Chapter 5
“Hey,
kalian melupakanku, ya. Manda, aku mengajak Izzie kemari. Eh, kalian sudah lama
saling kenal?”
“Iya, Izzie
ini calon adik iparku. Bagaimana kau bisa datang bersama Izzie?”
“Jadi Eric
itu sepupumu, Manda?’
“Iya, dia
sepupu jauhku Izzie. Kyle kemana?”
“Sedang ada
urusan diluar.”
Kami
bertiga berbincang-bincang cukup lama. Aku hampir menjerit ketika melihat jam
di ponselku, apalagi ada beberapa panggilan dan pesan dari Kyle. ia pasti akan
memarahiku lagi.
“Maaf, aku
harus segera kembali ke kantor.”
“Mau kuantar?”
Eric menawarkan.
“Tidak
terima kasih, aku bisa naik taxi. Permisi, bye
Manda.” Ucapku sambil mencium pipi Manda kilat.
Aku
langsung meninggalkan mereka berdua tergesa-gesa. Dan langsung menaiki taxi
yang ada di depanku.
***
“Jadi,
Izzie itu adik dari Tom tunanganmu?”
“Iya, Izzie
adiknya, Tom. Dia calon adik iparku. Kenapa? Sepertinya kau tertarik pada
izzie, Eric?”
“Ya, kau
benar, aku memang tertarik pada Izzie sejak pertama kali melihatnya.”
“Jangan
bilang kau melihat Izzie di kantornya Kyle.”
“Aku memang
mellihatnya di sana, Kyle memiliki seorang asisten pribadi yang sangat cantik.
Apakah kau mengenal Kyle juga?”
“Tentu
saja, Kyle itu sudah bersahabat dengan Tom sejak masih kuliah, mereka juga
teman satu kamar. Eric sebaiknya kau jangan menganggu Izzie.”
“Manda,
mengapa kau bukannya membantuku untuk mendapatkan Izzie? Kau malah melarangku
untuk mendekatinya.”
“Jadi kau
tidak tahu bahwa Izzie sudah menikah?”
“Izzie
sudah menikah? Kau jangan bercanda Manda, mana ada yang percaya kalau Izzie itu
sudah menikah.”
“Tapi dia
memang sudah menikah, Eric. Seminggu yang lalu Izzie baru saja mengalami
keguguran.”
“Jadi kau
serius Manda?”
“Tentu saja
aku serius, tunanganku itu kakak kandungnya Izzie. Dan Kyle adalah suaminya.”
“Apa? Kyle
Patrick Dickherber suaminya Izzie?” aku benar-benar kaget mendengar penjelasan
dari sepupuku itu.
“Aku tidak
bohong, Eric, aku berkata sebenarnya. Jadi sebelum kau memiliki perasaan yang
mendalam padanya lebih baik kau menjaga jarak dengan Izzie.”
Ya Tuhan,
aku benar-benar sangat kaget mendengar semua ini. Di saat aku mulai bisa jatuh
cinta pada seseorang dan aku sangat ingin menjadikannya pendamping hidupku. Aku
harus mendengar kenyataan bahwa wanita yang aku cintai sudah menikah menjadi
milik orang lain.
Meskipun
Manda memintaku untuk menjauhinya aku takkan bisa menjauh dari. Biarlah aku
mencintainya di dalam hatiku saja. Aku akan menjaganya dari jauh, aku akan
menjaga dia dari lelaki yang menganggunya tadi.
“Eric, kau
tidak apa-apa, kan?”
“Ah, aku
hanya terkejut, Manda. Kau tahu baru kali ini aku memiliki perasaan seperti ini
pada seorang wanita. Tapi, ternyata wanita itu sudah menjadi milik orang lain.
Aku cukup terpukul, kau tahu.”
“Ya, aku
mengerti perasaanmu. Kenyataannya memang seperti itu mau bagaimana, aku tak
ingin kau masuk dalam kehidupan Izzie. Sudah cukup Izzie dan Kyle mengalami
banyak ujian dalam rumah tangga mereka. Jangan di tambah lagi.”
“Aku sangat
mengerti, Manda. Dan aku akan berusaha untuk menjaga jarak dengan Izzie. Cinta
itu tak selamanya harus saling memiliki, bukan. Aku akan menjaganya dari jauh.”
***
Dengan
gemetaran aku membuka pintu ruanganku, aku sangat yakin sekali bahwa saat ini
Kyle sedang memasang wajahnya yang marah seperti tadi. Tapi, ternyata yang aku
lihat jauh lebih menyeramkan. Sangat sangat menyakitkan hatiku.
Ya Tuhan,
kenapa kejadian ini terulang lagi? Wanita yang kulihat sedang berciuman dengan
Kyle saat ini adalah Jenny. Mantan kekasihnya dulu. Aku berusaha untuk menahan
air mataku agar tidak menangis di hadapan mereka.
Dengan
sekuat tenaga aku mengumpukan kekuatan untuk mengeluarkan suaraku, “Maaf, sudah
menganggu. Permisi.” Ucapku dengan suara yang parau.
Aku
langsung pergi meninggalkan kantor. Aku tak peduli lagi pada Kyle, aku tak
peduli pada kemarahannya. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat ini
sekarang. Bahkan mengejarkupun tidak Kyle lakukan. Tuhan, aku menangis terisak
di dalam lift, dan keluar dari kantor secepatnya.
Aku memang
tak tahu harus pergi kemana saat ini. Yang jelas aku butuh suatu tempat untuk
merenung, untuk menyendiri dan menenangkan pikiranku.
Waktu terus
bergulir, tak terasa matahari telah di gantikan oleh bulan. Dan aku masih di
sini, di sebuah bar. Entah sudah berapa banyak aku minum, dan aku masih terus
dan terus saja memesan minuman. Sampai ada seseorang yang mendekatiku.
“Izzie…”
suaranya terdengar terkejut. “Sedang apa kau disini? Kau mabuk?”
Dan aku
baru menyadari ternyata suara itu adalah suara dari Eric Dill, “Ah, hai Mr.
Dill. Mau menemaniku minum? Ini sangat enak sekali.” Ucapku kacau.
“Tidak, kau
harus segera pulang. Kau sudah sangat mabuk sekali, Izzie.”
“Tidak, aku
tidak mabuk, Eric.” Entah apa yang lucu, karena aku terus saja tertawa.
Lalu aku
melihat Eric menelepon seseorang dan setelah selesai ia kembali berbicara
padaku.
“Sebentar
lagi, Manda akan tiba di sini lalu kita akan segera mengantarmu pulang, Izzie.”
“Tidak, aku
tidak ingin pulang, Eric. Bisakah kau membawaku ke suatu tempat yang jauh. Aku
tak ingin pulang, aku tak ingin bertemu dengannya.”
“Apa kau
sedang ada masaah dengan Kyle?”
“Ya, kau
tahu apa yang aku lihat ketika aku sampai di ruanganku tadi siang? Aku melihat
suamiku sedang berciuman dengan mantan kekasihnya. Hebat sekali bukan, dan ini
bukan pertama kalinya ia melakukan hal ini.” Dalam keadaan mabukpun aku masih
bisa merasakan air mataku yang deras mengalir membasahi pipiku. “Dan aku masih
bisa memaafkan dan menerimanya. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.”
“Aku
mengerti Izzie. Sebaiknya kau berhenti minum, karena Manda sudah menunggu kita
di depan. Ayo.”
Lalu Eric
memapahku menuju keluar dari bar itu.
Dan di luar bar calon kakak iparku sudah menunggu. Ia sangat kaget melihat
keadaanku yang sangat kacau dan sangat mabuk. Ia tahu sekalli bahwa aku tidak
terlalu suka minum.
“Ya Tuhan,
Izzie, ada apa denganmu? Mengapa kau bisa mabuk seperti ini?” tanyanya
terkejut.
Aku tak
bisa menjawab pertanyaannya itu, karena kepalu benar-benar seperti gasing yang
berputar cepat. Lalu Eric dan Manda membawaku masuk ke dalam mobil lalu pergi.
Mungkin mereka akan membawaku pulang ke tempat Kyle.
Aku ingin
lari saja, tapi tubuhku takkan sanggup untuk berlari. Untuk berjalan saja aku harus di papah oleh
oleh Eric dan Manda.
***
Malam itu
aku benar-benar tidak tenang, karena Izzie belum juga pulang kerumah. Aku yakin
pasti ia sangat terluka melihat kejadian di kantor tadi. Tapi seharusnya ia
bisa bersikap dewasa, aku rasa semuanya bisa di bicarakan dengan baik. Jika ia
tidak pergi begitu saja.
Lamunanku
langsung buyar ketika seseorang menekan bel apartemenku. Aku pun bergegas untuk
membukakan pintu. Aku benar-benar terkejut melihat Eric Dill datang bersama
Amanda dan Izzie yang dalam keadaan mabuk berat.
“Maaf
mengganggu malam-malam Mr. Dickherber. Aku hanya ingin mengantarkan Izzie
pulang. Aku dan Amanda bertemu dengannya di sebuah bar dalam keadaan mabuk
berat.’
Aku
langsung memangku Izzie yang sedang di papah oleh Eric dan Manda. Aku langsung
membawa istriku ke kamar. Lalu bergegas turun kebawah.
“Terima
kasih sudah mengantarkan Izzie.”
“Ada apalagi ini, Kyle? Aku berharap
kalian dapat menyelesaikannya dengan baik. Aku takkan bercerita apapun pada Tom
tentang kejadian ini. Kau tahu Tom seperti apa, kan.”
“Ya, terima kasih Manda. Mr. Dill
terima kasih banyak.”
“Sama-sama Mr. Dickherber. Kalau
begitu kami berdua pamit dulu. Sudah malam.”
Lalu Eric Dill dan Amanda pamit
pulang. Dan aku langsung menuju ke kamar untuk melihat keadaan Izzie. Hatiku
hancur, melihat Izzie seperti ini. Apalagi penyebab ia menjadi seperti ini
karena apa yang telah aku perbuat. Lagi-lagi aku menyakitinya dan membuatnya
menangis, aku sudah melanggar janjiku padanya.
***
Aku
terbangun dengan rasa sakit yang teramat sangat pada kepalaku. Rasanya aku
takkan mampu untuk bangun. Perlahan aku membuka mataku dan mulai mengedarkan
pandanganku. Aku langsung mengenalinya, ya ini adalah kamarku dan Kyle. Tapi
bagaimana bisa aku ada disini?
Lalu aku
melihat Kyle yang masih tertidur di sampingku sambil bertelanjang dada.
Wajahnya terlihat kelelahan namun terlihat sangat damai sekali ketika tidur.
Dan… kemana pakaianku? Mengapa aku tidak memakai sehelai kainpun di tubuhku?
Semalam apa
yang terjadi antara aku dan Kyle? Aku berusaha untuk mengingat-ingatnya, namun
itu hanya membuat kepalaku menjadi sangat sakit sekali. Mungkin karena semalam
aku terlalu banyak minum
“Pagi,
sayang.” Sapanya tiba-tiba sambil memamerkan lesung pipitnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar