Chapter
13
Aku benar-benar merasa beruntung,
karena Nanny Kelly masih mau mengurusku. Ya, Nanny Kelly sudah sangat lama
sekali bekerja pada keluargaku. Dan aku di rawatnya sejak aku masih bayi hingga
saat ini. Aku mengganggap ia sudah seperti ibuku sendiri. Aku selalu bercerita
banyak hal kepadanya termasuk tentang Izzie. Tak mengherankan jika Nanny Kelly
sangat menyukai Izzie. Karena menurut Nanny, Izzie sudah merubah aku menjadi
seseorang yang lebih baik. Karena Izzie benar-benar memiliki hati yang tulus.
Dan sekarang, aku sudah mencelakakan Izzie.
Aku sudah sangat yakin sekali bahwa Nanny Kelly akan memarahiku, karena sampai
membuat Izzie seperti ini. Tapi, ternyata dugaanku salah. Nanny Kelly tidak
marah, justru ia lah yang menjadi penyemangat aku saat ini.
“Kyle, kau harus makan sesuatu. Kau
baru pulang, kan.”
“Tidak, Nanny, terima kasih. Aku
tidak lapar.”
“Tidak, kau harus makan. Tunggulah
di sini, Nanny pergi dulu.”
Nanny lalu pergi keluar. Tinggalah
aku sendiri di ruangan ini, hanya bisa memandangi Izzie yang terbaring lemah
tak berdaya. Hatiku sangat sangat sakit melihatnya.
“Sayang, aku mohon buka mata kamu.
Kamu harus sembuh, jangan pernah tinggalin, sayang.” Tanpa terasa air mataku
menetes tepat di atas pipi Izzie. “Maafkan aku Izzie, maafkan aku karena sudah
membuatmu menangis dan dan dan…” aku benar-benar tak bisa melanjutkan
kata-kataku. Aku menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata. Mencoba
untuk mendapatkan kembali ketenanganku dan mengendalikan emosi, serta meredam
rasa sakit yang ku rasakan saat ini. “Apapun akan ku lakukan, asalkan kau
sembuh dan mau memaafkanku Izzie.”
***
Nanny Kelly pulang ke apartemen.
Sedangkan aku tetap berada di rumah sakit. Aku ingin ada di samping Izzie
ketika ia sadar nanti. Aku takkan meninggalkannya sedetikpun. Besok Tom akan
datang. Aku bernar-benas merasa sangat bersalah padanya, karena tidak bisa
menjaga Izzie dengan benar. Meskipun Tom sudah mengetahui alasannya dan dia
bilang tidak perlu di pikirkan. Tapi tetap saja aku merasa ini semua salahku.
Akhirnya aku pun tertidur di samping
Izzie. Keesokan harinya Tom datang bersama Amanda yang sudah resmi menjadi
tunangannya dan sebentar lagi mereka berdua akan segera menikah. Ah, kapan aku
dan Izzie benar-benar bisa bersatu? Pikiranku jadi jauh menerawang,
membayangkan masa depanku dan Izzie kelak.
“Kyle, kau kenapa? Sudahlah, jangan
merasa bersalah seperti itu. Aku mengerti permasalahannya apa. Kalian hanya
salah paham, dan Izzie harus mau mendengar penjelasanmu nanti.” Ucap Tom
padaku.
“Tapi, Tom, tetap saja ini salahku.
Aku benar-benar tidak becus menjaga Izzie, padahal aku sudah berjanji padamu
untuk menjaga Izzie.”
“Sudahlah, Kyle, yang penting
sekarang kita berdoa agar Izzie segera sadar dan sembuh. Agar semuanya bisa
dibicarakan dengan baik-baik.” Timpal Amanda.
“Makasih, Manda.” Ucapku dengan
senyum yang di paksakan.
“Keadaannya tidak begitu parahkan,
Kyle?” tanya Tom.
“Dokter bilang tidak begitu parah.
Hanya saja Izzie harus beristirahat total untuk memulihkan tulang rusuknya yang
patah.”
“Kyle, ada baiknya Izzie pindah saja
ke apartemenmu. Aku benar-benar cemas pada Izzie, dia kan di asrama tidak ada
yang mengawasi. Apa itu oke?”
“Dengan senang hati, Tom. Aku juga
sudah lama punya pemikiran seperti ini, kalau tinggal bersamaku Izzie bisa
dengan mudah di awasi.”
“Ya sudah, kalau begitu hari ini aku
akan memindahkan barang-barang Izzie ke apartemenmu. Jadi ketika izzie sudah
sembuh ia akan langsung pulang ketempatmu.”
Aku mengangguk menyetujuinya. Lalu
Tom dan Amanda pamit, untuk membereskan barang-barang milik Izzie. Ada perasaan
lega dalam hatiku karena aku akan melihat wajah Izzie sepanjang waktu. Takkan
merasa kesepian lagi, Izzie ada di sampingku.
“Izzie, ayo cepat sadar sayang. Aku
mohon, bukalah matamu.” Ucapku sambil mencium keningnya.
Beberapa
menit kemudian Tom menelepon. Suaranya terdengar sangat panic sekali.
“Ada apa, Tom?”
“Kyle, ada seseorang yang masuk kedalam
Izzie. Karena ketika aku masuk keadaan di dalam sangat berantakan, benar-benar
seperti kapal pecah. Berarti aku tidak salah ambil keputusan untuk memindahkan
izzie ke apatemenmu.”
“Ya Tuhan, kira-kira siapa yang
berani melakukannya?”
“Kau tenang saja, aku sudah menyuruh
anak buahku untuk segera menyelidikinya. Dan selain itu aku juga menugaskan
beberapa bodygourd di apartemenmu dan
di rumah sakit.”
“Thanks,
Tom. Aku juga pasti akan ikut menyelidiki masalah ini.”
“Untuk sekarang ini biar aku saja
yang menanganinya. Kau focus sajalah pada Izzie.”
“Oke, thanks atas informasinya, Tom. Kabari aku secepatnya kalau kau
menemukan sesuatu.”
“Pasti, ya sudah kalau begitu. Baru
itu saja yang bisa aku informasikan.”
Lalu Tom memutus teleponnya. Ya
Tuhan, siapa orang yang tega melakukan hal itu. Setahu aku Izzie tidak
mempunyai musuh sama sekali. Meskipun aku mengakui lebih banyak orang yang iri
padanya. Aku benar-benar sangat shock mendengar kabar ini dari Tom.
***
Hari itu aku membuka mataku perlahan-lahan. Di mana ini? Ruangan ini
serba putih, apakah aku berada di rumah sakit? Mataku langsung berjelajah
mengelilingi ruangan itu. Pandanganku langsung tertuju pada sosok yang sedang
tertidur di sampingku. Kyle… wajahnya terlihat sangat kelelahan.
Aku membelai wajahnya dengan sangat perlahan, karena aku tidak ingin
membangunkannya. Aku berusaha mengingat-ingat apa yang sudah terjadi padaku.
Dan aku ingat, aku pulang ke apartemen sambil menangis, minum banyak anggur
lalu pergi dengan mengendarai motor sport milik Kyle. Lalu di tengah perjalanan
aku melihat sebuah truk yang melaju kencang menuju ke arahku dan setelah itu
aku tidak ingat apa-apa.
Seketika itu juga aku langsung mengingat
kejadian di kantor Kyle. Hatiku terasa sangat sakit mengingat kejadian itu.
Namun melihat wajahnya yang sangat kelelahan saat ini, sedikit melunturkan
amarah dalam hatiku. Tuhan, aku begitu mencintai pria ini. Bahkan perasaan itu
semakin bertambah besar.
Tiba-tiba saja Kyle terbangun,
mungkin aku sudah membuatnya terbangun.
“Sayang, kau sudah sadar? Terima
kasih Tuhan,” ucapnya sambil terus menciumi tanganku.
“Kyle…” panggilku dengan suara
parau.
“Sayang, aku harus memanggil dokter
dan suster.” Jawabnya dengan mata berbinar.
“Tidak, Kyle. Aku hanya butuh kamu
di sini.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu,
sayang. Tapi dokter harus memeriksa keadaanmu.” Jawabnya lembut.
Kyle lalu pergi keluar untuk
memanggil dokter. Ya Tuhan, kasihan Kyle-ku. Wajahnya benar-benar sangat kusut
dan kelelahan sekali. Sudah berapa lama aku berada di sini? Aku yakin bahwa ia
tidak pulang untuk tidur.
Tak lama kemudian Kyle datang
bersama seorang dokter dan beberapa suster. Mereka langsung memeriksa
keadaanku, sedangkan Kyle memperhatikan dari depan ranjangku. Akhirnya pemeriksaan
itu selesai. Aku melihat Kyle berbicara dengan dokter itu sambil keluar dari
ruanganku. Bagus, aku di tinggal sendiri lagi.
Untung saja tak lama kemudian Nanny
Kelly datang. Ia sangat senang sekali melihatku yang sudah sadar.
“Izzie sayang, akhirnya kau sadar
juga,” ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.
“Maafkan aku, Nanny.”
“Tak ada yang perlu untuk di
maafkan, sayang. Karena yang terpenting adalah kau sudah sadar saat ini.”
“Terima kasih sudah peduli padaku,
Nanny.”
“Itu karena aku sangat menyayangimu
dan Kyle, Izzie. Kalian berdua sudah seperti anak kandungku,”
Tiba-tiba Kyle datang, wajahnya kali
ini benar-benar terlihat lebih ceria.
“Wah, Nanny sudah datang rupanya.” Sapa
Kyle.
“Iya, aku datang membawakan makanan
untukmu. Sudah beberapa hari ini kau tidak makan, Kyle.”
“Apa? Kau tidak makan?” tanyaku
sambil melotot.
“Iya, Izzie, Kyle tidak mau makan
sebelum kau sadar.”
“Kau ini benar-benar membuatku
kesal, Kyle. sekarang cepat makan,” ucapku dengan galak.
“Iya, aku akan makan. Ternyata Izzie-ku
sudah kembali.” Ucapnya sambil tersenyum penuh arti.
Kyle langsung memakan makanan yang
sudah di bawakan oleh Nanny Kelly. Aku tersenyum melihatnya. Meskipun hatiku
masih terasa sakit karena kejadian itu, aku benar-benar tidak bisa meninggalkan
Kyle. Tuhan, aku sangat mencintai lelaki ini.
“Jadi, kapan aku boleh pulang? Aku tidak
suka berada di sini?” ucapku memecah keheningan.
“Dokter bilang lusa kau sudah boleh
pulang, sayang. Tapi kau harus benar-benar beristirahat di rumah selama satu
minggu.”
“Ah, aku pasti akan merasa sangat
bosan berada di kamarku.”
“Nanny Kelly yang akan merawatmu,
sayang.”
“Tapi, kan tidak mungkin Nanny harus
bolak-balik ke asrama.”
“Siapa bilang kau akan pulang ke
asrama? Kau akan tinggal di apartemenku.”
“Hey, kau harus minta izin Kak Tom
dulu. Aku lebih suka tinggal di asrama.”
“Tenang saja, Tom sudah member izin,
kok. Karena dia yang mau kau tinggal bersamaku.” Jawabnya sambil mengedipkan
matanya.
“Lalu bagaimana dengan
barang-barangku?”
“Semuanya sudah berada di
apartementku.”
“Tapi mana mungkin aku tinggal
bersamamu Kyle.”
“Mengapa tidak mungkin? Kakakmu yang
overprotective itu sudah memberikan
izinnya.”
“Aku masih kesal dan sangat marah
padamu.”
“Iya, aku tahu itu. Maka dari itu,
jika kau tinggal bersamaku akan lebih memudah untuk memperbaiki semuanya.”
Aku hanya menarik narik napas
mendengar semua penjelasan Kyle. sebenarnya aku tidak ingin membahas masalah
ini lagi. Tapi… entahlah, ada perasaan takut dalam hatiku. Ketakutan bahwa akan
ada hal yang lebih parah dari kejadian kemarin. Kepalaku menjadi sakit
memikirkannya.
“Sayang, kau kenapa?” tanya Kyle
khawatir.
“Kepalaku sakit. Aku mau tidur saja.”
Aku menjawab sambil memejamkan mataku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar