Chapter
7
“Baru tiga minggu, Nanny. Dokter
bilang bahwa kondisi janinku saat ini jauh lebih kuat dan lebih sehat daripada
yang sebelumnya. Tapi tetap saja aku harus berhati-hati.”
“Ya sudah, kalau begitu sebaiknya
kau beristirahat saja.”
“Baiklah, aku mau mandi dulu.”
Aku berjalan menuju ke kamarku
sambil bersenandung bahagia. Ketika sampai di kamar Kyle meneleponku. Saking
bahagianya aku hampir saja mengatakan tentang kehamilanku pada Kyle.
“Kau terdengar sangat bahagia sekali,
sayang?” tanyanya dengan suara yang penuh kerinduan.
“Ya, aku memang sedang bahagia
karena besok suamiku tersayang akan segera pulang. Kau tahu bahwa aku sudah
sangat merindukanmu.”
“Aku juga sangat merindukanmu,
sayang. Aku sudah tidak sabar ingin segera pulang.”
“Bagaimana
urusannya? Semua berjalan lancarkan?”
“Semua berjalan lancar sayang. Aku
ingin cepat-cepat pulang.”
“Bersabarlah, besok kau akan pulang,
bukan. Dan aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu. Aku yakin kau pasti
akan senang sekali.”
“Kejutan apa? Aku makin tidak sabar
untuk pulang, apakah itu?”
“Tunggu saja, aku takkan
mengatakannya sebelum kau sampai di rumah, suamiku.”
“Kau membuatku penasaran. Ya sudah,
kalau begitu aku akan bersabar hingga sampai di New York. Kau sebaiknya
beistirahat, aku harus menghadiri beberapa pertemuan lagi sebelum pulang.”
“Baiklah kalau begitu, aku akan
pergi mandi lalu makan. Karena aku sangat lapar sekali.”
“I
love you, Princess.”
“And
I really love you too, Prince.”
Aku
lalu menutup telepon dan bergegas menuju ke kamar mandi. Dan setelah selesai
berpakaian aku langsung menuju dapur untuk makan. Karena aku merasa sangat
lapar sekali, mungkin karena pengaruh kehamilanku saat ini.
Malam harinya ketika aku sedang
tidur, tiba-tiba aku berminpi buruk. Mimpi yang sangat buruk, sehingga
membuatku menangis dan berteriak di tengah malam. Aku tersadar dari mimpiku
ketika suara Nanny Kelly yang panic berusaha untuk membangunkanku.
“Tenanglah, sayang. Kau pasti
bermimpi buruk. Ini minum dulu.” Ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih
padaku.
Dengan gemetaran aku mengambilnya
dan meminumnya. “Mimpi yang sangat buruk, Nanny. Kyle, aku takut terjadi
sesuatu padanya, Nanny.” Jawabku sambil mulai menangis.
“Shhh, Kyle baik-baik saja sayang.
Itu hanya mimpi, sebaiknya kau kembali tidur. Jangan terlalu memikirkannya.
Ingat kau sedang mengandung, Izzie.”
Aku menuruti perkataan Nanny Kelly,
aku menarik selimutku keatas dan berusaha memejamkan mataku. Aku terus berdoa
dalam hati sambil mengusap-usap perutku. Sayang, semoga tidak terjadi sesuatu
pada ayahmu, sayang.
Dan aku tidak bisa menutup mataku
hingga pagi menjelang. Hari itu aku sebenarnya enggan untuk melakukan kegiatan
apapun. Aku hanya ingin tinggal di rumah, rasanya aku tidak bersemangat sama
sekali. Terus memikirkan suamiku dan mimpi semalam.
Aku benar-benar kacau dan tidak bisa
berkonsentrasi pada pekerjaan yang sedang aku kerjakan. Aku harus segera
menyingkirkan pikiran yang membuatku stress ini. Karena hanya akan berpengaruh
pada kehamilanku saja.
Dan benar saja, ketika jam makan
siang tiba aku yang hendak keluar untuk mencari sesuatu untuk makan. Tiba-tiba
saja kakakku, Amanda dan kedua orang tuanya Kyle datang menemuiku di kantor.
Sontak saja aku merasa heran, kaget dan bingung. Perasaanku langsung berkecamuk
hebat, apalgi melihat ekspresi mereka berempat.
“Ada apa ini? Sangat tidak biasanya,
Maa, Paa, Kak Tom, Manda?”
“Kau baik-baik saja kan, sayang?”
tanya ibu mertuaku.
“Sebenarnya tidak terlalu baik, Maa.
Ada hal yang begitu membebani pikiranku, dan aku harus segera menghilangkannya.
Karena itu tidak baik untuk kandunganku.”
“Kau sedang mengandung, Izzie?”
tanya Kakak terkejut.
“Ya, maaf aku baru memberitahu
kalian. Karena aku juga baru mengetahuinya kemarin sore.”
Mendengar penjelelasankku mereka
berempat saling melempar pandangan satu sama lain. Entahlah, aku tidak begitu
mengerti mengapa mereka melakukan itu. Mereka sangat aneh, seperti
menyembunyikan sesuatu.
“Sebenarnya ada apa, Paa?”
“Begini sayang, kami baru saja
menerima kabar bahwa pesawat Kyle tiba-tiba menghilang.” Ucapnya dengan
hati-hati.
“APA?!?” mendengar perkataan dari
ayah mertuaku aku seperti di sambar petir pada siang hari.
“Yang sabar ya, sayang.” Maa
langsung memelukku erat.
Air mataku langsung membasahi pipiku
dan berar-benar tak terbendung.
“Tidak, tidak, tidak, itu tidak
mungkin. Tolong katakan kalau semua ini bohong. Kyle berjanji akan segera
pulang.” Ucapku dengan panic dan mulai histeris.
“Kami masih menunggu kabar
selanjutnya,” jelas kakakku.
Aku benar-benar lemas dan hancur
mendengar kabar itu. Sampai akhirnya aku tak sadarkan diri dalam pelukan ibu
mertuaku. Aku hanya mendengar mereka berusaha untuk menyadarkan aku saja.
Ketika membuka mata, aku sudah
berada di sebuah ruangan yang serba putih. Pasti saat ini aku sedang berada di
rumah sakit, aku yakin karena bau disinfektan tercium sangat kuat. Aku
mengerdarkan pandanganku dan melihat Maa yang sedang duduk di kursi di
sampingku dengan wajah yang khawatir.
“Maa, Kyle dimana?” tanyaku dengan
suara lemah.
“Kau sudah sadar, sayang. Syukurlah,
Maa sangat takut dan khawatir sekali, Izzie.” Jawab Maa sambil menghapus air
matanya.
“Kyle dimana, Maa? Dia baik-baik
saja, kan?” aku melontarkan kembali pertanyaanku.
Maa menarik nafas panjang dan
menghembuskannya perlahan-lahan sebelum menjawab pertanyaannya, “Masih belum
ada kabar sayang, Tom dan Paa masih berusaha untuk mencari informasi dan
mengirimkan kru pnyelamat untuk mencari mereka.”
“Aku tidak bisa berdiam diri terus
disini, Maa,” ucapku sambil berusaha untuk bangun, namun kepalaku langsung
sakit begitu juga tanganku yang dipasangi jarum infuse.
“Tidak, sayang, jangan bangun.
Keadaanmu benar-benar sedang tidak memungkinkan, kau harus tenang. Ingat dengan
bayimu sayang.”
“Maa, bagaimana aku bisa tenang.
Sedangkan di luar sana keberadaan Kyle saja belum di ketahui.” Ucapku sambil
menangis.
“Maa mengerti perasaanmu, sayang.
Maa juga sangat mengkhawatirkan keadaan Kyle.”
Tiba-tiba saja pintu ruanganku
terbuka. Ternyata Mom dan Dad ada di sini, mereka berdua langsung memelukku.
“Sayang, bagaimana dengan
keadaanmu?” tanya Mom sambil memeluk tubuhku yang terbaring di ranjang.
“Dad sudah mengerahkan orang untuk
melakukan pencarian, sayang. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu.”
Jelas Dad.
Mom lalu melepaskan pelukanku dan
menghampiri Maa, “Mrs. Dickherber, yang sabar, ya.”
“Ya, terima kasih Mrs. Williams.
Saya akan kuat menghadapi semua ini. Yang saya khawatirkan sekarang adalah
keadaa Izzie. Apalagi saat ini dia sedang mengandung.”
Mom melepaskan pelukannya dan
kembali bertanya padakku, “Sayang, mengapa kau tidak memberitahu Mom dan Dad
tentang kehamilanmu?”
“Maaf, Mom, Kyle saja belum tahu
tentang kehamilanku ini. Aku benar-benar memikirkan keadaan Kyle.”
“Kau harus berusaha untuk tenang,
sayang. Jangan terlalu banyak pikiran, kau harus ingat pada kandunganmu saat
ini.”
“Aku akan berusaha untuk tenang,
Mom.” Jawabkku sambil terisak.
Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tenang?
Keberadaan suamiku saja belum di ketahui sama sekali. Sampai kapankah penantian
ini akan berakhir? Tuhan, kapan kau biarkan aku dan Kyle hidup bahagian dan
tentram. Tiba-tiba saja Eric datang dan entah mengapa aku langsung memeluknya
dan menangis di dalam pelukannya.
“Izzie, kau baik-baik saja, kan?”
tanyanya sambil mendekatiku.
Aku langsung menariknya kedalam
pelukanku saat ia mendekat.
“Kalau begitu kami tinggal dulu,
ya.” Seru Maa.
Mereka langsung pergi keluar
meninggalkan aku dan Eric berdua di dalam. Aku terus saja menangis dalam pelukannya.
Yang baru aku sadari begitu hangat.
“Izzie, kumohon berhentilah
menangis. Aku tak ingin melihatmu menangis, hatiku sakit melihatnya.” Ucapnya
sambil membelai rambutku perlahan.
Whoaaa ternyata Kyle bener" jadi kecelakaan :c
BalasHapusPenasaran ga sabar sama episode selanjutnya.
iya, Kyle jadi keclakaannya..
Hapustapi udah ketemu lagi kok..
ya cuma gtu dehhh mulai kemakan sama hasutannya si Mary Jeane :/
Yah bener :c duh ini cerita semakin lama semakin asik dan bikin penasaran deh, jadi pembaca setia nih x)
BalasHapushave you read the new eps??
BalasHapusthat was really messy xD
thanks so much sist :*