Chapter 4
“Baik, aku
akan pergi. Tapi ingat, suatu hari nanti kau akan kembali lagi padaku Izzie,
kau akan menjadi milikku lagi. Ingat itu.”
Aku
langsung pergi meninggalkan ruangan Izzie. Ya, suatu hari nanti aku akan
mendapatkan Izzie kembali. Biarlah sekarang aku pergi dan mengalah, tapi suatu
hari nanti akku akan kembali datang untuk merebutmu dari lelaki itu Izzie.
***
Aku mulai
bangkit dari keterpurukanku karena kehilanngan bayi yang sangat aku tunggu. Aku
harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Toh, yang terpenting Kyle masih
tetap ada disampingku meskipun aku tahu ia masih sangat ingin memiliki seorang
bayi.
Setelah
kejadian ini sikap Kyle memang tidak berubah sama sekali. Ia tetap Kyle yang
seperti biasanya. Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan, karena aku yakin
jika sudah tiba waktunya aku akan bisa memberikan Kyle keturunan lagi.
“Kyle,
bolehkah aku mulai masuk kerja besok?”
“Kau mau
masuk kerja?”
“Iya, aku
ingin segera masuk kerja. Aku sudah tidak apa-apa, aku butuh kesibukan saat
ini. Bolehkan?”
“Iya, tentu
saja kau boleh masuk ke kantor sayang.”
“Terima
kasih, suamiku tersayang.” Ucapku sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.
Ciuman kami
menjadi panas, setelah Kyle mendorong lidahnya memasuki rongga mulutku.
Benar-benas sangat panas dan membakar diriku. Ini yang aku rindukan dari
suamiku tercinta. Dan ia masih tetap panas seperti dulu.
“Aku
menginginkanmu, sayang?” ucapnya dengan nafas yang mulai terbata-bata.
“Ya, aku
juga sangat menginginkanmu mala mini, Kyle.”
“Kau tahu,
apapun yang terjadi selama ini aku akan tetap mencintaimu. Kau milikku, Izzie
meskipun seandainya kau tidak bisa memberikanku keturunan. Aku benar-benar
tidak peduli, Izzie.”
Deg…!!!
Kata-katanya benar-benar menusuk hatiku. Anak, bagaimana jika aku tidak bisa
memiliki anak? Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan Kyle keturunan. Ya
Tuhan, ini sangat sangat membuatku takut. Aku langsung melepaskan diri dari
ciumannya. Tiba-tiba saja semua gairah yang ada dalam diriku padam.
“Kau
kenapa, sayang?” tanyanya keheranan.
“Maaf, Kyle,
aku tidak bisa, tiba-tiba aku merasa tidak enak badan. Bisakah jika kita
langsung tidur saja?”
“Baiklah,
jika kau yang meminta. Sebaiknya kita memang beristirahat saja, besok kau sudah
mulai kembali bekerja.”
Aku
merasakan perubahan sikapnya yang menjadi dingin. Maafkan aku Kyle, tapi aku
tidak bisa melakukannya dengan perasaan tertekan seperti ini. Aku benar-benar
tidak bisa.
Keesokkkan
harinya, kami tetap pergi ke kantor bersama-sama. Namun aku merasakan sikap
Kyle yang tidak seperti biasanya. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah
mengecewakan suamiku.
Di kantor
aku memulai kembali pekerjaanku yang sempat tertunda. Dan keadaan kali ini
benar-benar terasa seperti seorang atasan dan asistennya. Tak ada candanya lagi
di tengah-tengah pekerjaan kami. Dan aku begitu merindukannya.
“Sir, saya harus mencetak brosur-brosur
ini dulu. Permisi.”
“Pergilah.”
Jawabnya singkat.
Tuhan, itu
sangat sangat menyakitkan. Kata-katanya benar-benar sangat dingin. Hatiku jadi
semakin sakit di buatnya. Rasanya aku ingin menangis dan berteriak tapi itu
tidak mungkin aku lakukan.
Akhirnya
aku melangkahkan kakiku menuju ketempat percetakan yang berada tak jau dari
kantorku. Aku berjalan menuju tempat percetakan dengan pikiran yang agak kacau.
Ketika
semua brosur itu telah selesai di cetak akku bergegas untuk kembali ke
kantorku. Tiba-tiba saja sebuah tangan menyergap lenganku. Ternyata orang itu
adalah Edward.
“Kau,
lepaskan tanganmu dariku, Ed?” aku meronta dan berusaha untuk melepaskan
pegangannya. Tapi tenagangya lebih besar.
“Tidak,
Izzie, aku ingin mengajakmu pergi. Aku harus berbicara denganmu.”
“Tidak, aku
sedang bekerja. Dan aku tak ingin membicarakan apapun denganmu, Ed. Lepaskan
aku sekarang juga,” ucapku setengah berteriak.
“Tidak
akan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”
Tiba-tiba
ada sebuah suara dari belakangku.
“Sebaiknya
kau lepaskan tangannya, jika kau tidak ingin babak belur.”
Aku melihat
kearah belakangku, ternyata itu adalah suara Eric Dill. “Mr. Dill…” ucapkku
penuh dengan kelegaan.
“Siapa kau?
Jangan ikut campur dengan urusanku.” Cerca Edward.
“Tentu saja
akan menjadi urusanku, jika kau tidak segera melepaskan tangannya.”
Akhirnya
Edward melepaskan lenganku, lalu pergi sambil mengumpat tidak jelas.
“Kau tidak
apa-apa Miss Williams?” tanyanya dengan sorot mata yang khawatir.
“Aku tidak
apa-apa, terima kasih sudah menolongku Mr. Dill.”
“Aku akan
menolongmu jika lelaki itu kembali menganggumu. Memangnya siapa lelaki itu jika
aku boleh tahu?”
“Ah, dia
hanya mantan kekasihku yang memaksa ingin kembali lagi. Saya harus segera
kemballi, Mr. Dickherber pasti sudah menunggu. Permisi Mr. Dill.”Pamitku.
“Tunggu
Izzie, aku akan datang menemui nanti pada saat makan siang.”
Aku hanya
bisa tersenyum tak tahu harus menjawab apa. Aku buru-buru masuk kedalam kantor
dan menuju ke ruanganku dengan tergesa=gesa. Dan ketika sampai aku medapati
Kyle sedang menopang kedua tangannya dengan ekspresi yang menyeramkan.
“Darimana
saja kau Miss Williams?”
“Maaf, tadi
ada sedikit masalah pada mesin cetaknya,” maafkan aku sudah berbohong padamu
Kyle.
“Lain kali
aku takkan mentolelirnya Miss Williams. Sekarang kembalilah ke mejamu dan
selesaikan semua pekerjaanmu. Karena aku harus pergi menemui salah satu rekan
bisnisku. Dan mungkin aku akan makan siang di luar jadi kau tak perlu
menungguku.”
“Baiklah,
saya mengerti.” Jawabku singkat.
Lalu Kyle
pergi dan tinggalah aku di ruangan yang luas ini seorang diri. Ya Tuhan,
kesalahan apa lagi yang sudah aku perbuat? Mengapa sikapnya menjadi seperti
itu, aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.
Tanpa
terasa air mataku sudah membasahi kedua pipiku. Aku menangis terisak di ruangan
itu sambil melanjutkan kembali semua pekerjaanku. Ketika jam makan siang tiba
aku bermaksud akan pergi mencari makan. Tapi ternyata Eric Dill sudah
menungguku di depan kantor. Ya Tuhan, bagaimana jika Kyle melihat ini?
“Hai Miss
Williams, bagaimana jika kita pergi makan siang bersama? Kebetulan aku butuh
teman untuk makan siang dan bertemu dengan sepupuku.”
“Maaf Mr.
Dill saya tidak bisa. Karena saya harus segera kembali ke kantor karena Mr.
Dickherber sedang tidak ada di tempat.”
“Hanya
sebentar saja. Aku mohom Miss Williams hanya setengah jam saja?”
Aku
berpikir sejenak lalu menerima ajakan makan siang dari Eric. “Baiklah Mr. Dill
hanya tiga puluh menit saja.”
Wajahnya
langsung berseri ketika mendengar persetujuan dariku. Lalu kami pergi
menggunakan mobilnya menuju kesebuah kedai kopi yang tak jauh dari kantorku.
Ketika sampai disana Eric langsung mengajakku keseduah meja dan sudah ada
seseorang yang menunggu di sana.
“Hey, sudah
lama menunggu?” sapa Eric pada seorang wanita yang sedang duduk di situ.
Dan aku
langsung terkejut ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Amanda, calon kakak
iparku. “Amanda… sedang apa kau ada disini?” tanyaku.
“Ah, Izzie,
sayang, apa kabar kau terlihat sehat tapi agak sedikit kacau. Apa kau baik-baik
saja?”
“Aku bohong
kalau bilang baik-baik saja. Bagaimana keadaan kakak?”
“Dia baik,
Izzie.”
Kyle sih, blg soal keturunan sm Izzie yg lg sensitif.
BalasHapustapi seharusnya Izzie yg bersikap dingin sm kyle. Eh ini malah kebailk yaa.. ckckckckk
msh sama - sama gengsi bwt minta maaf duluan.
selebihnya, okke kak..
lanjutkan :)
biasa kan penyakit Kyle yg masih susah di tebak itu sulit bgt ilangnya trus masih suka kambuh lagi tuh..
BalasHapusmkanya yg harusnya Izzie yg marah malah Kyle yg marah..
jadi aja Dill dengan leluasa deketin Izzie xD
biasa kan penyakit Kyle yg masih susah di tebak itu sulit bgt ilangnya trus masih suka kambuh lagi tuh..
BalasHapusmkanya yg harusnya Izzie yg marah malah Kyle yg marah..
jadi aja Dill dengan leluasa deketin Izzie xD
ckckckk..
Hapusharus sama-sama ekstra sabar yaa :)
trnyata amanda knal sama Dill, pasti tau ya kl Izzie itu istrinya Kyle.