Chapter 17
“Kau tahu, Izzie, Kyle benar-benar membuatku kaget ketika
mengungkapkan keinginannnya untuk menikahimu hari ini juga. Dia benar-benar
sedikit gila, mempersiapkan pernihakan dengan waktu yang sangat singkat sekali
seperti sekarang. Kurang dari 24 jam dan persiapannya sudah hampir sempurna.
Benar-benar mengejutkan.”
“Bukan hanya kakak saja yang
terkejut, begitupun juga dengan aku, Kak. Aku tak menyangka bahwa dia
benar-benar serius dengan perkataannya. Menikah secepat ini tidak ada dalam
rencana jangka pendekku, Kak.”
“Itu berarti Kyle sungguh-sungguh
mencintaimu, Izzie. Dan kau harus bersyukur.” Manda menambahkan.
“Ya, akku sangat bersyukur sekali.
Tapi tetap saja, aku masih sangat kesal padanya.”
“Sudahlah, Izzie, singkirkan dulu
perasaan kesal dan marahmu saat ini. Hari ini adalah hari bahagian untuk kalian
berdua. Jangan merusaknya hanya karena kau masih kesal padanya.”
“Iya, Kak, aku mengerti akan semua
itu. Aku benar-benar sangat gugup sekali, rasanya seperti berjalan di atas awan
dan tak memiliki pegangan. Aku tak mengira bahwa di usiakku baru genap 21 tahun
ini aku akan menikah dan memiliki seorang suami. Kuliahku saja belum selesai.”
“Malam ini kau akan resmi menjadi
istrinya Kyle, Izzie. Jadi mulailah
untuk bersikap lebih dewasa, control emosimu jika sedang mengalami masalah.”
“Aku sedang berusaha untuk
melakukannya, Kak.”
“Baguslah kalau begitu. Bagaimana
kalau kita pergi sekarang saja, Kyle barusan mengirim pesan bahwa Mom dan Dad
sudah tiba. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu pengantin wanitanya saja.”
Manda memberitahu.enga
Aku menarik nafas dalm-dalam untuk
mendapatkan ketenangan diriku. “Baiklah aku
sudah siap.”
Kak Tom menggamit lenganku, dan
membantuku untuk berjalan agar aku tidak tersandung oleh kakiku sendiri.
Di dalam mobil dalam perjalanan
menuju tempat pernikahan yang aku sendiri tidak tahu berada di mana, aku sangat
gelisah. Aku merasakan perutku bergolak dan bergulung-gulung tak karuan.
Rasanya banyak kupu-kupu berterbangan di sekitarku.
Aku
tak tahu kata-kata apalagi yang bisa dan cocok untuk menggambarkan perasaanku
saat ini. Perasaan yang aku sendiripun masih tidak begitu aku mengerti. Aku dan
Kyle baru setengah tahun menjalin sebuah hubungan. Dan tiba-tiba saja ia
melamarku dan mengajaku untuk menikah.
Semua ini membuat kepalaku agak sedikit
pusing. Semuanya seperti sebuah mimpi yang sangat indah dan aku takut untuk
bangun. Aku takut menghadapi kenyataan yang sebenarnya jika aku terbangun nanti
Akhirnya mobil kami pun berbelok
memasuki pelataran parkir salah satu hotel bintanng lima di New York. Kakak
membawaku entah ke lantai berapa karena perjalanan menggunakan lift terasa
sangat lama sekali.
Sampai akhirnya lift berhenti dan
pintu terbuka. Ketika pintu terbuka Mom dan Dad menyambutku. Aku langsung
menghambur kepelukan mereka berdua. Ujung mataku sudah memanas.
“Mom, Dad…” ucapku sambil memeluk
erat mereka.
“Benar-benar mengejutkan sekali,
sayang. Baru saja kemarin malam kau meneleponku dan hari ini kau akan segera di
persunting oleh kekasihmu itu.”
“Sampai detik ini aku masih shock,
Mom.”
“Untunglah Kyle berhasil meyakinkan,
Dad, untuk memberikannya restu. Kau tahu kekasihmu itu hampir saja membuat
jantung Dad berhenti berdetak saking kagetnya.”
“Maafkan
aku, Dad, semua ini benar-benar jauh dari rencanaku. Aku tidak tahu apa yang
sedang Kyle pikirkan dan apa yang sedang dia rencanakan di pikirannya.”
“Dan
kau mendahului kakakmu ini, Izzie…”
“Tadi
kakak berkata padaku sudah tidak apa-apa, tapi mengapa sekarang kau sepertinya
tidak rela seperti itu?”
“Iya,
karena aku dan Manda sudah lama berpacaran. Bahkan kami berdua juga sudah
bertunangan. Tapi…”
“Ya
sudah kalau begitu. Ini…” kataku sambil melemparkan bucket bunga yang ku
pegang. “Kalau begitu kalian saja yang menikah sana.” Ucapku dengan emosi
sambil memutar tubuhku hendak pergi meninggalkan tempat itu.
“Sudah
sudah, kalian ini, ya. Masih saja suka bertengkar. Tom, kau ini kan kakaknya
mengapa berkata seperti itu pada, Izzie?” tegur Mom.
“Batalkan
saja pernikahan ini. Biarkan dia dan Amanda yang menikah.” Ucapku sambil mulai
melepas sarung tangan kiriku.
Tapi
Manda langsung mencegahnya, “Tidak, Izzie, jangan kau rusak make up dan
pakaianmu saat ini. Jangan kau dengarkan omongannya Tom. Dia memang begitu,
masih suka kekanak-kanakan. Itulah salah satu alasan kenapa aku masih belum
merasa mantap untuk menikah dengannya.”
“Apa?
Sayang mengapa kau berkata seperti itu?”
“Aku
berkata jujur, Tom. Sudahlah kita jangan berdebat lagi. Jangan sampai momen
bahagia Izzie dan Kyle menjadi rusak, kau ingin melihat adikmu bahagia, kan?”
Kak
Tom hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan dari Amanda. Mom dan Dad hanya
bisa menghela nafas mereka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Melihat
kami bertengkar dan berdebat. Di hari pernikahanku… Hebat sekali bukan.
Suasana
hatiku saat ini sudah benar-benar sudah rusak. Dan semua itu gara-gara kakakku
tersayang. Bahkan ketika aku dan Dad jalan
berdampingan menuju altar aku harus memaksakan bibirku untuk tersenyum.
Ya
Tuhan, rasanya benar-benar sangat sulit sekali untuk tersenyum. Aku tidak
mungkin menekuk wajahku saat berjalan menuju altar, pasti akan banyak omongan
yang tidak enak di dengar. Mereka pasti akan mengira bahwa aku tidak bahagia
dengan pernikahan ini.
“Kau
sudah siap, sayang?” tanya Dad.
Setelah
menarik nafas dalam-dalam akhirnya aku berhasil sedikit menyingkirkan perasaan
kesalku, “Ya, aku siap Dad.”
“Baiklah,
kalau begitu. Mari kita masuk.”
Dua
orang pegawai hotel itu membukakan pintu untukku dan Dad. Aku hanya bisa
menjerit dalam hati, melihat keadaan di dalam.
Dekorasi
yang sangat indah dan di dominasi oleh warna putih dan mawar putih. Tunggu
dulu, darimana Kyle tahu bahwa aku sangat menyukai bunga mawar putih? Selama
berpacaran dengannya aku tidak pernah memberitahukan padanya bahwa aku menyukai
bunga mawar putih. Apa jangan jangan kak Tom yang memberitahunya?
Alunan
music wedding march, terdengar mengalun
dengan lembutnya. Dan melengkapi dekorasi tempat ini yang sudah indah. Menjadi
lebih indah dan romantic.
Itu
tidak penting, yang jelas aku menyukai dekorasi yang disiapkan dengan singkat
ini. Benar-benar sesuai dengan keinginanku, sederhana dan simple tapi tetap
berkesan romantic. Aku senang sekali. Aku melirik dengan ujung mataku ternyata
tidak terlalu banyak tamu yang datang, yang pasti aku melihat Nanny Kelly di
bangku urutan ketiga dengan, ia sepertinya terlihat sangat bahagia.
Dan
di bangku paling depan aku melihat ada Mamanya Kyle, aku baru beberapa kali
bertemu dengannya. Ia terlihat sangat bahagia, karena putra semata wayangnya
pada akhirnya akan bertemu dengan wanita pilihannya.
Dan
tepat di depanku, Kyle berdiri dengan gagahnya di altar. Senyumannya itu
membuatku ikut tersenyum juga. Perasaan bahagia membuncah di dadaku. Ya Tuhan,
ternyata semua ini bukan mimpi. Lelaki yang berdiri di depanku saat ini
benar-benar akan menjadi miliku selamanya.
Ketika
sampai Dad langsung menyerahkan tanganku pada Kyle, dan Kyle menyambut tanganku
sambil sedikit membungkuk. Lalu menggandengku menuju ke altar.
Dan
prosesipun di mulai. Semua terasa berjalan begitu lambat, sampai akhirnya kami
berdua berhasil mengucapkan janji pernikahan dan kami resmi menjadi suami
istri. Oh Tuhan, mulai hari ini aku akan memulai lembaran hidupku yang baru.
Tentu saja bersama suamiku tersayang Kyle.
Kyle
menciumku dengan sangat intens dan sangat lembut. Membuatku hampir saja lupa
bahwa kami berciuman di depan banyak orang. Lalu Kyle melepaskan ciumannya, dan
semua para tamu yang hadir bersorak gembira untuk kami berdua.
Acara
langsung berlanjut ke acara resepsi dan makan malam di tempat yang sama. Aku
dan Kyle banyak sekali mendapatkan ucapan selamat dari para undangan.
“Sayang,
akhrinya kau menjadi milikku. Milikku seutuhnya dan selamanya,” ucap Kyle
sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibirku.
“Bilang
padaku bahwa semua ini bukan mimpi, Kyle.”
“Tidak,
sayang, ini bukan mimpi, semua ini memang benar-benar terjadi. Kau sekarang
sudah resmi menjadi istriku.” Ucapnya sambil mengusap lembut wajahku dengan ibu
jarinya.
Tiba-tiba
kakakku datang dan berdehem cukup keras, sehingga membuatku kaget. “Sebaiknya
kalian segera pergi ke kamar saja. Aku perhatikan kalian sepertinya sudah tidak
bisa menahan diri.”
“Hai,
Tom, kau ini bisa saja, mana mungkin aku dan Izzie pergi dari pesta kami.”
Jawab Kyle dengan wajah yang agak sedikit memerah.
Kakakku
tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang sekarng jadi adik iparnya itu, “Hei,
kau harus memanggilku kakak ipar.”
“Itu
memang maumu kan, Tom. Hahahaha…”
“Well
buddy, selamat, ya. Jaga adikku tersayang baik-baik.”
“Tentu
saja, Tom. Aku pasti akan menjaganya.”
“Kenapa
kau diam saja, Izzie? Apa kau masih kesal padaku gara-gara masalah tadi?”
“Memangnya
ada masalah apa?” tanya Kyle penasaran.
“Pertengkarang
kakak dan adiknya, Kyle.”
“Ah,
sudahlah, Kak, kau jangan membahasnya lagi. Membuat suasana hatiku menjadi
buruk saja.”
“Jadi
kau sudah tidak marah lagi padaku, kan?’
“Iya,
aku sudah tidak marah lagi padamu. Puas?”
wkwkwkwkwkwk...
BalasHapuskawin dadaknnya bikin ketawa
kyle bisa yakinin ortu izzie scpt it
good job