Sabtu, 03 November 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 5


Chapter 5


            “Hey, kalian melupakanku, ya. Manda, aku mengajak Izzie kemari. Eh, kalian sudah lama saling kenal?”
            “Iya, Izzie ini calon adik iparku. Bagaimana kau bisa datang bersama Izzie?”
            “Jadi Eric itu sepupumu, Manda?’     
            “Iya, dia sepupu jauhku Izzie. Kyle kemana?”
            “Sedang ada urusan diluar.”

            Kami bertiga berbincang-bincang cukup lama. Aku hampir menjerit ketika melihat jam di ponselku, apalagi ada beberapa panggilan dan pesan dari Kyle. ia pasti akan memarahiku lagi.
           
            “Maaf, aku harus segera kembali ke kantor.”
            “Mau kuantar?” Eric menawarkan.
            “Tidak terima kasih, aku bisa naik taxi. Permisi, bye Manda.” Ucapku sambil mencium pipi Manda kilat.

            Aku langsung meninggalkan mereka berdua tergesa-gesa. Dan langsung menaiki taxi yang ada di depanku.

***

            “Jadi, Izzie itu adik dari Tom tunanganmu?”
            “Iya, Izzie adiknya, Tom. Dia calon adik iparku. Kenapa? Sepertinya kau tertarik pada izzie, Eric?”
            “Ya, kau benar, aku memang tertarik pada Izzie sejak pertama kali melihatnya.”
            “Jangan bilang kau melihat Izzie di kantornya Kyle.”
            “Aku memang mellihatnya di sana, Kyle memiliki seorang asisten pribadi yang sangat cantik. Apakah kau mengenal Kyle juga?”
            “Tentu saja, Kyle itu sudah bersahabat dengan Tom sejak masih kuliah, mereka juga teman satu kamar. Eric sebaiknya kau jangan menganggu Izzie.”
            “Manda, mengapa kau bukannya membantuku untuk mendapatkan Izzie? Kau malah melarangku untuk mendekatinya.”
            “Jadi kau tidak tahu bahwa Izzie sudah menikah?”
            “Izzie sudah menikah? Kau jangan bercanda Manda, mana ada yang percaya kalau Izzie itu sudah menikah.”
            “Tapi dia memang sudah menikah, Eric. Seminggu yang lalu Izzie baru saja mengalami keguguran.”
            “Jadi kau serius Manda?”
            “Tentu saja aku serius, tunanganku itu kakak kandungnya Izzie. Dan Kyle adalah suaminya.”
            “Apa? Kyle Patrick Dickherber suaminya Izzie?” aku benar-benar kaget mendengar penjelasan dari sepupuku itu.
            “Aku tidak bohong, Eric, aku berkata sebenarnya. Jadi sebelum kau memiliki perasaan yang mendalam padanya lebih baik kau menjaga jarak dengan Izzie.”

            Ya Tuhan, aku benar-benar sangat kaget mendengar semua ini. Di saat aku mulai bisa jatuh cinta pada seseorang dan aku sangat ingin menjadikannya pendamping hidupku. Aku harus mendengar kenyataan bahwa wanita yang aku cintai sudah menikah menjadi milik orang lain.

            Meskipun Manda memintaku untuk menjauhinya aku takkan bisa menjauh dari. Biarlah aku mencintainya di dalam hatiku saja. Aku akan menjaganya dari jauh, aku akan menjaga dia dari lelaki yang menganggunya tadi.

            “Eric, kau tidak apa-apa, kan?”
            “Ah, aku hanya terkejut, Manda. Kau tahu baru kali ini aku memiliki perasaan seperti ini pada seorang wanita. Tapi, ternyata wanita itu sudah menjadi milik orang lain. Aku cukup terpukul, kau tahu.”
            “Ya, aku mengerti perasaanmu. Kenyataannya memang seperti itu mau bagaimana, aku tak ingin kau masuk dalam kehidupan Izzie. Sudah cukup Izzie dan Kyle mengalami banyak ujian dalam rumah tangga mereka. Jangan di tambah lagi.”
            “Aku sangat mengerti, Manda. Dan aku akan berusaha untuk menjaga jarak dengan Izzie. Cinta itu tak selamanya harus saling memiliki, bukan. Aku akan menjaganya dari jauh.”

***

            Dengan gemetaran aku membuka pintu ruanganku, aku sangat yakin sekali bahwa saat ini Kyle sedang memasang wajahnya yang marah seperti tadi. Tapi, ternyata yang aku lihat jauh lebih menyeramkan. Sangat sangat menyakitkan hatiku.

            Ya Tuhan, kenapa kejadian ini terulang lagi? Wanita yang kulihat sedang berciuman dengan Kyle saat ini adalah Jenny. Mantan kekasihnya dulu. Aku berusaha untuk menahan air mataku agar tidak menangis di hadapan mereka.

            Dengan sekuat tenaga aku mengumpukan kekuatan untuk mengeluarkan suaraku, “Maaf, sudah menganggu. Permisi.” Ucapku dengan suara yang parau.

            Aku langsung pergi meninggalkan kantor. Aku tak peduli lagi pada Kyle, aku tak peduli pada kemarahannya. Aku hanya ingin pergi sejauh mungkin dari tempat ini sekarang. Bahkan mengejarkupun tidak Kyle lakukan. Tuhan, aku menangis terisak di dalam lift, dan keluar dari kantor secepatnya.

            Aku memang tak tahu harus pergi kemana saat ini. Yang jelas aku butuh suatu tempat untuk merenung, untuk menyendiri dan menenangkan pikiranku.
            Waktu terus bergulir, tak terasa matahari telah di gantikan oleh bulan. Dan aku masih di sini, di sebuah bar. Entah sudah berapa banyak aku minum, dan aku masih terus dan terus saja memesan minuman. Sampai ada seseorang yang mendekatiku.
                                                             
            “Izzie…” suaranya terdengar terkejut. “Sedang apa kau disini? Kau mabuk?”
            Dan aku baru menyadari ternyata suara itu adalah suara dari Eric Dill, “Ah, hai Mr. Dill. Mau menemaniku minum? Ini sangat enak sekali.” Ucapku kacau.
            “Tidak, kau harus segera pulang. Kau sudah sangat mabuk sekali, Izzie.”
            “Tidak, aku tidak mabuk, Eric.” Entah apa yang lucu, karena aku terus saja tertawa.

            Lalu aku melihat Eric menelepon seseorang dan setelah selesai ia kembali berbicara padaku.

            “Sebentar lagi, Manda akan tiba di sini lalu kita akan segera mengantarmu pulang, Izzie.”
            “Tidak, aku tidak ingin pulang, Eric. Bisakah kau membawaku ke suatu tempat yang jauh. Aku tak ingin pulang, aku tak ingin bertemu dengannya.”
            “Apa kau sedang ada masaah dengan Kyle?”
            “Ya, kau tahu apa yang aku lihat ketika aku sampai di ruanganku tadi siang? Aku melihat suamiku sedang berciuman dengan mantan kekasihnya. Hebat sekali bukan, dan ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal ini.” Dalam keadaan mabukpun aku masih bisa merasakan air mataku yang deras mengalir membasahi pipiku. “Dan aku masih bisa memaafkan dan menerimanya. Aku tak tahu sampai kapan aku bisa bertahan.”
            “Aku mengerti Izzie. Sebaiknya kau berhenti minum, karena Manda sudah menunggu kita di depan. Ayo.”
           
            Lalu Eric memapahku menuju keluar dari bar  itu. Dan di luar bar calon kakak iparku sudah menunggu. Ia sangat kaget melihat keadaanku yang sangat kacau dan sangat mabuk. Ia tahu sekalli bahwa aku tidak terlalu suka minum.

            “Ya Tuhan, Izzie, ada apa denganmu? Mengapa kau bisa mabuk seperti ini?” tanyanya terkejut.

            Aku tak bisa menjawab pertanyaannya itu, karena kepalu benar-benar seperti gasing yang berputar cepat. Lalu Eric dan Manda membawaku masuk ke dalam mobil lalu pergi. Mungkin mereka akan membawaku pulang ke tempat Kyle.

            Aku ingin lari saja, tapi tubuhku takkan sanggup untuk berlari.  Untuk berjalan saja aku harus di papah oleh oleh Eric dan Manda.

***

            Malam itu aku benar-benar tidak tenang, karena Izzie belum juga pulang kerumah. Aku yakin pasti ia sangat terluka melihat kejadian di kantor tadi. Tapi seharusnya ia bisa bersikap dewasa, aku rasa semuanya bisa di bicarakan dengan baik. Jika ia tidak pergi begitu saja.

            Lamunanku langsung buyar ketika seseorang menekan bel apartemenku. Aku pun bergegas untuk membukakan pintu. Aku benar-benar terkejut melihat Eric Dill datang bersama Amanda dan Izzie yang dalam keadaan mabuk berat.

            “Maaf mengganggu malam-malam Mr. Dickherber. Aku hanya ingin mengantarkan Izzie pulang. Aku dan Amanda bertemu dengannya di sebuah bar dalam keadaan mabuk berat.’

            Aku langsung memangku Izzie yang sedang di papah oleh Eric dan Manda. Aku langsung membawa istriku ke kamar. Lalu bergegas turun kebawah.

            “Terima kasih sudah mengantarkan Izzie.”
            “Ada apalagi ini, Kyle? Aku berharap kalian dapat menyelesaikannya dengan baik. Aku takkan bercerita apapun pada Tom tentang kejadian ini. Kau tahu Tom seperti apa, kan.”
            “Ya, terima kasih Manda. Mr. Dill terima kasih banyak.”
            “Sama-sama Mr. Dickherber. Kalau begitu kami berdua pamit dulu. Sudah malam.”

            Lalu Eric Dill dan Amanda pamit pulang. Dan aku langsung menuju ke kamar untuk melihat keadaan Izzie. Hatiku hancur, melihat Izzie seperti ini. Apalagi penyebab ia menjadi seperti ini karena apa yang telah aku perbuat. Lagi-lagi aku menyakitinya dan membuatnya menangis, aku sudah melanggar janjiku padanya.

***

            Aku terbangun dengan rasa sakit yang teramat sangat pada kepalaku. Rasanya aku takkan mampu untuk bangun. Perlahan aku membuka mataku dan mulai mengedarkan pandanganku. Aku langsung mengenalinya, ya ini adalah kamarku dan Kyle. Tapi bagaimana bisa aku ada disini?

            Lalu aku melihat Kyle yang masih tertidur di sampingku sambil bertelanjang dada. Wajahnya terlihat kelelahan namun terlihat sangat damai sekali ketika tidur. Dan… kemana pakaianku? Mengapa aku tidak memakai sehelai kainpun di tubuhku?

            Semalam apa yang terjadi antara aku dan Kyle? Aku berusaha untuk mengingat-ingatnya, namun itu hanya membuat kepalaku menjadi sangat sakit sekali. Mungkin karena semalam aku terlalu banyak minum

            “Pagi, sayang.” Sapanya tiba-tiba sambil memamerkan lesung pipitnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar