Manda dan untuk Paa ya, Kak. Katakan pada mereka bahwa aku sangat mencintai dan menyayangi mereka.”
            “Tentu saja akan ku sampaikan pada mereka.”
            “Ya sudah kalau begitu aku pamit, ya. Ada beberapa hal yang belum aku selesaikan di apartemen.”
            “Mau kaka kantar?”
            “Tidak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri. Bye, love you so much.” Ucapku sambil memelukknya.

            Aku keluar dari ruangan Kak Tom dan ketika sedang di lift aku menelepon Eric, yang ternyata sudah menungguku di bawah. Ketika keluar dari gedung aku langsung masuk kedalam mobil milik Eric.

             “Bagaimana tadi didalam?” tanyanya ketika aku sudah masuk ke dalam mobil.
            “Cukup lancer, aku menjelaskan alasan kepergianku ke Jerman. Dan aku juga memberitahu kakak tentang Kyle yang sudah kembali. Dan ia mengizinkanku untuk pergi ke Jerman.”
            “Baguslah, sejauh ini semuanya lancer. Apakah kau sudah siap untuk berangakat?”
            “Pukul berapa kita akan berangkat? Bisakah kau mengantarku kembali ke apartemenku untuk yang terakhir kalinya?”
            “Tentu saja.”

            Dari situ kami langsung menuju ke apartemen milik Kyle, Eric menunggu di dalam mobil. Ketika sampai Nanny Kelly sedang sibuk di dapur. Melihatnya membuat hatiku sedih.