Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 9


Chapter 9

            Lalu bibir kami saling terpagut, ciuman yang berbeda dari sebelumnya. Karena kali ini aku benar-benar menikmatinya. Bahkan ketika ciumannya mulai liar, aku tetap membalas dan menikmatinya. Kyle meremas pinggangku lembut, ia mulai menciumi leherku. Dan perasaan yang bergejolak itu muncul kembali. Darahku memanas, dadaku berdetak kencang dan nafasku terengah-engah. Begitupun dengan Kyle, nafasnya sudah benar-benar terengah-engah dan tak terkendali.

            Semakin lama kami berdua semakin liar dan tak terkendali, bahkan Kyle mulai menyentuh payudaraku dan meremasnya dengan lembut. Aku merasakan putingku mengeras, akibat sentuhannya itu. Membuatku semakin tak terkendali.

            “Izzie, sayang, aku sangat mencintaimu dan menginginkanmu, sayang,” ucapnya dengan napas terengah.
            “Oh, Kyle, aku juga sangat mencintaimu dan sangat menginginkanmu juga.”

            Kyle menaikkan tubuhku ke atas pangkuannya, bibirnya tidak pernah sedetikpun lepas dari bibirku. Aku belum pernah merasakan perasaan yang seperti ini ketika masih bersama Ed. Perasaan yang aku rasakan saat ini sangat menggebu-gebu, menunggu sesuatu untuk menyempurnakannya.

            Lalu Kyle memangkuku dan menidurkanku di atas tempat tidurnya. Lalu ia menindih badanku sambil terus menciumi bibir, wajah dan leherku. Sambil sesekali meremas payudaraku. Kulit tubuhku serasa terbakar akibat santuhannya. Sisi liar dalam diriku sepertinya sudah ingin segera keluar. Apakah aku akan mengalami hal yang sudah pernah di alami oleh teman-temanku?

            “Kyle…” panggilku dengan nafas terengah.
            “Ya sayang…” jawabnya dengan suara yang serak dan terengah-engah seperti orang yang marathon.
            “Aku, benar-benar sudah tidak kuat menahannya,” 
            “Aku juga, sayang, aku benar-benar ingin menjadikanmu sebagai milikku sepenuhnya,”
            “Ayolah, kumohon…” pintaku.
            Kyle menggeserkan badannya ke sampingku. “Izzie, apa kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya?”
            “Tidak, Kyle, aku belum pernah melakukannya dengan siapapun.”
            “Tidak, Izzie, aku tidak ingin merusakmu,” ucapnya sambil membelai wajahku.
            “Kumohon, Kyle, tapi aku sangat menginginkannya. Aku mohon Kyle,”

            Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu. Kami berduapun langsung mematung. Takukt kalau kakakku yang mengetuk pintunya.

            “Cepat rapikan rambut dan pakaianmu,” perintahnya.

            Aku buru-buru merapikan rambutku yang berantakan, begitu juga dengan t-shirt yang kupakai. Lalu buru-buru duduk di sofa dan bersikap tenang. Sedangkan Kyle yang sudah merapikan pakaian dan rambutnya pergi membukakan pintu.

            “Akhirnya kau membuka pintu juga. Mengapa sangat lama,” suara kakakku terdengar nyaring.

            Terdengar suara kakakku di luar sana. Ya ampun, bagaimana jika ia bertanya macam-macam jika melihatku di sini. Namun aku segera mengeluarkan ipod milik Kyle dan pura-pura tak mendengarnya.

            “Kau sedang apa sih? Lho, Izzie ternyata ada denganmu, Kyle?” tanya kakakku dengan pandangan menyelidiknya.
            “Iya, Izzie sedang bersamaku. Kami baru saja selesai makan ice cream.”
            “Kau tidak sedang melakukan sesuatu dengan adikku, kan?”
            “Ayolah, Tom, aku dan Izzie hanya makan ice cream bersama lalu berbincang-bincang.”
            “Apakah itu benar Izzie?” tanya Kak Tom
            Tapi karena aku sedang mendengarkan ipod. Aku baru merespon panggilan kakakku setelah ia menepuk bahuku.

            “Hey, Kak, maaf aku tidak tahu kau ada di sini,”ucapku sambil tersenyum.
            “Kau tidak apa-apa, kan?” tanyanya sambil memegang wajahku dengan kedua tangnnya.
            “Aku tidak apa-apa, lepaskan tanganmu dari wajahku,’ bentakku.
            “Maaf, aku pikir Kyle melakukan sesuatu padamu. Lho, bukannya kalian sedang tidak akur, kan?”
            “Sekarang sudah tidak, Tom, kami udah baikkan lagi sekarang.” Jawab Kyle sambil duduk di sampingku.
            “Syukurlah kalau begitu. Aku hanya akan mengambil sesuatu di kamarku. Mengambil benda yang sangat penting sekali. Setelah itu aku akan pergi meninggalkan kalian berdua.” Ucapnya sambil berlalu menuju kamarnya.

            Aku mengikutinya dari belakang karena penasaran. Ternyata kakakku mengambil sebuah kotak dari lacinya.

            “Itu apa, Kak?” tanyaku dengan tiba-tiba.
            “Hah… kau sedang apa disini?” tanya kakakku dengan ekspresi terkejut.
            “Itu apa, kak?” aku mengulangi lagi pertanyaanku lalu merebutnya dari tangan kakakku.
Dan aku sangat terkejut sekali membaca tulisan di kotak itu. Buru-buru aku kembalikan lagi kotak itu padanya. “Apa kau sering melakukannya dengan Manda?”
            “Iya, ah Izzie. Jangan mulai menceramahiku, oke. Karena kami melakukannya dengan aman. Dan kami berdua saling mencintai.” Jelasnya dengan wajah yang sangat merah.
            “Tidak, aku tidak akan mengatakan apa-apa, apalagi sampai menceramahi. Aku hanya ingin tahu, itu saja tidak lebih. Berhati-hatilah.” Kataku sok bijak, padahal aku dan Kyle hampir saja melakukan persetubuhan.
            “Kau yang seharusnya berhati-hati. Ya sudah, aku pergi dulu.”
            “Hey, jangan memakai tempat tidurku. Atau aku akan menyruhmu untuk mencucinya menggunakan tanganmu.” Ucapku sambil menyenggol pinggang kakakku.
            “Iya, bawel.” Ucapnya dengan wajah memerah dan pergi lagi ke kamarku.
            Aku hanya bisa tertawa melihat wajah kakakku itu. Dan Kyle terheran melihatku yang tiba-tiba tertawa.
           
“Sepertinya ada yang lucu?”
            “Hahaha, iya ada lelucon yang sangat lucu.”
            “Aku lebih senang melihatmu seperti ini, Izzie, tertawa dengan lepas dank au semakin terlihat cantik.”
            “Berhenti menggodaku, Kyle,”
            “Tadi di dalam kalian membicarakan apa?” tanyanya penasaran.
            “Dia hanya bilang agar aku berhati-hati padamu.” Jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku.
            “Ah, sialan dia. Sudah mengganggu kita dan tadi dia membicarakan hal-hal yang aneh tentangku.”
            “Kyle, bolehkan aku bertanya sesuatu padamu? Aku harap kau tidak marah dan mau menjawab pertanyaan itu dengan sangat jujur.”
            “Tentang apa? Aku takkan menutupi apapun darimu Izzie.”
            “Apakah kau pernah melakukan hubungan badan? Kalau perah dengan siapa?”
           
Tatapannya berubah menjadi angat dingin, mendengar pertanyaanku itu. Otot-otot rahangnya terlihat mengeras. Namun akhirnya ia mau menjawab pertanyaanku setelag menarik napas dalam-dalam.
           
“Apa kau benar-benar ingin mengetahui yang sebenarnya, Izzie?”
            “Ya, katakanlah padaku,” jawabku yakin.
            “Ya, aku memang pernah melakukannya dengan Jenny.”
           
Mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya perutku langsung terasa sakit, rasanya seperti di hantam oleh sebuah pukulan dengan sangat keras sekali.
           
“Apa kalian sering melakukannya?”
            “Tidak, kami hanya melakukannya dua kali Izzie. Dan dua-duanya terjadi ketika kami dalam keadaan setengah sadar karena mabuk.”
            “Jadi, bukan berdasarkan perasaan suka sama suka?”
            “Tidak, Izzie. Perasaanku padanya berbeda dengan perasaanku padamu.”
            “Oh, aku mengerti.” Ucapku datar.
            “Berhentilah bertanya hal-hal yang tidak penting, Izzie, karena aku tidak mau membicarakan lagi tentang masa laluku dan mantan pacarku.”
            “Maaf, aku memang salah. Mulutku tiba-tiba saja mengeluarkan kata-kata itu.”
            “Tidak, Izzie, kau tidak salah dan aku juga tidak menyalahkanmu. Aku yang harus meminta maaf padamu.”

            Ia lalu mencium bibirku dengan sangat dalam. Lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku, ciumannya benar-benar telah membangunkan kembali hasrat liarku yang tadi tertunda karena kedatangan kakakku. Kulitku serasa di bakar, aku bisa merasakan bahwa napas kami berdua berubah menjadi terengah-engah.

            Ia menciumi leherku, lalu menggigit kupingku lembut. Ia pun segera melancarkan ciumannya menyurusi setiap jengkal tubuhku. Aku merasa perutku mengejang, setiap kali bibirnya mencium tubuhku, di tambah lagi sentuhan tangannya yang lembut meremas kedua payudarakku dengan sangat lembut secara bergantian.

            Hari ini aku akan merasakan tahapan yang  baru dalam hidupku. Sebuah pengalaman yang sama sekali belum pernah aku alami sebelumnya. Dan Kyle akan mengajarkan aku bagaimana caranya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar