Chapter
12
Aku berusaha mengumpulkan semua
kekuatanku dan menyatukan kembali pikiranku yang terberai. Dengan susah payah
aku berusaha untuk mengeluarkan suaraku yang tersendat di kerongkonganku.
“Kyle…” panggilku dengan suara
bergetar.
Mendengar suaraku Kyle dan Mary Jean
langsung berbalik dan wajah mereka langsung pucat.
“Sayang, aku bisa menjelaskan semua
ini…” ucap Kyle.
“Tidak…” jawabku sambil mengangkat
tanganku member isyarat agar tidak mendekat. “Aku datang di waktu yang salah,
aku lebih baik pulang. Dan Kyle, aku meunggumu di apartemen. Oke, aku pergi.”
Tanpa pikir panjang aku langsung
menutup pintu dan berlari dari tempat itu sambil menangis. Ketika sampai di
apartemen di sana ada Nanny Kelly yang sedang memasak, karena ia tahu aku akan
pulang ke apartemen Kyle. Nanny kaget melihat kedatanganku, apalagi aku sambil
menangis.
“Hallo, sayang. Izzie, kau baik-baik
saja kan?” tanyany khawatir.
“Aku, baik-baik saya, Nanny. Aku mau
pergi ke kamar saja.”
Aku segera menuju ke kamar Kyle di
lantai atas. Aku langsung melempar tasku ke lantai dan terduduk di lantai
sambil menangis. Air mataku benar-benar sudah tak dapat aku tahan lagi. Hatiku
benar-benar terasa sakit. Tuhan, kenapa aku harus mengalami rasa sakit ini?
Perasaan yang benar-benar tidak ingin aku rasakan lagi untuk kedua kalinya. Aku
tidak pernah berpikir bahwa Kyle melakukan hal ini.
Aku benar-benar kacau. Perasaanku
campur aduk, rasanya aku ingin mati saja. Akhirnya aku pergi menuju ke pojok
ruangan kamar. Di atas meja itu tersimpan sebotol red wine, langsung saja aku
meminumnya. Meskipun aku tidak begitu menyukainya, tapi kali ini keadaannya
lain. Aku benar-benar membutuhkan sesuatu yang bisa sedikit mengurangi
kepenatan dalam hatiku ini.
Kepalaku mulai terasa berputar.
Meskipun aku masih berusaha untuk tetap sadar. Dengan sempoyongan aku keluar
dari kamar. Nanny lagi lagi terkejut melihatku.
“Izzie, kau mabuk?” tanyanya dengan
lembut.
“Tidak, Nanny. Aku hanya sedikit
meminum wine di kamar kok.” Jawabku santai.
“Kau jelas-jelas mabuk, sayang.”
“Tidak… Aku tidak mabuk Nanny.”
Jawabku sambil mengambil kuci motor milik Kyle.
“Kau mau kemana?”
“Aku mau mencari udara segar
sebentar Nanny. Bye.” Pamitku sambil pergi menuju pintu.
Samar-samar aku mendengar suara
Nanny Kelly yang memanggil-manggil namaku. Tapi aku menghiraukannya. Saat ini
yang aku butuhkan adalah tempat yang tenang. Aku mengeluarkan motor sport milik
Kyle dari dari garasi. Setelah memakai helm aku langsung menancap gas keluar
dari apartemen itu.
Sepertinya alcohol mulai
mempengaruhi kesadaranku. Karena pandanganku mulai kabur, kepalaku mulai terasa
berat. Aku tidak sadar bahwa aku menjalankan motor dengan kecepatan yang
tinggi. Sampai tiba-tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan yang mendekat.
Dan setelah itu aku tidak sadarkan diri.
***
Aku segera bergegas pulang untuk
menemui Izzie. Aku ingin segera meluruskan kesalah pahaman ini. Meskipun Mary
Jean terus saja merongrongku.
“Dengar, Mary, kalau sampai sesuatu
terjadi pada Izzie akibat ulahmu tadi aku benar-benar tidak akan memaafkanmu.
Aku akan membuat perhitungan denganmu.” Ancamku.
“Tidak, Kyle. Aku tidak peduli, aku
berharap bahwa Izzie akan lenyap selamanya. Karena dengan begitu kau akan
menjadi milikku.”
Plakkkk…!!! Tanpa sadar aku
mendaratkan sebuah tamparan di pipi Mary Jean. Kata-katanya sudah sangat
keterlaluan. Dia menginginkan Izzie meninggal, aku tidak bisa membiarkan ini.
“Jaga ucapanmu itu Mary. Karena
sampai kapanpun Cuma Izzie satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia. Kalau
Izzie lenyap begitupun juga dengan aku.”
Lalu aku keluar dari ruanganku dan
bergegas menuju ke parkiran mobil. Ketika akan memasuki mobil tiba-tiba Nanny
Kelly menelepon. Suaranya benar-benar terdengar sangat cemas dan khawatir
sekali.
“Ada apa, Nanny?” tanyaku.
“Izzie…, Kyle, Izzie…”
“Ada apa dengan Izzie, Nanny? Dia
baik-baik saja, kan?”
“Izzie, mengalami kecelakaan lalu
lintas. Cepatlah kemari, Kyle. Nanny sudah ada di rumah sakit.”
“APA!! Izzie kecelakaan, Nanny?
Bagaimana bisa? Baiklah aku akan segera menyusul kesana.”
Aku menutup telepon dengan kasar.
Lalu segera naik ke mobil dan mengebut menuju ke Red Cross Hospital. Ya Tuhan,
aku mohon selamatkanlah Izzie. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi
padanya. Aku akan benar-benar merasa berdosa jika terjadi sesuatu padanya.
Bagaimana aku harus menjelaskannya pada Tom?
Selama perjalanan ke rumah sakit
pikiranku sangat sangat sangat kacau sekali. Aku sangat ketakukan. Ketakutan
yang sangat mencekam. Aku tidak mau kehilangan Izzie, aku tidak mau.
Ketika sampai di rumah sakit dan
bertanya pada suster ruangan Izzie di rawat aku pun langsung menuju ke sana.
Aku melihat Nanny Kelly sedang duduk di kursi di samping tempat tidur. Dan aku
melihat wanita yang paling aku cintai terbujur lemah tak berdaya dengan
berbagai selang yang terpasang di lengannya. Ya Tuhan, Izzie-ku saat ini
benar-benar tidak berdaya. Aku tidak sanggup melihat keadaannya yang seperti
ini.
“Nanny…” sapaku dengan suara pelan.
“Kyle, akhirnya kau sampai juga,
nak.”
“Apa yang terjadi, Nanny? Bagaimana
Izzie bisa kecelakaan?”
“Izzie pergi menggunakan motormu
dalam keadaan mabuk, Kyle.”
“Izzie mabuk? Tapi mana mungkin,
Izzie tidak begitu menyukai minuman yang mengandung alcohol…” lalu aku terdiam
dan langsung teringat kejadian tadi siang waktu di kantor. “Ya Tuhan…” ucapku
sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. “Ini benar-benar salahku, Nanny.
Aku sudah teledor menjaga Izzie.”
“Bersabarlah, Kyle. Nanny percaya
bahwa Izzie akan sembuh. Dia gadis yang sangat kuat dan sangat bersemangat.
Apapun yang terjadi dengan hubungan kalian saat ini, Nanny percaya kau bisa
melewatinya. Cinta kalian berdua terlalu besar dan tak mudah di goyahkan.”
Ucapnya sambil mengelus pundakku.
“Terima kasih, Nanny.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar