Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 5


Chapter 5

            “Kau tahu Izzie, melihatmu menangis seperti ini dalam pelukanku benar-benar membuatku sangat sakit,” ucapnya sambil membelai rambutku dengan halus.

            Aku melepaskan diri dari pelukan Kyle, “Bisakah aku mendapatkan penjelasan yang jujur tentang semua ini?”

            Mendengar permintaanku itu Kyle hanya menatapku dengan begitu lekat dan tajam. Benar-benar menusuk ke dalam mataku.

            “Izzie, kumohon…”
            “Apalagi Kyle? Mengapa kau tidak mau sedikit saja membuka dirimu padaku? Bertukar pendapat denganku.”
            “Baiklah, aku mengajakmu ke sini karena aku memang ingin membawamu kemari. Aku ingin mengungkapkan perasaanku padamu. Meskipun aku tahu bahwa aku tidak mungkin memilikimu.”
            “Lalu apalagi selain itu? Kau sudah pernah mengatakannya padaku ketika di pantai, Kyle.”
            “Hanya itu Izzie…”                                                    
            “Mengajaku ke pantai, mengacuhkanku, karena kau langsung terdiam ketika berada di sana. Seolah-olah aku tidak ada di sana. Dan kau berada di duniamu sendiri. Kyle, andai saja kau terbuka sedikit saja padaku.”
            “ Aku tak yakin bahwa aku bisa terbuka padamu Izzie. Tapi aku akan berusaha untuk melakukannya untukmu.”
            “Apakah kau sedang memikirkan pacarmu itu?”

            Kyle menatapku lekat lalu mengangguk pelan, dan kembali memandang lurus ke depan.

            “Hidupku benar-benar rumit Izzie, keluargaku berantakan. Dan pacarku selingkuh. Aku seperti orang yang tersesat di tengah gurun pasir yang sangat panas. Tapi di tengah gurun aku menemukan sebuah oase yang bisa menyejukanku, membuatku  kembali bersemangat. Dan itu kamu Izzie, mengapa aku senang sekali  di pantai karena aku bisa benar-benar merasa tenang berada di sana.”
            “Pacarmu selingkuh Kyle? Apa kau yakin?”
            “Iya, tentu saja aku yakin, karena setelah mengantarkanmu pulang aku berniat untuk menemui Jenny. Tapi ketika sampai di depan rumahnya aku melihat Jenny turun dari sebuah mobil bersama seorang pria. Mereka berdua benar-benar terlihat sangat mesra sekali. Dan kau tahu, ini bukan kali pertama Jenny melakukan itu padaku. Dengan pria yang sama.”
            “Benar-benar keterlaluan, lalu kenapa kau hanya diam saja Kyle? Mengapa kau tidak memutuskannya?” tiba-tiba saja aku emosi mendengar itu.
            “Tidak segampang itu memutuskan Jenny, Izzie. Aku sudah berkali-kali memutuskannya tapi ia tidak mau. Bahkan Jenny pernah berusaha untuk memotong urat nadinya dan meminum racun ketika aku memutuskannya.”
             
Aku hanya bisa menganga mendengar semua itu. Benar-benar cewek sialan, rasanya aku ingin menjambak rambutnya itu. Benar-benar keterlaluan. Oh, benar-benar Kyle yang malang. Apa yang harus aku lakukan untukmu Kyle.
           
“Kau tak harus melakukan apapun Izzie, cukup menemaniku saja seperti ini. Karena berada di dekatmu bisa membuatku jauh merasa lebih baik.” Seolah-olah ia bisa membaca apa yang ada di kepalaku.
            “Tapi, kau tidak bisa begini terus Kyle. Jenny harus di beri pelajaran.”
           
Kyle tersenyum mendengar ucapanku, mungkin ia menganggap ucapanku sangat lucu. “Apa yang kau lakukan jika semua ini terjadi pada hubunganmu dan Ed, Izzie?”
           
Jleebbb…!!! Pertanyaannya langsung menikam ulu hatiku. Sehingga rasanya aku ingin muntah mendengar pertanyaannya itu.
           
“Emmm, entahlah, aku belum pernah merasakannya. Jujur, hal itu memang sedang menghantui pikiranku saat ini. Aku tak tahu apa yang aku lakukan jika hal itu benar-benar terjadi padaku Kyle. Mungkin aku akan sangat hancur sekali.”
             “Izzie, jangan bilang kalau Ed itu pacar pertamamu?”
            “Dia memang pacar pertamaku Kyle, kau bisa menanyakannya pada kakakku.”
            “Aku percaya padamu Izzie. Dan aku akan menghajar Ed kalau sampai dia benar-benar membuatmu menangis.”
           
Aku menatap matanya lekat-lekat. Oh Tuhan, ada apa dengan lelaki tampan ini? Ternyata hidupnya benar-benar kacau. Aku ingin membuat hidupmu kembali nmenjadi baik Kyle, tapi aku bingung harus memulainya dari mana.
           
“Berhenti menatapku seperti itu Izzie?” ucapnya dengan wajah yang memerah.
            “Apa ada yang salah?”
            “Iya, tatapanmu membuat gila Izzie, membuatku ingin melakukan ini…”
           
Tiba-tiba saja bibirnya mengunci bibirku. Aku hanya mematung, tubuhku terasa kaku tapi aku bisa merasakan aliran darahku mengalir cepat dan detak jantungku yang sangat kencang. Ya Tuhan, ia menciumku!! Lalu perasaan apa ini?
           
Kyle melepaskan ciumannya, lalu menundukkan kepalanya, “Maafkan aku Izzie. Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku.”
           
Dan aku masih mematung, mencoba mengembalikan kesadaranku yang sedang terbang melayang-layang di udara. Berusaha untuk mengingat apa yang baru saja terjadi di antara kami berdua.
           
“Izzie…”
            “Aku… Aku baik-baik saja. Hey, apa kau tidak merasa lapar? Jujur saja aku merasa sangat lapar,” ucapku sambil berusaha tetap tenang dan tidak gugup.
            “Ya, aku juga sangat lapar. Ayo kita pergi mencari sesuatu yang lezat.”
           
Kyle berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Dengan gugup aku menggenggap tangannya dan berdiri. Lalu kami pergi mencari tempat makan. Kamipun makan di sebuah restoran, lalu Kyle mengantarkanku pulang. Tiba-tiba ada perasaan tak ingin berpisah dengannya. Sialan, rupanya aku mulai suka pada lelaki aneh ini. Kami sampai sebelum waktu makan malam.
           
 “Apa kau mau mampir?”
            “Tidak terima kasih, aku tidak mau menimbulkan masalah untukmu Izzie.”
            “Oke, kalau begitu  terima kasih sudah mengantarku dan mengajaku ketempat yang sangat indah”
            “Aku akan membawamu lagi ke sana.”
            “Kyle, apa kau sudah merasa lebih baik?
            “Ya, aku jauh lebih baik. Terima kasih Izzie.” Ia tersenyum penuh arti.
            “Syukurlah, kalau begitu aku masuk dulu. Kau hati-hati di jalan.”
            “Tentu saja, karena aku tidak ingin membuatmu menangis Izzie.”
            “Bye.” Ucapku sambil turun dari mobilnya.
           
Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya melaju pergi. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Lalu mengeluarkan ponselku. Aku hanya bisa menarik napas kecewa, karena Ed sama sekali belum memberiku kabar.
           
“Hai, adikku sayang, darimana? Jam segini baru pulang?”
            “Kak Tom sedang apa di sini?”
            “Hey, ini masih tempat tinggalku. Dan aku bisa pulang kemari kapan saja.”
            “Hey, sudah-sudah, kalian ini sudah besar masih saja bertengkar.” Tegur Dad.
            “Izzie, sayang, ayo duduk . Ada yang mau kami sampaikan.” Pinta Mom.
           
Aku mengernyitkan kening mendengar ucapan Mom. Hari ini kejutan apalagi yang akan aku terima lagi?
           
“Begini, Izzie. Lusa Dad dan Mom harus segera berangkat ke Swiss.”
            “Lalu…?” tanyaku  sambil menatap Dad.
            “Mulai besok kau akan tinggal di asrama bersama Tom.” Ucap Mom.
            “Apa? Tapi, kenapa ? Bukankah ini bukan pertama kalinya kalian pergi jauh.?”
            “Benar, sayang, tapi kali ini kami akan pergi dalam jangka waktu yang sangat lama sekali. Kami tidak mungkin membiarkanmu tinggal sendirian di rumah. Dan jalan satu-satunya adalah kau harus tinggal di asrama bersama Tom. Dia akan lebih mudah mengawasimu, kebetulan ada kamar kosong di sebelah kamar kakakkmu.” Jelas Dad.
            “Benar Izzie, jadi aku akan lebih mudah mengawasimu.” Ucapnya sambil mengedipkan mata padaku.
           
Bagaimana Kak Tom bisa mengawasiku? Sudah dua kali ia meninggalkanku berduaan dengan Kyle, dan sekarang aku harus pindah ke asrama? Itu artinya aku akan bertemu dengan Kyle setiap hari.
           
“Mulai besok kau sudah tinggal di sana. Dad sudah menyuruh orang untuk membersihkan dan membereskan barang-barangmu di sana.”
            “Ya sudah, kalau memang harus seperti itu. Aku mau ke kamar, hari ini sangat lelah sekali.”
            “Istirahatlah, kau terlihat lelah.” Ucap Mom.
           
Dengan langkah gontai aku mengarahkan kakiku menuju ke kamar. Aku langsung menjatuhkan badanku ke atas tempat tidur. Pikiranku benar-benar kacau hari ini. Lebih baik aku menelepon Ed saja. Aku mengeluarkan ponsel dari tasku lalu memencet nomor ponsel Ed. Ia tidak langsung mengangkat teleponnya. Tidak biasa. Sudah tiga kali aku menghubunginya, tapi ia tidak menjawab. Dan akhirnya ia menjawab teleponku setelah aku menghubunginya yang ke empat kali.
           
“Edward di sini.”
            “Oh, Ed, syukurlah, akhirnya kau mengangkat teleponnya.”
            “Hai, Izzie. Senangnya kau menelepon. Aku sangat merindukanmu.”
            “Aku juga, Ed, kau kemana saja? Kenapa tidak menghubungiku?”
            “Maafkan aku Izzie, aku sedang berada di Seattle.”
            “Ed, mengapa sangat ramai sekali? Kau sedang berada di mana?”
            “Menghadiri ulang tahun teman.”
            “Oh, kapan kau kembali ke New York?”
            “Besok aku sudah ada di New York. Dan aku akan menjemputmu di kampus. Sudah dulu, ya. Selamat malam,” Ed menutup teleponnya.
           
Bagus sekali ia menutup teleponnya begitu saja. Ini benar-benar bukan seperti Edward  ku yang dulu. Tuhan, semoga saja semua ketakutanku tidak terjadi. Tiba-tiba suara Kak Tom menganggetkanku.
           
“Izzie, bolehkah aku masuk?”
            “Ya, masuklah.”
           
Kak Tom masuk dan langsung duduk di atas tempat tidurku. Matanya yang besar menatapku sambil menyelidik.
           
“Kau kenapa? Wajahmu sangat kacau sekali, lalu darimana kau?”
            “Aku rasa kau tahu aku pergi kemana dan bersama siapa, Kak.”
            “Kau pergi bersama Kyle? Kemana?”
            “Kak, kau sengaja ya, mempertemukan aku dengan Kyle?”
            “Tidak secara langsung Izzie, karena dia memang sudah menyukaimu sejak lama. Hanya saja kau pacaran dengan ‘si brengsek’ itu.”
            “Namanya Edward , Kak,” ucapkku sambil memelototinya.
            “Iya, terserahlah. Aku tak peduli, karena buatku dia itu cowok yang brengsek.”    
            “Kak, sampai kapan kau mau menentang hubunganku dengan Ed? Kami sudah pacaran selama dua tahun, apa itu belum cukup menyakinkanmu?”
            “Sampai kapanpun belum cukup Izzie, aku tidak akan menyetujui hubunganmu dengannya. Kau adikku satu-satunya, aku tidak ingin kau terluka Izzie.”
            “Kak, Edward tidak pernah menyakitiku.”
            “Belum Izzie, dan aku yakin ‘si brengsek’ itu akan menyakitimu.”
            “Dan apakah kau ingin aku berpacaran dengan Kyle?”
            “Tentu saja tidak. Karena aku tahu Kyle juga sudah punya pacar. Kalau sekarang kalian mulai dekat, berarti memang sudah takdir. Tidurlah, aku sedang tidak bersemangat untuk berdebat denganmu. Kau terlihat sangat kelelahan. Selamat malam.” Ucapnya lalu keluar dari kamarku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar