Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 12


Chapter 12

            Aku berusaha mengumpulkan semua kekuatanku dan menyatukan kembali pikiranku yang terberai. Dengan susah payah aku berusaha untuk mengeluarkan suaraku yang tersendat di kerongkonganku.

            “Kyle…” panggilku dengan suara bergetar.

            Mendengar suaraku Kyle dan Mary Jean langsung berbalik dan wajah mereka langsung pucat.

            “Sayang, aku bisa menjelaskan semua ini…” ucap Kyle.
            “Tidak…” jawabku sambil mengangkat tanganku member isyarat agar tidak mendekat. “Aku datang di waktu yang salah, aku lebih baik pulang. Dan Kyle, aku meunggumu di apartemen. Oke, aku pergi.”

            Tanpa pikir panjang aku langsung menutup pintu dan berlari dari tempat itu sambil menangis. Ketika sampai di apartemen di sana ada Nanny Kelly yang sedang memasak, karena ia tahu aku akan pulang ke apartemen Kyle. Nanny kaget melihat kedatanganku, apalagi aku sambil menangis.

            “Hallo, sayang. Izzie, kau baik-baik saja kan?” tanyany khawatir.
            “Aku, baik-baik saya, Nanny. Aku mau pergi ke kamar saja.”

            Aku segera menuju ke kamar Kyle di lantai atas. Aku langsung melempar tasku ke lantai dan terduduk di lantai sambil menangis. Air mataku benar-benar sudah tak dapat aku tahan lagi. Hatiku benar-benar terasa sakit. Tuhan, kenapa aku harus mengalami rasa sakit ini? Perasaan yang benar-benar tidak ingin aku rasakan lagi untuk kedua kalinya. Aku tidak pernah berpikir bahwa Kyle melakukan hal ini.

            Aku benar-benar kacau. Perasaanku campur aduk, rasanya aku ingin mati saja. Akhirnya aku pergi menuju ke pojok ruangan kamar. Di atas meja itu tersimpan sebotol red wine, langsung saja aku meminumnya. Meskipun aku tidak begitu menyukainya, tapi kali ini keadaannya lain. Aku benar-benar membutuhkan sesuatu yang bisa sedikit mengurangi kepenatan dalam hatiku ini.

            Kepalaku mulai terasa berputar. Meskipun aku masih berusaha untuk tetap sadar. Dengan sempoyongan aku keluar dari kamar. Nanny lagi lagi terkejut melihatku.

            “Izzie, kau mabuk?” tanyanya dengan lembut.
            “Tidak, Nanny. Aku hanya sedikit meminum wine di kamar kok.” Jawabku santai.
            “Kau jelas-jelas mabuk, sayang.”
            “Tidak… Aku tidak mabuk Nanny.” Jawabku sambil mengambil kuci motor milik Kyle.
            “Kau mau kemana?”  
            “Aku mau mencari udara segar sebentar Nanny. Bye.” Pamitku sambil pergi menuju pintu.

            Samar-samar aku mendengar suara Nanny Kelly yang memanggil-manggil namaku. Tapi aku menghiraukannya. Saat ini yang aku butuhkan adalah tempat yang tenang. Aku mengeluarkan motor sport milik Kyle dari dari garasi. Setelah memakai helm aku langsung menancap gas keluar dari apartemen itu.

            Sepertinya alcohol mulai mempengaruhi kesadaranku. Karena pandanganku mulai kabur, kepalaku mulai terasa berat. Aku tidak sadar bahwa aku menjalankan motor dengan kecepatan yang tinggi. Sampai tiba-tiba ada sebuah truk dari arah berlawanan yang mendekat. Dan setelah itu aku tidak sadarkan diri.

***
            Aku segera bergegas pulang untuk menemui Izzie. Aku ingin segera meluruskan kesalah pahaman ini. Meskipun Mary Jean terus saja merongrongku.

            “Dengar, Mary, kalau sampai sesuatu terjadi pada Izzie akibat ulahmu tadi aku benar-benar tidak akan memaafkanmu. Aku akan membuat perhitungan denganmu.” Ancamku.
            “Tidak, Kyle. Aku tidak peduli, aku berharap bahwa Izzie akan lenyap selamanya. Karena dengan begitu kau akan menjadi milikku.”

            Plakkkk…!!! Tanpa sadar aku mendaratkan sebuah tamparan di pipi Mary Jean. Kata-katanya sudah sangat keterlaluan. Dia menginginkan Izzie meninggal, aku tidak bisa membiarkan ini.

            “Jaga ucapanmu itu Mary. Karena sampai kapanpun Cuma Izzie satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia. Kalau Izzie lenyap begitupun juga dengan aku.”

            Lalu aku keluar dari ruanganku dan bergegas menuju ke parkiran mobil. Ketika akan memasuki mobil tiba-tiba Nanny Kelly menelepon. Suaranya benar-benar terdengar sangat cemas dan khawatir sekali.

            “Ada apa, Nanny?” tanyaku.
            “Izzie…, Kyle, Izzie…”
            “Ada apa dengan Izzie, Nanny? Dia baik-baik saja, kan?”
            “Izzie, mengalami kecelakaan lalu lintas. Cepatlah kemari, Kyle. Nanny sudah ada di rumah sakit.”
            “APA!! Izzie kecelakaan, Nanny? Bagaimana bisa? Baiklah aku akan segera menyusul kesana.”

            Aku menutup telepon dengan kasar. Lalu segera naik ke mobil dan mengebut menuju ke Red Cross Hospital. Ya Tuhan, aku mohon selamatkanlah Izzie. Jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku akan benar-benar merasa berdosa jika terjadi sesuatu padanya. Bagaimana aku harus menjelaskannya pada Tom?

            Selama perjalanan ke rumah sakit pikiranku sangat sangat sangat kacau sekali. Aku sangat ketakukan. Ketakutan yang sangat mencekam. Aku tidak mau kehilangan Izzie, aku tidak mau.
            Ketika sampai di rumah sakit dan bertanya pada suster ruangan Izzie di rawat aku pun langsung menuju ke sana. Aku melihat Nanny Kelly sedang duduk di kursi di samping tempat tidur. Dan aku melihat wanita yang paling aku cintai terbujur lemah tak berdaya dengan berbagai selang yang terpasang di lengannya. Ya Tuhan, Izzie-ku saat ini benar-benar tidak berdaya. Aku tidak sanggup melihat keadaannya yang seperti ini.

            “Nanny…” sapaku dengan suara pelan.
            “Kyle, akhirnya kau sampai juga, nak.”
            “Apa yang terjadi, Nanny? Bagaimana Izzie bisa kecelakaan?”
            “Izzie pergi menggunakan motormu dalam keadaan mabuk, Kyle.”
            “Izzie mabuk? Tapi mana mungkin, Izzie tidak begitu menyukai minuman yang mengandung alcohol…” lalu aku terdiam dan langsung teringat kejadian tadi siang waktu di kantor. “Ya Tuhan…” ucapku sambil menutup wajahku dengan kedua tanganku. “Ini benar-benar salahku, Nanny. Aku sudah teledor menjaga Izzie.”
            “Bersabarlah, Kyle. Nanny percaya bahwa Izzie akan sembuh. Dia gadis yang sangat kuat dan sangat bersemangat. Apapun yang terjadi dengan hubungan kalian saat ini, Nanny percaya kau bisa melewatinya. Cinta kalian berdua terlalu besar dan tak mudah di goyahkan.” Ucapnya sambil mengelus pundakku.
            “Terima kasih, Nanny.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar