Senin, 29 Oktober 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 4


Chapter 4

            “Baik, aku akan pergi. Tapi ingat, suatu hari nanti kau akan kembali lagi padaku Izzie, kau akan menjadi milikku lagi. Ingat itu.”

            Aku langsung pergi meninggalkan ruangan Izzie. Ya, suatu hari nanti aku akan mendapatkan Izzie kembali. Biarlah sekarang aku pergi dan mengalah, tapi suatu hari nanti akku akan kembali datang untuk merebutmu dari lelaki itu Izzie.

***

            Aku mulai bangkit dari keterpurukanku karena kehilanngan bayi yang sangat aku tunggu. Aku harus bisa menerimanya dengan lapang dada. Toh, yang terpenting Kyle masih tetap ada disampingku meskipun aku tahu ia masih sangat ingin memiliki seorang bayi.

            Setelah kejadian ini sikap Kyle memang tidak berubah sama sekali. Ia tetap Kyle yang seperti biasanya. Jadi tidak ada yang perlu aku khawatirkan, karena aku yakin jika sudah tiba waktunya aku akan bisa memberikan Kyle keturunan lagi.

            “Kyle, bolehkah aku mulai masuk kerja besok?”
            “Kau mau masuk kerja?”
            “Iya, aku ingin segera masuk kerja. Aku sudah tidak apa-apa, aku butuh kesibukan saat ini. Bolehkan?”
            “Iya, tentu saja kau boleh masuk ke kantor sayang.”
            “Terima kasih, suamiku tersayang.” Ucapku sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibirnya.

            Ciuman kami menjadi panas, setelah Kyle mendorong lidahnya memasuki rongga mulutku. Benar-benas sangat panas dan membakar diriku. Ini yang aku rindukan dari suamiku tercinta. Dan ia masih tetap panas seperti dulu.

            “Aku menginginkanmu, sayang?” ucapnya dengan nafas yang mulai terbata-bata.
            “Ya, aku juga sangat menginginkanmu mala mini, Kyle.”
            “Kau tahu, apapun yang terjadi selama ini aku akan tetap mencintaimu. Kau milikku, Izzie meskipun seandainya kau tidak bisa memberikanku keturunan. Aku benar-benar tidak peduli, Izzie.”

            Deg…!!! Kata-katanya benar-benar menusuk hatiku. Anak, bagaimana jika aku tidak bisa memiliki anak? Bagaimana jika aku tidak bisa memberikan Kyle keturunan. Ya Tuhan, ini sangat sangat membuatku takut. Aku langsung melepaskan diri dari ciumannya. Tiba-tiba saja semua gairah yang ada dalam diriku padam.

            “Kau kenapa, sayang?” tanyanya keheranan.
            “Maaf, Kyle, aku tidak bisa, tiba-tiba aku merasa tidak enak badan. Bisakah jika kita langsung tidur saja?”
            “Baiklah, jika kau yang meminta. Sebaiknya kita memang beristirahat saja, besok kau sudah mulai kembali bekerja.”

            Aku merasakan perubahan sikapnya yang menjadi dingin. Maafkan aku Kyle, tapi aku tidak bisa melakukannya dengan perasaan tertekan seperti ini. Aku benar-benar tidak bisa.


            Keesokkkan harinya, kami tetap pergi ke kantor bersama-sama. Namun aku merasakan sikap Kyle yang tidak seperti biasanya. Ya Tuhan, maafkan aku karena telah mengecewakan suamiku.

            Di kantor aku memulai kembali pekerjaanku yang sempat tertunda. Dan keadaan kali ini benar-benar terasa seperti seorang atasan dan asistennya. Tak ada candanya lagi di tengah-tengah pekerjaan kami. Dan aku begitu merindukannya.

            “Sir, saya harus mencetak brosur-brosur ini dulu. Permisi.”
            “Pergilah.” Jawabnya singkat.

            Tuhan, itu sangat sangat menyakitkan. Kata-katanya benar-benar sangat dingin. Hatiku jadi semakin sakit di buatnya. Rasanya aku ingin menangis dan berteriak tapi itu tidak mungkin aku lakukan.

            Akhirnya aku melangkahkan kakiku menuju ketempat percetakan yang berada tak jau dari kantorku. Aku berjalan menuju tempat percetakan dengan pikiran yang agak kacau.

            Ketika semua brosur itu telah selesai di cetak akku bergegas untuk kembali ke kantorku. Tiba-tiba saja sebuah tangan menyergap lenganku. Ternyata orang itu adalah Edward.

            “Kau, lepaskan tanganmu dariku, Ed?” aku meronta dan berusaha untuk melepaskan pegangannya. Tapi tenagangya lebih besar.
            “Tidak, Izzie, aku ingin mengajakmu pergi. Aku harus berbicara denganmu.”
            “Tidak, aku sedang bekerja. Dan aku tak ingin membicarakan apapun denganmu, Ed. Lepaskan aku sekarang juga,” ucapku setengah berteriak.
            “Tidak akan. Aku tidak akan pernah melepaskanmu.”

            Tiba-tiba ada sebuah suara dari belakangku.
           
            “Sebaiknya kau lepaskan tangannya, jika kau tidak ingin babak belur.”
            Aku melihat kearah belakangku, ternyata itu adalah suara Eric Dill. “Mr. Dill…” ucapkku penuh dengan kelegaan.
            “Siapa kau? Jangan ikut campur dengan urusanku.” Cerca Edward.
            “Tentu saja akan menjadi urusanku, jika kau tidak segera melepaskan tangannya.”
            Akhirnya Edward melepaskan lenganku, lalu pergi sambil mengumpat tidak jelas.

            “Kau tidak apa-apa Miss Williams?” tanyanya dengan sorot mata yang khawatir.
            “Aku tidak apa-apa, terima kasih sudah menolongku Mr. Dill.”
            “Aku akan menolongmu jika lelaki itu kembali menganggumu. Memangnya siapa lelaki itu jika aku boleh tahu?”
            “Ah, dia hanya mantan kekasihku yang memaksa ingin kembali lagi. Saya harus segera kemballi, Mr. Dickherber pasti sudah menunggu. Permisi Mr. Dill.”Pamitku.
            “Tunggu Izzie, aku akan datang menemui nanti pada saat makan siang.”
           
            Aku hanya bisa tersenyum tak tahu harus menjawab apa. Aku buru-buru masuk kedalam kantor dan menuju ke ruanganku dengan tergesa=gesa. Dan ketika sampai aku medapati Kyle sedang menopang kedua tangannya dengan ekspresi yang menyeramkan.

            “Darimana saja kau Miss Williams?”
            “Maaf, tadi ada sedikit masalah pada mesin cetaknya,” maafkan aku sudah berbohong padamu Kyle.
            “Lain kali aku takkan mentolelirnya Miss Williams. Sekarang kembalilah ke mejamu dan selesaikan semua pekerjaanmu. Karena aku harus pergi menemui salah satu rekan bisnisku. Dan mungkin aku akan makan siang di luar jadi kau tak perlu menungguku.”
            “Baiklah, saya mengerti.” Jawabku singkat.

            Lalu Kyle pergi dan tinggalah aku di ruangan yang luas ini seorang diri. Ya Tuhan, kesalahan apa lagi yang sudah aku perbuat? Mengapa sikapnya menjadi seperti itu, aku benar-benar tak mengerti dengan semua ini.

            Tanpa terasa air mataku sudah membasahi kedua pipiku. Aku menangis terisak di ruangan itu sambil melanjutkan kembali semua pekerjaanku. Ketika jam makan siang tiba aku bermaksud akan pergi mencari makan. Tapi ternyata Eric Dill sudah menungguku di depan kantor. Ya Tuhan, bagaimana jika Kyle melihat ini?

            “Hai Miss Williams, bagaimana jika kita pergi makan siang bersama? Kebetulan aku butuh teman untuk makan siang dan bertemu dengan sepupuku.”
            “Maaf Mr. Dill saya tidak bisa. Karena saya harus segera kembali ke kantor karena Mr. Dickherber sedang tidak ada di tempat.”
            “Hanya sebentar saja. Aku mohom Miss Williams hanya setengah jam saja?”
            Aku berpikir sejenak lalu menerima ajakan makan siang dari Eric. “Baiklah Mr. Dill hanya tiga puluh menit saja.”

            Wajahnya langsung berseri ketika mendengar persetujuan dariku. Lalu kami pergi menggunakan mobilnya menuju kesebuah kedai kopi yang tak jauh dari kantorku. Ketika sampai disana Eric langsung mengajakku keseduah meja dan sudah ada seseorang yang menunggu di sana.

            “Hey, sudah lama menunggu?” sapa Eric pada seorang wanita yang sedang duduk di situ.
            Dan aku langsung terkejut ketika mengetahui bahwa wanita itu adalah Amanda, calon kakak iparku. “Amanda… sedang apa kau ada disini?” tanyaku.
            “Ah, Izzie, sayang, apa kabar kau terlihat sehat tapi agak sedikit kacau. Apa kau baik-baik saja?”
            “Aku bohong kalau bilang baik-baik saja. Bagaimana keadaan kakak?”
            “Dia baik, Izzie.”

4 komentar:

  1. Kyle sih, blg soal keturunan sm Izzie yg lg sensitif.
    tapi seharusnya Izzie yg bersikap dingin sm kyle. Eh ini malah kebailk yaa.. ckckckckk
    msh sama - sama gengsi bwt minta maaf duluan.

    selebihnya, okke kak..
    lanjutkan :)

    BalasHapus
  2. biasa kan penyakit Kyle yg masih susah di tebak itu sulit bgt ilangnya trus masih suka kambuh lagi tuh..

    mkanya yg harusnya Izzie yg marah malah Kyle yg marah..

    jadi aja Dill dengan leluasa deketin Izzie xD

    BalasHapus
  3. biasa kan penyakit Kyle yg masih susah di tebak itu sulit bgt ilangnya trus masih suka kambuh lagi tuh..

    mkanya yg harusnya Izzie yg marah malah Kyle yg marah..

    jadi aja Dill dengan leluasa deketin Izzie xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. ckckckk..
      harus sama-sama ekstra sabar yaa :)

      trnyata amanda knal sama Dill, pasti tau ya kl Izzie itu istrinya Kyle.

      Hapus