Chapter 1
“Kyle, bolehkah aku bekerja? Aku benar-benar bosan berada terus di apartemen ini.” Keluhku pada suatu pagi di hari Minggu.
Mendengar perkataanku Kyle langsung mengalihkan perhatiannya padaku sambil mengernyitkan dahi, “Kau mau bekerja, sayang?”
“Ya, aku ingin memiliki kegiatan, agar aku tak merasa bosan.”
“Tapi sayang, kau harus banyak istirahat.”
“Aku bosan, Kyle. Lagipula aku akan mencari pekerjaan yang tidak terlalu menguras tenaga dan tidak akan membuatku kelelahan.”
Kyle memutar bola matanya sambil berpikir keras. “Baiklah, sepertinya aku punya pekerjaan yang cocok untukmu, sayang.”
“Apa maksudmu?”
“Kau akan bekerja padaku dan menjadi asisten pribadiku.”
“Tidak, aku ingin mencari pekerjaanku dengan jerih payahku sendiri.”
“Kalau begitu jangan harap aku akan memberikanmu izin untuk bekerja.” Ucapnya tegas.
Oh, ia benar-benar tidak memberiku ruang gerak sedikitpun. Mengapa ia tidak membiarkan aku untuk mandiri. Aku bukan anak kecil yang harus selalu di awasi setiap waktu. Aku pasti akan menjaga kandunganku dengan sangat baik, tapi mengapa suamiku sendiri tidak mempercayaiku. Aku berpikir keras.
“Bagaimana sayang? Kau mau menerimanya atau kau takkan pernah mendapatkan izin itu selamanya.”
Aku mendengus kesal, “Baiklah, aku terima tapi aku punya syarat.”
Kyle menatapku dengan mata yang melebar, “Syarat? Kau punya syarat apa yang ingin aku penuhi istriku tercinta?”
“Pada saat jam kerja kau tidak boleh memanggilku dengan sebutan sayangku, cintaku, istriku ataupun Mrs. Dickherber. Kau harus memanggilku Izzie Williams selama jam kerja.”
“Apa? Tidak mungkin, tidak aku tidak mau, mana mungkin Izzie.’
“Ya sudah terserah kau saja. Aku akan tetap nekat mencari pekerjaan sendiri.” Ancamku sambil mendelikkan mataku padanya.
Mendengar persyaratan yang aku ajukan Kyle terlihat sangat berpikir keras. “Baiklah, aku akan menerima semua persyaratan itu. Dengan catatan meja kerjamu harus berada satu ruangan denganku!”
` “Kyle…”
“Tidak, sayang. Jangan membantah lagi.” Ucapnya sambil mengacungkan tangannya.
“Baiklah, kapan aku bisa memulai pekerjaanku, Sir?”
“Besok, kau sudah boleh untuk mulai bekerja.”
Aku menarik nafas dalam-dalam. Suamiku ini benar-benar sangat posesif dan overprotective. Tak bisakah ia membiarkan aku untuk bekerja sendiri, dengan usahaku sendiri.
Menginjak minggu kelima kehamilanku, aku mulai merasakan banyak tekanan. Dan kehamilanku terasa sangat berat sekali. Apalagi saat ini aku memutuskan untuk bekerja di kantor suamiku tersayang. Setelah berdebat cukup panjang akhirnya Kyle memperbolehkanku untuk beraktifitas.
Dengan catatan aku harus menjadi asisten pribadinya. Bahkan meja kerjaku harus berada satu ruangan dengannya. Aku hanya bisa menurutinya saja, karena aku tidak ingin berdebat lagi yang pada akhirnya hanya akan berakhir dengan pertengkaran saja.
***
Kehidupanku saat ini benar-benar sempurna. Karena pada akhirnya Izzie menjadi istriku, ia menjadi miliku. Betapa bahagianya aku saat ini, apalagi sekarang Izzie tengah mengandung buah cinta kami berdua.
Kebahagian yang kurasakan semakin bertambah saja ketika mengetahui kehamilan istri tercintaku itu. Yah, meskipun sekarang aku harus lebih ekstra sabar menghadapinya. Karena emosinya sedang tidak stabil. Tak jarang kami bertengkar hanya gara-gara masalah sepele.
Dan perasaan senang yang lainnya lagi adalah aku bisa terus berada di sampingnya sepanjang waktu. Seperti saat ini. Aku mengawasinya dari mejaku. Ah, Izzie memang benar-benar sangat cantik sekali.
“Hey, Sir, bisakah berhenti memandangiku seperti seekor singa jantan yang kelaparan seperti itu?” tegurnya ketika mendapati aku sedang serius menatapnya.
“Ya, aku memang selalu merasa kelaparan melihatmu, Mrs. Dickherber-ku tersayang.”
“Panggil aku Miss Williams atau Izzie. Kau lupa pada perjanjian kita?” ucapnya sambil memelototiku.
“Ah, ya, maafkan aku Miss Williams yang cantik.”
“Baiklah Mr. Dickherber yang terhormat, bisakah berhenti memandangiku seperti itu dan membiarkan aku menyelesaikan pekerjaan ini untukmu sebelum jam makan siang. Bukankah kau ada janji dengan Mr. Dill dari Seattle setelah makan siang nanti.”
“Ah, ya, aku hampir saja lupa dengan janji itu. Mr. Dill akan datang menemuiku setelah jam makan siang. Terima kasih sudah mengingatkanku Miss. Williams, kau sangat membantu sekali. Dan silakan kembali bekerja.” Ucapku sambil tersenyum dan mengedipkan sebelah mataku.
Aku hanya boleh memanggilnya dengan sebutan istriku ketika jam makan siang saja. Tapi setelah itu, kami berdua kembali bersikap seperti atasan dan asistennya saja. Tom sampai tertawa terbahak-bahak melihat kami berdua kemarin.
Izzie hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah konyolku yang setiap hari berusaha menggodanya. Dan Izzie berhasil tidak tergoda oleh semua rayuanku, padahal aku sangat ingin sekali merasakan bercinta dengannya di dalam ruanganku. Tapi itu akan sangat sulit sekali.
Lima menit sebelum jam makan siang Izzie menyerahkan berkas-berkas yang aku butuhkan. Lalu kami berdua memutuskan untuk makan siang di kantor saja, kebetulan Nanny Kelly membawakan makanan dari rumah. Karena Izzie sedang hamil, jadi makanannya harus benar-benar bergizi dan di jaga.
“Sayang, apa kau sudah selesai makan?” tanyaku melihat kotak bekalnya yang masih penuh itu.
“Ya, aku sudah kenyang. Terima kasih.”
“Tapi kau hampir tidak menyentuh makananmu. Kau hanya memakan mashed potato-nya saja.”
“Tapi aku benar-benar sudah kenyang, Kyle. aku tak ingin mengeluarkan kembali semua makanan yang sudah aku makan.”
***
Tepat pukul satu siang Eric Dill tiba di kantorku. Saat pertama kali masuk dan duduk di ruanganku. Tatapannya langsung terfokus pada istriku yang sedang sibuk bekerja.
Ya Tuhan, jangan-jangan CEO dari Seattle ini menaruh hati pada istriku. Itu terbukti karena ia selalu melirik Izzie di sela-sela pembicaraan rencana kerja sama yang sedang kami bahas. Sampai akhirnya ia menanyakan sesuatu yang membuatku kaget.
“Siapa nama asistenmu itu Mr. Dickherber?” tanyanya sambil menatap Izzie.
“Ah, dia Izzie Williams,” jawabku tergugu, “Memangnya ada apa?”
“Kau sangat beruntung sekali memiliki asisten pribadi secantik dia. Andai saja dia asisten pribadiku. Dia tidak hanya akan menjadi asistenku saja tapi akan kujadikan sebagai istriku.”
Brengsek, dia istriku tahu. Rasanya aku ingin sekali memukul wajahnya karena dia sudah memandangi istriku seperti itu.
“Mr. Dickherber, bagaimana kalau pertemuan selanjutnya kita laksanakan pada hari Rabu. Aku akan menemuimu disini. Bagaimana?
“Ah, iya. Ide bagus, kita bisa sekalian makan siang disini.” Jawabku sambil berusaha menekan emosiku.
“Senang sekali bekerja sama dengan anda Mr. Dickherber.” Ucapnya sambil menjabat tanganku sambil tersenyum penuh arti.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar