Chapter
5
“Kau tahu Izzie, melihatmu menangis
seperti ini dalam pelukanku benar-benar membuatku sangat sakit,” ucapnya sambil
membelai rambutku dengan halus.
Aku melepaskan diri dari pelukan
Kyle, “Bisakah aku mendapatkan penjelasan yang jujur tentang semua ini?”
Mendengar permintaanku itu Kyle
hanya menatapku dengan begitu lekat dan tajam. Benar-benar menusuk ke dalam
mataku.
“Izzie, kumohon…”
“Apalagi Kyle? Mengapa kau tidak mau
sedikit saja membuka dirimu padaku? Bertukar pendapat denganku.”
“Baiklah, aku mengajakmu ke sini
karena aku memang ingin membawamu kemari. Aku ingin mengungkapkan perasaanku
padamu. Meskipun aku tahu bahwa aku tidak mungkin memilikimu.”
“Lalu
apalagi selain itu? Kau sudah pernah mengatakannya padaku ketika di pantai,
Kyle.”
“Hanya
itu Izzie…”
“Mengajaku ke pantai, mengacuhkanku,
karena kau langsung terdiam ketika berada di sana. Seolah-olah aku tidak ada di
sana. Dan kau berada di duniamu sendiri. Kyle, andai saja kau terbuka sedikit saja
padaku.”
“ Aku tak yakin bahwa aku bisa
terbuka padamu Izzie. Tapi aku akan berusaha untuk melakukannya untukmu.”
“Apakah kau sedang memikirkan
pacarmu itu?”
Kyle menatapku lekat lalu mengangguk
pelan, dan kembali memandang lurus ke depan.
“Hidupku benar-benar rumit Izzie,
keluargaku berantakan. Dan pacarku selingkuh. Aku seperti orang yang tersesat
di tengah gurun pasir yang sangat panas. Tapi di tengah gurun aku menemukan
sebuah oase yang bisa menyejukanku, membuatku
kembali bersemangat. Dan itu kamu Izzie, mengapa aku senang sekali di pantai karena aku bisa benar-benar merasa
tenang berada di sana.”
“Pacarmu selingkuh Kyle? Apa kau
yakin?”
“Iya, tentu saja aku yakin, karena
setelah mengantarkanmu pulang aku berniat untuk menemui Jenny. Tapi ketika
sampai di depan rumahnya aku melihat Jenny turun dari sebuah mobil bersama
seorang pria. Mereka berdua benar-benar terlihat sangat mesra sekali. Dan kau
tahu, ini bukan kali pertama Jenny melakukan itu padaku. Dengan pria yang sama.”
“Benar-benar keterlaluan, lalu
kenapa kau hanya diam saja Kyle? Mengapa kau tidak memutuskannya?” tiba-tiba
saja aku emosi mendengar itu.
“Tidak segampang itu memutuskan
Jenny, Izzie. Aku sudah berkali-kali memutuskannya tapi ia tidak mau. Bahkan
Jenny pernah berusaha untuk memotong urat nadinya dan meminum racun ketika aku
memutuskannya.”
Aku hanya bisa menganga mendengar semua itu. Benar-benar cewek
sialan, rasanya aku ingin menjambak rambutnya itu. Benar-benar keterlaluan. Oh,
benar-benar Kyle yang malang. Apa yang harus aku lakukan untukmu Kyle.
“Kau tak harus melakukan apapun Izzie, cukup menemaniku saja seperti
ini. Karena berada di dekatmu bisa membuatku jauh merasa lebih baik.” Seolah-olah
ia bisa membaca apa yang ada di kepalaku.
“Tapi, kau tidak bisa begini terus
Kyle. Jenny harus di beri pelajaran.”
Kyle tersenyum mendengar ucapanku, mungkin ia menganggap ucapanku
sangat lucu. “Apa yang kau lakukan jika semua ini terjadi pada hubunganmu dan
Ed, Izzie?”
Jleebbb…!!! Pertanyaannya langsung menikam ulu hatiku. Sehingga
rasanya aku ingin muntah mendengar pertanyaannya itu.
“Emmm, entahlah, aku belum pernah merasakannya. Jujur, hal itu
memang sedang menghantui pikiranku saat ini. Aku tak tahu apa yang aku lakukan
jika hal itu benar-benar terjadi padaku Kyle. Mungkin aku akan sangat hancur
sekali.”
“Izzie, jangan bilang kalau Ed itu pacar
pertamamu?”
“Dia memang pacar pertamaku Kyle,
kau bisa menanyakannya pada kakakku.”
“Aku percaya padamu Izzie. Dan aku
akan menghajar Ed kalau sampai dia benar-benar membuatmu menangis.”
Aku menatap matanya lekat-lekat. Oh Tuhan, ada apa dengan lelaki
tampan ini? Ternyata hidupnya benar-benar kacau. Aku ingin membuat hidupmu
kembali nmenjadi baik Kyle, tapi aku bingung harus memulainya dari mana.
“Berhenti menatapku seperti itu Izzie?” ucapnya dengan wajah yang
memerah.
“Apa ada yang salah?”
“Iya, tatapanmu membuat gila Izzie,
membuatku ingin melakukan ini…”
Tiba-tiba saja bibirnya mengunci bibirku. Aku hanya mematung,
tubuhku terasa kaku tapi aku bisa merasakan aliran darahku mengalir cepat dan
detak jantungku yang sangat kencang. Ya Tuhan, ia menciumku!! Lalu perasaan apa
ini?
Kyle melepaskan ciumannya, lalu menundukkan kepalanya, “Maafkan aku
Izzie. Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku.”
Dan aku masih mematung, mencoba mengembalikan kesadaranku yang
sedang terbang melayang-layang di udara. Berusaha untuk mengingat apa yang baru
saja terjadi di antara kami berdua.
“Izzie…”
“Aku… Aku baik-baik saja. Hey, apa
kau tidak merasa lapar? Jujur saja aku merasa sangat lapar,” ucapku sambil
berusaha tetap tenang dan tidak gugup.
“Ya, aku juga sangat lapar. Ayo kita
pergi mencari sesuatu yang lezat.”
Kyle berdiri dan mengulurkan tangannya padaku. Dengan gugup aku
menggenggap tangannya dan berdiri. Lalu kami pergi mencari tempat makan. Kamipun
makan di sebuah restoran, lalu Kyle mengantarkanku pulang. Tiba-tiba ada
perasaan tak ingin berpisah dengannya. Sialan, rupanya aku mulai suka pada
lelaki aneh ini. Kami sampai sebelum waktu makan malam.
“Apa kau mau mampir?”
“Tidak terima kasih, aku tidak mau
menimbulkan masalah untukmu Izzie.”
“Oke, kalau begitu terima kasih sudah mengantarku dan mengajaku
ketempat yang sangat indah”
“Aku
akan membawamu lagi ke sana.”
“Kyle, apa kau sudah merasa lebih
baik?
“Ya, aku jauh lebih baik. Terima
kasih Izzie.” Ia tersenyum penuh arti.
“Syukurlah, kalau begitu aku masuk
dulu. Kau hati-hati di jalan.”
“Tentu saja, karena aku tidak ingin
membuatmu menangis Izzie.”
“Bye.” Ucapku sambil turun dari
mobilnya.
Ia melambaikan tangan sebelum akhirnya melaju pergi. Aku melangkah
masuk ke dalam rumah. Lalu mengeluarkan ponselku. Aku hanya bisa menarik napas
kecewa, karena Ed sama sekali belum memberiku kabar.
“Hai, adikku sayang, darimana? Jam segini baru pulang?”
“Kak Tom sedang apa di sini?”
“Hey, ini masih tempat tinggalku.
Dan aku bisa pulang kemari kapan saja.”
“Hey, sudah-sudah, kalian ini sudah
besar masih saja bertengkar.” Tegur Dad.
“Izzie, sayang, ayo duduk . Ada yang
mau kami sampaikan.” Pinta Mom.
Aku mengernyitkan kening mendengar ucapan Mom. Hari ini kejutan
apalagi yang akan aku terima lagi?
“Begini, Izzie. Lusa Dad dan Mom harus segera berangkat ke Swiss.”
“Lalu…?” tanyaku sambil menatap Dad.
“Mulai besok kau akan tinggal di
asrama bersama Tom.” Ucap Mom.
“Apa? Tapi, kenapa ? Bukankah ini
bukan pertama kalinya kalian pergi jauh.?”
“Benar, sayang, tapi kali ini kami
akan pergi dalam jangka waktu yang sangat lama sekali. Kami tidak mungkin
membiarkanmu tinggal sendirian di rumah. Dan jalan satu-satunya adalah kau
harus tinggal di asrama bersama Tom. Dia akan lebih mudah mengawasimu,
kebetulan ada kamar kosong di sebelah kamar kakakkmu.” Jelas Dad.
“Benar Izzie, jadi aku akan lebih
mudah mengawasimu.” Ucapnya sambil mengedipkan mata padaku.
Bagaimana Kak Tom bisa mengawasiku? Sudah dua kali ia meninggalkanku
berduaan dengan Kyle, dan sekarang aku harus pindah ke asrama? Itu artinya aku
akan bertemu dengan Kyle setiap hari.
“Mulai besok kau sudah tinggal di sana. Dad sudah menyuruh orang
untuk membersihkan dan membereskan barang-barangmu di sana.”
“Ya sudah, kalau memang harus
seperti itu. Aku mau ke kamar, hari ini sangat lelah sekali.”
“Istirahatlah, kau terlihat lelah.”
Ucap Mom.
Dengan langkah gontai aku mengarahkan kakiku menuju ke kamar. Aku
langsung menjatuhkan badanku ke atas tempat tidur. Pikiranku benar-benar kacau
hari ini. Lebih baik aku menelepon Ed saja. Aku mengeluarkan ponsel dari tasku
lalu memencet nomor ponsel Ed. Ia tidak langsung mengangkat teleponnya. Tidak
biasa. Sudah tiga kali aku menghubunginya, tapi ia tidak menjawab. Dan akhirnya
ia menjawab teleponku setelah aku menghubunginya yang ke empat kali.
“Edward di sini.”
“Oh, Ed, syukurlah, akhirnya kau
mengangkat teleponnya.”
“Hai, Izzie. Senangnya kau
menelepon. Aku sangat merindukanmu.”
“Aku juga, Ed, kau kemana saja?
Kenapa tidak menghubungiku?”
“Maafkan aku Izzie, aku sedang
berada di Seattle.”
“Ed, mengapa sangat ramai sekali?
Kau sedang berada di mana?”
“Menghadiri ulang tahun teman.”
“Oh, kapan kau kembali ke New York?”
“Besok aku sudah ada di New York.
Dan aku akan menjemputmu di kampus. Sudah dulu, ya. Selamat malam,” Ed menutup
teleponnya.
Bagus sekali ia menutup teleponnya begitu saja. Ini benar-benar
bukan seperti Edward ku yang dulu.
Tuhan, semoga saja semua ketakutanku tidak terjadi. Tiba-tiba suara Kak Tom
menganggetkanku.
“Izzie, bolehkah aku masuk?”
“Ya, masuklah.”
Kak Tom masuk dan langsung duduk di atas tempat tidurku. Matanya
yang besar menatapku sambil menyelidik.
“Kau kenapa? Wajahmu sangat kacau sekali, lalu darimana kau?”
“Aku rasa kau tahu aku pergi kemana
dan bersama siapa, Kak.”
“Kau pergi bersama Kyle? Kemana?”
“Kak, kau sengaja ya, mempertemukan
aku dengan Kyle?”
“Tidak secara langsung Izzie, karena
dia memang sudah menyukaimu sejak lama. Hanya saja kau pacaran dengan ‘si
brengsek’ itu.”
“Namanya Edward , Kak,” ucapkku
sambil memelototinya.
“Iya, terserahlah. Aku tak peduli,
karena buatku dia itu cowok yang brengsek.”
“Kak, sampai kapan kau mau menentang
hubunganku dengan Ed? Kami sudah pacaran selama dua tahun, apa itu belum cukup
menyakinkanmu?”
“Sampai kapanpun belum cukup Izzie,
aku tidak akan menyetujui hubunganmu dengannya. Kau adikku satu-satunya, aku
tidak ingin kau terluka Izzie.”
“Kak, Edward tidak pernah menyakitiku.”
“Belum Izzie, dan aku yakin ‘si
brengsek’ itu akan menyakitimu.”
“Dan apakah kau ingin aku berpacaran
dengan Kyle?”
“Tentu saja tidak. Karena aku tahu
Kyle juga sudah punya pacar. Kalau sekarang kalian mulai dekat, berarti memang
sudah takdir. Tidurlah, aku sedang tidak bersemangat untuk berdebat denganmu.
Kau terlihat sangat kelelahan. Selamat malam.” Ucapnya lalu keluar dari
kamarku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar