Chapter
9
Lalu bibir kami saling terpagut,
ciuman yang berbeda dari sebelumnya. Karena kali ini aku benar-benar
menikmatinya. Bahkan ketika ciumannya mulai liar, aku tetap membalas dan
menikmatinya. Kyle meremas pinggangku lembut, ia mulai menciumi leherku. Dan
perasaan yang bergejolak itu muncul kembali. Darahku memanas, dadaku berdetak
kencang dan nafasku terengah-engah. Begitupun dengan Kyle, nafasnya sudah
benar-benar terengah-engah dan tak terkendali.
Semakin lama kami berdua semakin
liar dan tak terkendali, bahkan Kyle mulai menyentuh payudaraku dan meremasnya
dengan lembut. Aku merasakan putingku mengeras, akibat sentuhannya itu.
Membuatku semakin tak terkendali.
“Izzie, sayang, aku sangat
mencintaimu dan menginginkanmu, sayang,” ucapnya dengan napas terengah.
“Oh, Kyle, aku juga sangat
mencintaimu dan sangat menginginkanmu juga.”
Kyle menaikkan tubuhku ke atas
pangkuannya, bibirnya tidak pernah sedetikpun lepas dari bibirku. Aku belum
pernah merasakan perasaan yang seperti ini ketika masih bersama Ed. Perasaan
yang aku rasakan saat ini sangat menggebu-gebu, menunggu sesuatu untuk
menyempurnakannya.
Lalu Kyle memangkuku dan
menidurkanku di atas tempat tidurnya. Lalu ia menindih badanku sambil terus
menciumi bibir, wajah dan leherku. Sambil sesekali meremas payudaraku. Kulit
tubuhku serasa terbakar akibat santuhannya. Sisi liar dalam diriku sepertinya
sudah ingin segera keluar. Apakah aku akan mengalami hal yang sudah pernah di
alami oleh teman-temanku?
“Kyle…” panggilku dengan nafas
terengah.
“Ya sayang…” jawabnya dengan suara
yang serak dan terengah-engah seperti orang yang marathon.
“Aku, benar-benar sudah tidak kuat
menahannya,”
“Aku juga, sayang, aku benar-benar
ingin menjadikanmu sebagai milikku sepenuhnya,”
“Ayolah, kumohon…” pintaku.
Kyle menggeserkan badannya ke
sampingku. “Izzie, apa kau sudah pernah melakukan ini sebelumnya?”
“Tidak, Kyle, aku belum pernah
melakukannya dengan siapapun.”
“Tidak, Izzie, aku tidak ingin
merusakmu,” ucapnya sambil membelai wajahku.
“Kumohon, Kyle, tapi aku sangat
menginginkannya. Aku mohon Kyle,”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan di
pintu. Kami berduapun langsung mematung. Takukt kalau kakakku yang mengetuk
pintunya.
“Cepat rapikan rambut dan
pakaianmu,” perintahnya.
Aku buru-buru merapikan rambutku
yang berantakan, begitu juga dengan t-shirt yang kupakai. Lalu buru-buru duduk
di sofa dan bersikap tenang. Sedangkan Kyle yang sudah merapikan pakaian dan
rambutnya pergi membukakan pintu.
“Akhirnya kau membuka pintu juga.
Mengapa sangat lama,” suara kakakku terdengar nyaring.
Terdengar suara kakakku di luar sana.
Ya ampun, bagaimana jika ia bertanya macam-macam jika melihatku di sini. Namun
aku segera mengeluarkan ipod milik Kyle dan pura-pura tak mendengarnya.
“Kau
sedang apa sih? Lho, Izzie ternyata ada denganmu, Kyle?” tanya kakakku dengan
pandangan menyelidiknya.
“Iya, Izzie sedang bersamaku. Kami
baru saja selesai makan ice cream.”
“Kau tidak sedang melakukan sesuatu
dengan adikku, kan?”
“Ayolah, Tom, aku dan Izzie hanya
makan ice cream bersama lalu berbincang-bincang.”
“Apakah itu benar Izzie?” tanya Kak
Tom
Tapi karena aku sedang mendengarkan
ipod. Aku baru merespon panggilan kakakku setelah ia menepuk bahuku.
“Hey, Kak, maaf aku tidak tahu kau
ada di sini,”ucapku sambil tersenyum.
“Kau tidak apa-apa, kan?” tanyanya
sambil memegang wajahku dengan kedua tangnnya.
“Aku tidak apa-apa, lepaskan
tanganmu dari wajahku,’ bentakku.
“Maaf, aku pikir Kyle melakukan
sesuatu padamu. Lho, bukannya kalian sedang tidak akur, kan?”
“Sekarang sudah tidak, Tom, kami
udah baikkan lagi sekarang.” Jawab Kyle sambil duduk di sampingku.
“Syukurlah kalau begitu. Aku hanya
akan mengambil sesuatu di kamarku. Mengambil benda yang sangat penting sekali.
Setelah itu aku akan pergi meninggalkan kalian berdua.” Ucapnya sambil berlalu
menuju kamarnya.
Aku mengikutinya dari belakang
karena penasaran. Ternyata kakakku mengambil sebuah kotak dari lacinya.
“Itu apa, Kak?” tanyaku dengan
tiba-tiba.
“Hah… kau sedang apa disini?” tanya
kakakku dengan ekspresi terkejut.
“Itu apa, kak?” aku mengulangi lagi
pertanyaanku lalu merebutnya dari tangan kakakku.
Dan aku sangat terkejut sekali membaca tulisan di kotak itu.
Buru-buru aku kembalikan lagi kotak itu padanya. “Apa kau sering melakukannya
dengan Manda?”
“Iya, ah Izzie. Jangan mulai
menceramahiku, oke. Karena kami melakukannya dengan aman. Dan kami berdua
saling mencintai.” Jelasnya dengan wajah yang sangat merah.
“Tidak, aku tidak akan mengatakan
apa-apa, apalagi sampai menceramahi. Aku hanya ingin tahu, itu saja tidak
lebih. Berhati-hatilah.” Kataku sok bijak, padahal aku dan Kyle hampir saja
melakukan persetubuhan.
“Kau yang seharusnya berhati-hati.
Ya sudah, aku pergi dulu.”
“Hey, jangan memakai tempat tidurku.
Atau aku akan menyruhmu untuk mencucinya menggunakan tanganmu.” Ucapku sambil
menyenggol pinggang kakakku.
“Iya, bawel.” Ucapnya dengan wajah
memerah dan pergi lagi ke kamarku.
Aku hanya bisa tertawa melihat wajah
kakakku itu. Dan Kyle terheran melihatku yang tiba-tiba tertawa.
“Sepertinya ada yang lucu?”
“Hahaha, iya ada lelucon yang sangat
lucu.”
“Aku
lebih senang melihatmu seperti ini, Izzie, tertawa dengan lepas dank au semakin
terlihat cantik.”
“Berhenti menggodaku, Kyle,”
“Tadi di dalam kalian membicarakan
apa?” tanyanya penasaran.
“Dia hanya bilang agar aku
berhati-hati padamu.” Jawabku sambil mengedipkan sebelah mataku.
“Ah, sialan dia. Sudah mengganggu
kita dan tadi dia membicarakan hal-hal yang aneh tentangku.”
“Kyle, bolehkan aku bertanya sesuatu
padamu? Aku harap kau tidak marah dan mau menjawab pertanyaan itu dengan sangat
jujur.”
“Tentang apa? Aku takkan menutupi
apapun darimu Izzie.”
“Apakah kau pernah melakukan
hubungan badan? Kalau perah dengan siapa?”
Tatapannya berubah menjadi angat dingin, mendengar pertanyaanku itu.
Otot-otot rahangnya terlihat mengeras. Namun akhirnya ia mau menjawab
pertanyaanku setelag menarik napas dalam-dalam.
“Apa kau benar-benar ingin mengetahui yang sebenarnya, Izzie?”
“Ya, katakanlah padaku,” jawabku
yakin.
“Ya, aku memang pernah melakukannya
dengan Jenny.”
Mendengar jawaban yang keluar dari mulutnya perutku langsung terasa
sakit, rasanya seperti di hantam oleh sebuah pukulan dengan sangat keras
sekali.
“Apa kalian sering melakukannya?”
“Tidak, kami hanya melakukannya dua
kali Izzie. Dan dua-duanya terjadi ketika kami dalam keadaan setengah sadar
karena mabuk.”
“Jadi, bukan berdasarkan perasaan
suka sama suka?”
“Tidak, Izzie. Perasaanku padanya
berbeda dengan perasaanku padamu.”
“Oh, aku mengerti.” Ucapku datar.
“Berhentilah bertanya hal-hal yang
tidak penting, Izzie, karena aku tidak mau membicarakan lagi tentang masa
laluku dan mantan pacarku.”
“Maaf, aku memang salah. Mulutku
tiba-tiba saja mengeluarkan kata-kata itu.”
“Tidak, Izzie, kau tidak salah dan
aku juga tidak menyalahkanmu. Aku yang harus meminta maaf padamu.”
Ia lalu mencium bibirku dengan
sangat dalam. Lidahnya menerobos masuk kedalam mulutku, ciumannya benar-benar
telah membangunkan kembali hasrat liarku yang tadi tertunda karena kedatangan
kakakku. Kulitku serasa di bakar, aku bisa merasakan bahwa napas kami berdua
berubah menjadi terengah-engah.
Ia menciumi leherku, lalu menggigit
kupingku lembut. Ia pun segera melancarkan ciumannya menyurusi setiap jengkal
tubuhku. Aku merasa perutku mengejang, setiap kali bibirnya mencium tubuhku, di
tambah lagi sentuhan tangannya yang lembut meremas kedua payudarakku dengan
sangat lembut secara bergantian.
Hari ini aku akan merasakan tahapan
yang baru dalam hidupku. Sebuah
pengalaman yang sama sekali belum pernah aku alami sebelumnya. Dan Kyle akan
mengajarkan aku bagaimana caranya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar