Senin, 22 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 20 ( The Ending )


Chapter 20
           
            Aku tahu siapa yang di maksud oleh Ed dengan sebutan lelaki itu. “Bukan urusanmu, Ed.” Ucapku sambil hendak berlalu, tapi ia menahanku. “Lepaskan tanganku, Ed.”
            “Tidak, Izzie, aku tidak akan melepaskanmu. Kau ingin tahu kenapa aku ada disini? Karena aku ingin kau kembali menjadi milikku lagi.”
            “Jangan mimpi, Ed. Aku sudah bersama Kyle sekarang dank au takkan bisa memisahkan aku dengannya. Sekarang lepaskan tanganku.”
            “Terserah kau mau mengatakan apa, yang jelas aku akan merebutmu kembali dari lelaki itu.” Ed lalu melepaskan tangnku, “Sampai bertemu lagi, Izzie-ku yang cantik.” Uccapnya sambil membelai wajahku.
            Tapi aku menepisnya, “SIngkirkan tangan kotormu itu dariku, Ed. Dan jangan sekali-kali kau berani menyentuhku.”

            Aku langsung berlari ke dalam kampusku untuk menghindarinya. Samar-samar aku mendengar Ed tertawa di belakangku. Dasar Ed sialan, mau apa dia muncul? Enak saja di menyentuh wajahku seenaknya. Aku ingin tahu bagaimana ekspresinya jika tahu bahwa aku sekarang sudah menjadi istri Kyle.

            Sejak pertemuanku dengan Edward tadi pagi di depan kampus. Pikiranku jadi benar-benar kacau. Aku merasa pasti aka nada sesuatu lagi. Ya Tuhan, apapun yang akan terjadi nanti aku mohon kuatkanlah aku dan Kyle agar bisa melewati itu semua.

***

            Tepat pukul satu siang aku sampai di kantor suamiku tercinta. Ketika keluar dari dalam lift aku berpapasan dengan Kyle yang baru saja selesai menghadiri pertemuan. Lalu kami bersama-sama menuju ke ruangan Kyle.

            “Selamat siang Mr. Dickherber. Siang Miss Williams,” sapa Lisa sekretarisnya Kyle.
            “Bukan Miss Williams Lisa, mulai sekarang kau harus memanggilnya Mrs. Dickherber, ingat itu.” Kyle memberitahu.
            “Baik, Sir.” Jawab Lisa sambil membungkung.

            Aku tertawa kecil melihat Kyle berkata seperti itu pada sekretarisnya. Benar-benar lucu sekali suamiku ini.

            “Hey, mengapa kau memarahi Lisa? Kasihan dia.” Ucapku ketika kami sudah berada di dalam.
            “Aku tidak memarahinya, sayang. Aku hanya memberitahunya bahwa sekarang kau ini istriku.”
            “Wah, sepertinya akan susah sekali, ya aku mengaku kalau aku ini masih single.”
            Mendengar perkataanku Kyle langsung memelototiku, “Jangan coba-coba sayang, aku takkan membiarkan orang lain menganggap bahwa kau belum menikah dan masih berpacaran denganku. Dengar kau ini sekaranga istriku.”
            “Ataga, Kyle, aku hanya bercanda, mengapa kau jadi emosi? Apa pekerjaanmu baik-baik saja?”
            “Maafkan aku sayang, di ruang pertemuan tadi hampir saja membuatku gila. Maafkan aku, ya.”
            “Iya, aku memaafkanmu. Jadi, kita mau makan siang dimana? Aku sudah sangat lapar sekali.” Ucapku sambil memegangi perutku yang mulai bernyanyi minta diisi.
            “Baiklah, ayo kita berangkat sekarang.”

            Kami berdua pergi keluar untuk makan siang bersama. Sebenarnya aku sangat ingin sekali bercerita tentang pertemuanku dengan Edward tadi pagi. Tapi aku langsung mengurungkan niatku itu. Aku tidak ingin membuat suamiku khawatir apalagi sepertinya ia sedang pusing dengan pekerjaannya.

            Lagipula Ed belum melakukan hal yang macam-macam, jadi aku merasa belum waktunya untuk memberitahu Kyle, bahwa Edward saat ini ada di New York.

            Selesai makan siang, Kyle mengantarkanku pulang ke apartemen sedangkan dia kembali ke kantor.
            “Kau hati-hati di rumah, ya. Kunci pintu dan jangan sembarang membuka pintu. Oke.”
            “Iya, aku mengerti. Aku hanya akan pergi ke swalayan terdekat untuk bebelanja bahan-bahan makanan untuk nanti malam.”
            “Kau akan keluar denganku, Izzie. Tunggulah aku pulang.”
            “Kyle, aku hanya sebentar. Lagipula aku akan pergi ke swalayan yang ada di sebrang, tidak akan jauh.”
            “Aku takut kau kenapa-napa, sayang.”
            “Kyle, aku akan baik-baik saja, aku juga akan berhati-hati. Percayalah padaku.” ucapku sambil mengecup lembut bibirnya.
            “Baiklah kalau begitu. Kau harus berhati-hati, oke.”
            “Iya, aku berjanji. Sekarang kembalilah ke kantor, agar semua pekerjaanmu cepat selesai.”
            “Baiklah, sayang kalau begitu aku pergi dulu, ya.”
            “Hati-hati di jalan, jangan mengebut.”
           
            Kyle mengangguk lalu mencium bibirku beberapa lama dan pergi meninggalkanku sendiri di apartemen. Aku benar-benar merasa kesepian di apartemen seluas ini, kebetulan Nanny Kelly sedang cuti jadi selama dua minggu kedepan ia tidak akan datang.

            Hal yang pertama aku lakukan adalah menyimpan tas dan buku-bukuku di kamar lalu pergi mandi. Tentu saja aku sudah mengunci pintu depan, sesuai dengan perintah suamiku tersayang.

            Setelah mandi dan berpakaian aku menonton TV sambil duduk di sofa mengeringkan rambutku yang basah. Tiba-tiba ponselku berdengung, ternyata pesan dari Amanda. Ia memberitahu bahwa akan sampai di apartemenku lima menit lagi.

***
            Lalu aku pergi ke swalayan di temani oleh calon kakak iparku itu. Aku membeli cukup banyak bahan makanan. Karena persediaan di dalam kulkas sudah mulai menipis.

            Setelah membayar semua belanjaan di kasir aku dan Manda berjalan keluar hendak menyebrang kembali ke apartemenku. Tiba-tiba Edward muncul, kemunculannya hampir saja membuatku menjatuhkan semua belanjaan yang sedang kupegang.
           
            “Jadi kau tinggal bersama lelaku itu, Izzie?” ia berkata dengan nada yang jijik padaku.
            “Bukan urusanmu.” Jawabku sengit.
            “Aku tak mengira bahwa kau menjadi wanita yang murahan seperti ini.”
            “Apa maksudmu perkataanmu itu, Ed?” sentakku.
            “Dulu, saat bersamaku kau sangat susah sekali untuk kucium. Tapi sekarang mengapa dengan mudahnya kau mau tinggal dengan lelaki itu. Aku yakin bahwa kau sudah tidur dengannya dank au sudah tidak perawan lagi.”

            Plakkk….!!! Aku mendaratkan sebuah tamparan dipipi Edward. Kata-katanya benar-benar sudah keterlaluan dan membuatku naik pitam. Bahkan Manda pun marah mendengar kata-kata Edward.

            “Dengar, Edward. Apapun yang aku lakukan saat ini tidak ada urusannya denganmu. Aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan. Jadi kau jangan sekali-kali mencoba untuk menuduhku dan menyebut aku wanita murahan. Bukankah kau sama saja, kau sama busuknya. Aku tahu apa yang sudah kau lakukan dengan Jenny atau mungkin dengan gadis-gadis lainnya.”
            Tiba-tiba Manda mengangkat tangan kananku, “Heh, Edward, lihat cincin di jari manis Izzie ini. Dia dan Kyle sudah terikat, jadi mau Izzie tidur atao bercinta dengan Kyle pun tidak akan ada yang berani melarang mereka berdua.”

            Mata Edward terbelalak melihat cincin yang melingkar di jari manisku itu. Sepertinya ia mulai menebak-nebak cincin apa yang ada di jariku itu.        

            “Kau sudah bertunangan dengan lelaki itu?” tanyanya sambil menatap tajam wajahku.
            “Sayangnya lebih dari itu, Ed. Seminggu yang lalu aku dan Kyle resmi menjadi suami istri.” Jawabku dengan mantap
            “Tidak mungkin, kau pasti bercanda. Aku sangat mencintaimu Izzie, bahkan kau sempat berpacaran denganku selama 2 tahun. Mengapa kau mau menikah dengan lelaki itu, lelaki yang baru kau kenal.”
            “Karena aku sangat sangat mencitai Kyle, Edward. Kau salah, aku sudah lama mengenal Kyle, bahkan ketika kau masih menjadi pacarku. Aku sudah mengenal Kyle. Jadi sekarang pergilah, jangan mengganggu hubunganku dan Kyle.”

            Mendengar penjelasan itu Edward benar-benar sangat kaget. Itu terlihat jelas sekali di wajahnya. Sebelum akhirnya ia berbalik dan pergi dengan taxi yang melintas di depan kami.

            “Izzie, kau tidak apa-apa? Apa perlu kita melaporkannya pada Tom dan Kyle.”
            “Tidak, Manda, aku mohon jangan ceritakan msalah ini pada mereka berdua. Aku yakin Edward tidak akan kembali mengangguku, karena aku telah memberitahunya bahwa aku ini sudah menikah dengan Kyle.”
            “Baiklah kalau begitu. Ayo, kita kembali ke apartemenmu, aku harus segera menemui kakakmu di kantornya.

***

Tiga bulan kemudian…

            Akhirnya aku berhasil menyelesaikan skripsiku. Saat ini aku sedang mengunggu hasil sidangku. Aku berharap mendapatkan nilai-nilai yang memuaskan.          

            Sejak hari itu Edward tidak terlihat lagi, mungkin ia sudah kembali ke Irlandia. Dan aku sangat bersyukur sekali, bahwa Ed sudah tidak ada di New York. Dan Kyle, ia nanggih janji padaku. aku pikir ia sudah lupa dengan perjanjian kami ketika dalam pesawat menuju Venice.

            Saat ini kami sedang merencanakan program untuk mempunyai anak. Aku dan Kyle rutin mengikuti berbagai pemeriksaan. Dan hasilnya menyenangkan, aku dan Kyle di nyatakan dalam keadaan sehat. Dokter juga bilang bahwa tubuhku sudah siap untuk mengalami kehamilan.

            Tak perlu menunggu lama. Karena saat ini janin itu sedang mulai tumbuh dalam tubuhku. Jangan tanya bagaimana ekspresi Kyle ketika mengetahui kehamilanku yang baru berusia empat minggu. Semua keluarga senang sekali mendengar kabar kehamilanku ini. Bahkan Mom dan Dad jadi sering datang berkunjung ke New York.

            Dan Kyle, ia menjadi sangat sangat sangat sangat overprotective. Aku yang semenjak wisuda belum memutuskan untuk bekerja di mana memang lebih memilih untuk diam di rumah mengurus suamiku. Apalagi saat ini aku sedang hamil dan Kyle tidak mengizinkanku untuk bekerja.

            Jadi kerjaanku di rumah hanya menonton TV atau membaca buku. Benar-benar bosan, aku tidak bisa pergi keluar dengan leluasa. Kyle akan mengizinkanku keluar jika Nanny Kelly datang ke apartemen saja.

            Tapi aku sangat menikmatinya. Hidupku ternyata benar-benar berubah sejak bertemu dengan Kyle. ia benar-benar sangat mencintaiku, begitupun aku. Kedua orang tuaku sekarang tinggal di Jerman. Dan bersama Kyle aku seperti menemukan tempatku untuk pulang dan berlindung selama-lamanya.

                                                                                                                                                Tamat

10 komentar:

  1. kenapa aku ngerasa kurang greget yak sama chapter yg trakhir ini (*_ͺ_)

    BalasHapus
  2. Iya terlalu cepet alur ceritanya. Tp overall top bgt palagi bab2 sbelumnya ><

    BalasHapus
  3. Finally happy ever after. I truly love the whole story. Kyle cowo banget ya.... Wah it's really AWESOME! Thanks for posting it xD Pengennya sih berlanjut biar kaya sinetron sampe beratus" episode hihihi. Love it love it love it <3

    BalasHapus
  4. thanks so much :*

    hold on, i will wrote takei me home season two soonnn...

    thanka for enjoying my #wildways imagintion
    <3

    BalasHapus
  5. thanks so much :*

    hold on, i will wrote takei me home season two soonnn...

    thanks for enjoying my #wildways imagintion
    <3

    BalasHapus
  6. Ceritanya simple, tapi semua permasalahan dapet.
    Sifat Kyle yang sulit ditebak selalu buat penasaran, tapi dia lah yang buat cerita cinta Izzie jadi berubah.
    So romantic ^_^

    tapi cerita dibeberapa chapter agak sedikit woww yaa. hehhehe..

    BalasHapus
  7. sttsss yg WOW itu justru tujuannya #eh
    xD

    BalasHapus
  8. bner kta maya sisth,, kurang greget baca yg trakhir..
    mary jane kmnaa?? kogg ga kliatan?
    gmn reaksiny kalo denger izzie sama kyle udah nikah?

    BalasHapus
  9. nah itu dia sist..
    aku masih muter otak ini kurangnya dmna ...

    ckckckckckck

    BalasHapus