Selasa, 13 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 10


Chapter 10

            Eric benar, aku harus kuat menghadapi semua ini. Demi bayiku dan demi pernikahanku dengan Kyle. Aku harus bisa melawan Mary Jeane. Aku akan ikut permainanmu Mary Jeane. Sampai tiba-tiba munculah sebuah ide gila.

            “Eric, sepertinya aku punya ide untuk memberi pelajaran Mary Jeane agar dia mengakui semua perbuatan jahatnya. Dan aku rasa kaulah orang yang tepat untuk membantu rencanaku ini.”
            “Apa rencanamu?”
            Aku langsung menarik Eric lalu membisikan ide gila yang terlintas dalam pikiranku. “Bagaimana?”
            Eric terlihat mengerutkan keningnya ketika mendengar ide gilaku tersebut, “Apa kau yakin, Izzie? Ide ini cukup beresiko, kau tahu kan maksudku.”
            “Aku sudah memperhitungakan semuanya Eric, aku sudah siap dengan semua konsekuensi yang akan aku terima. Hanya itulah satu-satunya cara untuk membuat Mary Jeane tak berkutik.”
            “Aku pasti akan selalu membantu dan mendukungmu, Izzie. Hanya saja, apakah kau sudah benar-benar yakin dengan semua ini.”
            “Aku sangat yakin Eric, dan kita akan memulai semua setelah aku keluar dari rumah sakit. Sekali-kali aku juga ingin member pelajaran pada Kyle yang selalu tunduk pada wanita cantik.”

            Eric tertawa mendengar ucapanku yang terakhir itu.
            Keesokkan harinya, tiba-tiba saja Kyle datang menemuiku. Dan aku sudah mempersiapkan diri untuk bersikap kejam padanya.

            “Mau apa kau datang kemari? Bukankah kau sudah muak untuk menemuiku!” tuduhku.
            Kyle terlihat agak tersentak mendengar ucapanku itu. “Aku datang kemari hanya ingin melihat keadaanmu dan minta maaf saja.”
            “Untuk apa? Toh kau sudah tidak peduli dan percaya lagi padaku, jadi untuk apa kau masih datang kemari. Aku tak butuh rasa iba dan simpati darimu, Kyle. Karena kau sudah sangat sangat sangat melukai hatiku.”
            “Mengapa kau menjadi ketus terhadapku?”
            “Kau yang memaksaku untuk bersikap seperti ini. Dan Kyle, aku akan pergi jauh dari kehidupanmu. Aku takkan pernah mengganggumu lagi, jadi sebaiknya kau juga melakukan hal yang sama seperti yang aku lakukan.”
            “Apa karena Eric?”
            “Ya, karena Eric, aku tidak bisa ingin bayiku nanti lahir tapi ia tidak mendapatkan kasih sayang dan pengakuan dari ayahnya. Jadi aku berpikir akan lebih baik jika bayiku lahir nanti dia akan menganggap Eric sebagai ayahnya.”
            “Kau… kau… kau…” ucapnya dengan nafas yang memburu, karena amarah sudah menguasai dirinya.

             Kyle benar-benar marah mendengar perkataanku. Sepertinya aku sudah berhasll membuatnya marah dan membenciku sepenuhnya. Hatiku juga sangat sakit, karena pada akhirnya aku harus menyakiti suamiku sendiri. Tapi itulah yang terbaik, dan akan memudahkanku menjalankan semua rencana gilaku itu. Maafkan aku Kyle, aku terpaksa harus melakukannya, kalau kau memang masih mencintaiku kau pasti merasakan perasaanku yang sebenarnya.

            Mendengar perkataanku itu Kyle langsung keluar dari ruanganku sambil membanting pintu dengan sangat keras sekali. Aku hanya bisa menangis terisak setelah kepergiannya, tak lama kemudia Eric datang. Ia terkejut dan khawatir ketika mendapatiku sedang menangis.

            “Izzie, apa ada? Mengapa kau menangis?” tanyanya dengan lembut.
            “Tadi… Tadi Kyle datang kemari, dan aku sudah menjalankan rencanaku untuk membuatnya membenciku, Eric. Hatiku benar-benar sakit, meskipun hal itu yang sangat aku harapkan. Tapi…”
            “Sttt, aku mengerti Izzie, sangat mengerti perasaanmu. Sudah jangan menangis.” Ucap Eric sambil memelukku dengan erat. “Oh iya, tadi aku mampir ke ruangan dokter katanya kau sudah boleh keluar dari rumah sakit besok pagi. Apa yang akan kau lakukan?”
            “AKu harus menemui Nanny Kelly, aku harus pamitan padanya. Aku harus meyakinkan kakakku, kau tahu dia seperti apa. Tetap mengkhawatirkanku dengan berlebihan.”
            “Baiklah, apa kau ingin aku temani besok?”
            “Tidak usah, aku bisa sendiri. Apakah semua persiapannya sudah selesai?”
            “Masih ada yang harus aku urus tapi semuanya akan selesai besok.”
            “Aku akan memberitahukan rencana ini pada Mom dan Dad, aki tak ingin mereka terus-terusan mengkhawatirkan aku.”
            “Ide yang sangat bagus Izzie. Ya sudah, sebaiknya kau beristirahat saja, aku harus menyelesaikan beberapa urusan. Anak buahku akan berjaga didepan.”
            “Terima kasih untuk semuanya Eric, aku tak tahu bagaimana harus membalas semua kebaikanmu padaku.”
            “Tak usah kau pikirkan, aku akan melakukan apapun untukmu. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia, Izzie. Ya sudah, aku pergi dulu, ya.”

            Eric mencium keningku dengan cepat lalu ia pergi meninggalkanku.
            Ya Tuhan, mengapa Eric selalu bersikap seperti itu padaku. jangan sampai perasaanku pada Kyle berubah meskipun saat ini aku dan dia sedang jauh. Dan jangan sampai aku jatuh cinta pada Eric. Besok aku harus bisa berpamitan pada semua orang, yang penting Kak Tom harus bisa di yakinkan.

            Keesokkan harinya Eric menjemputku dan mengantarkanku ke kantor Kak Tom.

            “Apa kau yakin tidak ingin aku temani?” tanya Eric khawatir.
            “Aku tidak apa-apa, kau tak usah khawatir. Jika kau ikut kakakku pasti akan curiga.”
            “Ya sudah, jika kau sudah selesai telepon saja aku.”
            “Baiklah, aku masuk dulu.”

            Lalu aku keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk kedalam gedung perkantoran milik kakakku tersayang. Aku langsung menuju ke ruangannya yang berada di lantai paling atas gedung ini. Untung saja kakak ada di ruangannya dan tidak sedang sibuk.

            “Izzie, apa kabar?” sapa kakak sambil memelukku erat.
            “Aku baik-baik saja, Kak.”
            “Tapi kau terlihat agak pucat, apa kau yakin baik-baik saja?” sambil memandangiku dengan curiga.
            “Aku baik-baik saja, Kak. Hanya sedikit kelelahan saja.”
            “Syukurlah kalau kau baik-baik saja.”
            “Kak, Kyle sudah kembali.”
            “Kyle sudah kembali?” ungkap kakakku terkejut.
            “Iya, dia selamat dari kecelakaan itu, Kak. Aku sangat bersyukur sekali.”  Aku benar-benar tidak bisa menutupi perasaan sakitku.
            “Apa kalian baik-baik saja?”
            “Sejujurnya tidak, Kak, hubunganku dengan Kyle sangat tidak baik. Ia menuduhku berselingkuh dengan Eric, bahkan ia tidak mau mengakui bayi yang sedang aku kandung saat ini.”
            “Mengapa ia jadi seperti itu? Benar-benar seperti bukan Kyle.”
            “Entah apa yang sudah Mary Jeane lakukan padanya, Kak. Dan untuk itu pula aku datang kesini untuk pamitan sama kakak.”
            “Kau mau pergi kemana, Izzie?”
            “Aku akan pergi menemui Mom dan Dad di Jerman, Kak. Aku saat ini benar-benar butuh waktu untuk menenangkan pikiranku. Dan pergi jauh dari Kyle adalah pilihan yang tepat, aku harus menjaga kandunganku, Kak.”
            “Kakak mengerti Izzie. Kapan kau akan berangkat kesana?”
            “Siang ini, Kak. Semuanya sudah siap, semakin cepat akan lebih baik.”
            Tiba-tiba kakak memelukku dengan erat, “Hati-hati, aku pasti akan sangat merindukanmu. Apapun yang terjadi aku akan selalu ada untukmu Izzie. Kau seorang wanita yang kuat, aku yakin kau akan bisa menyelesaikan semuanya dengan baik.”
            “Terima kasih, Kak. Aku juga sangat sayang sekali padamu, aku beruntung memiliki seorang kakak yang hebat sepertimu.”
            “Aku berharap bisa mengantarmu ke bandara siang ini, tapi sayangnya aku harus menemui sebuah pertemuan penting dengan ayah mertuamu siang ini.”
            “Sampaikan salamku untuk Manda dan untuk Paa ya, Kak. Katakan pada mereka bahwa aku sangat mencintai dan menyayangi mereka.”
            “Tentu saja akan ku sampaikan pada mereka.”
            “Ya sudah kalau begitu aku pamit, ya. Ada beberapa hal yang belum aku selesaikan di apartemen.”
            “Mau kaka kantar?”
            “Tidak usah, Kak. Aku bisa pulang sendiri. Bye, love you so much.” Ucapku sambil memelukknya.

            Aku keluar dari ruangan Kak Tom dan ketika sedang di lift aku menelepon Eric, yang ternyata sudah menungguku di bawah. Ketika keluar dari gedung aku langsung masuk kedalam mobil milik Eric.

             “Bagaimana tadi didalam?” tanyanya ketika aku sudah masuk ke dalam mobil.
            “Cukup lancer, aku menjelaskan alasan kepergianku ke Jerman. Dan aku juga memberitahu kakak tentang Kyle yang sudah kembali. Dan ia mengizinkanku untuk pergi ke Jerman.”
            “Baguslah, sejauh ini semuanya lancer. Apakah kau sudah siap untuk berangakat?”
            “Pukul berapa kita akan berangkat? Bisakah kau mengantarku kembali ke apartemenku untuk yang terakhir kalinya?”
            “Tentu saja.”

            Dari situ kami langsung menuju ke apartemen milik Kyle, Eric menunggu di dalam mobil. Ketika sampai Nanny Kelly sedang sibuk di dapur. Melihatnya membuat hatiku sedih.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar