Sabtu, 03 November 2012

Light At The End Of The Tunnel Chapter 6


Chapter 6


            Aku hanya mengerutkan keningku saja, karena sikapnya sudah kembali lagi jadi Kyle yang aku cinta.

            “Hei, kau kenapa? Mengapa mengerutkan keningmu seperti itu. Aku minta maaf, Izzie. Benar-benar minta maaf, karena sudah bersikap buruk padamu beberapa hari terakhir ini, dan untuk kejadian kemarin saat di kantor.”
            “Sudah-sudah, jangan di lanjutkan lagi, membuat kepalaku menjadi semakin sakit saja. Bagaimana aku bisa ada di apartemen?”
            “Eric Dill dan Manda yang mengantarkanmu pulang. Tapi bagaimana mereka berdua bisa kenal, ya?”
            “Mereka sepupu, Kyle. Kemarin siang aku bertemu dengan mereka berdua saat makan siang.” 
            “Jadi kemarin kau pergi makan siang dengan mereka berdua?” tatapannya menjadi gelap saat menatapku.
            “Kami tidak sengaja bertemu, Kyle. aku tidak sempat makan apapun karena terburu-buru kembali ke kantor, setelah melihat pesan dan panggilan tidak terjawab darimu.”
            “Aku khawatir padamu, Izzie. Tiba-tiba saja wajah Ed terlintas di benakku, itulah kenapa aku memutuskan untuk segera kembali ke kantor. Tapi, aku tidak menemukanmu di sana, lalu tiba-tiba Jenny datang menemuiku.”
            “Sudah-sudah, aku tak mau mendengar kelanjutannya seperti apa. Aku memang marah padamu, Kyle, sangat marah. Tapi, sudahlah lupakan saja semuanya. Ngomong-ngomong kenapa aku tidak memakai pakaian? Apa yang sudah kau lakukan padaku ketika aku mabuk, Kyle?”

            Mendengar ucapku ia malah tersenyum, dan matanya terlihat gelap dan membakar tubuhku. Ya, dan sejak hari itu hubungan kami berdua mulai membaik dan setiap malam ranjang kami selalu panas. Kyle dan aku sepakat untuk tidak terlalu menanggapi gangguan yang datang dari Mary Jeane, Jenny ataupun dari Edward sekalipun.

***
            Hari itu aku terbangun dengan rasa sakit di kepalaku. Seminggu terakhir ini kepalaku memang sering sekali sakit. Mungkin karena di kantor aku terlalu sibuk dan istirahatkupun jadi aku pakai untuk bekerja.

            “Kau kenapa, sayang?” tanya Kyle dengan tatapan khawatir.
            “Aku merasa tidak enak badan, bolehkah hari ini aku tidak masuk untuk bekerja? Aku ingin beristirahat di rumah, satu hari ini. Bolehkan?”
            Kyle menempelkan telapak tangannya di keningku, “Kau demam sayang, apa kita perlu ke dokter?”
            “Tidak usah, Kyle, aku hanya butuh istirahat saja selama satu hari.”
            “Ya sudah, kau berhati-hati di rumah, ya. Nanti siang Nanny Kelly akan datang. Aku pergi dulu, ya.” Pamitnya sambil menciumku sangat lama.
            Aku melepaskan diriku dari pelukannya, “Cepat berangkat, nanti kau terlambat.” Aku memperingatkan.
           
            Kyle tersenyum, lalu pergi menuju kekantornya. Setelah Kyle pergi aku langsung menjatuhkan diriku ke atas sofa dan tertidur. Kepalaku seperti akan meledak, rasa sakitnya benar-benar membuatku sangat kesakitan.

            Aku terbangun saat suara Nanny Kelly membangunkanku dengan begitu lembut dan penuh kasih sayang.

            “Hai, Nanny, maaf aku tertidur jadi lupa bahwa Nanny akan datang hari ini.” Ucapku sambil berusaha duduk dengan kepala yang masih berputar-putar.
            “Untung saja Nanny masih memegang kunci cadangan apartemen kalian. Jadi Nanny masih bisa masuk. Kau baik-baik saja, Izzie?”
            “Hanya sedikit demam, Nanny, di kantor sedang banyak pekerjaan jadi aku kelelahan.”
            “Ya sudah, sebaiknya kau istirahat saja. Biar Nanny buatkan sup untukmu.”
            “Terima kasih Nanny.” Ucapku sambil memeluknya.
           
            Lalu Nanny Kelly meninggalkanku dan bergegas menuju ke dapur. Sedangkan aku hanya duduk-duduk di sofa sambil menonton Tv. Perutku terasa mual dan bergolak, tapi aku mengabaikannya dan beranggapan bahwa penyakit lambungku sedang kambuh karena pola makanku memang tidak teratur.

            “Izzie, ini supnya sebaiknya cepat di makan mumpung masih panas.” Nanny Kelly menyodorkan semangkuk sup padaku.
            “Terima kasih, Nanny, maaf aku malah merepotkan Nanny.”
            “Tidak, sayang, kau dan Kyle tidak pernah merepotkan Nanny. Cepat makan.”

            Aku mulai memakan supnya, namun pada suapan kedua perutku bergolak dengan dahsyat. Aku langsung meletakkan supnya di atas meja lalu berlari menuju wastafel terdekat dan langsung memuntahkan kembali semua makanan yang sudah masuk ke dalam perutku.

            “Kau baik-baik saja, sayang?” tanya Nanny Kelly sambil mengelus punggungku.
            “Sepertinya lambungku bermasalah, Nanny. Pola makanku memang tidak teratur.”
            “Sesibuk apapun kau tetap harus makan secara teratur. Bagaimana sekarang?”
            “Sudah agak lebih baik Nanny, terima kasih. Oh iya, jangan ceritakan ini pada Kyle, ya. Aku tak ingin Kyle jadi khawatir.”
           
            Nanny Kelly hanya menganggukkan kepalanya saja sambil tersenyum. Sore harinya Kyle pulang dan langsung mencariku sambil berteriak-teriak.

            “Aku ada di sini, untuk apa berteriak-teriak seperti itu, Kyle?”
            “Aku hanya khawatir padamu, sayang. Apa kau sudah sehat sekarang?
            “Aku sudah jauh lebih sehat sekarang. Bagaimana di kantor.”
            “Ah, iya aku hampir lupa memberitahukanmu bahwa besok pagi aku harus segera pergi ke Paris ada pertemuan disana.”
            “Berapa lama disana?”
            “Tidak lama, hanya tiga hari sayang. Aku sebenarnya ingin kau ikut. Tapi sepertinya kau belum benar-benar pulih. Kau tidak apa-apa aku tinggal?”
            “Aku tidak apa-apa, Kyle. Kau pergi hanya tiga hari, kan.”
            “Tapi aku tidak tenang meninggalkanmu sendirian.”
            “Nanny akan menemani Izzie sampai kau kembali Kyle.”
            “Terima kasih Nanny, dengan begitu aku akan merasa tenang.”
           
***

            Keesokkan harinya Kyle berangkat ke Paris menggunakan jet pribadinya. Sedangkan perusahaan untuk beberapa hari kedepan aku yang akan mengambil alihnya. Sejak keberangkatan Kyle ke Paris perasaanku selalu gelisah. Aku merasa bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk.

            Aku selalu berdoa agar suamiku selalu berada dalam lindungan Tuhan dan tidak terjadi sesuatu pada dirinya. Dan aku mengabaikan semua pemikiran buruk dalam pikiranku.

            Selama Kyle berada di Paris, Eric sering sekali datang ke kantorku untuk membicarakan beberapa bisnis dan ujung-ujungnya selalu mengajakku untuk pergi makan siang atau memaksa untuk mengantarku pulang.  

            “Tidak Mr. Dill, terima kasih. Saya bisa pulang sendiri, supir saya selalu menjemput tepat waktu.”
            “Tapi bisakah besok kita pergi untuk makan siang bersama?”
            “Besok Kyle akan tiba dari Paris. Maaf Mr. Dill, lain kali pasti kita akan makan siang bersama.”
            “Baiklah, tapi jika kau butuh sesuatu kau bisa menghubungiku kapan saja, Izzie. Aku akan selalu siap membantumu.”
            “Terima kasih banyak Mr. Dill. Saya sangat menghargainya.”

            Sepulang dari kantor aku memutuskan untuk pergi ke rumah sakit. Karena semakin hari aku semakin merasakan mual yang luar biasa di perutku dan di sertai dengan demam dan sakit kepala yang luar biasa.

            Hasilnya ternyata sangat mengejutkan sekali, dokter bilang ternyata saat ini aku sedang mengandung. Dan usia kandunganku sudah berusia tiga minggu. Ya Tuhan, ini benar-benar mukjizat. Rasanya benar-benar tak percaya bahwa ternyata aku masih bisa hamil.

            Dan aku berencana untuk memberitahukannya pada suamiku jika ia sudah sampai di sini nanti. Kyle pasti akan sangat senang sekali mendengarnya. Aku pulang ke apartemen sambil tersenyum bahagia. Nanny Kelly saja sempat bingung melihat tingkahku itu.

            “Sepertinya ada sesuatu yang membuatmu begitu bahagia, sayang?”
            Aku langsung memeluk Nanny Kelly, “Iya, Nanny. Aku memang sedang bahagia sekali saat ini dan Kyle juga pasti akan senang.”
            “Berita apakah itu, sayang?”
            “Aku hamil, Nanny” ucapku sambil setengah berteriak karena bahagia.
            “Kau hamil, sayang? Ya Tuhan, terima kasih, selamat ya sayang.” Nanny Kelly mengucapkan selamat sambil mencium kedua pipiku. “Apa Kyle sudah tahu?”
            “Belum, aku berencana akan memberitahunya besok ketika ia sudah sampai di sini, Nanny. Kyle pasti akan sangat terkejut dan bahagia mendapat kejutan ini.”
            “Kyle pasti bahagia sekali, sayang. Lalu sudah berapa usia kandunganmu?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar