Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 13


Chapter 13

            Aku benar-benar merasa beruntung, karena Nanny Kelly masih mau mengurusku. Ya, Nanny Kelly sudah sangat lama sekali bekerja pada keluargaku. Dan aku di rawatnya sejak aku masih bayi hingga saat ini. Aku mengganggap ia sudah seperti ibuku sendiri. Aku selalu bercerita banyak hal kepadanya termasuk tentang Izzie. Tak mengherankan jika Nanny Kelly sangat menyukai Izzie. Karena menurut Nanny, Izzie sudah merubah aku menjadi seseorang yang lebih baik. Karena Izzie benar-benar memiliki hati yang tulus.

             Dan sekarang, aku sudah mencelakakan Izzie. Aku sudah sangat yakin sekali bahwa Nanny Kelly akan memarahiku, karena sampai membuat Izzie seperti ini. Tapi, ternyata dugaanku salah. Nanny Kelly tidak marah, justru ia lah yang menjadi penyemangat aku saat ini.

            “Kyle, kau harus makan sesuatu. Kau baru pulang, kan.”
            “Tidak, Nanny, terima kasih. Aku tidak lapar.”
            “Tidak, kau harus makan. Tunggulah di sini, Nanny pergi dulu.”

            Nanny lalu pergi keluar. Tinggalah aku sendiri di ruangan ini, hanya bisa memandangi Izzie yang terbaring lemah tak berdaya. Hatiku sangat sangat sakit melihatnya.

            “Sayang, aku mohon buka mata kamu. Kamu harus sembuh, jangan pernah tinggalin, sayang.” Tanpa terasa air mataku menetes tepat di atas pipi Izzie. “Maafkan aku Izzie, maafkan aku karena sudah membuatmu menangis dan dan dan…” aku benar-benar tak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Mencoba untuk mendapatkan kembali ketenanganku dan mengendalikan emosi, serta meredam rasa sakit yang ku rasakan saat ini. “Apapun akan ku lakukan, asalkan kau sembuh dan mau memaafkanku Izzie.”

***

            Nanny Kelly pulang ke apartemen. Sedangkan aku tetap berada di rumah sakit. Aku ingin ada di samping Izzie ketika ia sadar nanti. Aku takkan meninggalkannya sedetikpun. Besok Tom akan datang. Aku bernar-benas merasa sangat bersalah padanya, karena tidak bisa menjaga Izzie dengan benar. Meskipun Tom sudah mengetahui alasannya dan dia bilang tidak perlu di pikirkan. Tapi tetap saja aku merasa ini semua salahku.

            Akhirnya aku pun tertidur di samping Izzie. Keesokan harinya Tom datang bersama Amanda yang sudah resmi menjadi tunangannya dan sebentar lagi mereka berdua akan segera menikah. Ah, kapan aku dan Izzie benar-benar bisa bersatu? Pikiranku jadi jauh menerawang, membayangkan masa depanku dan Izzie kelak.     

            “Kyle, kau kenapa? Sudahlah, jangan merasa bersalah seperti itu. Aku mengerti permasalahannya apa. Kalian hanya salah paham, dan Izzie harus mau mendengar penjelasanmu nanti.” Ucap Tom padaku.
            “Tapi, Tom, tetap saja ini salahku. Aku benar-benar tidak becus menjaga Izzie, padahal aku sudah berjanji padamu untuk menjaga Izzie.”
            “Sudahlah, Kyle, yang penting sekarang kita berdoa agar Izzie segera sadar dan sembuh. Agar semuanya bisa dibicarakan dengan baik-baik.” Timpal Amanda.
            “Makasih, Manda.” Ucapku dengan senyum yang di paksakan.
            “Keadaannya tidak begitu parahkan, Kyle?” tanya Tom.
            “Dokter bilang tidak begitu parah. Hanya saja Izzie harus beristirahat total untuk memulihkan tulang rusuknya yang patah.”
            “Kyle, ada baiknya Izzie pindah saja ke apartemenmu. Aku benar-benar cemas pada Izzie, dia kan di asrama tidak ada yang mengawasi. Apa itu oke?”
            “Dengan senang hati, Tom. Aku juga sudah lama punya pemikiran seperti ini, kalau tinggal bersamaku Izzie bisa dengan mudah di awasi.”
            “Ya sudah, kalau begitu hari ini aku akan memindahkan barang-barang Izzie ke apartemenmu. Jadi ketika izzie sudah sembuh ia akan langsung pulang ketempatmu.”

            Aku mengangguk menyetujuinya. Lalu Tom dan Amanda pamit, untuk membereskan barang-barang milik Izzie. Ada perasaan lega dalam hatiku karena aku akan melihat wajah Izzie sepanjang waktu. Takkan merasa kesepian lagi, Izzie ada di sampingku.

            “Izzie, ayo cepat sadar sayang. Aku mohon, bukalah matamu.” Ucapku sambil mencium keningnya.
              Beberapa menit kemudian Tom menelepon. Suaranya terdengar sangat panic sekali.

            “Ada apa, Tom?”
            “Kyle, ada seseorang yang masuk kedalam Izzie. Karena ketika aku masuk keadaan di dalam sangat berantakan, benar-benar seperti kapal pecah. Berarti aku tidak salah ambil keputusan untuk memindahkan izzie ke apatemenmu.”
            “Ya Tuhan, kira-kira siapa yang berani melakukannya?”
            “Kau tenang saja, aku sudah menyuruh anak buahku untuk segera menyelidikinya. Dan selain itu aku juga menugaskan beberapa bodygourd di apartemenmu dan di rumah sakit.”
            Thanks, Tom. Aku juga pasti akan ikut menyelidiki masalah ini.”
            “Untuk sekarang ini biar aku saja yang menanganinya. Kau focus sajalah pada Izzie.”
            “Oke, thanks atas informasinya, Tom. Kabari aku secepatnya kalau kau menemukan sesuatu.”
            “Pasti, ya sudah kalau begitu. Baru itu saja yang bisa aku informasikan.”

            Lalu Tom memutus teleponnya. Ya Tuhan, siapa orang yang tega melakukan hal itu. Setahu aku Izzie tidak mempunyai musuh sama sekali. Meskipun aku mengakui lebih banyak orang yang iri padanya. Aku benar-benar sangat shock mendengar kabar ini dari Tom.

***
           
Hari itu aku membuka mataku perlahan-lahan. Di mana ini? Ruangan ini serba putih, apakah aku berada di rumah sakit? Mataku langsung berjelajah mengelilingi ruangan itu. Pandanganku langsung tertuju pada sosok yang sedang tertidur di sampingku. Kyle… wajahnya terlihat sangat kelelahan.
           
Aku membelai wajahnya dengan sangat perlahan, karena aku tidak ingin membangunkannya. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padaku. Dan aku ingat, aku pulang ke apartemen sambil menangis, minum banyak anggur lalu pergi dengan mengendarai motor sport milik Kyle. Lalu di tengah perjalanan aku melihat sebuah truk yang melaju kencang menuju ke arahku dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa.
             Seketika itu juga aku langsung mengingat kejadian di kantor Kyle. Hatiku terasa sangat sakit mengingat kejadian itu. Namun melihat wajahnya yang sangat kelelahan saat ini, sedikit melunturkan amarah dalam hatiku. Tuhan, aku begitu mencintai pria ini. Bahkan perasaan itu semakin bertambah besar.

            Tiba-tiba saja Kyle terbangun, mungkin aku sudah membuatnya terbangun.

            “Sayang, kau sudah sadar? Terima kasih Tuhan,” ucapnya sambil terus menciumi tanganku.
            “Kyle…” panggilku dengan suara parau.
            “Sayang, aku harus memanggil dokter dan suster.” Jawabnya dengan mata berbinar.
            “Tidak, Kyle. Aku hanya butuh kamu di sini.”
            “Aku tidak akan meninggalkanmu, sayang. Tapi dokter harus memeriksa keadaanmu.” Jawabnya lembut.

            Kyle lalu pergi keluar untuk memanggil dokter. Ya Tuhan, kasihan Kyle-ku. Wajahnya benar-benar sangat kusut dan kelelahan sekali. Sudah berapa lama aku berada di sini? Aku yakin bahwa ia tidak pulang untuk tidur.

            Tak lama kemudian Kyle datang bersama seorang dokter dan beberapa suster. Mereka langsung memeriksa keadaanku, sedangkan Kyle memperhatikan dari depan ranjangku. Akhirnya pemeriksaan itu selesai. Aku melihat Kyle berbicara dengan dokter itu sambil keluar dari ruanganku. Bagus, aku di tinggal sendiri lagi.

            Untung saja tak lama kemudian Nanny Kelly datang. Ia sangat senang sekali melihatku yang sudah sadar.

            “Izzie sayang, akhirnya kau sadar juga,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
            “Maafkan aku, Nanny.”
            “Tak ada yang perlu untuk di maafkan, sayang. Karena yang terpenting adalah kau sudah sadar saat ini.”
            “Terima kasih sudah peduli padaku, Nanny.”
            “Itu karena aku sangat menyayangimu dan Kyle, Izzie. Kalian berdua sudah seperti anak kandungku,”

            Tiba-tiba Kyle datang, wajahnya kali ini benar-benar terlihat lebih ceria.

            “Wah, Nanny sudah datang rupanya.” Sapa Kyle.
            “Iya, aku datang membawakan makanan untukmu. Sudah beberapa hari ini kau tidak makan, Kyle.”
            “Apa? Kau tidak makan?” tanyaku sambil melotot.
            “Iya, Izzie, Kyle tidak mau makan sebelum kau sadar.”
            “Kau ini benar-benar membuatku kesal, Kyle. sekarang cepat makan,” ucapku dengan galak.
            “Iya, aku akan makan. Ternyata Izzie-ku sudah kembali.” Ucapnya sambil tersenyum penuh arti.

            Kyle langsung memakan makanan yang sudah di bawakan oleh Nanny Kelly. Aku tersenyum melihatnya. Meskipun hatiku masih terasa sakit karena kejadian itu, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan Kyle. Tuhan, aku sangat mencintai lelaki ini.

            “Jadi, kapan aku boleh pulang? Aku tidak suka berada di sini?” ucapku memecah keheningan.
            “Dokter bilang lusa kau sudah boleh pulang, sayang. Tapi kau harus benar-benar beristirahat di rumah selama satu minggu.”
            “Ah, aku pasti akan merasa sangat bosan berada di kamarku.”
            “Nanny Kelly yang akan merawatmu, sayang.”
            “Tapi, kan tidak mungkin Nanny harus bolak-balik ke asrama.”
            “Siapa bilang kau akan pulang ke asrama? Kau akan tinggal di apartemenku.”
            “Hey, kau harus minta izin Kak Tom dulu. Aku lebih suka tinggal di asrama.”
            “Tenang saja, Tom sudah member izin, kok. Karena dia yang mau kau tinggal bersamaku.” Jawabnya sambil mengedipkan matanya.
            “Lalu bagaimana dengan barang-barangku?”
            “Semuanya sudah berada di apartementku.”
            “Tapi mana mungkin aku tinggal bersamamu Kyle.”
            “Mengapa tidak mungkin? Kakakmu yang overprotective itu sudah memberikan izinnya.”
            “Aku masih kesal dan sangat marah padamu.”
            “Iya, aku tahu itu. Maka dari itu, jika kau tinggal bersamaku akan lebih memudah untuk memperbaiki semuanya.”
           
            Aku hanya menarik narik napas mendengar semua penjelasan Kyle. sebenarnya aku tidak ingin membahas masalah ini lagi. Tapi… entahlah, ada perasaan takut dalam hatiku. Ketakutan bahwa akan ada hal yang lebih parah dari kejadian kemarin. Kepalaku menjadi sakit memikirkannya.

            “Sayang, kau kenapa?” tanya Kyle khawatir.
            “Kepalaku sakit. Aku mau tidur saja.” Aku menjawab sambil memejamkan mataku.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar