Senin, 29 Oktober 2012

Light At The End of The Tunnel Chapter 2


Chapter 2

            Setelah Eric Dill meninggalkan ruanganku tepat pukul tiga sore. Aku kembali melanjutkan pekerjaanku yang sempat tertunda. Kami berncana untuk melakukan kembali pertemuan kembali pada hari Rabu. Dan ia meminta agar pertemuan dilakukan di perusahaanku, tepatnya di ruanganku.

            Aku sudah sangat yakin apa tujuannya. Ya, karena ia ingin bertemu dan memandangi lagi wajah istriku. Aku sangat yakin sekali kalau Eric jatuh cinta pada Izzie-ku.

            “Sir, apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba suara Izzie mengagetkan lamunanku.
            “Kalau boleh jujur aku tidak baik-baik saja.”
            “Apa ada masalah dengan Mr. Dill?”
            “Ya, masalah yang sangat besar Miss Williams.”
            “Masalah apa kalau boleh aku tahu Mr. Dickherber?”
            “Kau…” jawabku singkat.
            “Apa? Aku…” ia kaget mendengar jawabanku, “Bagaimana bisa aku menjadi sebuah ‘masalah’ yang sangat besar itu?” lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.
            “Iya, karena Dill terus saja memandangimu, Izzie. Bahkan ia berkata kalau kau menjadi asisten pribadinya, ia tak hanya akan menjadikanmu seorang asisten. Tapi CEO dari Seattle itu memiliki keinginan untuk memperistrimu.” Jawabku emosi.

            Mendengar penjelasanku Izzie malah tertawa. Sudah lama aku tidak melihatnya tertawa seperti itu, tapi meksipun begitu aku tetap kesal. Karena ia tidak merasakan ketakutanku akan kehilangannya.

            “Kau lucu sekali Mr. DIckherber.” Jawabnya sambil berusaha menghentikan tawanya.
            “Tidak lucu Miss Williams. Aku tidak sedang membuat lelucon denganmu.”
            “Aku tahu, aku minta maaf. Hanya saja kau terlalu berlebihan, Kyle. Ketakutanmu terlalu berlebihan.” Ucapnya sambil mendekat lalu duduk di kursi depan mejaku,
            “Aku benar-benar takut, Izzie.”
            “HIlangkan ketakutanmu itu. Aku ada disini, disampingmu dan itu yang akan aku lakukan sampai maut benar-benar memisahkan kita. Aku milikmu selamanya, Kyle. aku takkan pernah berpaling pada lelaki manapun. Apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai seorang bayi. Aku mohon hilangkan semua perasaan itu dan percayalah padaku.

            Izzie menggenggam tangunku erat lalu mendaratkan sebuah ciuman yang lembut dibibirku. Dan itu membuatku kembali tenang. Aku memang harus mempercayainya, tak ada yang perlu aku takutkan. Karena saat ini Izzie sudah menjadi milikku, kami juga akan segera mempunyai seorang bayi.

            Seorang bayi yang akan mengikat kami berdua selamanya. Aku benar-benar sangat mencintai istriku ini. Lalu kami berdua kembali menyelesesaikan pekerjaan kami sampai waktu menunjukan jam pulang.

***

            “Kau punya informasi apa John?”
            “Saya mempunyai dua informasi yang penting Miss Brown.”
            “Cepat katakana padaku, John.”
            “Saat ini Miss Williams bekerja di perusahaan Mr. Dickerber dan menjadi asisten pribadinya, Miss. Dan menurut info yang berhasil saya kumpulkan Mr. Dickerber telah menikah dengan Miss Williams tiga bulan yang lalu.
            “APA!!!! Apa kau yakin, John?” kabar yang aku terima seperti petir yang menyambar disiang hari. Kyle dan Izzie sudah menikah? Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi.
            “Iya, Miss Brown. Saya mendapatkan informasi itu dari saah satu staf eksekutif di perusahaan Mr. Dickherber.”
            “Lanjutkan pekerjaanmu, John.” Aku menutup telepon dengan kasar dan langsung melemparnya.

            Aku berjalan mondar mandir di dalam ruannganku. Kabar yang baru aku terima benar-benar membuatku gila.

            “Bagaimana mungkin Kyle dan Izzie menikah? Aku tak bisa membiarkan semua ini, aku harus mencari cara untuk memisahkan mereka selamanya. Kau akan menerima pembalasan dariku Izzie. Sepertinya aku mendapatkan ide untuk menyingkirkan Izzie dari hidup Kyle selamanya.”

            Sejak mendapatkan kabar penikahan Izzie dan Kyle hidupku benar-benar seperti neraka. Sangat sangat kacau dan buruk. Rasanya aku ingin mati saja, karena lelaki yang kucintai sudah menikahi wanita lain.

            Aku tidak bisa menerima semua itu. Terlalu mudah jika aku mati, dan membuat mereka berdua bahagia diatas penderitaanku. Aku takkan pernah membiarkannya. Takkan pernah.

            Keesokkan harinya aku memberanikan diri untuk mendatangi Kyle di perusahaannya. Aku ingin membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Dan ternyata benar saja, Izzie membukakan pintu ruangan Kyle, bahkan meja kerjanya berada satu ruangan dengan Kyle.

            Ya Tuhan, semua pemandangan ini benar-benar membuatku gila. Ingin rasanya aku langsung menjambak dan menampar Izzie. Tapi, semua itu tidak mungkin aku lakukan di kantornya Kyle.

            “Ah, Miss Brown. Selamat datang lama tak berjumpa.” Sapanya padaku.
            “Rupanya kau bekerja disini?”
            “Yup, dan aku menyukai pekerjaanku ini. Karena bisa terus berada dekat dengan suamiku tersayang. Ah, iya aku hampir lupa Kyle sedang ada pertemuan, mungkin ia akan lama, jadi silakan tunggu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.”
           
            Izzie, meninggalkanku dan kembali duduk di kursinya. Sialan, rupanya sekarang ia tidak selemah waktu itu.

            Aku pun menuju sofa yang ada diruangan itu dan duduk. Aku terus memperhatikan Izzie dari tempatku duduk. Di sela pekerjaannya tak jarang ia mengelus-elus perutnya. Dan itu membuatku penasaran, apakah ia sedang hamil? Tapi mengapa secepat ini.

            Tiba-tiba saja aku mendapatkan ide. Kalau dia memang benar-benar sedang hamil, aku akan membuatnya kehilangan bayinya.

            “Bolehkah aku menggunakan toilet di ruangan ini?”
            “Ya, tentu saja, silakan.”
           
            Aku langsung beranjak dan menuju toilet yang ada  di situ. Lalu aku menuangkan salah satu sabun cair yang di situ dan menuangkannya kelantai. Sabun cair ini akan membuat lantai menjadi licin. Tentu saja tidak akan terlihat karena sabunnya berwarna transparan.

            Setelah selesai aku buru-buru kembali. Dan bersikap seperti biasa.

            “Apa Kyle masih belum kembali?”
            “Lima menit lagi ia tiba Miss Brown, karena aku sudah menghubunginya barusan.’

            Lima menit kemudian Kyle datang, wajahnya benar-benar tidak bersahabat padaku. “Mau apa kau datang kemari, Mary?”
            “Aku kemari untuk membicarakan tentang bisnis.”
            “Aku sudah tidak ingin bekerja sama lagi denganmu. Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum aku bertindak kasar padamu.”
            “Kyle, sudahlah. Tahan emosimu, mungkin Mary Jeane memang datang untuk membicarakan pekerjaan denganmu.’
            “Kau tidak apa-apa? Ia tidak melukaimu kan, sayang?”
            “Tidak, aku baik-baik saja. Ia tidak melakukan apa-apa padaku.”
            Kyle kembali mengarahkan panangannya padaku. “Sebaiknya kau pergi dari sini, hubungan kerja sama kita sudah berakhir.”
            “Kau benar-benar keterlaluan, Kyle.” ucapku sambil menghambur keluar dari ruangan itu.

            Tapi ketika di luar aku tersenyum senang, karena aku akan segera mendapatkanmu Kyle. Aku akan membuat Izzie benar-benar tidak bisa memberikanmu keturunan.

***

            Setelah wanita itu pergi Kyle langsung memelukku erat. “Sayang, kau tidak apa-apa, kan?”
            “Aku baik-baik saja Kyle, sungguh aku baik-baik saja. Ia tidak melakukan apapun padaku.”
            “Maaf aku sudah meninggalkanmu lama.”
            “Kyle, aku tidak apa-apa, jadi berhentilah bersikap seperti itu. Dan sekarang aku mau ke toilet, bisakah kau melepaskan pelukanmu? Ini masih jam kerja Mr. Dickherber.”
            Pelukannya melonggar dan akhirnya terlepas, “Maafkan aku, sayang, pergilah.”
            Aku membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu melangkahkan kakiku menuju ke toilet yang ada di ruang kerja suamiku.

            Ketika aku akan masuk kedalam bilik tiba-tiba saja aku terpeleset dan terjatuh. Dan perutku langsung mengalami sakit yang sangat hebat. Aku benar-benar ketakutan, aku takut terjadi sesuatu pada kandunganku.

            Sambil meringis menahan sakit aku berusaha untuk bangun. Betapa terkejutnya aku ketika  melihat darah segar yang meluncur dengan mulus di pahaku. Ya Tuhan, jangan, aku tak ingin kehilangan bayiku.

            Aku mengumpulkan segenap kekuatanku untuk memanggil Kyle, “ Kyle… Kyle…” teriakku dengan suara yang lebih keras namun terdengar serak.

            Tak lama kemudian Kyle tiba dengan wajah yang sangat panic sekali, “Apa apa, sayang?” tanyanya. Belum sempat aku menjawab ia sudah terpekik melihat darah yang keluar dari pahaku, “Ya Tuhan, kau kenapa, sayang?”
            “Aku terpeleset dan perutku sangat sakit sekali. Cepat bawa aku ke rumah sakit, Kyle. aku tak ingin terjadi sesuatu pada bayi ini.”

            Kyle langsung memangkuku dan bergegas membawaku ke rumah sakit terdekat secepat mungkin. Wajahnya terlihat menegang keras dan sangat pucat.

            Ya Tuhan, aku mohon selamatkan bayi ini, jangan ambil bayi ini dari kami. Karena bayi ini sangat inginkan oleh Kyle. Aku meringis menahan rasa sakit yang kurasakan, rasanya seperti mau mati. Ya Tuhan…

2 komentar:

  1. kak lupa ngasih tanda petik tuh pas dialognya izzie yang " hilangkan ketakutanmu itu........"

    jahat bgt sih Mary Jane :(

    BalasHapus
  2. iya, mary jeane jhat bner...

    typonya ad berapa yak??
    xD

    BalasHapus