Sabtu, 03 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 7


Chapter 7


            “Baru tiga minggu, Nanny. Dokter bilang bahwa kondisi janinku saat ini jauh lebih kuat dan lebih sehat daripada yang sebelumnya. Tapi tetap saja aku harus berhati-hati.”
            “Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kau beristirahat saja.”
            “Baiklah, aku mau mandi dulu.”

            Aku berjalan menuju ke kamarku sambil bersenandung bahagia. Ketika sampai di kamar Kyle meneleponku. Saking bahagianya aku hampir saja mengatakan tentang kehamilanku pada Kyle.

            “Kau terdengar sangat bahagia sekali, sayang?” tanyanya dengan suara yang penuh kerinduan.
            “Ya, aku memang sedang bahagia karena besok suamiku tersayang akan segera pulang. Kau tahu bahwa aku sudah sangat merindukanmu.”
            “Aku juga sangat merindukanmu, sayang. Aku sudah tidak sabar ingin segera pulang.”
            “Bagaimana urusannya? Semua berjalan lancarkan?”
            “Semua berjalan lancar sayang. Aku ingin cepat-cepat pulang.”
            “Bersabarlah, besok kau akan pulang, bukan. Dan aku sudah menyiapkan sebuah kejutan untukmu. Aku yakin kau pasti akan senang sekali.”
            “Kejutan apa? Aku makin tidak sabar untuk pulang, apakah itu?”
            “Tunggu saja, aku takkan mengatakannya sebelum kau sampai di rumah, suamiku.”
            “Kau membuatku penasaran. Ya sudah, kalau begitu aku akan bersabar hingga sampai di New York. Kau sebaiknya beistirahat, aku harus menghadiri beberapa pertemuan lagi sebelum pulang.”
            “Baiklah kalau begitu, aku akan pergi mandi lalu makan. Karena aku sangat lapar sekali.”
            I love you, Princess.”
            “And I really love you too, Prince.”

            Aku lalu menutup telepon dan bergegas menuju ke kamar mandi. Dan setelah selesai berpakaian aku langsung menuju dapur untuk makan. Karena aku merasa sangat lapar sekali, mungkin karena pengaruh kehamilanku saat ini.

            Malam harinya ketika aku sedang tidur, tiba-tiba aku berminpi buruk. Mimpi yang sangat buruk, sehingga membuatku menangis dan berteriak di tengah malam. Aku tersadar dari mimpiku ketika suara Nanny Kelly yang panic berusaha untuk membangunkanku.

            “Tenanglah, sayang. Kau pasti bermimpi buruk. Ini minum dulu.” Ucapnya sambil menyodorkan segelas air putih padaku.
            Dengan gemetaran aku mengambilnya dan meminumnya. “Mimpi yang sangat buruk, Nanny. Kyle, aku takut terjadi sesuatu padanya, Nanny.” Jawabku sambil mulai menangis.
            “Shhh, Kyle baik-baik saja sayang. Itu hanya mimpi, sebaiknya kau kembali tidur. Jangan terlalu memikirkannya. Ingat kau sedang mengandung, Izzie.”

            Aku menuruti perkataan Nanny Kelly, aku menarik selimutku keatas dan berusaha memejamkan mataku. Aku terus berdoa dalam hati sambil mengusap-usap perutku. Sayang, semoga tidak terjadi sesuatu pada ayahmu, sayang.

            Dan aku tidak bisa menutup mataku hingga pagi menjelang. Hari itu aku sebenarnya enggan untuk melakukan kegiatan apapun. Aku hanya ingin tinggal di rumah, rasanya aku tidak bersemangat sama sekali. Terus memikirkan suamiku dan mimpi semalam.

            Aku benar-benar kacau dan tidak bisa berkonsentrasi pada pekerjaan yang sedang aku kerjakan. Aku harus segera menyingkirkan pikiran yang membuatku stress ini. Karena hanya akan berpengaruh pada kehamilanku saja.

            Dan benar saja, ketika jam makan siang tiba aku yang hendak keluar untuk mencari sesuatu untuk makan. Tiba-tiba saja kakakku, Amanda dan kedua orang tuanya Kyle datang menemuiku di kantor. Sontak saja aku merasa heran, kaget dan bingung. Perasaanku langsung berkecamuk hebat, apalgi melihat ekspresi mereka berempat.

            “Ada apa ini? Sangat tidak biasanya, Maa, Paa, Kak Tom, Manda?”
            “Kau baik-baik saja kan, sayang?” tanya ibu mertuaku.
            “Sebenarnya tidak terlalu baik, Maa. Ada hal yang begitu membebani pikiranku, dan aku harus segera menghilangkannya. Karena itu tidak baik untuk kandunganku.”
            “Kau sedang mengandung, Izzie?” tanya Kakak terkejut.
            “Ya, maaf aku baru memberitahu kalian. Karena aku juga baru mengetahuinya kemarin sore.”
           
            Mendengar penjelelasankku mereka berempat saling melempar pandangan satu sama lain. Entahlah, aku tidak begitu mengerti mengapa mereka melakukan itu. Mereka sangat aneh, seperti menyembunyikan sesuatu.

            “Sebenarnya ada apa, Paa?”
            “Begini sayang, kami baru saja menerima kabar bahwa pesawat Kyle tiba-tiba menghilang.” Ucapnya dengan hati-hati.
            “APA?!?” mendengar perkataan dari ayah mertuaku aku seperti di sambar petir pada siang hari.
            “Yang sabar ya, sayang.” Maa langsung memelukku erat.

            Air mataku langsung membasahi pipiku dan berar-benar tak terbendung.

            “Tidak, tidak, tidak, itu tidak mungkin. Tolong katakan kalau semua ini bohong. Kyle berjanji akan segera pulang.” Ucapku dengan panic dan mulai histeris.
            “Kami masih menunggu kabar selanjutnya,” jelas kakakku.

            Aku benar-benar lemas dan hancur mendengar kabar itu. Sampai akhirnya aku tak sadarkan diri dalam pelukan ibu mertuaku. Aku hanya mendengar mereka berusaha untuk menyadarkan aku saja.

            Ketika membuka mata, aku sudah berada di sebuah ruangan yang serba putih. Pasti saat ini aku sedang berada di rumah sakit, aku yakin karena bau disinfektan tercium sangat kuat. Aku mengerdarkan pandanganku dan melihat Maa yang sedang duduk di kursi di sampingku dengan wajah yang khawatir.

            “Maa, Kyle dimana?” tanyaku dengan suara lemah.
            “Kau sudah sadar, sayang. Syukurlah, Maa sangat takut dan khawatir sekali, Izzie.” Jawab Maa sambil menghapus air matanya.
            “Kyle dimana, Maa? Dia baik-baik saja, kan?” aku melontarkan kembali pertanyaanku.
            Maa menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan-lahan sebelum menjawab pertanyaannya, “Masih belum ada kabar sayang, Tom dan Paa masih berusaha untuk mencari informasi dan mengirimkan kru pnyelamat untuk mencari mereka.”
            “Aku tidak bisa berdiam diri terus disini, Maa,” ucapku sambil berusaha untuk bangun, namun kepalaku langsung sakit begitu juga tanganku yang dipasangi jarum infuse.
            “Tidak, sayang, jangan bangun. Keadaanmu benar-benar sedang tidak memungkinkan, kau harus tenang. Ingat dengan bayimu sayang.”
            “Maa, bagaimana aku bisa tenang. Sedangkan di luar sana keberadaan Kyle saja belum di ketahui.” Ucapku sambil menangis.
            “Maa mengerti perasaanmu, sayang. Maa juga sangat mengkhawatirkan keadaan Kyle.”

            Tiba-tiba saja pintu ruanganku terbuka. Ternyata Mom dan Dad ada di sini, mereka berdua langsung memelukku.

            “Sayang, bagaimana dengan keadaanmu?” tanya Mom sambil memeluk tubuhku yang terbaring di ranjang.
            “Dad sudah mengerahkan orang untuk melakukan pencarian, sayang. Yang bisa kita lakukan saat ini hanya menunggu.” Jelas Dad.
            Mom lalu melepaskan pelukanku dan menghampiri Maa, “Mrs. Dickherber, yang sabar, ya.”
            “Ya, terima kasih Mrs. Williams. Saya akan kuat menghadapi semua ini. Yang saya khawatirkan sekarang adalah keadaa Izzie. Apalagi saat ini dia sedang mengandung.”
            Mom melepaskan pelukannya dan kembali bertanya padakku, “Sayang, mengapa kau tidak memberitahu Mom dan Dad tentang kehamilanmu?”
            “Maaf, Mom, Kyle saja belum tahu tentang kehamilanku ini. Aku benar-benar memikirkan keadaan Kyle.”
            “Kau harus berusaha untuk tenang, sayang. Jangan terlalu banyak pikiran, kau harus ingat pada kandunganmu saat ini.”
            “Aku akan berusaha untuk tenang, Mom.” Jawabkku sambil terisak.

            Ya Tuhan, bagaimana aku bisa tenang? Keberadaan suamiku saja belum di ketahui sama sekali. Sampai kapankah penantian ini akan berakhir? Tuhan, kapan kau biarkan aku dan Kyle hidup bahagian dan tentram. Tiba-tiba saja Eric datang dan entah mengapa aku langsung memeluknya dan menangis di dalam pelukannya.

            “Izzie, kau baik-baik saja, kan?” tanyanya sambil mendekatiku.
            Aku langsung menariknya kedalam pelukanku saat ia mendekat.

            “Kalau begitu kami tinggal dulu, ya.” Seru Maa.

            Mereka langsung pergi keluar meninggalkan aku dan Eric berdua di dalam. Aku terus saja menangis dalam pelukannya. Yang baru aku sadari begitu hangat.

            “Izzie, kumohon berhentilah menangis. Aku tak ingin melihatmu menangis, hatiku sakit melihatnya.” Ucapnya sambil membelai rambutku perlahan.

4 komentar:

  1. Whoaaa ternyata Kyle bener" jadi kecelakaan :c
    Penasaran ga sabar sama episode selanjutnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya, Kyle jadi keclakaannya..
      tapi udah ketemu lagi kok..
      ya cuma gtu dehhh mulai kemakan sama hasutannya si Mary Jeane :/

      Hapus
  2. Yah bener :c duh ini cerita semakin lama semakin asik dan bikin penasaran deh, jadi pembaca setia nih x)

    BalasHapus
  3. have you read the new eps??

    that was really messy xD

    thanks so much sist :*

    BalasHapus