Chapter 3
Aku
benar-benar gila, ketika melihat Izzie mengalami pendarahan di toilet. Aku
takut kehilangan bayi yang sangat aku tunggu, aku juga takut kehilangan Izzie.
Aku takut kehilangan mereka berdua.
Ya Tuhan,
bagaimana bisa ini semua terjadi? Izzie tak pernah seceroboh ini. Tuhan, tolong
selamatkan istri dan calon bayi kami.
Aku dilanda
perasaan panic, takut dan khawatir yang akan membuatku menjadi gila. Yang
kulakukan hanya mondar mandir di depat ruang UGD, menunggu dokter yang
menangani Izzie keluar dari sana.
“Kyle,
Izzie bagaimana?” tida-tida Tom dan Manda datang dan itu tetap saja membuatku
panic.
“Bagaimana
bisa ini terjadi, Kyle?” tanya Manda.
“Aku juga
tidak tahu pasti, Manda. Izzie pamit ke toilet, dan tak lama kemudian aku
nendengarnya berteriak memanggilku. Dan ketika sampai, ia sudah mengalami
pendarahan.”
“Ya Tuhan,
bagaimana mungkin. Tidak mungkin petugas kebersihan di perusahaanmu
teledorkan.” Ucap Tom.
“Mary
Jeane…” tiba-tiba mulutku menyebutkan nama itu.
“Mary
Jeane?” tanya Tom dan Manda .
“Iya, tadi
dia datang ke kantorku. Tapi aku tidak melihat gelagat yang mencurigakan dari
dia. Mungkin memang Izzie tidak berhati-hati.”
“Ah iya,
Kyle, aku juga sudah mengetahui siapa orang yang menerobos masuk ke kamar Izzie
di asrama waktu itu.”
“Jadi kau
sudah menemukannya, Tom? Siapa dia?” aku benar-benar ingin tahu siapa orang
yang sudah masuk kekamar Izzie tanpa izin beberapa waktu yang lalu.
“Edward…”
jawab Tom singkat.
“Apa?
Edward? Tapi bagaimana mungkin.” Aku benar-benar shock mendengarnya, ternyata
Edward masih berkeinginan untuk memiliki Izzie-ku.
“Karena aku
menemukan sebuah gelang yang kebetulan terjatuh disana. Aku mengenalinya karena
gelang itu di berikan Izzie untuk Edward sebelum kepergiannya ke Irlandia.”
“Tapi,
bagaimana kau tahu gelang itu milik Edward, Tom?”
“Karena
Izzie membeli gelang itu bersamaku.”
“Ah, aku
baru ingat sekitar tiga bulan yang lalu ketika aku dan Izzie pergi belanja di
swalayan yang berada di sebrang kami bertemu dengan Edward.”
“Apa? Jadi
Izzie sudah bertemu dengan Edward? Kenapa dia tidak pernah bercerita padaku.”
“Izzie
tidak ingin membuatmu khawatir, Kyle. Lagipula pada saat itu aku ada
bersamanya. Edward tidak mengganggu Izzie, hanya saja ia memang terlihat sangat
ingin sekali mendapatkan Izzie kembali. Dan ia sangat shock ketika mengetahui
kalian sudah menikah.”
“Sudahlah,
Kyle, jangan terlalu kau pikirkan. Yang penting saat ini adalah Izzie.” Tom
mengingatkan.
“Kau benar,
Tom, yang penting saat ini adalah keadaan Izzie. Aku berharap tidak terjadi hal
yang buruk pada Izzie dan janinnya.”
Tiba-tiba
dokter keluar dari ruangan UGD, aku langsung menghampirinya dengan segera dan
menanyakan keadaan istriku dan bayi kami, “Dokter, bagaimana keadaan istri saya
dan bayinya?”
“Istri anda
mengalami pendarahan yang cukup hebat, sehingga kami tidak dapat menyelamatkan
bayinya. Meskipun dipaksakan untuk dipertahankan itu akan membahayakan nyawa
istri anda.
Penjelasan
dari dokter benar-benar menghantamku dengan amat sangat keras sekali. “Ya
Tuhan…” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu melepaskannya, “Tapi
apakah istri saya masih bisa hamil lagi, dok?”
“Tentu
saja, usia istri anda masih muda. Hanya saja butuh waktu untuk memulihkan
rahimnya. Jadi anda harus menunda beberapa waktu untuk kembali memulai program
kehamilan.”
“Terima
kasih, Dok, apakah saya boleh meilhat keadaan istri saya?”
“Tentu
saja, istri anda akan segera kami pindahkan ke ruang pemulihan. Permisi.”
Lalu dokter
itu pun pergi. Aku hanya bisa bersandar di dinding rumah sakit, penjelas yang
di berikan oleh dokter benar-benar membuatku lemas dan membuat semangatku
menghilang.
“Kyle, kau
harus tabah. Yang pentingkan kalian masih bisa mempunyai keturunan.” Ucap Tom
sambil menepuk pundakku.
“Aku tahu,
Tom. Aku hanya sangat terkejut, kau tahu aku sudah sangat menantikannya. Aku
sudah tidak sabar menanti bayi kami lahir.”
“Aku
mengerti perasaanmu, Kyle. meskipun aku belum pernah merasakannnya. Bukankah
kau seharusnya bersyukur bahwa Izzie bisa melewati masa kritisnya. Kau tahu
dalam beberapa kasus seperti ini bisa saja merenggut nyawa keduanya. Apalagi
Izzie mengalami pendarahan yang cukup hebat.”
“Maafkan
aku, Tom, aku benar-benar egois. Aku malah lebih memikirkan bayi kami yang
sudah tidak ada. Aku malah melupakan Izzie.”
“Sudahlah,
aku sangat menngerti keadaanmu Kyle.”
“Kalian
berdua, bisa berdebat dulu sebentar, kan. Sebaiknya sekarang kita melihat
keadaan izzie.” Manda menghentikan pembicaraan kami berdua.
Lalu kami
bertiga menuju ke ruangan tempat Izzie di rawat. Dengan perlahan aku membuka
pintu ruangan itu. Aku hanya bisa menunduk lemas melihat keadaannya. Ini kali
kedua aku melihatnya terbaring seperti ini di rumah sakit dan hampir kehilangan
nyawanya.
Tuhan,
tolong lindunganlah istriku selalu. Jangan biarkan ia menderita dan mengalami
hal-hal yang buruk lagi. Cukup sampai di sini. Iz mengalami hal yang membahayakan
nyawanya.
“Aku
benar-benar tak sanggupp melihatnya seperti ini,Tom.”
“Ini bukan
kesalahanmu, Kyle. ini kecelakaan.”
Tiba-tiba
Izzie sadar…
“K-Kyle…”
panggilnya dengan suara yang terbata-bata.
“Sayang,
kau sudah sadar.”
“Kyle,
bagaimana dengan bayi kita? Ia baik-baik saja, kan?”
Mendengar
pertanyaannya itu aku langsung terdiam dan memandang Tom serta Manda
bergantian. “Sayang, kau harus sabar, ya.” Jawabku kelu.
“Maksudmu
apa?”
“Dokter
tidak bisa menyelamatkannya, sayang.”
“Tidak…
Tidak, mungkin. Aku mau bayiku, Kyle.”
Mengetahui
kenyataan bahwa Izzie kehilangan bayi yang sedang di kandungnya membuat ia
histeris dan hilang kendali. Dokter sampai memberinya obat penenang agar Izzie
tidak histeris lagi.
“Izzie
pasti sangat hancur sekali mendengar semua ini. Ia bahkan sampai histeris. Ya
Tuhan.” Ucapku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
“Sabar,
Kyle. Izzie hanya shock saja. Nanti juga ia bisa menerima semua ini. Yang perlu
kau lakukan adalah selalu berada di sampingnya.”
“Makasih,
Tom.”
***
Akhirnya
aku kembali kesini, dengan begitu aku bisa dengan mudah mengawasi izzie. Aku
akan mengambilnya kembali dari tangan Kyle. aku tak peduli bahwa mereka berdua
sudah menikah. Aku akan mendapatkannya lagi.
Kalau aku
tak bisa memisahkan mereka berdua. Aku yang akan melenyapkan Kyle dari sisi
Izzie. Aku akan melenyapkannya, agar aku bisa memiliki Izzie kembali.
Kyle
memang tidak bisa menjaga Izzie, bagaimana mungkin Izzie bisa dua kali
menglamai kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Izzie lebih baik
bersamaku, karena aku pasti akan menjaganya dengan benar.
Siang itu
aku memutuskan untuk menjenguk Izzie di rumah sakit. Kebetulan saat itu tidak
ada siapa-siapa di ruangannya.
“Kau mau
apa kemari, Ed? Sebaiknya kau pergi, karena aku tidak ingin bertemu denganmu.”
“Tapi aku
ingin bertemu, Izzie aku khawatir dengan keadaanmu, makanya aku datang kemari.”
“Terima
kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sudah baik-baik saja saat ini. Jadi
sebaiknya kau pergi, Ed.”
“Tidak, aku
tidak akan pergi. Izzie, kau harus meninggalkan lelaki itu. Kalau ia
benar-benar mencintaimu pasti ia takkan membuatmu menjadi seperti ini.”
“Jangan
pernah menyalahkan suamiku, Ed. Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, lagipula semua
ini hanya kecelakaan. Tak ada yang harus di salahkan dari kejadiian ini.”
“Aku
mencintaimu, Izzie. Sangat sangat mencintaimu.’
“Tapi aku
tidak, jadi sebaiknya kau pergi sekarang juga, Ed.”
“Astaga,
Izzie, mangapa kau begitu keras kepala. Mengapa kau begitu mempercayai lelaki
itu.”
“Karena dia
suamiku, Ed. Dan sudah seharusnya aku mempercayai suamiku. Sebaiknya kau pergi
dari sini sekarang juga. Aku tak mau berdebat lagi denganmu, mengerti.”
ini juga kak “Kalian berdua, bisa berdebat dulu sebentar, kan. Sebaiknya sekarang kita melihat keadaan izzie.” seharusnya 'bisa berhenti berdebat' yaa.
BalasHapusini pasti efek smngat nulis yaa :)
ehh. ada Ed yg ngeselin bgt yaa :'(
#asahparang, mutilasi yokk
iya efek smangat nulisnya nihh
BalasHapushahaha, iya edward ngeselin bgt tuh mnta di lempar ke pluto xD
tanggung kak, lempar ke matahari aja sekalin. biar langsung kebakar Ed nya :D
Hapus