Chapter
8
Perasaan yang belum pernah aku
rasakan sebelum. Begitu menginginkan seseorang sampai seperti ini. Tuhan,
kenapa lagi dengan diriku? Darah dalam tubuhku memanas, detak jantungku sangat
cepat, nafasku pun mulai terengah-engah.
Aku melepaskan diri dari ciumannya,
“Kyle, aku rasa ada yang salah dengan hubungan ini. Benar-benar salah.”
“Maksudmu apa Izzie?” tanyanya
kebingungan.
“Kita tidak punya hubungan apa-apa,
meskipun kau bilang mencintaiku dan sangat menginginkanku. Tapi, mengapa kau
menciumku seperti itu Kyle? Apakah kau berniat menjadikanku sebagai pelampiasan?”
“Tidak.. Tidak, aku tidak bermaksud
seperti itu Izzie. Sudah ku bilang semua yang ada di dirimu benar-benar
memabukkanku. Apalagi tatapan matamu itu. Aku benar-benar tidak bisa menahan
diriku untuk menciummu Izzie.”
“Kau hanya bernafsu saja Kyle, kau
menyukaiku karena nafsu.”
“Tidak Izzie, demi Tuhan aku sangat
mencintaimu. Bahkan aku ingin kau menjadi kekasihku, Izzie. Aku ingin
memilikimu selamanya, jadi pendamping hidupku”
“Kau gila Kyle, aku baru putus dengan
pacarku, mana mungkin aku bisa semudah itu mengizinkan seseorang masuk dalam
kehidupanku. Aku mau pulang, Kyle.”
“Izzie, aku benar-benar minta maaf,”
ucapnya sambil menggenggam tanganku.
“Aku mau pulang, Kyle. Aku sangat
lelah sekali.”
Ia menarik nafas dalam-dalam, “Baiklah,
ayo kita pulang.”
Akhirnya kamipun memutuskan untuk
pulang. Aku sudah merusak suasana ini menjadi tidak menyenangkan. Karena aku
seharusnya tidak boleh melakukan itu dengan Kyle, meskipun aku mengakui bahwa
aku mulai jatuh cinta dengannya. Tapi saat ini hubungan kami masih teman. Aku
benar-benar butuh waktu untuk bisa menerimanya.
Sepanjang perjalanan pulang kami
hanya terdiam begitupun setelah sampai. Kyle hanya mengantarkanku sampai depan
pintu dan tidak mau masuk.
“Terima kasih kau sudah mengantarku,
mau masuk dulu?”
“Tidak, Izzie, kau masuklah. Sudah
malam.”
“Baiklah kalau begitu sampai bertemu
besok pagi.”
Aku pun masuk kedalam dan menutup
pintunya. Aku pasti sudah menyinggung perasaannya. Karena nada bicaranya
berbeda dengan tadi siang, sekarang dia menjadi dingin. Apa aku salah
mengatakan itu padanya? Jangan buat aku merasa bersalah Kyle. Semalaman aku
tidak dapat memejamkan mataku, di kepalaku terus di penuhi gambaran-gambaran
peristiwa tadi siang. Benar-benar tak menyangka, karena aku akan mengalami yang
namanya di selingkuhi dan patah hati. Dan di cintai oleh Kyle, tapi di saat
yang tidak tepat. Aku harap besok hubungan kami berdua akan kembali seperti
semula, lalu aku pun bergi tidur.
Keesokkan harinya aku pergi ke kampus bersama
kakakku. Aku tidak melihat Kyle sama sekali. Apakah ia masih marah padaku?
“Kak, Kyle kemana? Kok aku tidak
melihatnya?”
“Entahlah, semalam ia tidak pulang.
Bukannya kemarin kalian bersama-sama teruskan?”
“Tidak, kak, setelah dari pantai
kami pulang. Aku pikir Kyle kembali ke kamar.”
Kyle, kau ada di mana? Jangan
membuat aku merasa bersalah. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk menyakitimu.
Bukan seperti itu maksudku.
“Kau kenapa? Mengapa tiba-tiba
terlihat murung seperti itu?”
“Tidak apa-apa, Kak. Hanya saja aku
berpikir, mungkin Kyle marah padaku.”
“Memangnya semalam apa yang terjadi
dengan kalian berdua?”
“Hanya ada sedikit salah paham saja
di antara kami berdua. Kak.”
“Kau yakin hanya salah paham saja?”
tanyanya sambil mendekatkan wajahnya padaku dengan penuh selidik.
“Berhenti menatapku seperti itu, Kak.
Kau membuatku risih,”
“Aku hanya ingin memastikan apakah
hanya salah paham saja atau ada hal lain lagi yang terjadi di antara kalian?”
Mendengar ucapan Kak Tom wajahku
langsung memerah. Mana mungkin aku bilang bahwa kemarin di pantai kami
berciuman sangat mesra sekali, seperti sepasang kekasih yang sedang di mabuk
cinta. Tidak mungin aku mengatakannya.
“Hanya salah paham saja, dan
berhenti menyelidikiku. Kau mengerti.”
Aku meninggalkan kakakku dengan
perasaan kesal. Karena jalan terburu-buru dan tidak memperhatikan jalan,
tiba-tiba aku menabrak seseorang, hinggak aku jatuh tersungkur.
“Awww…” keluhku sambil memegangi
pantatku yang mendarat keras di tanah. “Benar-benar menyebalkan.”
“Kau tidak apa-apa, Izzie?”
“Kyle…” aku langsung bangun begitu
mengetahui orang yang ku tabrak itu adalah Kyle, “Kau darimana saja? Semalam
kau tidur dimana? Kenapa kau tidak menghubungiku?” mulutku langsung saja
mengeluarkan berbagai pertanyaan padanya.
“Apakah itu penting bagimu, Izzie?
Aku dan kau tidak ada hubungan apa-apa, jadi aku rasa kau tidak perlu tahu apa
yang ku lakukan.”
“Kyle, apa kau masih marah padaku?”
“Marah? Tidak, aku tidak memiliki
alasan untuk marah padamu, Izzie.”
“Tapi, kata-kata dan sikapmu itu
benar-benar menunjukkan bahwa kau memang marah padaku.”
“Sudahlah Izzie, aku tidak mau
berdebat dan bertengkar denganmu.” Ucapnya dingin.
Kyle lalu pergi meninggalkanku.
Kata-katanya benar-benar membuat hatiku sangat sakit. Mataku tiba-tiba memanas,
air mata menggenang di pelupuk mataku dan akhirnya jatuh ke pipi. Buru-buru ku
hapus air mata di pipiku dan segera pergi menuju ke kelasku.
Aku tidak bisa focus, entah apa yang
sedang di jelaskan oleh dosenku. Aku hanya berharap kelas ini cepat-cepat
selesai. Ucapan Kyle benar-benar membuatku sakit, sikapnya sangat dingin
padaku. Aku hanya berharap ia akan kembali seperti biasanya. Tapi ternyata, ia
sama saja seperti tadi pagi. Ia mengacuhkanku. Melihat wajahku saja sepertinya
ia merasa jijik. Dan kejadian itu terus berlangsung selama dua minggu kedepan.
Aku hanya bisa menangis dan menangis, karena itu pula aku terpaksa menggunakan
kacamata untuk menutupi mataku yang bengkak karena terlalu sering menangis.
Hari Minggu, kakakku mengajak Amanda
pacarnya ke tempatku. Jujur ini kali pertama aku bertemu muka dengan Amanda.
Dan ia sangat cantik dan baik tentunya. Sepertinya aku dan Manda bisa menjadi
teman baik.
“Izzie, ayo cepat makan. Jangan
melamun saja,” tegur Manda padaku.
“Ah, iya. Aku makan.” Jawabku datar.
“Kau baik-baik saja kan, Izzie?”
tanya Manda lembut.
“Aku baik-baik saja, Manda, terima
kasih.’ Jawabku sambil tersenyum di paksakan.
“Izzie, memang begitu sayang,
berkata yang sebaliknya,” celetuk kakakku.
“Berisik kau, Kak. Ya sudah, aku
pamit keluar dulu, ya.”
“Lho mau kemana? Kan makan siangnya
belum habis?” tegur Manda.
“Aku ingin makan ice cream. Aku
berangkat, ya,” pamitku sambil memakai jaketku. Sebelum keluar aku berbisik
pada kakakku, “Jangan memakai tempat tidurku untuk kalian bercinta. Awas saja
kalau kau memakainya. Manda, aku pergi, ya. Bye.”
“Dasar kau, Izzie,” teriak Kakakku.
Aku tertawa mendengar teriakan
kakakku. Ketika aku masih di depan pintu kamarku. Tiba-tiba Kyle datang dan
menuju kamarnya. Dan aku berusaha untuk bersikap biasa saja dan acuh. Meskipun
mata kami sempat saling beradu, tapi aku segera memutar badanku dan pergi dari
situ. Hatiku sakit melihatmu Kyle, lebih baik kita tidak usah saling sapa.
Mungkin itu lebih baik meskipun akan menyakitiku. Lagi-lagi mataku basah, Izzie
kenapa kau jadi cengeng seperti ini? Aku terus berjalan sambil menghapus air
mataku. Sampai tiba-tiba ada yang menarikku dan memelukku dengan sangat erat.
“Izzie, aku minta maaf,”
“Kyle, lepas…” ucapku sambil
berusaha melepaskan diri dari pelukannya sampai-sampai kacamataku terjatuh.
“Izzie, apa kau menangis? Ya Tuhan,
maafkan aku Izzie, aku sama sekali tidak bermaksud untuk membuatmu menangis.”
Ucapnya sambil mempererat pelukannya.
“Kyle, aku mohon lepaskan aku,”
jawabku lemah.
“Tidak, aku tidak akan melepaskanmu
sebelum kau memaafkanku.”
“Oke, aku terima permintaan maafmu.
Sudah cukupkan, sekarang lepaskan pelukanmu. Aku mau pergi makan ice cream,”
rengekku.
“Ice cream? Semalam aku baru beli,
ada di kulkas. Mau makan denganku?”
“Oh, oke, kalau begitu.”
Kyle langsung menarik tanganku
dengan lembut dan menuju ke kamarnya. Setelah sampai Kyle langsung mengeluarkan
sekotak ice cream dan mengambil dua buah sendok.
“Ini ice creamnya, kau suka rasa
coklat kan?”
“Tentu saja aku sangat menyukai
coklat,” jawabku sambil menyendok ice creamnya, “Ah, benar-benar lezat sekali.
Dan dingin.”
“Kau tidak berubah Izzie, tetap lucu
dan menggemaskan,” ucapnya sambil tersenyum.
“Aku bukan anak kecil.”
“Iya, aku tahu. Maaf.”
“Sudah, sudah, ayo kita makan saja
ice creamnya.” Kataku sambil memakan ice creamnya.
Kami makan ice cream bersama sambil
bercanda dan kekenyangan.
“Aku sudah tidak kuat lagi izzie,”
ucap Kyle sambil menjatuhkan badannya di sofa.
“Hahaha, aku juga sudah tidak kuat
lagi.”
“Oh iya, apakah kau mau mendengarkan
lagu yang baru saja aku buat?”
“Lagu apa? Boleh, pasti sangat bagus
sekali lagunya.”
“Tentu saja, karena kaulah sumber
inspirasiku dalam menulis lagu ini.” Jawabnya sambil mengambil gitar
kesayangannya yang ada di samping sofa.
Wajahku memerah mendengar bahwa Kyle
membuat sebuah lagu untukku. Kyle mulai memetik gitarnya dan mulai bernyanyi,
“I’m going out tonight…
To find someone that is right…
But time, time are always fly, so I’m going out tonight…
And heart will glow, and eyes will flow…
Oh, don’t make me wait, another day…
Take a break we have time to
waste..
My eyes are opened now I need to see your face…
Because the night is almost done, so don’t make me wait…
So something fell in place…
Cause we’re going on a date…
And you know…
When the time is right for you to know…
That here right here is the place…
For heart to show, and lies to go..
I don’t even have a picture of you…
But I don’t really need one
Cause you are in my bones…
All you know that I will love you..
As soon as you get here..
Could you come away???
Cause baby I need you so..
Don’t make me wait…”
Aku hanya terpaku mendengarkannya
bernyanyi. Liriknya sangat-sangat romantic, membuat hatiku tidak karuan. Aku
terhipnotis dari awal hinggal lagu berakhir.
“Bagaimana? Kau suka dengan
lagunya?” ucapnya sambil meletakkan kembali gitarnya di tempat semula. Lalu
bergeser mendekatiku.
“Sangat indah, Kyle, aku sangat suka
lagunya.”
“Itu adalah isi hatiku padamu Izzie,
jangan biarkan aku terlalu lama menunggumu Izzie. Aku ingin kau menjadi
kekasihku. Kau mau, kan?”
“Ya, aku mau menjadi kekasihmu.”
Jawabku sambil memeluknya, “Aku benar-benar tersiksa jauh darimu, Kyle”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar