Chapter
9
Aku langsung mencari informasi di
rumah sakit yang di datangin oleh Izzie pada keesokkan harinya. Aku sangat
terkejut sekali ketika mengetahui bahwa Izzie sering datang ke rumah sakitt
untuk memeriksakan kandungannya.
Ya Tuhan, Izzie sedang hamil. Ada
perasaan bahagia yang membuncah dalam hatiku mengetahui kabar tentang kehamilan
Izzie. Tapi, perasaan bahagia itu langsung hilang karena perasaan ragu mulai
menguasai hati dan pikiranku. Siapa ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh
Izzie? Apakah itu darah dagingku atau darah daging Eric Dill?
Aku harus segera mengetahui
kebenarannya. Aku harus meminta Izzie untuk menjelaskan semuanya.
***
Belakangan ini aku selalu merasa
bahwa ada seseorang yang selalu mengawasiku. Dan perasaan kecilku bilang kalau
orang itu adalah Kyle, suamiku tersayang. Tapi aku tak pernah melihat orang
yang mencurigakan mengikutiku.
Sore itu sepulang dari rumah Kak Tom
aku membaringkan tubuhku di sofa depan TV. Sudah hampir tiga bulan Kyle
menghilang. Bagaimana nasib bayiku nanti? Ya Tuhan, aku tidak ingin bayiku
lahir tanpa ayah.
Tiba-tiba bel berbunyi, aku pun
berjalan menuju pintu sambil terhuyung-huyung. Aku membuka pintu dan langsung
terlonjak kaget melihat sesorang yang berdiri tegak di hadapanku.
“Ya Tuhan, Kyle!! Syukurlah kau
masih hidup Kyle, aku… aku sangat khawatir sekali. Aku takut kehilanganmu,
Kyle.” ucapku sambil menangis.
“Bisa kita bicara? Ada banyak hal
yang harus aku tanyakan padamu.” Jawabnya sambil masuk kedalam apartemen dengan
suara dan sikap yang dingin.
Setelah berada di dalam Kyle sempat
memeriksa keadaan sekeliling yang masih sama dan belum berubah sama sekali.
“Tempat ini masih sama dan belum berubah sama sekali.”
“Tidak ada yang berubah di sini,
Kyle. Semua masih sama. Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak menghubungiku,
Kyle.”
“Untuk apa, Izzie? Toh kau terlihat
baik-baik saja, tidak mengkhawatirkanku sama sekali.”
“Orang lain memang berganggapan
seperti itu, Kyle. Aku memang harus bersikap seperti itu, aku harus mengubur
dalam-dalam semua ketakutan dan kekhawatiranku, Kyle.”
“Karena kau sedang mengandung anak
Eric Dill, kan?”
Mulutku langsung menganga mendengar
ucapannya. “Apa? Jangan konyol, Kyle. bayi ini darah dagingmu. Kau menuduhku
berselingkuh dengan Eric?”
“Ya, karena aku mengawasimu sejak
pertama kali aku sampai di New York. Dan Eric selalu ada bersamamu.”
“Jangan gila, Kyle. Mengapa kau jadi
seperti ini, benar-benar konyol. Menuduhku berselingkuh dengan Eric sampai aku
hamil.”
“Berhentilah menyangkalnya, Izzie.
Semua yang di katakan Mary Jeane ternyata benar, kau lebih bahagia dengan
lelaki itu.”
“Mary Jeane? Ya Tuhan, kau
mempercayai semua perkataan wanita jalang itu Kyle?”
“Sebutan itu sekarang lebih cocok
untukmu, Izzie. Aku sangat percaya padamu, tapi kau telah menodai kepercayaanku
itu.”
“Tidak… Aku sama sekali tidak
mengkhianatimu, Kyle. Tidak dengan Eric atau siapapun.” Ucapku sambil setengah
berteriak.
“Kau melakukannya dengan Eric,
bahkan Eric sampai membuatmu hamil, Izzie. Itu sudah sangat jelas sekali. Kau
selalu pergi bersama Eric.”
“ Dengar penjelasanku dulu, Kyle.
Aku punya alasan kenapa Eric selalu menemaniku…”
“Tidak, aku tidak ingin mendengar
apa-apa darimu. Bagiku semua ini sudah cukup jelas.” Kyle bergegas menuju kea
rah pintu.
“Kau mau kemana?”
“Pergi dari sini. Aku muak melihatmu
Izzie,” ucapnya lalu pergi.
“Tidak, kau harus tetap tinggal
disini, Kyle. Kau harus mendengarkanku.” Ucapku sambil mengejarnya.
“Lepaskan aku Izzie.” Kyle
menghempaskan lenganku sampai aku terpelanting jatuh ke lantai dengan keras.
Seketika itu pula aku langsung
merasakan sakit yang sangat hebat melanda perutku. Ya Tuhan, tidak lagi. Aku
merintih kesakitan sambil memegangi pertuku.
“Izzie, kau kenapa?” tanya Kyle
panic.
Tiba-tiba Eric datang, “Kau kenapa
Izzie? Hey apa yang kau lakukan pada Izzie?” Eric sangat terkejut melihat
lelaki yang sedang bersamaku adalah Kyle. “Kyle, kau…”
“Tak ada waktu untuk berdebat
sekarang Eric, Izzie harus segera di bawa ke rumah sakit.” Ucapnya sambil
menggendongku kedalam pelukannya.
Pelukan yang sangat aku rindukan.
Aroma tubuhnya yang selalu memabukanku, Aku benar-benar merindukannya. Berada
dalam pelukan Kyle adalah hal yang paling aku sukai di dunia ini. Berada di
tengah badai saljupun aku rela asalkan tetap berada dalam pelukan suamiku ini.
Kyle dan Eric langsung membawaku ke
rumah sakit. Selama perjalanan menuju kesana suasana diantara kami sangat
dingin. Kyle dan Eric seperti sedang berperang dingin. Tatapan mereka
menyiratkan perasaan permusuhan yang sangat besar. Dan semua itu gara-gara aku.
Para suster dan dokter itu langsung
membawaku ke ruang UGD ketika aku sampai di rumah sakit. Entah apa yang akan
terjadi di antara Kyle dan Eric sekarang. Aku ta ingin memikirkannya.
***
“Apa yang kau lakukan pada Izzie,
Kyle?”
“Aku.. Aku tidak sengaja
mendorongnya,” jawabku tergugu.
“Apa? Bagaimana kau bisa melakukan
hal bodoh seperti itu Kyle, Izzie bisa saja kehilangan bayinya untuk yang kedua
kalinya. Apa kau mau kehilangan bayi kalian lagi.”
“Itu bukan anakku. Bayi yang sedang
di kandung Izzie saat ini bukan darah dagingku. Bayi itu anakmu, kan.”
“Apa? Jadi kau mendorong Izzie
karena mengira ia mengandung anakku?” tanya Eric sambil membelalakan matanya.
“Kau gila, Kyle, mengapa kau bisa berpikiran sedangkal itu. Kau tidak tahu
bagaimana menderitanya Izzie selama kau menghilang.”
“Aku tidak melihat ia menderita.
Yang aku lihat justru sebaliknya, ia terlihat bahagia bersamamu,” jawabku
sengit.
“Dia terlihat bahagia dan ceria
bersamaku bukan berarti kami berdua memiliki hubungan khusus.”
“Haruskah aku percaya semua
perkataanmu itu, Eric?”
“Dengar, jujur aku memang memeliki
perasaan dan mencintai istrimu. Tapi, aku menghormati keputusannya. Dia tetap
memilihmu, cintanya padamu terlalu besar, Kyle. Bahkan aku sangat yakin sekali
Izzie rela mengorbankan nyawanya sekalipun untuk membuktikannya padamu. Izzie
tidak pernah mengkhianatimu, Kyle. Aku hanya menjaga Izzie dari lelaki yang
bernama Edward.”
“Edward? Kau kenal dia?”
“Izzie yang memberitahuku, sejak kau
menghilang Ed sering sekali mengganggu izzie. Bahkan Ed pernah menerobos masuk
kedalam apartment kalian. Setiap hari Izzie selalu mendapatkan ancaman dari
lelaki itu. Dan Tom memintaku untuk melindunginya, itulah kenapa aku selalu ada
bersama Izzie.”
“Haruskah aku mempercayainya, Eric?”
“Terserah kau, aku sudah berusaha
menjelaskan yang sebenarnya padamu. Jangan sampai kau menyesalinya, Kyle. Dan
satu lagi, kalau kau memang sudah tidak peduli dan percaya lagi pada Izzie
untuk kau masih berada disini? Sebaiknya kau pergi dari sini.”
Perkataan Eric benar-benar menghujam
ulu hatiku dengan amat sangat keras sekali. Aku bergegas pergi dari rumah sakit
dengan berat hati. Karena sebenarnya aku sangat sangat sangat khawatir dengan
keadaan Izzie saat ini.
***
Aku kembali terkapar di rumah sakit.
Untung saja pendarahan kali ini tidak sampai membuatku kembali kehilangan
bayiku. Aku sangat berharap Kyle yang ada di sampingku saat ini. Namun aku
harus menelan kekecewaan karena ternyata Eric yang berada di sampingku saat
ini.
“Eric, Kyle mana?” tanyaku lemah.
“Dia tidak ada disini, Izzie.”
Aku hanya bisa mendengus sedih,
“Maaf sudah menyeretmu dalam masalahku kali ini Eric.”
“Aku tahu, Kyle salah paham dengan hubungan kita ini.
Ya, meskipun aku mencintaimu, tetap saja aku tidak memiliki hak untuk memaksamu
memilihku.”
“Entah apa yang sudah Mary Jeane
katakana tentang kita padanya. Aku yakin sekali Mary Jeane pasti sedang
merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pernikahanku. Dan aku akan
mempertahankannya meskipun aku harus mengorbankan nyawaku.”
“Izzie, jangan berkata seperti itu,
aku mohon. Ini semua hanya salah paham saja, Kyle pasti akan menyesali
tindakannya padamu.”
“Kapan pernikahanku akan tenang dan
damai? Cobaan terus menerus menerpa pernikahanku. Aku Cuma manusia biasa, aku
tidak tahu harus sampai kapan bertahan dan terus berpura-pura menjadi seseorang
yang kuat.”
“Kau wanita yang hebat dan kuat
Izzie, itulah yang membuatku bertekuk lutut padamu. Aku yakin kau akan bisa
menghadapi semua ini. Kau harus tetap bertahan dan kuat untuk bayimu, Izzie.
Kau harus kuat untuknya.”
“Aku tidak sekuat itu, Eric. Tapi
aku akan bertahan dan kuat demi bayiku.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar