Senin, 22 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 17


Chapter 17

“Kau tahu, Izzie, Kyle benar-benar membuatku kaget ketika mengungkapkan keinginannnya untuk menikahimu hari ini juga. Dia benar-benar sedikit gila, mempersiapkan pernihakan dengan waktu yang sangat singkat sekali seperti sekarang. Kurang dari 24 jam dan persiapannya sudah hampir sempurna. Benar-benar mengejutkan.”
            “Bukan hanya kakak saja yang terkejut, begitupun juga dengan aku, Kak. Aku tak menyangka bahwa dia benar-benar serius dengan perkataannya. Menikah secepat ini tidak ada dalam rencana jangka pendekku, Kak.”
            “Itu berarti Kyle sungguh-sungguh mencintaimu, Izzie. Dan kau harus bersyukur.” Manda menambahkan.
            “Ya, akku sangat bersyukur sekali. Tapi tetap saja, aku masih sangat kesal padanya.”
            “Sudahlah, Izzie, singkirkan dulu perasaan kesal dan marahmu saat ini. Hari ini adalah hari bahagian untuk kalian berdua. Jangan merusaknya hanya karena kau masih kesal padanya.”
            “Iya, Kak, aku mengerti akan semua itu. Aku benar-benar sangat gugup sekali, rasanya seperti berjalan di atas awan dan tak memiliki pegangan. Aku tak mengira bahwa di usiakku baru genap 21 tahun ini aku akan menikah dan memiliki seorang suami. Kuliahku saja belum selesai.”
            “Malam ini kau akan resmi menjadi istrinya Kyle, Izzie.  Jadi mulailah untuk bersikap lebih dewasa, control emosimu jika sedang mengalami masalah.”
            “Aku sedang berusaha untuk melakukannya, Kak.”       
            “Baguslah kalau begitu. Bagaimana kalau kita pergi sekarang saja, Kyle barusan mengirim pesan bahwa Mom dan Dad sudah tiba. Semuanya sudah siap, tinggal menunggu pengantin wanitanya saja.” Manda memberitahu.enga
            Aku menarik nafas dalm-dalam untuk mendapatkan ketenangan diriku. “Baiklah aku  sudah siap.”

            Kak Tom menggamit lenganku, dan membantuku untuk berjalan agar aku tidak tersandung oleh kakiku sendiri.

            Di dalam mobil dalam perjalanan menuju tempat pernikahan yang aku sendiri tidak tahu berada di mana, aku sangat gelisah. Aku merasakan perutku bergolak dan bergulung-gulung tak karuan. Rasanya banyak kupu-kupu berterbangan di sekitarku.
            Aku tak tahu kata-kata apalagi yang bisa dan cocok untuk menggambarkan perasaanku saat ini. Perasaan yang aku sendiripun masih tidak begitu aku mengerti. Aku dan Kyle baru setengah tahun menjalin sebuah hubungan. Dan tiba-tiba saja ia melamarku dan mengajaku untuk menikah.

             Semua ini membuat kepalaku agak sedikit pusing. Semuanya seperti sebuah mimpi yang sangat indah dan aku takut untuk bangun. Aku takut menghadapi kenyataan yang sebenarnya jika aku terbangun nanti

            Akhirnya mobil kami pun berbelok memasuki pelataran parkir salah satu hotel bintanng lima di New York. Kakak membawaku entah ke lantai berapa karena perjalanan menggunakan lift terasa sangat lama sekali.

            Sampai akhirnya lift berhenti dan pintu terbuka. Ketika pintu terbuka Mom dan Dad menyambutku. Aku langsung menghambur kepelukan mereka berdua. Ujung mataku sudah memanas.

            “Mom, Dad…” ucapku sambil memeluk erat mereka.
            “Benar-benar mengejutkan sekali, sayang. Baru saja kemarin malam kau meneleponku dan hari ini kau akan segera di persunting oleh kekasihmu itu.”
            “Sampai detik ini aku masih shock, Mom.”
            “Untunglah Kyle berhasil meyakinkan, Dad, untuk memberikannya restu. Kau tahu kekasihmu itu hampir saja membuat jantung Dad berhenti berdetak saking kagetnya.”
            “Maafkan aku, Dad, semua ini benar-benar jauh dari rencanaku. Aku tidak tahu apa yang sedang Kyle pikirkan dan apa yang sedang dia rencanakan di pikirannya.”
            “Dan kau mendahului kakakmu ini, Izzie…”
            “Tadi kakak berkata padaku sudah tidak apa-apa, tapi mengapa sekarang kau sepertinya tidak rela seperti itu?”
            “Iya, karena aku dan Manda sudah lama berpacaran. Bahkan kami berdua juga sudah bertunangan. Tapi…”
            “Ya sudah kalau begitu. Ini…” kataku sambil melemparkan bucket bunga yang ku pegang. “Kalau begitu kalian saja yang menikah sana.” Ucapku dengan emosi sambil memutar tubuhku hendak pergi meninggalkan tempat itu.
            “Sudah sudah, kalian ini, ya. Masih saja suka bertengkar. Tom, kau ini kan kakaknya mengapa berkata seperti itu pada, Izzie?” tegur Mom.
            “Batalkan saja pernikahan ini. Biarkan dia dan Amanda yang menikah.” Ucapku sambil mulai melepas sarung tangan kiriku.
            Tapi Manda langsung mencegahnya, “Tidak, Izzie, jangan kau rusak make up dan pakaianmu saat ini. Jangan kau dengarkan omongannya Tom. Dia memang begitu, masih suka kekanak-kanakan. Itulah salah satu alasan kenapa aku masih belum merasa mantap untuk menikah dengannya.”
            “Apa? Sayang mengapa kau berkata seperti itu?”
            “Aku berkata jujur, Tom. Sudahlah kita jangan berdebat lagi. Jangan sampai momen bahagia Izzie dan Kyle menjadi rusak, kau ingin melihat adikmu bahagia, kan?”

            Kak Tom hanya mengangguk pelan menanggapi pertanyaan dari Amanda. Mom dan Dad hanya bisa menghela nafas mereka sambil menggeleng-gelengkan kepalanya saja. Melihat kami bertengkar dan berdebat. Di hari pernikahanku… Hebat sekali bukan.

            Suasana hatiku saat ini sudah benar-benar sudah rusak. Dan semua itu gara-gara kakakku tersayang. Bahkan ketika aku dan Dad jalan  berdampingan menuju altar aku harus memaksakan bibirku untuk tersenyum.

            Ya Tuhan, rasanya benar-benar sangat sulit sekali untuk tersenyum. Aku tidak mungkin menekuk wajahku saat berjalan menuju altar, pasti akan banyak omongan yang tidak enak di dengar. Mereka pasti akan mengira bahwa aku tidak bahagia dengan pernikahan ini.

            “Kau sudah siap, sayang?” tanya Dad.
            Setelah menarik nafas dalam-dalam akhirnya aku berhasil sedikit menyingkirkan perasaan kesalku, “Ya, aku siap Dad.”
            “Baiklah, kalau begitu. Mari kita masuk.”

            Dua orang pegawai hotel itu membukakan pintu untukku dan Dad. Aku hanya bisa menjerit dalam hati, melihat keadaan di dalam.

            Dekorasi yang sangat indah dan di dominasi oleh warna putih dan mawar putih. Tunggu dulu, darimana Kyle tahu bahwa aku sangat menyukai bunga mawar putih? Selama berpacaran dengannya aku tidak pernah memberitahukan padanya bahwa aku menyukai bunga mawar putih. Apa jangan jangan kak Tom yang memberitahunya?

            Alunan music wedding march, terdengar mengalun dengan lembutnya. Dan melengkapi dekorasi tempat ini yang sudah indah. Menjadi lebih indah dan romantic.

            Itu tidak penting, yang jelas aku menyukai dekorasi yang disiapkan dengan singkat ini. Benar-benar sesuai dengan keinginanku, sederhana dan simple tapi tetap berkesan romantic. Aku senang sekali. Aku melirik dengan ujung mataku ternyata tidak terlalu banyak tamu yang datang, yang pasti aku melihat Nanny Kelly di bangku urutan ketiga dengan, ia sepertinya terlihat sangat bahagia.

            Dan di bangku paling depan aku melihat ada Mamanya Kyle, aku baru beberapa kali bertemu dengannya. Ia terlihat sangat bahagia, karena putra semata wayangnya pada akhirnya akan bertemu dengan wanita pilihannya.

            Dan tepat di depanku, Kyle berdiri dengan gagahnya di altar. Senyumannya itu membuatku ikut tersenyum juga. Perasaan bahagia membuncah di dadaku. Ya Tuhan, ternyata semua ini bukan mimpi. Lelaki yang berdiri di depanku saat ini benar-benar akan menjadi miliku selamanya.

            Ketika sampai Dad langsung menyerahkan tanganku pada Kyle, dan Kyle menyambut tanganku sambil sedikit membungkuk. Lalu menggandengku menuju ke altar.

            Dan prosesipun di mulai. Semua terasa berjalan begitu lambat, sampai akhirnya kami berdua berhasil mengucapkan janji pernikahan dan kami resmi menjadi suami istri. Oh Tuhan, mulai hari ini aku akan memulai lembaran hidupku yang baru. Tentu saja bersama suamiku tersayang Kyle.
            Kyle menciumku dengan sangat intens dan sangat lembut. Membuatku hampir saja lupa bahwa kami berciuman di depan banyak orang. Lalu Kyle melepaskan ciumannya, dan semua para tamu yang hadir bersorak gembira untuk kami berdua.

            Acara langsung berlanjut ke acara resepsi dan makan malam di tempat yang sama. Aku dan Kyle banyak sekali mendapatkan ucapan selamat dari para undangan.

            “Sayang, akhrinya kau menjadi milikku. Milikku seutuhnya dan selamanya,” ucap Kyle sambil mendaratkan sebuah ciuman di bibirku.
            “Bilang padaku bahwa semua ini bukan mimpi, Kyle.”
            “Tidak, sayang, ini bukan mimpi, semua ini memang benar-benar terjadi. Kau sekarang sudah resmi menjadi istriku.” Ucapnya sambil mengusap lembut wajahku dengan ibu jarinya.
           
            Tiba-tiba kakakku datang dan berdehem cukup keras, sehingga membuatku kaget. “Sebaiknya kalian segera pergi ke kamar saja. Aku perhatikan kalian sepertinya sudah tidak bisa menahan diri.”
            “Hai, Tom, kau ini bisa saja, mana mungkin aku dan Izzie pergi dari pesta kami.” Jawab Kyle dengan wajah yang agak sedikit memerah.
            Kakakku tertawa melihat ekspresi sahabatnya yang sekarng jadi adik iparnya itu, “Hei, kau harus memanggilku kakak ipar.”
            “Itu memang maumu kan, Tom. Hahahaha…”
            Well  buddy, selamat, ya. Jaga adikku tersayang baik-baik.”
            “Tentu saja, Tom. Aku pasti akan menjaganya.”
            “Kenapa kau diam saja, Izzie? Apa kau masih kesal padaku gara-gara masalah tadi?”
            “Memangnya ada masalah apa?” tanya Kyle penasaran.
            “Pertengkarang kakak dan adiknya, Kyle.”
            “Ah, sudahlah, Kak, kau jangan membahasnya lagi. Membuat suasana hatiku menjadi buruk saja.”
            “Jadi kau sudah tidak marah lagi padaku, kan?’
            “Iya, aku sudah tidak marah lagi padamu. Puas?”

1 komentar:

  1. wkwkwkwkwkwk...
    kawin dadaknnya bikin ketawa
    kyle bisa yakinin ortu izzie scpt it
    good job

    BalasHapus