Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 11


Chapter 11

            Kyle naik ke atas panggung, ia mengambil gitarnya lalu duduk dan mulai memetik senar gitar dengan jari-jarinya yang terampil.

            Tapi sebelum memulai bernyanyi, Kyle memberikan sedikit kata-kata yang tentu saja di tujukan untukku. Secara otomatis wajahku menjadi memerah.

            “Lagu ini saya persembahkan khusus untuk kekasih saya, karena dia bebar-benar sudah mengubah hidup saya jadi lebih baik. Izzie, I don’t know what I’ve to say to you… I just wanna say… I love you with all of my heart and all of my soul…”

“Say my name like you are my baby
Cuz my generation
Don’t have no patience
Let it fade out and call me lazy
Cuz I never seem to know what I want
Well I can find someone tomorrow
But baby you’re a though act to follow
I hope this is never over
I’ll never be alone, if you take me home
Let’s go cuz we only get older
I’ll never be alone, if you take me home

            Aku benar-benar merasa sangat terhanyut oleh suaranya, terlebih lagi ketika Kyle sedang bernyanyi. Benar-benar membuat tubuhku melayang-layang di udara. Lagu pun selesai, Kyle turun dari panggung dan langsung duduk di sampingku.
           
“Bagaimana? Apakah kau suka dengan lagunya?” tanyanya sambil menggenggam mesra tanganku.
            “Sangat bagus, Kyle. Aku tidak dapat berkata apa-apa. Terima kasih, buat lagu indah yang sudah kau nyanyikan untukku.”
            I love you, Izzie…” ucapnya sambil menatap lekat mataku.
            And I love you too, Kyle…”
           
Lalu Kyle mencium mesra bibirku. Kami melanjutkan makan malam kami sambil berbincang-bincang banyak hal. Ah, aku semakin mencintainya, Kyle-ku… Kyle-ku tersayang, aku bahagia melihatnya ceria. Dan tatapan matanya tidak sesedih dan semuram ketika pertama kali kami bertemu. Kami menghabiskan waktu berdua di kafe itu hingga larut, sebelum akhirnya Kyle memaksaku untuk pulang. Padahal besok hari Minggu.
           
Keesokkan harinya….

            Dengan malas aku membuka mataku. Ternyata sudah pagi, ketika memelihat ke sebelah kiriku, aku mellihat Kyle yang sedang tertidur. Ia terlihat sangat tampan dan polos ketika tidur seperti ini. Aku cekikikan sendiri melihat ekspresi wajahnya yang sedang tidur. Perlahan aku membelai wajahnya dengan jariku perlahan. Aku menyusuri tiap inchi wajahnya yang begitu tampan. Sampai akhirnya ia terbangun.

            “Hei, selamat pagi sayang,” sapanya dengan mata yang masih mengantuk.
            “Selamat pagi, sepertinya kau masih mengantuk. Tidur saja lagi, aku mau pergi mandi.”
            “Kau mau kemana? Ini kan hari Minggu?”
            “Aku mau mandi dan menyiapkan sarapan. Jadi selama aku aku dan memasak sebaiknya kau tidur saja.” Ucapku sambil bangun dari tempat tidur.
            Kyle menarik tubuhku hingga aku terhempas kembali ke tempat tidur. “Kyle, aku harus bangun…”
            “Nanti saja, temani aku tidur.” Ucapnya sambil memejamkan mata.
            “Tidak, aku harus bangun, mandi dan menyiapkan makanan. Karena sepanjang malam aku mendengar suara dari dalam perutmu.”
            Mendengar perkataanku Kyle langsung membuka matanya dengan tatapan yang terkejut, “Apakah itu benar, sayang?”

            Aku mengangguk dengan pasti dan berusaha untuk menahan bibirku agar tidak tertawa.

            “Ah, sialan. Benar-benar memalukan sekali,” rutuknya dengan kesal dan wajahnya sedikit memerah.
            “Maka dari itu, biarkan aku membuat makanan untuk kekasihku tersayang ini. Kau tidur saja lagi. Aku akan membangunkanmu jika semuanya sudah siap. Apa itu OK?”

            Ia hanya mengangguk pelan. Aku langsung pergi menuju kamar mandi sambil tersenyum melihat wajahnya. Hehehe, kena kau kukerjai. Setelah selesai mandi dan berakaian, langsang saja aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Tak lupa aku melihat ke kamar, ternyata Kyle tidur lagi.       

            Beberapa saat kemudian sarapanpun selesai, aku bergegas untuk membangunkan Kyle, tapi ternyata ia sudah tidak ada di tempat tidur. Hanya terdengar suara air dari dalam kamar mandi. Mungkin dia sedang mandi, tebakku dalam hati.

            Ketika aku sedang mengatur piring di atas meja, tiba-tiba Kyle datang dan memelukku dari belakang. Dia langsung menciumku dengan penuh kelembutan.   

            “Selamat pagi, my princess,” sapanya lembut.
            “Selamat pagi juga my prince. Siap buat sarapan?”
            “Yup, tentu saja. Perutku sudah lapar.” Ucapnya sambil melepaskan pelukannya lalu duduk di kursi. “Roti panggang cokelat. Bagaimana kau tahu menu kesukaanku ketika sarapan, Izzie.?”
            “Kau suka roti panggang cokelat juga? Ini memang makanan kesukaanku juga sejak aku masih kecil.”
            “Wah, benar-benar kebetulan yang tidak terduga. Kita benar-benar berjodoh kalau begini.”
            “Ya sudah, mari kita sarapan saja.”

            Lalu kami segera sarapan bersama. Lagi-lagi hal baru yang aku alami.  Membuat dan sarapan bersama kekasihku, Kyle. Hari Minggu kali ini terasa berbeda dari sebelum. Tuhan, aku berharap semua ini akan berlangsung selamanya. Sampai maut memisahkan kami berdua. Aku ini menjalani hubungan ini selamanya bersama Kyle, doa’aku dalam hati. Dan bisa melihat senyuman manisnya itu selamanya.

            “Hey, bukannya makan kok malah bengong. Sedang memikirkan apa?”
            “Tidak ada, kok. Hehehehe…” jawabku sambil meminum susu hangatnya.
            “Tiap hari seperti ini. Pasti akan sangat mengenangkan, ya. Aku ingin segera melamarmu untuk menjadi istriku, Izzie.”

            Mendengar ucapan Kyle aku langsung tersedak, karena kaget mendengar ucapan yang keluar dari bibirnya yang mungil dan tipis itu.

            “Kau tidak apa-apa, sayang?” tanyanya panic.
            “Aku tidak apa-apa, kok. Sudah-sudah ayo habiskan sarapannya.” Jawabku.

            Ya Tuhan, apa dia berniat untuk melamarku? Ini terlalu cepat, sangat cepat malah. Tuhan jangan biarkan wajahku memerah.  Aku benar-benar merasa bahagia mendengarnya, bahwa ia ingin menghabiskan sisa hidupnya bersamaku. Tapi tidak secepat ini, kuliahku saja belum selesai, begitupun dengan Kyle. Kalau memang dia jodohku biarkan kami tetap dekat seperti ini Tuhan.

***

Tidak terasa, hubunganku dengan Kyle sudah berjalan selama 6 bulan. Saat ini Kyle bekerja di perusahaan milik ayahnya dan tinggal di sebuah apartemen di New York. Sedangkan aku saat ini sudah hampir semester akhir. Itu artinya sebentar lagi aku akan lulus dari kuliahku dan bekerja.
Meskipun begitu Kyle masih suka mengunjungiku di asrama, bahkan sesekali aku tinggal di apartemennya atas permintaan dia.  Melihat Kyle dalam pakaian kantor benar-benar sangat tampan sekali. Banyak orang yang mulai terpesona dengan kekasihku tercinta ini.

Salah satunya yaitu Mary Jean Brown, yang merupakan partnernya dalam bisnis. Mary Jean memang cantik dan terlihat sexy jika menggunakan pakaian kantor. Tentu saja ia termasuk yang cerdas. Tadinya aku pikir Mary Jean hanya menganggap Kyle sebagai partner dalam berbisnis juga. Tapi dugaanku salah.

Dia menyukai Kyle-ku, aku takkan membiarkan Mary merebut Kyle-ku begitu saja. Aku akan membuat perhitungan kalau sampai dia mengganggu hubunganku dengan Kyle. Sampai pada suatu hari, sepulang kuliah aku memutuskan untuk mampir ke kantornya Kyle. Karena sekretarisnya sedang tidak ada aku langsung saja membuka pintu kantornya.

Dan pemandangan di dalam sana sangat mencengangkan dan membuat hatiku hancur. Ya, aku mellihat Kyle sedang berciuman dengan Mary Jean. Aku sangat sangat shock. Aku tak tahu apa yang harus aku katakana dan harus aku lakukan. Otakku mendadak buntu, lidahku menjadi kelu. Ya Tuhan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar