Selasa, 13 November 2012

Light At The End Of The Tunnel chapter 9

Chapter 9

            Aku langsung mencari informasi di rumah sakit yang di datangin oleh Izzie pada keesokkan harinya. Aku sangat terkejut sekali ketika mengetahui bahwa Izzie sering datang ke rumah sakitt untuk memeriksakan kandungannya.

            Ya Tuhan, Izzie sedang hamil. Ada perasaan bahagia yang membuncah dalam hatiku mengetahui kabar tentang kehamilan Izzie. Tapi, perasaan bahagia itu langsung hilang karena perasaan ragu mulai menguasai hati dan pikiranku. Siapa ayah dari bayi yang sedang di kandung oleh Izzie? Apakah itu darah dagingku atau darah daging Eric Dill?

            Aku harus segera mengetahui kebenarannya. Aku harus meminta Izzie untuk menjelaskan semuanya.

***

            Belakangan ini aku selalu merasa bahwa ada seseorang yang selalu mengawasiku. Dan perasaan kecilku bilang kalau orang itu adalah Kyle, suamiku tersayang. Tapi aku tak pernah melihat orang yang mencurigakan mengikutiku.

            Sore itu sepulang dari rumah Kak Tom aku membaringkan tubuhku di sofa depan TV. Sudah hampir tiga bulan Kyle menghilang. Bagaimana nasib bayiku nanti? Ya Tuhan, aku tidak ingin bayiku lahir tanpa ayah.

            Tiba-tiba bel berbunyi, aku pun berjalan menuju pintu sambil terhuyung-huyung. Aku membuka pintu dan langsung terlonjak kaget melihat sesorang yang berdiri tegak di hadapanku.

            “Ya Tuhan, Kyle!! Syukurlah kau masih hidup Kyle, aku… aku sangat khawatir sekali. Aku takut kehilanganmu, Kyle.” ucapku sambil menangis.
            “Bisa kita bicara? Ada banyak hal yang harus aku tanyakan padamu.” Jawabnya sambil masuk kedalam apartemen dengan suara dan sikap yang dingin.
            Setelah berada di dalam Kyle sempat memeriksa keadaan sekeliling yang masih sama dan belum berubah sama sekali. “Tempat ini masih sama dan belum berubah sama sekali.”
            “Tidak ada yang berubah di sini, Kyle. Semua masih sama. Kemana saja kau selama ini? Kenapa tidak menghubungiku, Kyle.”
            “Untuk apa, Izzie? Toh kau terlihat baik-baik saja, tidak mengkhawatirkanku sama sekali.”
            “Orang lain memang berganggapan seperti itu, Kyle. Aku memang harus bersikap seperti itu, aku harus mengubur dalam-dalam semua ketakutan dan kekhawatiranku, Kyle.”
            “Karena kau sedang mengandung anak Eric Dill, kan?”
            Mulutku langsung menganga mendengar ucapannya. “Apa? Jangan konyol, Kyle. bayi ini darah dagingmu. Kau menuduhku berselingkuh dengan Eric?”
            “Ya, karena aku mengawasimu sejak pertama kali aku sampai di New York. Dan Eric selalu ada bersamamu.”
            “Jangan gila, Kyle. Mengapa kau jadi seperti ini, benar-benar konyol. Menuduhku berselingkuh dengan Eric sampai aku hamil.”
            “Berhentilah menyangkalnya, Izzie. Semua yang di katakan Mary Jeane ternyata benar, kau lebih bahagia dengan lelaki itu.”
            “Mary Jeane? Ya Tuhan, kau mempercayai semua perkataan wanita jalang itu Kyle?”
            “Sebutan itu sekarang lebih cocok untukmu, Izzie. Aku sangat percaya padamu, tapi kau telah menodai kepercayaanku itu.”
            “Tidak… Aku sama sekali tidak mengkhianatimu, Kyle. Tidak dengan Eric atau siapapun.” Ucapku sambil setengah berteriak.
            “Kau melakukannya dengan Eric, bahkan Eric sampai membuatmu hamil, Izzie. Itu sudah sangat jelas sekali. Kau selalu pergi bersama Eric.”
            “ Dengar penjelasanku dulu, Kyle. Aku punya alasan kenapa Eric selalu menemaniku…”
            “Tidak, aku tidak ingin mendengar apa-apa darimu. Bagiku semua ini sudah cukup jelas.” Kyle bergegas menuju kea rah pintu.
            “Kau mau kemana?”
            “Pergi dari sini. Aku muak melihatmu Izzie,” ucapnya lalu pergi.
            “Tidak, kau harus tetap tinggal disini, Kyle. Kau harus mendengarkanku.” Ucapku sambil mengejarnya.
            “Lepaskan aku Izzie.” Kyle menghempaskan lenganku sampai aku terpelanting jatuh ke lantai dengan keras.
            Seketika itu pula aku langsung merasakan sakit yang sangat hebat melanda perutku. Ya Tuhan, tidak lagi. Aku merintih kesakitan sambil memegangi pertuku.
            “Izzie, kau kenapa?” tanya Kyle panic.
            Tiba-tiba Eric datang, “Kau kenapa Izzie? Hey apa yang kau lakukan pada Izzie?” Eric sangat terkejut melihat lelaki yang sedang bersamaku adalah Kyle. “Kyle, kau…”
            “Tak ada waktu untuk berdebat sekarang Eric, Izzie harus segera di bawa ke rumah sakit.” Ucapnya sambil menggendongku kedalam pelukannya.

            Pelukan yang sangat aku rindukan. Aroma tubuhnya yang selalu memabukanku, Aku benar-benar merindukannya. Berada dalam pelukan Kyle adalah hal yang paling aku sukai di dunia ini. Berada di tengah badai saljupun aku rela asalkan tetap berada dalam pelukan suamiku ini.

            Kyle dan Eric langsung membawaku ke rumah sakit. Selama perjalanan menuju kesana suasana diantara kami sangat dingin. Kyle dan Eric seperti sedang berperang dingin. Tatapan mereka menyiratkan perasaan permusuhan yang sangat besar. Dan semua itu gara-gara aku.

            Para suster dan dokter itu langsung membawaku ke ruang UGD ketika aku sampai di rumah sakit. Entah apa yang akan terjadi di antara Kyle dan Eric sekarang. Aku ta ingin memikirkannya.


***

            “Apa yang kau lakukan pada Izzie, Kyle?”
            “Aku.. Aku tidak sengaja mendorongnya,” jawabku tergugu.
            “Apa? Bagaimana kau bisa melakukan hal bodoh seperti itu Kyle, Izzie bisa saja kehilangan bayinya untuk yang kedua kalinya. Apa kau mau kehilangan bayi kalian lagi.”
            “Itu bukan anakku. Bayi yang sedang di kandung Izzie saat ini bukan darah dagingku. Bayi itu anakmu, kan.”
            “Apa? Jadi kau mendorong Izzie karena mengira ia mengandung anakku?” tanya Eric sambil membelalakan matanya. “Kau gila, Kyle, mengapa kau bisa berpikiran sedangkal itu. Kau tidak tahu bagaimana menderitanya Izzie selama kau menghilang.”
            “Aku tidak melihat ia menderita. Yang aku lihat justru sebaliknya, ia terlihat bahagia bersamamu,” jawabku sengit.
            “Dia terlihat bahagia dan ceria bersamaku bukan berarti kami berdua memiliki hubungan khusus.”
            “Haruskah aku percaya semua perkataanmu itu, Eric?”
            “Dengar, jujur aku memang memeliki perasaan dan mencintai istrimu. Tapi, aku menghormati keputusannya. Dia tetap memilihmu, cintanya padamu terlalu besar, Kyle. Bahkan aku sangat yakin sekali Izzie rela mengorbankan nyawanya sekalipun untuk membuktikannya padamu. Izzie tidak pernah mengkhianatimu, Kyle. Aku hanya menjaga Izzie dari lelaki yang bernama Edward.”
            “Edward? Kau kenal dia?”
            “Izzie yang memberitahuku, sejak kau menghilang Ed sering sekali mengganggu izzie. Bahkan Ed pernah menerobos masuk kedalam apartment kalian. Setiap hari Izzie selalu mendapatkan ancaman dari lelaki itu. Dan Tom memintaku untuk melindunginya, itulah kenapa aku selalu ada bersama Izzie.”
            “Haruskah aku mempercayainya, Eric?”
            “Terserah kau, aku sudah berusaha menjelaskan yang sebenarnya padamu. Jangan sampai kau menyesalinya, Kyle. Dan satu lagi, kalau kau memang sudah tidak peduli dan percaya lagi pada Izzie untuk kau masih berada disini? Sebaiknya kau pergi dari sini.”

            Perkataan Eric benar-benar menghujam ulu hatiku dengan amat sangat keras sekali. Aku bergegas pergi dari rumah sakit dengan berat hati. Karena sebenarnya aku sangat sangat sangat khawatir dengan keadaan Izzie saat ini.

***

            Aku kembali terkapar di rumah sakit. Untung saja pendarahan kali ini tidak sampai membuatku kembali kehilangan bayiku. Aku sangat berharap Kyle yang ada di sampingku saat ini. Namun aku harus menelan kekecewaan karena ternyata Eric yang berada di sampingku saat ini.

            “Eric, Kyle mana?” tanyaku lemah.
            “Dia tidak ada disini, Izzie.”
            Aku hanya bisa mendengus sedih, “Maaf sudah menyeretmu dalam masalahku kali ini Eric.”
            “Aku tahu,  Kyle salah paham dengan hubungan kita ini. Ya, meskipun aku mencintaimu, tetap saja aku tidak memiliki hak untuk memaksamu memilihku.”
            “Entah apa yang sudah Mary Jeane katakana tentang kita padanya. Aku yakin sekali Mary Jeane pasti sedang merencanakan sesuatu untuk menghancurkan pernikahanku. Dan aku akan mempertahankannya meskipun aku harus mengorbankan nyawaku.”
            “Izzie, jangan berkata seperti itu, aku mohon. Ini semua hanya salah paham saja, Kyle pasti akan menyesali tindakannya padamu.”
            “Kapan pernikahanku akan tenang dan damai? Cobaan terus menerus menerpa pernikahanku. Aku Cuma manusia biasa, aku tidak tahu harus sampai kapan bertahan dan terus berpura-pura menjadi seseorang yang kuat.”
            “Kau wanita yang hebat dan kuat Izzie, itulah yang membuatku bertekuk lutut padamu. Aku yakin kau akan bisa menghadapi semua ini. Kau harus tetap bertahan dan kuat untuk bayimu, Izzie. Kau harus kuat untuknya.”
            “Aku tidak sekuat itu, Eric. Tapi aku akan bertahan dan kuat demi bayiku.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar