Chapter
11
Kyle naik ke atas panggung, ia
mengambil gitarnya lalu duduk dan mulai memetik senar gitar dengan jari-jarinya
yang terampil.
Tapi sebelum memulai bernyanyi, Kyle
memberikan sedikit kata-kata yang tentu saja di tujukan untukku. Secara
otomatis wajahku menjadi memerah.
“Lagu ini saya persembahkan khusus
untuk kekasih saya, karena dia bebar-benar sudah mengubah hidup saya jadi lebih
baik. Izzie, I don’t know what I’ve to
say to you… I just wanna say… I love you with all of my heart and all of my
soul…”
“Say my name like you are my baby
Cuz my generation
Don’t have no patience
Let it fade out and call me lazy
Cuz I never seem to know what I want
Well I can find someone tomorrow
But baby you’re a though act to follow
I hope this is never over
I’ll never be alone, if you take me home
Let’s go cuz we only get older
I’ll never be alone, if you take me home
Aku benar-benar merasa sangat
terhanyut oleh suaranya, terlebih lagi ketika Kyle sedang bernyanyi.
Benar-benar membuat tubuhku melayang-layang di udara. Lagu pun selesai, Kyle
turun dari panggung dan langsung duduk di sampingku.
“Bagaimana? Apakah kau suka dengan lagunya?” tanyanya sambil
menggenggam mesra tanganku.
“Sangat bagus, Kyle. Aku tidak dapat
berkata apa-apa. Terima kasih, buat lagu indah yang sudah kau nyanyikan
untukku.”
“I
love you, Izzie…” ucapnya sambil menatap lekat mataku.
“And
I love you too, Kyle…”
Lalu Kyle mencium mesra bibirku. Kami melanjutkan makan malam kami
sambil berbincang-bincang banyak hal. Ah, aku semakin mencintainya, Kyle-ku…
Kyle-ku tersayang, aku bahagia melihatnya ceria. Dan tatapan matanya tidak
sesedih dan semuram ketika pertama kali kami bertemu. Kami menghabiskan waktu
berdua di kafe itu hingga larut, sebelum akhirnya Kyle memaksaku untuk pulang.
Padahal besok hari Minggu.
Keesokkan
harinya….
Dengan malas aku membuka mataku.
Ternyata sudah pagi, ketika memelihat ke sebelah kiriku, aku mellihat Kyle yang
sedang tertidur. Ia terlihat sangat tampan dan polos ketika tidur seperti ini.
Aku cekikikan sendiri melihat ekspresi wajahnya yang sedang tidur. Perlahan aku
membelai wajahnya dengan jariku perlahan. Aku menyusuri tiap inchi wajahnya yang
begitu tampan. Sampai akhirnya ia terbangun.
“Hei, selamat pagi sayang,” sapanya
dengan mata yang masih mengantuk.
“Selamat pagi, sepertinya kau masih
mengantuk. Tidur saja lagi, aku mau pergi mandi.”
“Kau mau kemana? Ini kan hari
Minggu?”
“Aku mau mandi dan menyiapkan
sarapan. Jadi selama aku aku dan memasak sebaiknya kau tidur saja.” Ucapku
sambil bangun dari tempat tidur.
Kyle menarik tubuhku hingga aku
terhempas kembali ke tempat tidur. “Kyle, aku harus bangun…”
“Nanti saja, temani aku tidur.”
Ucapnya sambil memejamkan mata.
“Tidak, aku harus bangun, mandi dan
menyiapkan makanan. Karena sepanjang malam aku mendengar suara dari dalam
perutmu.”
Mendengar perkataanku Kyle langsung
membuka matanya dengan tatapan yang terkejut, “Apakah itu benar, sayang?”
Aku mengangguk dengan pasti dan
berusaha untuk menahan bibirku agar tidak tertawa.
“Ah, sialan. Benar-benar memalukan
sekali,” rutuknya dengan kesal dan wajahnya sedikit memerah.
“Maka dari itu, biarkan aku membuat
makanan untuk kekasihku tersayang ini. Kau tidur saja lagi. Aku akan
membangunkanmu jika semuanya sudah siap. Apa itu OK?”
Ia hanya mengangguk pelan. Aku
langsung pergi menuju kamar mandi sambil tersenyum melihat wajahnya. Hehehe,
kena kau kukerjai. Setelah selesai mandi dan berakaian, langsang saja aku pergi
ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lupa aku melihat ke kamar, ternyata Kyle
tidur lagi.
Beberapa saat kemudian sarapanpun
selesai, aku bergegas untuk membangunkan Kyle, tapi ternyata ia sudah tidak ada
di tempat tidur. Hanya terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Mungkin dia
sedang mandi, tebakku dalam hati.
Ketika aku sedang mengatur piring di
atas meja, tiba-tiba Kyle datang dan memelukku dari belakang. Dia langsung
menciumku dengan penuh kelembutan.
“Selamat pagi, my princess,” sapanya lembut.
“Selamat pagi juga my prince. Siap buat sarapan?”
“Yup, tentu saja. Perutku sudah
lapar.” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi. “Roti
panggang cokelat. Bagaimana kau tahu menu kesukaanku ketika sarapan, Izzie.?”
“Kau suka roti panggang cokelat
juga? Ini memang makanan kesukaanku juga sejak aku masih kecil.”
“Wah, benar-benar kebetulan yang
tidak terduga. Kita benar-benar berjodoh kalau begini.”
“Ya sudah, mari kita sarapan saja.”
Lalu kami segera sarapan bersama.
Lagi-lagi hal baru yang aku alami.
Membuat dan sarapan bersama kekasihku, Kyle. Hari Minggu kali ini terasa
berbeda dari sebelum. Tuhan, aku berharap semua ini akan berlangsung selamanya.
Sampai maut memisahkan kami berdua. Aku ini menjalani hubungan ini selamanya
bersama Kyle, doa’aku dalam hati. Dan bisa melihat senyuman manisnya itu
selamanya.
“Hey, bukannya makan kok malah
bengong. Sedang memikirkan apa?”
“Tidak ada, kok. Hehehehe…” jawabku
sambil meminum susu hangatnya.
“Tiap hari seperti ini. Pasti akan
sangat mengenangkan, ya. Aku ingin segera melamarmu untuk menjadi istriku,
Izzie.”
Mendengar ucapan Kyle aku langsung
tersedak, karena kaget mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya yang mungil
dan tipis itu.
“Kau tidak apa-apa, sayang?”
tanyanya panic.
“Aku tidak apa-apa, kok. Sudah-sudah
ayo habiskan sarapannya.” Jawabku.
Ya Tuhan, apa dia berniat untuk
melamarku? Ini terlalu cepat, sangat cepat malah. Tuhan jangan biarkan wajahku
memerah. Aku benar-benar merasa bahagia
mendengarnya, bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamaku. Tapi tidak
secepat ini, kuliahku saja belum selesai, begitupun dengan Kyle. Kalau memang
dia jodohku biarkan kami tetap dekat seperti ini Tuhan.
***
Tidak terasa, hubunganku dengan Kyle sudah berjalan selama 6 bulan.
Saat ini Kyle bekerja di perusahaan milik ayahnya dan tinggal di sebuah
apartemen di New York. Sedangkan aku saat ini sudah hampir semester akhir. Itu
artinya sebentar lagi aku akan lulus dari kuliahku dan bekerja.
Meskipun begitu Kyle masih suka mengunjungiku di asrama, bahkan
sesekali aku tinggal di apartemennya atas permintaan dia. Melihat Kyle dalam pakaian kantor benar-benar
sangat tampan sekali. Banyak orang yang mulai terpesona dengan kekasihku
tercinta ini.
Salah satunya yaitu Mary Jean Brown, yang merupakan partnernya dalam
bisnis. Mary Jean memang cantik dan terlihat sexy jika menggunakan pakaian
kantor. Tentu saja ia termasuk yang cerdas. Tadinya aku pikir Mary Jean hanya
menganggap Kyle sebagai partner dalam berbisnis juga. Tapi dugaanku salah.
Dia menyukai Kyle-ku, aku takkan membiarkan Mary merebut Kyle-ku
begitu saja. Aku akan membuat perhitungan kalau sampai dia mengganggu
hubunganku dengan Kyle. Sampai pada suatu hari, sepulang kuliah aku memutuskan
untuk mampir ke kantornya Kyle. Karena sekretarisnya sedang tidak ada aku
langsung saja membuka pintu kantornya.
Dan pemandangan di dalam sana sangat mencengangkan dan membuat
hatiku hancur. Ya, aku mellihat Kyle sedang berciuman dengan Mary Jean. Aku sangat
sangat shock. Aku tak tahu apa yang harus aku katakana dan harus aku lakukan.
Otakku mendadak buntu, lidahku menjadi kelu. Ya Tuhan…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar