Chapter
10
Eric benar, aku harus kuat
menghadapi semua ini. Demi bayiku dan demi pernikahanku dengan Kyle. Aku harus
bisa melawan Mary Jeane. Aku akan ikut permainanmu Mary Jeane. Sampai tiba-tiba
munculah sebuah ide gila.
“Eric, sepertinya aku punya ide
untuk memberi pelajaran Mary Jeane agar dia mengakui semua perbuatan jahatnya.
Dan aku rasa kaulah orang yang tepat untuk membantu rencanaku ini.”
“Apa rencanamu?”
Aku langsung menarik Eric lalu
membisikan ide gila yang terlintas dalam pikiranku. “Bagaimana?”
Eric terlihat mengerutkan keningnya
ketika mendengar ide gilaku tersebut, “Apa kau yakin, Izzie? Ide ini cukup
beresiko, kau tahu kan maksudku.”
“Aku sudah memperhitungakan semuanya
Eric, aku sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan aku terima. Hanya
itulah satu-satunya cara untuk membuat Mary Jeane tak berkutik.”
“Aku pasti akan selalu membantu dan
mendukungmu, Izzie. Hanya saja, apakah kau sudah benar-benar yakin dengan semua
ini.”
“Aku sangat yakin Eric, dan kita
akan memulai semua setelah aku keluar dari rumah sakit. Sekali-kali aku juga
ingin member pelajaran pada Kyle yang selalu tunduk pada wanita cantik.”
Eric tertawa mendengar ucapanku yang
terakhir itu.
Keesokkan harinya, tiba-tiba saja
Kyle datang menemuiku. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk bersikap kejam
padanya.
“Mau apa kau datang kemari? Bukankah
kau sudah muak untuk menemuiku!” tuduhku.
Kyle terlihat agak tersentak
mendengar ucapanku itu. “Aku datang kemari hanya ingin melihat keadaanmu dan
minta maaf saja.”
“Untuk apa? Toh kau sudah tidak
peduli dan percaya lagi padaku, jadi untuk apa kau masih datang kemari. Aku tak
butuh rasa iba dan simpati darimu, Kyle. Karena kau sudah sangat sangat sangat
melukai hatiku.”
“Mengapa kau menjadi ketus
terhadapku?”
“Kau yang memaksaku untuk bersikap
seperti ini. Dan Kyle, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu. Aku takkan pernah
mengganggumu lagi, jadi sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama seperti yang
aku lakukan.”
“Apa karena Eric?”
“Ya, karena Eric, aku tidak bisa
ingin bayiku nanti lahir tapi ia tidak mendapatkan kasih sayang dan pengakuan
dari ayahnya. Jadi aku berpikir akan lebih baik jika bayiku lahir nanti dia
akan menganggap Eric sebagai ayahnya.”
“Kau… kau… kau…” ucapnya dengan
nafas yang memburu, karena amarah sudah menguasai dirinya.
Kyle benar-benar marah mendengar perkataanku.
Sepertinya aku sudah berhasll membuatnya marah dan membenciku sepenuhnya.
Hatiku juga sangat sakit, karena pada akhirnya aku harus menyakiti suamiku
sendiri. Tapi itulah yang terbaik, dan akan memudahkanku menjalankan semua
rencana gilaku itu. Maafkan aku Kyle, aku terpaksa harus melakukannya, kalau
kau memang masih mencintaiku kau pasti merasakan perasaanku yang sebenarnya.
Mendengar perkataanku itu Kyle
langsung keluar dari ruanganku sambil membanting pintu dengan sangat keras
sekali. Aku hanya bisa menangis terisak setelah kepergiannya, tak lama kemudia
Eric datang. Ia terkejut dan khawatir ketika mendapatiku sedang menangis.
“Izzie, apa ada? Mengapa kau
menangis?” tanyanya dengan lembut.
“Tadi… Tadi Kyle datang kemari, dan
aku sudah menjalankan rencanaku untuk membuatnya membenciku, Eric. Hatiku
benar-benar sakit, meskipun hal itu yang sangat aku harapkan. Tapi…”
“Sttt, aku mengerti Izzie, sangat
mengerti perasaanmu. Sudah jangan menangis.” Ucap Eric sambil memelukku dengan
erat. “Oh iya, tadi aku mampir ke ruangan dokter katanya kau sudah boleh keluar
dari rumah sakit besok pagi. Apa yang akan kau lakukan?”
“AKu harus menemui Nanny Kelly, aku
harus pamitan padanya. Aku harus meyakinkan kakakku, kau tahu dia seperti apa.
Tetap mengkhawatirkanku dengan berlebihan.”
“Baiklah, apa kau ingin aku temani
besok?”
“Tidak usah, aku bisa sendiri.
Apakah semua persiapannya sudah selesai?”
“Masih ada yang harus aku urus tapi
semuanya akan selesai besok.”
“Aku akan memberitahukan rencana ini
pada Mom dan Dad, aki tak ingin mereka terus-terusan mengkhawatirkan aku.”
“Ide yang sangat bagus Izzie. Ya
sudah, sebaiknya kau beristirahat saja, aku harus menyelesaikan beberapa
urusan. Anak buahku akan berjaga didepan.”
“Terima kasih untuk semuanya Eric,
aku tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu padaku.”
“Tak usah kau pikirkan, aku akan
melakukan apapun untukmu. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, Izzie. Ya
sudah, aku pergi dulu, ya.”
Eric mencium keningku dengan cepat
lalu ia pergi meninggalkanku.
Ya Tuhan, mengapa Eric selalu
bersikap seperti itu padaku. jangan sampai perasaanku pada Kyle berubah
meskipun saat ini aku dan dia sedang jauh. Dan jangan sampai aku jatuh cinta
pada Eric. Besok aku harus bisa berpamitan pada semua orang, yang penting Kak
Tom harus bisa di yakinkan.
Keesokkan harinya Eric menjemputku
dan mengantarkanku ke kantor Kak Tom.
“Apa kau yakin tidak ingin aku
temani?” tanya Eric khawatir.
“Aku tidak apa-apa, kau tak usah
khawatir. Jika kau ikut kakakku pasti akan curiga.”
“Ya sudah, jika kau sudah selesai
telepon saja aku.”
“Baiklah, aku masuk dulu.”
Lalu aku keluar dari dalam mobil dan
bergegas masuk kedalam gedung perkantoran milik kakakku tersayang. Aku langsung
menuju ke ruangannya yang berada di lantai paling atas gedung ini. Untung saja
kakak ada di ruangannya dan tidak sedang sibuk.
“Izzie, apa kabar?” sapa kakak
sambil memelukku erat.
“Aku baik-baik saja, Kak.”
“Tapi kau terlihat agak pucat, apa
kau yakin baik-baik saja?” sambil memandangiku dengan curiga.
“Aku baik-baik saja, Kak. Hanya
sedikit kelelahan saja.”
“Syukurlah kalau kau baik-baik
saja.”
“Kak, Kyle sudah kembali.”
“Kyle sudah kembali?” ungkap kakakku
terkejut.
“Iya, dia selamat dari kecelakaan
itu, Kak. Aku sangat bersyukur sekali.”
Aku benar-benar tidak bisa menutupi perasaan sakitku.
“Apa kalian baik-baik saja?”
“Sejujurnya tidak, Kak, hubunganku
dengan Kyle sangat tidak baik. Ia menuduhku berselingkuh dengan Eric, bahkan ia
tidak mau mengakui bayi yang sedang aku kandung saat ini.”
“Mengapa ia jadi seperti itu?
Benar-benar seperti bukan Kyle.”
“Entah apa yang sudah Mary Jeane
lakukan padanya, Kak. Dan untuk itu pula aku datang kesini untuk pamitan sama
kakak.”
“Kau mau pergi kemana, Izzie?”
“Aku akan pergi menemui Mom dan Dad
di Jerman, Kak. Aku saat ini benar-benar butuh waktu untuk menenangkan
pikiranku. Dan pergi jauh dari Kyle adalah pilihan yang tepat, aku harus
menjaga kandunganku, Kak.”
“Kakak mengerti Izzie. Kapan kau
akan berangkat kesana?”
“Siang ini, Kak. Semuanya sudah
siap, semakin cepat akan lebih baik.”
Tiba-tiba kakak memelukku dengan
erat, “Hati-hati, aku pasti akan sangat merindukanmu. Apapun yang terjadi aku
akan selalu ada untukmu Izzie. Kau seorang wanita yang kuat, aku yakin kau akan
bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”
“Terima kasih, Kak. Aku juga sangat
sayang sekali padamu, aku beruntung memiliki seorang kakak yang hebat sepertimu.”
“Aku berharap bisa mengantarmu ke
bandara siang ini, tapi sayangnya aku harus menemui sebuah pertemuan penting
dengan ayah mertuamu siang ini.”
“Sampaikan salamku untuk Manda dan untuk
Paa ya, Kak. Katakan pada mereka bahwa aku sangat mencintai dan menyayangi
mereka.”
“Tentu saja akan ku sampaikan pada
mereka.”
“Ya sudah kalau begitu aku pamit,
ya. Ada beberapa hal yang belum aku selesaikan di apartemen.”
“Mau kaka kantar?”
“Tidak usah, Kak. Aku bisa pulang
sendiri. Bye, love you so much.” Ucapku
sambil memelukknya.
Aku keluar dari ruangan Kak Tom dan
ketika sedang di lift aku menelepon Eric, yang ternyata sudah menungguku di
bawah. Ketika keluar dari gedung aku langsung masuk kedalam mobil milik Eric.
“Bagaimana tadi didalam?” tanyanya ketika aku
sudah masuk ke dalam mobil.
“Cukup lancer, aku menjelaskan
alasan kepergianku ke Jerman. Dan aku juga memberitahu kakak tentang Kyle yang
sudah kembali. Dan ia mengizinkanku untuk pergi ke Jerman.”
“Baguslah, sejauh ini semuanya
lancer. Apakah kau sudah siap untuk berangakat?”
“Pukul berapa kita akan berangkat?
Bisakah kau mengantarku kembali ke apartemenku untuk yang terakhir kalinya?”
“Tentu saja.”
Dari situ kami langsung menuju ke
apartemen milik Kyle, Eric menunggu di dalam mobil. Ketika sampai Nanny Kelly
sedang sibuk di dapur. Melihatnya membuat hatiku sedih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar