Chapter 2
Setelah
Eric Dill meninggalkan ruanganku tepat pukul tiga sore. Aku kembali melanjutkan
pekerjaanku yang sempat tertunda. Kami berncana untuk melakukan kembali
pertemuan kembali pada hari Rabu. Dan ia meminta agar pertemuan dilakukan di
perusahaanku, tepatnya di ruanganku.
Aku sudah sangat
yakin apa tujuannya. Ya, karena ia ingin bertemu dan memandangi lagi wajah
istriku. Aku sangat yakin sekali kalau Eric jatuh cinta pada Izzie-ku.
“Sir, apa kau baik-baik saja?” tiba-tiba
suara Izzie mengagetkan lamunanku.
“Kalau
boleh jujur aku tidak baik-baik saja.”
“Apa ada
masalah dengan Mr. Dill?”
“Ya,
masalah yang sangat besar Miss Williams.”
“Masalah
apa kalau boleh aku tahu Mr. Dickherber?”
“Kau…”
jawabku singkat.
“Apa? Aku…”
ia kaget mendengar jawabanku, “Bagaimana bisa aku menjadi sebuah ‘masalah’ yang
sangat besar itu?” lanjutnya sambil menggelengkan kepalanya.
“Iya,
karena Dill terus saja memandangimu, Izzie. Bahkan ia berkata kalau kau menjadi
asisten pribadinya, ia tak hanya akan menjadikanmu seorang asisten. Tapi CEO
dari Seattle itu memiliki keinginan untuk memperistrimu.” Jawabku emosi.
Mendengar
penjelasanku Izzie malah tertawa. Sudah lama aku tidak melihatnya tertawa
seperti itu, tapi meksipun begitu aku tetap kesal. Karena ia tidak merasakan
ketakutanku akan kehilangannya.
“Kau lucu
sekali Mr. DIckherber.” Jawabnya sambil berusaha menghentikan tawanya.
“Tidak lucu
Miss Williams. Aku tidak sedang membuat lelucon denganmu.”
“Aku tahu,
aku minta maaf. Hanya saja kau terlalu berlebihan, Kyle. Ketakutanmu terlalu
berlebihan.” Ucapnya sambil mendekat lalu duduk di kursi depan mejaku,
“Aku
benar-benar takut, Izzie.”
“HIlangkan
ketakutanmu itu. Aku ada disini, disampingmu dan itu yang akan aku lakukan
sampai maut benar-benar memisahkan kita. Aku milikmu selamanya, Kyle. aku takkan
pernah berpaling pada lelaki manapun. Apalagi sebentar lagi kita akan mempunyai
seorang bayi. Aku mohon hilangkan semua perasaan itu dan percayalah padaku.
Izzie
menggenggam tangunku erat lalu mendaratkan sebuah ciuman yang lembut dibibirku.
Dan itu membuatku kembali tenang. Aku memang harus mempercayainya, tak ada yang
perlu aku takutkan. Karena saat ini Izzie sudah menjadi milikku, kami juga akan
segera mempunyai seorang bayi.
Seorang
bayi yang akan mengikat kami berdua selamanya. Aku benar-benar sangat mencintai
istriku ini. Lalu kami berdua kembali menyelesesaikan pekerjaan kami sampai
waktu menunjukan jam pulang.
***
“Kau punya
informasi apa John?”
“Saya
mempunyai dua informasi yang penting Miss Brown.”
“Cepat
katakana padaku, John.”
“Saat ini
Miss Williams bekerja di perusahaan Mr. Dickerber dan menjadi asisten
pribadinya, Miss. Dan menurut info yang berhasil saya kumpulkan Mr. Dickerber
telah menikah dengan Miss Williams tiga bulan yang lalu.
“APA!!!!
Apa kau yakin, John?” kabar yang aku terima seperti petir yang menyambar
disiang hari. Kyle dan Izzie sudah menikah? Bagaimana mungkin hal ini bisa
terjadi.
“Iya, Miss
Brown. Saya mendapatkan informasi itu dari saah satu staf eksekutif di
perusahaan Mr. Dickherber.”
“Lanjutkan
pekerjaanmu, John.” Aku menutup telepon dengan kasar dan langsung melemparnya.
Aku
berjalan mondar mandir di dalam ruannganku. Kabar yang baru aku terima
benar-benar membuatku gila.
“Bagaimana
mungkin Kyle dan Izzie menikah? Aku tak bisa membiarkan semua ini, aku harus
mencari cara untuk memisahkan mereka selamanya. Kau akan menerima pembalasan
dariku Izzie. Sepertinya aku mendapatkan ide untuk menyingkirkan Izzie dari
hidup Kyle selamanya.”
Sejak
mendapatkan kabar penikahan Izzie dan Kyle hidupku benar-benar seperti neraka.
Sangat sangat kacau dan buruk. Rasanya aku ingin mati saja, karena lelaki yang
kucintai sudah menikahi wanita lain.
Aku tidak
bisa menerima semua itu. Terlalu mudah jika aku mati, dan membuat mereka berdua
bahagia diatas penderitaanku. Aku takkan pernah membiarkannya. Takkan pernah.
Keesokkan
harinya aku memberanikan diri untuk mendatangi Kyle di perusahaannya. Aku ingin
membuktikan dengan mata kepalaku sendiri. Dan ternyata benar saja, Izzie
membukakan pintu ruangan Kyle, bahkan meja kerjanya berada satu ruangan dengan
Kyle.
Ya Tuhan,
semua pemandangan ini benar-benar membuatku gila. Ingin rasanya aku langsung
menjambak dan menampar Izzie. Tapi, semua itu tidak mungkin aku lakukan di
kantornya Kyle.
“Ah, Miss
Brown. Selamat datang lama tak berjumpa.” Sapanya padaku.
“Rupanya
kau bekerja disini?”
“Yup, dan
aku menyukai pekerjaanku ini. Karena bisa terus berada dekat dengan suamiku
tersayang. Ah, iya aku hampir lupa Kyle sedang ada pertemuan, mungkin ia akan
lama, jadi silakan tunggu. Aku harus menyelesaikan pekerjaanku.”
Izzie,
meninggalkanku dan kembali duduk di kursinya. Sialan, rupanya sekarang ia tidak
selemah waktu itu.
Aku pun
menuju sofa yang ada diruangan itu dan duduk. Aku terus memperhatikan Izzie
dari tempatku duduk. Di sela pekerjaannya tak jarang ia mengelus-elus perutnya.
Dan itu membuatku penasaran, apakah ia sedang hamil? Tapi mengapa secepat ini.
Tiba-tiba
saja aku mendapatkan ide. Kalau dia memang benar-benar sedang hamil, aku akan
membuatnya kehilangan bayinya.
“Bolehkah
aku menggunakan toilet di ruangan ini?”
“Ya, tentu
saja, silakan.”
Aku
langsung beranjak dan menuju toilet yang ada
di situ. Lalu aku menuangkan salah satu sabun cair yang di situ dan
menuangkannya kelantai. Sabun cair ini akan membuat lantai menjadi licin. Tentu
saja tidak akan terlihat karena sabunnya berwarna transparan.
Setelah
selesai aku buru-buru kembali. Dan bersikap seperti biasa.
“Apa Kyle
masih belum kembali?”
“Lima menit
lagi ia tiba Miss Brown, karena aku sudah menghubunginya barusan.’
Lima menit
kemudian Kyle datang, wajahnya benar-benar tidak bersahabat padaku. “Mau apa
kau datang kemari, Mary?”
“Aku kemari
untuk membicarakan tentang bisnis.”
“Aku sudah
tidak ingin bekerja sama lagi denganmu. Sebaiknya kau pergi dari sini, sebelum
aku bertindak kasar padamu.”
“Kyle,
sudahlah. Tahan emosimu, mungkin Mary Jeane memang datang untuk membicarakan
pekerjaan denganmu.’
“Kau tidak
apa-apa? Ia tidak melukaimu kan, sayang?”
“Tidak, aku
baik-baik saja. Ia tidak melakukan apa-apa padaku.”
Kyle
kembali mengarahkan panangannya padaku. “Sebaiknya kau pergi dari sini,
hubungan kerja sama kita sudah berakhir.”
“Kau
benar-benar keterlaluan, Kyle.” ucapku sambil menghambur keluar dari ruangan
itu.
Tapi ketika
di luar aku tersenyum senang, karena aku akan segera mendapatkanmu Kyle. Aku
akan membuat Izzie benar-benar tidak bisa memberikanmu keturunan.
***
Setelah
wanita itu pergi Kyle langsung memelukku erat. “Sayang, kau tidak apa-apa,
kan?”
“Aku
baik-baik saja Kyle, sungguh aku baik-baik saja. Ia tidak melakukan apapun
padaku.”
“Maaf aku
sudah meninggalkanmu lama.”
“Kyle, aku
tidak apa-apa, jadi berhentilah bersikap seperti itu. Dan sekarang aku mau ke
toilet, bisakah kau melepaskan pelukanmu? Ini masih jam kerja Mr. Dickherber.”
Pelukannya
melonggar dan akhirnya terlepas, “Maafkan aku, sayang, pergilah.”
Aku
membalasnya dengan sebuah senyuman, lalu melangkahkan kakiku menuju ke toilet
yang ada di ruang kerja suamiku.
Ketika aku
akan masuk kedalam bilik tiba-tiba saja aku terpeleset dan terjatuh. Dan
perutku langsung mengalami sakit yang sangat hebat. Aku benar-benar ketakutan,
aku takut terjadi sesuatu pada kandunganku.
Sambil
meringis menahan sakit aku berusaha untuk bangun. Betapa terkejutnya aku ketika
melihat darah segar yang meluncur dengan
mulus di pahaku. Ya Tuhan, jangan, aku tak ingin kehilangan bayiku.
Aku
mengumpulkan segenap kekuatanku untuk memanggil Kyle, “ Kyle… Kyle…” teriakku
dengan suara yang lebih keras namun terdengar serak.
Tak lama
kemudian Kyle tiba dengan wajah yang sangat panic sekali, “Apa apa, sayang?”
tanyanya. Belum sempat aku menjawab ia sudah terpekik melihat darah yang keluar
dari pahaku, “Ya Tuhan, kau kenapa, sayang?”
“Aku
terpeleset dan perutku sangat sakit sekali. Cepat bawa aku ke rumah sakit,
Kyle. aku tak ingin terjadi sesuatu pada bayi ini.”
Kyle
langsung memangkuku dan bergegas membawaku ke rumah sakit terdekat secepat
mungkin. Wajahnya terlihat menegang keras dan sangat pucat.
Ya Tuhan,
aku mohon selamatkan bayi ini, jangan ambil bayi ini dari kami. Karena bayi ini
sangat inginkan oleh Kyle. Aku meringis menahan rasa sakit yang kurasakan,
rasanya seperti mau mati. Ya Tuhan…
kak lupa ngasih tanda petik tuh pas dialognya izzie yang " hilangkan ketakutanmu itu........"
BalasHapusjahat bgt sih Mary Jane :(
iya, mary jeane jhat bner...
BalasHapustyponya ad berapa yak??
xD