Chapter 6
Aku hanya
mengerutkan keningku saja, karena sikapnya sudah kembali lagi jadi Kyle yang
aku cinta.
“Hei, kau
kenapa? Mengapa mengerutkan keningmu seperti itu. Aku minta maaf, Izzie.
Benar-benar minta maaf, karena sudah bersikap buruk padamu beberapa hari
terakhir ini, dan untuk kejadian kemarin saat di kantor.”
“Sudah-sudah, jangan di lanjutkan
lagi, membuat kepalaku menjadi semakin sakit saja. Bagaimana aku bisa ada di
apartemen?”
“Eric Dill dan Manda yang
mengantarkanmu pulang. Tapi bagaimana mereka berdua bisa kenal, ya?”
“Mereka sepupu, Kyle. Kemarin siang
aku bertemu dengan mereka berdua saat makan siang.”
“Jadi kemarin kau pergi makan siang
dengan mereka berdua?” tatapannya menjadi gelap saat menatapku.
“Kami tidak sengaja bertemu, Kyle.
aku tidak sempat makan apapun karena terburu-buru kembali ke kantor, setelah
melihat pesan dan panggilan tidak terjawab darimu.”
“Aku khawatir padamu, Izzie.
Tiba-tiba saja wajah Ed terlintas di benakku, itulah kenapa aku memutuskan
untuk segera kembali ke kantor. Tapi, aku tidak menemukanmu di sana, lalu
tiba-tiba Jenny datang menemuiku.”
“Sudah-sudah, aku tak mau mendengar
kelanjutannya seperti apa. Aku memang marah padamu, Kyle, sangat marah. Tapi,
sudahlah lupakan saja semuanya. Ngomong-ngomong kenapa aku tidak memakai
pakaian? Apa yang sudah kau lakukan padaku ketika aku mabuk, Kyle?”
Mendengar ucapku ia malah tersenyum,
dan matanya terlihat gelap dan membakar tubuhku. Ya, dan sejak hari itu
hubungan kami berdua mulai membaik dan setiap malam ranjang kami selalu panas.
Kyle dan aku sepakat untuk tidak terlalu menanggapi gangguan yang datang dari
Mary Jeane, Jenny ataupun dari Edward sekalipun.
***
Hari itu aku terbangun dengan rasa
sakit di kepalaku. Seminggu terakhir ini kepalaku memang sering sekali sakit.
Mungkin karena di kantor aku terlalu sibuk dan istirahatkupun jadi aku pakai
untuk bekerja.
“Kau kenapa, sayang?” tanya Kyle
dengan tatapan khawatir.
“Aku merasa tidak enak badan,
bolehkah hari ini aku tidak masuk untuk bekerja? Aku ingin beristirahat di
rumah, satu hari ini. Bolehkan?”
Kyle menempelkan telapak tangannya
di keningku, “Kau demam sayang, apa kita perlu ke dokter?”
“Tidak usah, Kyle, aku hanya butuh
istirahat saja selama satu hari.”
“Ya sudah, kau berhati-hati di
rumah, ya. Nanti siang Nanny Kelly akan datang. Aku pergi dulu, ya.” Pamitnya
sambil menciumku sangat lama.
Aku melepaskan diriku dari
pelukannya, “Cepat berangkat, nanti kau terlambat.” Aku memperingatkan.
Kyle tersenyum, lalu pergi menuju
kekantornya. Setelah Kyle pergi aku langsung menjatuhkan diriku ke atas sofa
dan tertidur. Kepalaku seperti akan meledak, rasa sakitnya benar-benar
membuatku sangat kesakitan.
Aku terbangun saat suara Nanny Kelly
membangunkanku dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.
“Hai, Nanny, maaf aku tertidur jadi
lupa bahwa Nanny akan datang hari ini.” Ucapku sambil berusaha duduk dengan
kepala yang masih berputar-putar.
“Untung saja Nanny masih memegang
kunci cadangan apartemen kalian. Jadi Nanny masih bisa masuk. Kau baik-baik
saja, Izzie?”
“Hanya sedikit demam, Nanny, di
kantor sedang banyak pekerjaan jadi aku kelelahan.”
“Ya sudah, sebaiknya kau istirahat
saja. Biar Nanny buatkan sup untukmu.”
“Terima kasih Nanny.” Ucapku sambil
memeluknya.
Lalu Nanny Kelly meninggalkanku dan
bergegas menuju ke dapur. Sedangkan aku hanya duduk-duduk di sofa sambil
menonton Tv. Perutku terasa mual dan bergolak, tapi aku mengabaikannya dan
beranggapan bahwa penyakit lambungku sedang kambuh karena pola makanku memang
tidak teratur.
“Izzie, ini supnya sebaiknya cepat
di makan mumpung masih panas.” Nanny Kelly menyodorkan semangkuk sup padaku.
“Terima kasih, Nanny, maaf aku malah
merepotkan Nanny.”
“Tidak, sayang, kau dan Kyle tidak
pernah merepotkan Nanny. Cepat makan.”
Aku mulai memakan supnya, namun pada
suapan kedua perutku bergolak dengan dahsyat. Aku langsung meletakkan supnya di
atas meja lalu berlari menuju wastafel terdekat dan langsung memuntahkan
kembali semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutku.
“Kau baik-baik saja, sayang?” tanya
Nanny Kelly sambil mengelus punggungku.
“Sepertinya lambungku bermasalah,
Nanny. Pola makanku memang tidak teratur.”
“Sesibuk apapun kau tetap harus
makan secara teratur. Bagaimana sekarang?”
“Sudah agak lebih baik Nanny, terima
kasih. Oh iya, jangan ceritakan ini pada Kyle, ya. Aku tak ingin Kyle jadi
khawatir.”
Nanny Kelly hanya menganggukkan
kepalanya saja sambil tersenyum. Sore harinya Kyle pulang dan langsung
mencariku sambil berteriak-teriak.
“Aku ada di sini, untuk apa
berteriak-teriak seperti itu, Kyle?”
“Aku hanya khawatir padamu, sayang.
Apa kau sudah sehat sekarang?
“Aku sudah jauh lebih sehat
sekarang. Bagaimana di kantor.”
“Ah, iya aku hampir lupa
memberitahukanmu bahwa besok pagi aku harus segera pergi ke Paris ada pertemuan
disana.”
“Berapa lama disana?”
“Tidak lama, hanya tiga hari sayang.
Aku sebenarnya ingin kau ikut. Tapi sepertinya kau belum benar-benar pulih. Kau
tidak apa-apa aku tinggal?”
“Aku tidak apa-apa, Kyle. Kau pergi
hanya tiga hari, kan.”
“Tapi aku tidak tenang
meninggalkanmu sendirian.”
“Nanny akan menemani Izzie sampai
kau kembali Kyle.”
“Terima kasih Nanny, dengan begitu
aku akan merasa tenang.”
***
Keesokkan harinya Kyle berangkat ke
Paris menggunakan jet pribadinya. Sedangkan perusahaan untuk beberapa hari
kedepan aku yang akan mengambil alihnya. Sejak keberangkatan Kyle ke Paris
perasaanku selalu gelisah. Aku merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk.
Aku selalu berdoa agar suamiku
selalu berada dalam lindungan Tuhan dan tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Dan
aku mengabaikan semua pemikiran buruk dalam pikiranku.
Selama Kyle berada di Paris, Eric
sering sekali datang ke kantorku untuk membicarakan beberapa bisnis dan
ujung-ujungnya selalu mengajakku untuk pergi makan siang atau memaksa untuk
mengantarku pulang.
“Tidak Mr. Dill, terima kasih. Saya
bisa pulang sendiri, supir saya selalu menjemput tepat waktu.”
“Tapi bisakah besok kita pergi untuk
makan siang bersama?”
“Besok Kyle akan tiba dari Paris.
Maaf Mr. Dill, lain kali pasti kita akan makan siang bersama.”
“Baiklah, tapi jika kau butuh
sesuatu kau bisa menghubungiku kapan saja, Izzie. Aku akan selalu siap
membantumu.”
“Terima kasih banyak Mr. Dill. Saya
sangat menghargainya.”
Sepulang dari kantor aku memutuskan
untuk pergi ke rumah sakit. Karena semakin hari aku semakin merasakan mual yang
luar biasa di perutku dan di sertai dengan demam dan sakit kepala yang luar
biasa.
Hasilnya ternyata sangat mengejutkan
sekali, dokter bilang ternyata saat ini aku sedang mengandung. Dan usia
kandunganku sudah berusia tiga minggu. Ya Tuhan, ini benar-benar mukjizat.
Rasanya benar-benar tak percaya bahwa ternyata aku masih bisa hamil.
Dan aku berencana untuk
memberitahukannya pada suamiku jika ia sudah sampai di sini nanti. Kyle pasti
akan sangat senang sekali mendengarnya. Aku pulang ke apartemen sambil
tersenyum bahagia. Nanny Kelly saja sempat bingung melihat tingkahku itu.
“Sepertinya ada sesuatu yang
membuatmu begitu bahagia, sayang?”
Aku langsung memeluk Nanny Kelly,
“Iya, Nanny. Aku memang sedang bahagia sekali saat ini dan Kyle juga pasti akan
senang.”
“Berita apakah itu, sayang?”
“Aku hamil, Nanny” ucapku sambil
setengah berteriak karena bahagia.
“Kau hamil, sayang? Ya Tuhan, terima
kasih, selamat ya sayang.” Nanny Kelly mengucapkan selamat sambil mencium kedua
pipiku. “Apa Kyle sudah tahu?”
“Belum, aku berencana akan
memberitahunya besok ketika ia sudah sampai di sini, Nanny. Kyle pasti akan
sangat terkejut dan bahagia mendapat kejutan ini.”
“Kyle pasti bahagia sekali, sayang.
Lalu sudah berapa usia kandunganmu?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar