Chapter
11
“Nanny…” aku langsung memeluknya dan
membuatnya kaget.
“Izzie, ada apa? Kau membuatku
kaget.”
“Aku rindu Nanny.” Ucapku sambil
menghapus air mata yang mulai membasahi pipiku.
“Ada apa, sayang? Mengapa kau
menangis?”
“Nanny, siang ini aku akan pergi ke
Jerman. Entah sampai kapan aku akan berada disina, kerena yang pasti aku akan
sangat merindukan Nanny.”
“Itu lebih baik, sayang. Karena aku
tak sanggup harus mendengarmu selalu menangis setiap malam. Dan tentu saja
lelaki yang bernama Ed itu tidak akan mengganggumu.”
“Nanny, terima kasih untuk semuanya.
Maaf karena aku selalu membuat Nanny khawatir dan repot.”
“Tidak sayang kau sama sekali tidak
menyusahkanku sama sekali.”
“Nanny boleh aku minta tolong?”
“Tentu saja sayang, apa itu?”
Aku mengeluarkan sesuatu dari dalam
tasku lalu memberikannya pada Nanny, “Tolong berikan ini pada Kyle, siapa tahu
nanti dia akan datang kemari.”
“Bukankah sampai saat ini Kyle masih
belum di temukan?”
“Dia sudah kembali Nanny dia ada di
sini. Nanny pasti akan mengerti mengapa aku pergi dari New York. Nanny, aku
pamit, ya.”
“Hati-hati disana, sayang. Jaga cucu
Nanny baik-baik.”
Aku hanya bisa mengangguk lalu pergi
dari apartemen itu. Mungkin untuk selamanya, karena aku tidak tahu apa yang
akan terjadi selanjutnya. Apakah pernikahanku dan Kyle bisa di selamatkan atau
tidak. Yang pasti aku akan berjuang mempertahankan semua yang menjadi milikku
sampai titik darah penghabisan.
Setelah menemui Nanny Kelly aku dan
Eric langsung pergi menuju ke bandara.
***
Aku benar-benar tidak percaya Izzie
bisa mengatakan kata-kata yang menyakitkan seperti. Apa maksudnya dia bilang akan
pergi dari kehidupanku. Ya Tuhan, ada apa denganku? Mengapa aku jadi seperti
ini. Ayolah Kyle, Izzie sudah mengkhianatimu semua yang dikatakan oleh Mary
Jeane benar.
Siang itu aku memutusskan untuk
pergi ke kantor. Ketika masuk semua karyawan disana terlihat sangat terkejut
sekali melihat kehadiranku. Lalu aku masuk ke dalam ruannganku, ternyata disana
ada ada Paa dan Tom. Paa terlihat kaget melihat kedatanganku tapi tidak dengan
Tom yang tidak terlalu kaget melihat kedatanganku.
“Senang bisa melihatmu lagi, Kyle.”
sapa Tom dengan nada datar.
“Aku juga senang bisa bertemu
denganmu lagi. Jadi yang mengambil alih perusahaan selama aku menghilang itu
Paa?” aku bertanya pada Paa.
“Tidak, Kyle, selama kau menghilang
Izzie yang menjalankan semua pekerjaanmu. Dia benar-benar wanita yang hebat
bisa menjalankan tugas-tugasnya dengan sangat baik. Tapi waktu mendengar
pesawatmu menghilang Paa yang mengambil alih, karena keadaan Izzie tidak
memingkinkan. Izzie sangat syok sampai harus di bawa ke rumah sakit apalagi
saat itu Izzie baru mengetahui bahwa dia sedang hamil.”
“Dan kau menuduh adikku berselingkuh
dengan Eric Dill dan tidak mau mengakui bayi yang sedang di kandungnya saat
ini. Kau tidak tahu bagaimana hancurnya Izzie, selama kau menghilang ia seperti
mayat hidup meskipun dia masih bisa tersenyum dan tertawa.”
“Tapi kenapa dia malah pergi dengan
Eric? Bukankah itu sudah jelas bahwa Izzie sudah mengkhianatiku.”
“Izzie tidak seperti itu Kyle, Paa
sangat tahu apa yang Izzie lakukan selama keu menghilang. Ia pergi bolak balik
menemui seorang terapis. Karena stresss bisa berpengaruh buruk pada
kandungannya.”
“Sudahlah Paa, aku tahu Paa sangat
menyayangi Izzie. Tapi dia sudah mengkhianatiku dengan cara berselingkuh dengan
Eric Dill.”
“Terserah kau saja, Kyle. Paa harap
kau tidak akan menyesali tindakanmu ini.”
“Dan kau juga takkan bisa melihat
Izzie dimanapun, Kyle. tadi pagi dia pamit padaku, sepertinya Izzie akan pergi
jauh dalam waktu yang sangat lama.”
“Itu lebih baik, Tom, dengan begitu
Izzie bisa menjalani kehamilannya dengan tenang,”
“Apa? Izzie pergi? Dia pergi kemana
apakah dia pergi bersama Eric?”
“Tidak, dia tidak pergi bersama Eric
dan aku tidak akan memberitahukannya padamu. Baiklah kalau begitu aku permisi
dulu.”
Tom pergi meninggalkan aku dan Paa
berdua. Hatiku benar-benar sangat sakit sekali mendengar ucapan Tom. Istriku
pergi tapi ia tak mengizinka aku untuk menemui istriku sendiri.
“Karena kau sudah kembali Paa
serahkan kembali perusahaan padamu. Paa harap kau bisa menyelesaikan masalahmu
dengan Izzie. Jangan sampai kau salah mengambil keputusan dan membuatmu
menyesail seumur hidup. Ya sudah, kalau begitu Paa pergi.”
Aku langsung terduduk lemas du
kursiku. Berusaha untuk mengembalikan semua control dan emosi dalam diriku saat
ini. Mendinginkan otakku yang memanas sejak menemui Izzie. Ketika sedang
termenung diruanganku tibatiba Mary Jeane datang.
“Halo, sayang aku sangat khawatir
karena beberapa hari ini aku tidak bisa menemuimu.” Ucapnya sambil membelai
wajahku dan mencium pipiku.
“Mau apa kau ada disini? Sebaiknya
kau pergi tinggalkan aku sendiri,”
“Tidak, aku tidak akan
meninggalkanmu, Kyle. aku ingin membuktikan padamu bahwa akulah yang layak
menjadi pendampingmu. Bukan Izzie yang sekarang malah bersenang-senang dengan
lelaki lain.”
“Berhenti menyembut nama Izzie dan
Eric di depanku, Mary. Atau akiu akan mengusirmu dari ruanganku.”
“Oke, oke aku minta maaf.”
Sejak hari itu Mary Jeane selalu
datang menemuiku, baik di kantor maupun di apartemen yang dulu aku tempati
bersama izzie. Hanya saja aku tidak tidur di kamar utama, terlalu banyak
kenangan di kamar itu. Dan sudah hampir satu minggu Izzie menghilang aku tak
bisa menemukannya dan bahkan aku sudah hampir melupakan Izzie.
***
Sementara itu di kota Berlin, Izzie
dan Eric sudah siap untuk menjalankan rencana mereka. Izzie sudah mencat
rambutnya yang hitam menjadi warna pirang dan memakai lensa kontak berwarna
biru tua, sedangkan Eric menumbuhkan kumisnya. Penampilan mereka benar-benar
berbeda dan cukup sulit untuk di kenali. Apalagi penampilan Izzie saat ini,
sangat berbeda sekali, Eric mengganti namanya menjadi Ethan Hamilton sedangkan
Izzie menjadi Leona Hamilton.
Sehari sebeleum keberangkatan mereka
menuju kembali ke New York…
“Mom apa penampilankku sekarang
sudah berubah?’
“Sangat sayang, Mom hampir tidak
mengenalimu, tapi matamu tetap Izzie meskipun kau sudah memakai lensa kontak
berwarna biru tua untuk menutupi warna matamu yang abu-abu.”
“Dad akan tetap berada di sampingmu
sayang. Apapun yang akan kau lakukan kami akan mendukungnya.”
“Aku terpaksa melakukan ini, untuk
member pealajaran pada Mary Jeane. Aku ingin Kyle kembali, Dad.”
“Kami mengerti sayang. Ya sudah
sebaiknya sekarang kau pergi tidur saja.”
Aku pergi ke kamar untuk tidur,
namun pada kenyataannya aku tidak bisa tidur sama sekali. Pikiranku menerawang
jauh, apalagi kalau bukan memikirkan Kyle. Apakah dia akan mengenaliku atau
tidak? Apakah ia masih mencintaiku? Atau Kyle sudah berpaling pada Mary Jeane.
Tuhan, tolong jaga cinta kami berdua, agar tetap kuat menghadai semua ini. Dan
semoga rencana ini berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.
Keesokan harinya aku dan Eric berangkat ke New York di
antar oleh Mom dan Dad. Setelah mendapatkan nasihat yang cukup panjang dari
mereka berdua. Aku dan Eric mendengarkannya dengan penuh perhatian karena kami
berdua yakin mereka sangat peduli pada kami dan ingin rencana yang sedang kami
jalankan ini berjalan dengan lancar.
Di dalam pesawat menuju ke New York…
“Kau sudah siap untuk berhadapan dengan Kyle?” tanya Eric
padaku.
“Ya, aku sudah siap, Eric. Aku harap Kyle tidak akan
mengenaliku dengan penampilan seperti ini.”
“Tidak aka nada yang mengenalimu, Izzie. Penampilanmu
benar-benar sempurna dan cantik seperti biasanya tentu saja.”
“Terima kasih atas pujiannya, Eric. Kau juga terlihat
sangat berbeda dengan penampilanmu saat ini, apalagi dengan kumis itu.”
“Aku merasa sangat lucu dengan kumis ini, Izzie.” Ucapnya
sambil tertawa kecil.
“Tidak, kau terlihat tampan Eric, sungguh aku tidak
berbohong.”
“Terima kasih juga atas pujianmu padaku.” jawabnya sambil
tersenyum.
“Semoga rencana kita berjalan lancer. Oh iya, bagaimana
keadaan kamdunganmu? Sudah mulai terlihat, ya.”
“Baik-baik sajaEric, terima kasih. Benar perutku sudah
mulai membesar, aku merasa sangat lucu sekali kau tahu.” Jawabku sambil
tersenyum.
“Kau tetap cantik Izzie meskipun sedang hamil.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar