Senin, 29 Oktober 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 3


Chapter 3

            Aku benar-benar gila, ketika melihat Izzie mengalami pendarahan di toilet. Aku takut kehilangan bayi yang sangat aku tunggu, aku juga takut kehilangan Izzie. Aku takut kehilangan mereka berdua.

            Ya Tuhan, bagaimana bisa ini semua terjadi? Izzie tak pernah seceroboh ini. Tuhan, tolong selamatkan istri dan calon bayi kami.

            Aku dilanda perasaan panic, takut dan khawatir yang akan membuatku menjadi gila. Yang kulakukan hanya mondar mandir di depat ruang UGD, menunggu dokter yang menangani Izzie keluar dari sana.

            “Kyle, Izzie bagaimana?” tida-tida Tom dan Manda datang dan itu tetap saja membuatku panic.
            “Bagaimana bisa ini terjadi, Kyle?” tanya Manda.
            “Aku juga tidak tahu pasti, Manda. Izzie pamit ke toilet, dan tak lama kemudian aku nendengarnya berteriak memanggilku. Dan ketika sampai, ia sudah mengalami pendarahan.”
            “Ya Tuhan, bagaimana mungkin. Tidak mungkin petugas kebersihan di perusahaanmu teledorkan.” Ucap Tom.
            “Mary Jeane…” tiba-tiba mulutku menyebutkan nama itu.
            “Mary Jeane?” tanya Tom dan Manda .
            “Iya, tadi dia datang ke kantorku. Tapi aku tidak melihat gelagat yang mencurigakan dari dia. Mungkin memang Izzie tidak berhati-hati.”
            “Ah iya, Kyle, aku juga sudah mengetahui siapa orang yang menerobos masuk ke kamar Izzie di asrama waktu itu.”
            “Jadi kau sudah menemukannya, Tom? Siapa dia?” aku benar-benar ingin tahu siapa orang yang sudah masuk kekamar Izzie tanpa izin beberapa waktu yang lalu.
            “Edward…” jawab Tom singkat.
            “Apa? Edward? Tapi bagaimana mungkin.” Aku benar-benar shock mendengarnya, ternyata Edward masih berkeinginan untuk memiliki Izzie-ku.
            “Karena aku menemukan sebuah gelang yang kebetulan terjatuh disana. Aku mengenalinya karena gelang itu di berikan Izzie untuk Edward sebelum kepergiannya ke Irlandia.”
            “Tapi, bagaimana kau tahu gelang itu milik Edward, Tom?”
            “Karena Izzie membeli gelang itu bersamaku.”
            “Ah, aku baru ingat sekitar tiga bulan yang lalu ketika aku dan Izzie pergi belanja di swalayan yang berada di sebrang kami bertemu dengan Edward.”
            “Apa? Jadi Izzie sudah bertemu dengan Edward? Kenapa dia tidak pernah bercerita padaku.”
            “Izzie tidak ingin membuatmu khawatir, Kyle. Lagipula pada saat itu aku ada bersamanya. Edward tidak mengganggu Izzie, hanya saja ia memang terlihat sangat ingin sekali mendapatkan Izzie kembali. Dan ia sangat shock ketika mengetahui kalian sudah menikah.”
            “Sudahlah, Kyle, jangan terlalu kau pikirkan. Yang penting saat ini adalah Izzie.” Tom mengingatkan.
            “Kau benar, Tom, yang penting saat ini adalah keadaan Izzie. Aku berharap tidak terjadi hal yang buruk pada Izzie dan janinnya.”

            Tiba-tiba dokter keluar dari ruangan UGD, aku langsung menghampirinya dengan segera dan menanyakan keadaan istriku dan bayi kami, “Dokter, bagaimana keadaan istri saya dan bayinya?”
            “Istri anda mengalami pendarahan yang cukup hebat, sehingga kami tidak dapat menyelamatkan bayinya. Meskipun dipaksakan untuk dipertahankan itu akan membahayakan nyawa istri anda.
            Penjelasan dari dokter benar-benar menghantamku dengan amat sangat keras sekali. “Ya Tuhan…” aku menutup wajahku dengan kedua tanganku lalu melepaskannya, “Tapi apakah istri saya masih bisa hamil lagi, dok?”
            “Tentu saja, usia istri anda masih muda. Hanya saja butuh waktu untuk memulihkan rahimnya. Jadi anda harus menunda beberapa waktu untuk kembali memulai program kehamilan.”
            “Terima kasih, Dok, apakah saya boleh meilhat keadaan istri saya?”
            “Tentu saja, istri anda akan segera kami pindahkan ke ruang pemulihan. Permisi.”
            Lalu dokter itu pun pergi. Aku hanya bisa bersandar di dinding rumah sakit, penjelas yang di berikan oleh dokter benar-benar membuatku lemas dan membuat semangatku menghilang.

            “Kyle, kau harus tabah. Yang pentingkan kalian masih bisa mempunyai keturunan.” Ucap Tom sambil menepuk pundakku.
            “Aku tahu, Tom. Aku hanya sangat terkejut, kau tahu aku sudah sangat menantikannya. Aku sudah tidak sabar menanti bayi kami lahir.”
            “Aku mengerti perasaanmu, Kyle. meskipun aku belum pernah merasakannnya. Bukankah kau seharusnya bersyukur bahwa Izzie bisa melewati masa kritisnya. Kau tahu dalam beberapa kasus seperti ini bisa saja merenggut nyawa keduanya. Apalagi Izzie mengalami pendarahan yang cukup hebat.”
            “Maafkan aku, Tom, aku benar-benar egois. Aku malah lebih memikirkan bayi kami yang sudah tidak ada. Aku malah melupakan Izzie.”
            “Sudahlah, aku sangat menngerti keadaanmu Kyle.”
            “Kalian berdua, bisa berdebat dulu sebentar, kan. Sebaiknya sekarang kita melihat keadaan izzie.” Manda menghentikan pembicaraan kami berdua.

            Lalu kami bertiga menuju ke ruangan tempat Izzie di rawat. Dengan perlahan aku membuka pintu ruangan itu. Aku hanya bisa menunduk lemas melihat keadaannya. Ini kali kedua aku melihatnya terbaring seperti ini di rumah sakit dan hampir kehilangan nyawanya.

            Tuhan, tolong lindunganlah istriku selalu. Jangan biarkan ia menderita dan mengalami hal-hal yang buruk lagi. Cukup sampai di sini. Iz mengalami hal yang membahayakan nyawanya.

            “Aku benar-benar tak sanggupp melihatnya seperti ini,Tom.”
            “Ini bukan kesalahanmu, Kyle. ini kecelakaan.”

            Tiba-tiba Izzie sadar…
            “K-Kyle…” panggilnya dengan suara yang terbata-bata.
            “Sayang, kau sudah sadar.”
            “Kyle, bagaimana dengan bayi kita? Ia baik-baik saja, kan?”
            Mendengar pertanyaannya itu aku langsung terdiam dan memandang Tom serta Manda bergantian. “Sayang, kau harus sabar, ya.” Jawabku kelu.
            “Maksudmu apa?”
            “Dokter tidak bisa menyelamatkannya, sayang.”
            “Tidak… Tidak, mungkin. Aku mau bayiku, Kyle.”

            Mengetahui kenyataan bahwa Izzie kehilangan bayi yang sedang di kandungnya membuat ia histeris dan hilang kendali. Dokter sampai memberinya obat penenang agar Izzie tidak histeris lagi.

            “Izzie pasti sangat hancur sekali mendengar semua ini. Ia bahkan sampai histeris. Ya Tuhan.” Ucapku sambil menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.
            “Sabar, Kyle. Izzie hanya shock saja. Nanti juga ia bisa menerima semua ini. Yang perlu kau lakukan adalah selalu berada di sampingnya.”
            “Makasih, Tom.”
***

            Akhirnya aku kembali kesini, dengan begitu aku bisa dengan mudah mengawasi izzie. Aku akan mengambilnya kembali dari tangan Kyle. aku tak peduli bahwa mereka berdua sudah menikah. Aku akan mendapatkannya lagi.

            Kalau aku tak bisa memisahkan mereka berdua. Aku yang akan melenyapkan Kyle dari sisi Izzie. Aku akan melenyapkannya, agar aku bisa memiliki Izzie kembali.
           
­­­            Kyle memang tidak bisa menjaga Izzie, bagaimana mungkin Izzie bisa dua kali menglamai kecelakaan yang hampir saja merenggut nyawanya. Izzie lebih baik bersamaku, karena aku pasti akan menjaganya dengan benar.

            Siang itu aku memutuskan untuk menjenguk Izzie di rumah sakit. Kebetulan saat itu tidak ada siapa-siapa di ruangannya.

            “Kau mau apa kemari, Ed? Sebaiknya kau pergi, karena aku tidak ingin bertemu denganmu.”
            “Tapi aku ingin bertemu, Izzie aku khawatir dengan keadaanmu, makanya aku datang kemari.”
            “Terima kasih sudah mengkhawatirkanku. Aku sudah baik-baik saja saat ini. Jadi sebaiknya kau pergi, Ed.”
            “Tidak, aku tidak akan pergi. Izzie, kau harus meninggalkan lelaki itu. Kalau ia benar-benar mencintaimu pasti ia takkan membuatmu menjadi seperti ini.”
            “Jangan pernah menyalahkan suamiku, Ed. Kau tidak tahu apa-apa tentang dia, lagipula semua ini hanya kecelakaan. Tak ada yang harus di salahkan dari kejadiian ini.”
            “Aku mencintaimu, Izzie. Sangat sangat mencintaimu.’
            “Tapi aku tidak, jadi sebaiknya kau pergi sekarang juga, Ed.”
            “Astaga, Izzie, mangapa kau begitu keras kepala. Mengapa kau begitu mempercayai lelaki itu.”
            “Karena dia suamiku, Ed. Dan sudah seharusnya aku mempercayai suamiku. Sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga. Aku tak mau berdebat lagi denganmu, mengerti.”

3 komentar:

  1. ini juga kak “Kalian berdua, bisa berdebat dulu sebentar, kan. Sebaiknya sekarang kita melihat keadaan izzie.” seharusnya 'bisa berhenti berdebat' yaa.
    ini pasti efek smngat nulis yaa :)

    ehh. ada Ed yg ngeselin bgt yaa :'(
    #asahparang, mutilasi yokk

    BalasHapus
  2. iya efek smangat nulisnya nihh

    hahaha, iya edward ngeselin bgt tuh mnta di lempar ke pluto xD

    BalasHapus
    Balasan
    1. tanggung kak, lempar ke matahari aja sekalin. biar langsung kebakar Ed nya :D

      Hapus