Jumat, 23 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 11


Chapter 11



            “Nanny…” aku langsung memeluknya dan membuatnya kaget.
            “Izzie, ada apa? Kau membuatku kaget.”
            “Aku rindu Nanny.” Ucapku sambil menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku.
            “Ada apa, sayang? Mengapa kau menangis?”
            “Nanny, siang ini aku akan pergi ke Jerman. Entah sampai kapan aku akan berada disina, kerena yang pasti aku akan sangat merindukan Nanny.”
            “Itu lebih baik, sayang. Karena aku tak sanggup harus mendengarmu selalu menangis setiap malam. Dan tentu saja lelaki yang bernama Ed itu tidak akan mengganggumu.”
            “Nanny, terima kasih untuk semuanya. Maaf karena aku selalu membuat Nanny khawatir dan repot.”
            “Tidak sayang kau sama sekali tidak menyusahkanku sama sekali.”
            “Nanny boleh aku minta tolong?”
            “Tentu saja sayang, apa itu?”
            Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam tasku lalu memberikannya pada Nanny, “Tolong berikan ini pada Kyle, siapa tahu nanti dia akan datang kemari.”
            “Bukankah sampai saat ini Kyle masih belum di temukan?”
            “Dia sudah kembali Nanny dia ada di sini. Nanny pasti akan mengerti mengapa aku pergi dari New York. Nanny, aku pamit, ya.”
            “Hati-hati disana, sayang. Jaga cucu Nanny baik-baik.”
           
            Aku hanya bisa mengangguk lalu pergi dari apartemen itu. Mungkin untuk selamanya, karena aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Apakah pernikahanku dan Kyle bisa di selamatkan atau tidak. Yang pasti aku akan berjuang mempertahankan semua yang menjadi milikku sampai titik darah penghabisan.

            Setelah menemui Nanny Kelly aku dan Eric langsung pergi menuju ke bandara.

***

            Aku benar-benar tidak percaya Izzie bisa mengatakan kata-kata yang menyakitkan seperti. Apa maksudnya dia bilang akan pergi dari kehidupanku. Ya Tuhan, ada apa denganku? Mengapa aku jadi seperti ini. Ayolah Kyle, Izzie sudah mengkhianatimu semua yang dikatakan oleh Mary Jeane benar.

            Siang itu aku memutusskan untuk pergi ke kantor. Ketika masuk semua karyawan disana terlihat sangat terkejut sekali melihat kehadiranku. Lalu aku masuk ke dalam ruannganku, ternyata disana ada ada Paa dan Tom. Paa terlihat kaget melihat kedatanganku tapi tidak dengan Tom yang tidak terlalu kaget melihat kedatanganku.

            “Senang bisa melihatmu lagi, Kyle.” sapa Tom dengan nada datar.
            “Aku juga senang bisa bertemu denganmu lagi. Jadi yang mengambil alih perusahaan selama aku menghilang itu Paa?” aku bertanya pada Paa.
            “Tidak, Kyle, selama kau menghilang Izzie yang menjalankan semua pekerjaanmu. Dia benar-benar wanita yang hebat bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Tapi waktu mendengar pesawatmu menghilang Paa yang mengambil alih, karena keadaan Izzie tidak memingkinkan. Izzie sangat syok sampai harus di bawa ke rumah sakit apalagi saat itu Izzie baru mengetahui bahwa dia sedang hamil.”
            “Dan kau menuduh adikku berselingkuh dengan Eric Dill dan tidak mau mengakui bayi yang sedang di kandungnya saat ini. Kau tidak tahu bagaimana hancurnya Izzie, selama kau menghilang ia seperti mayat hidup meskipun dia masih bisa tersenyum dan tertawa.”
            “Tapi kenapa dia malah pergi dengan Eric? Bukankah itu sudah jelas bahwa Izzie sudah mengkhianatiku.”
            “Izzie tidak seperti itu Kyle, Paa sangat tahu apa yang Izzie lakukan selama keu menghilang. Ia pergi bolak balik menemui seorang terapis. Karena stresss bisa berpengaruh buruk pada kandungannya.”
            “Sudahlah Paa, aku tahu Paa sangat menyayangi Izzie. Tapi dia sudah mengkhianatiku dengan cara berselingkuh dengan Eric Dill.”
            “Terserah kau saja, Kyle. Paa harap kau tidak akan menyesali tindakanmu ini.”
            “Dan kau juga takkan bisa melihat Izzie dimanapun, Kyle. tadi pagi dia pamit padaku, sepertinya Izzie akan pergi jauh dalam waktu yang sangat lama.”
            “Itu lebih baik, Tom, dengan begitu Izzie bisa menjalani kehamilannya dengan tenang,”
            “Apa? Izzie pergi? Dia pergi kemana apakah dia pergi bersama Eric?”
            “Tidak, dia tidak pergi bersama Eric dan aku tidak akan memberitahukannya padamu. Baiklah kalau begitu aku permisi dulu.”

            Tom pergi meninggalkan aku dan Paa berdua. Hatiku benar-benar sangat sakit sekali mendengar ucapan Tom. Istriku pergi tapi ia tak mengizinka aku untuk menemui istriku sendiri.

            “Karena kau sudah kembali Paa serahkan kembali perusahaan padamu. Paa harap kau bisa menyelesaikan masalahmu dengan Izzie. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan dan membuatmu menyesail seumur hidup. Ya sudah, kalau begitu Paa pergi.”

            Aku langsung terduduk lemas du kursiku. Berusaha untuk mengembalikan semua control dan emosi dalam diriku saat ini. Mendinginkan otakku yang memanas sejak menemui Izzie. Ketika sedang termenung diruanganku tibatiba Mary Jeane datang.

            “Halo, sayang aku sangat khawatir karena beberapa hari ini aku tidak bisa menemuimu.” Ucapnya sambil membelai wajahku dan mencium pipiku.
            “Mau apa kau ada disini? Sebaiknya kau pergi tinggalkan aku sendiri,”
            “Tidak, aku tidak akan meninggalkanmu, Kyle. aku ingin membuktikan padamu bahwa akulah yang layak menjadi pendampingmu. Bukan Izzie yang sekarang malah bersenang-senang dengan lelaki lain.”
            “Berhenti menyembut nama Izzie dan Eric di depanku, Mary. Atau akiu akan mengusirmu dari ruanganku.”
            “Oke, oke aku minta maaf.”

            Sejak hari itu Mary Jeane selalu datang menemuiku, baik di kantor maupun di apartemen yang dulu aku tempati bersama izzie. Hanya saja aku tidak tidur di kamar utama, terlalu banyak kenangan di kamar itu. Dan sudah hampir satu minggu Izzie menghilang aku tak bisa menemukannya dan bahkan aku sudah hampir melupakan Izzie.

***

            Sementara itu di kota Berlin, Izzie dan Eric sudah siap untuk menjalankan rencana mereka. Izzie sudah mencat rambutnya yang hitam menjadi warna pirang dan memakai lensa kontak berwarna biru tua, sedangkan Eric menumbuhkan kumisnya. Penampilan mereka benar-benar berbeda dan cukup sulit untuk di kenali. Apalagi penampilan Izzie saat ini, sangat berbeda sekali, Eric mengganti namanya menjadi Ethan Hamilton sedangkan Izzie menjadi Leona Hamilton.

            Sehari sebeleum keberangkatan mereka menuju kembali ke New York…

            “Mom apa penampilankku sekarang sudah berubah?’
            “Sangat sayang, Mom hampir tidak mengenalimu, tapi matamu tetap Izzie meskipun kau sudah memakai lensa kontak berwarna biru tua untuk menutupi warna matamu yang abu-abu.”
            “Dad akan tetap berada di sampingmu sayang. Apapun yang akan kau lakukan kami akan mendukungnya.”
            “Aku terpaksa melakukan ini, untuk member pealajaran pada Mary Jeane. Aku ingin Kyle kembali, Dad.”
            “Kami mengerti sayang. Ya sudah sebaiknya sekarang kau pergi tidur saja.”

            Aku pergi ke kamar untuk tidur, namun pada kenyataannya aku tidak bisa tidur sama sekali. Pikiranku menerawang jauh, apalagi kalau bukan memikirkan Kyle. Apakah dia akan mengenaliku atau tidak? Apakah ia masih mencintaiku? Atau Kyle sudah berpaling pada Mary Jeane. Tuhan, tolong jaga cinta kami berdua, agar tetap kuat menghadai semua ini. Dan semoga rencana ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.

            Keesokan harinya aku dan Eric berangkat ke New York di antar oleh Mom dan Dad. Setelah mendapatkan nasihat yang cukup panjang dari mereka berdua. Aku dan Eric mendengarkannya dengan penuh perhatian karena kami berdua yakin mereka sangat peduli pada kami dan ingin rencana yang sedang kami jalankan ini berjalan dengan lancar.

            Di dalam pesawat menuju ke New York…

            “Kau sudah siap untuk berhadapan dengan Kyle?” tanya Eric padaku.
            “Ya, aku sudah siap, Eric. Aku harap Kyle tidak akan mengenaliku dengan penampilan seperti ini.”
            “Tidak aka nada yang mengenalimu, Izzie. Penampilanmu benar-benar sempurna dan cantik seperti biasanya tentu saja.”
            “Terima kasih atas pujiannya, Eric. Kau juga terlihat sangat berbeda dengan penampilanmu saat ini, apalagi dengan kumis itu.”
            “Aku merasa sangat lucu dengan kumis ini, Izzie.” Ucapnya sambil tertawa kecil.
            “Tidak, kau terlihat tampan Eric, sungguh aku tidak berbohong.”
            “Terima kasih juga atas pujianmu padaku.” jawabnya sambil tersenyum.
            “Semoga rencana kita berjalan lancer. Oh iya, bagaimana keadaan kamdunganmu? Sudah mulai terlihat, ya.”
            “Baik-baik sajaEric, terima kasih. Benar perutku sudah mulai membesar, aku merasa sangat lucu sekali kau tahu.” Jawabku sambil tersenyum.
            “Kau tetap cantik Izzie meskipun sedang hamil.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar