Chapter
4
“Izzie, jangan menatapku seperti itu,”
ucap Kyle resah.
“Apa maksud dari perkataanmu
barusan, Kyle?”
“Jangan paksa aku untuk membicarakan
hal itu Izzie, beri aku waktu. Aku pasti akan memberitahumu, tapi tidak
sekarang. Maafkan aku Izzie,” ia kembali memelukku dan mencium keningku dan aku
hanya bisa terdiam.
Tuhan,bagaimana bisa aku membiarkan
cowok aneh seperti Kyle memelukku seperti ini? Dan mengapa aku tidak bisa
menjauh darinya, kenapa?
Cukup lama Kyle memelukku, sampai akhirnya ia melepaskan pelukkannya dan mengajakku
untuk pulang. Suasana di antara kami berdua benar-benar terasa sangat kaku
sekali. Sampai akhirnya kami pun sampai.
“Terima kasih sudah mengantarku
pulang.”
“Sudah jadi kewajibanku, mana
mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri. Langsung istirahat jangan begadang.”
“Iya, kau juga hati-hati di jalan.
Jangan mengebut.”
Kyle mengangguk, “Aku pulang, ya. Nite Izzie.”
“Nite
too, Kyle. Hati-hati.”
Kyle baru menjalankan motornya
setelah aku masuk ke dalam rumah. Hari ini aku sangat lelah sekali. Ketika Mom
menyuruhku untuk makan malam bersama, aku menolaknya dan lebih memilih untuk
beristirahat saja di kamar.
Sesampainya di kamar aku langsung
melempar tasku begitu saja. Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk
membersihkan diri. Setelah selesai dan berpakaian menggunakan piyama aku
langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Berusaha untuk menutup
mataku, tapi tidak bisa. Banyak sekali hal dalam otakku saat ini.
Sebenarnya yang ada dalam pikiranku saat ini
sih Cuma dua hal, yaitu tentang perkataan Kyle di pantai tadi dan Ed yang tak
kunjung mengabariku. Tidak seperti biasanya Ed seperti ini, aku jadi khawatir.
Karena Ed mulai melakukan hal-hal yang tidak pernah di lakukannya sebelumnya.
Kau sebenarnya kenapa Ed? Apa ada hal yang kau sembunyikan dari aku? Ah, aku
benar-benar pusing memikirkannya. Lebih baik aku minum obat tidur saja, agar
bisa tidur pulas malam ini dan tidak memikirkan mereka berdua.
Lalu aku membuka laci meja yang
berada di samping tempat tidurku. Aku mengeluarkan botol yang berisi obat
tidur. Lalu aku meminum dua tablet sekaligus setelah itu aku berusaha untuk
memejamkan mata. Sampai akhirnya aku benar-benar tertidur pulas.
Aku merasakan sesuatu yang hangat di pipiku. Dengan malas aku pun
membuka mataku, dan dari luar jendelaku terlihat sudah terang. Aku melihat jam
waker yang berada di atas mejaku. Yup, pukul enam pagi, tapi sudah sangat
terang di luar sana. Aku melompat turun dari tempat tidurku dan bergegas menuju
ke kamar mandi. Pagi ini aku lebih memilih untuk mandi dengan shower dan air dingin. Itu benar-benar
bisa membuka mataku dan menjadi lebih segar. Setelah selesai berpakaian aku
langsung turun menuju ruang makan.
“Pagi Mom, pagi Dad,” sapaku sambil mengecup pipi kedua orang tuaku.
“Pagi juga sayang, sangat bersemangat sekali tampaknya,” Mom
berkomentar sambil terus memandangi wajahku.
“Mungkin karena aku bisa tidur dengan sangat nyenyak tadi malam,”
jawabku sambil meminum susu hangat yang sudah Mom siapkan. Tentu saja aku tidak
bilang bahwa aku berhasil tidur dengan bantuan obat tidur.
“Dad perhatikan beberapa hari ini kau sepertinya agak kacau Izzie,”
Dad yang sedari tadi asyik membaca Koran akhirnya membuka suaranya.
“Aku baik-baik saja, hanya saja tugas-tugas kuliahku agak sedikit
membuatku stress,” jawabku sambil menggigit kecil roti panggang coklat
kesukaanku. Well, setidaknya aku tidak berbohong seluruhnya untuk masalah ini.
Meskipun selain tugas-tugas yang menumpuk aku cukup di pusingkan juga oleh
Kyle. Sahabat kakakku yang baru ku kenal beberapa hari ini.
“Sudah selesain Izzie?” ucapan Dad menyadarkanku dari lamunan.
“Ya,” jawabku singkat.
Setelah berpamitan pada Mom aku pergi ke kampus di antar Dad. Dalam
perjalanan menuju ke kampus, tiba-tiba pikiranku tertuju pada Kyle. Ah, apa
yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengannya nanti? Jujur saja, saat ini
aku tidak ingin melihat wajahnya. Ah, iya aku juga teringat dengan Ed, dia
belum mengabariku sejak kemarin siang. Dan itu benar-benar membuatku cemas. Aku
benar-benar tenggelam dalam pikiranku sendiri. Sampai akhirnya suara Dad
mengembalikanku ke bumi.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya penuh perhatian.
“Iya, aku baik-baik saja. Aku masuk dulu, makasih sudah
mengantarkanku, Dad,”
“Hati-hati sayang.”
“Kau juga Dad, jangan lupa untuk makan siang yang benar dan jangan
terlamabat,”
“Kau semakin mirip dengan ibumu,” ucap Dad sambil menggelengkan
kepalanya, lalu pergi meninggalkan aku yang terkekeh melihat ekspresi wajahnya.
Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kampus sambil tersenyum. Yah,
sebenarnya sih aku hanya berusaha untuk memperbaiki suasana hatiku saat ini.
Aku terus melangkahkan kakiku sambil bersenandung. Dan semua senyumku langsung
hilang ketika seseorang menghadang langkahku. Kyle… Nama itulah yang langsung
terlintas dalam pikiranku, aku mendongkakan kepalaku. Dan ternyata benar saja
tebakanku. Mau apa dia pagi-pagi seperti ini menemuiku?
“Hai Izzie,” sapanya di sertai dengan senyuman yang bisa membuatku
kembali melunak dan akhirnya menyerah padanya. Oh, tidak lagi Kyle. Jangan
perlihatkan senyuman itu padaku.
“Hey, mengapa kau terdiam Izzie? Oh, ayolah, jangan bilang kau masih
marah padaku? Aku mohon maaf Izzie,” ia meminta maaf dengan bersungguh-sungguh.
Dan aku hanya bisa memandanginya dengan tatap dingin yang langsung menusuk
matanya.
“Izzie, jangan pernah tatap aku seperti itu. Itu membuatku gila, aku
mohon Izzie,” ia terus memohon padaku.
Berhenti memandangiku juga dengan mata itu Kyle, aku benar-benar
tidak tahan. Aku menghela napas panjang, “Oke, permintaan maafmu di terima.
Bisakah aku lewat sekarang?”
“Tidak. Belum maksudku, aku masih ingin berbincang-bincang
denganmu.”
“Kyle, jangan membuatku kesal hari ini. Aku mohon, beri aku waktu
untuk menjernihkan semua pikiranku,”
“Oke, tapi aku ingin mengajakmu pergi setelah kuliah selesai. Dan
aku akan ada di depan ruang kelasmu, sebelum jam terakhir selesai.”
Aku kembali menarik napas dalam-dalam dan akhirnya berkata, “Oke,
terserah kau saja. Kalau begitu aku permisi.”
“Bagus, sampai nanti siang Izzie.”
Dalam perjalanan menuju ke kelas pikiranku kembali kacau. Aku
benar-benar tidak bisa menghindar dari Kyle. Ada apa sebernarnya ini? Mengapa
Kyle begitu sangat rumit, dia benar-benar tidak dapat tertebak. Dan aku
sekarang mulai terjebak dengannya, meskipun aku mengakui bahwa aku senang bisa
mengenalnya (meskipun tidak sepenuhnya). Aku jadi bingung dengan persaanku
padanya. Dan Ed, aku harus segera menemuinya dan membicarakan banyak hal
dengannya.
Tepat pukul satu siang kuliahku selesai. Dengan enggan aku beranjak
dari kursiku, aku tak berani keluar, karena aku yakin bahwa Kyle ada di depan
kelasku saat ini. Tapi aku tak bisa pergi kemana-mana. Ayo Izzie, sejak kapan
kau jadi ciut begini menghadapi seorang cowok. Setelah menarik napas
dalam-dalam sebanyak dua kali aku mulai merasa sedikit lebih tenang dan melangkah
ke kuar kelas. Dan Kyle langsung menyambutku dengan senyumannya yang mematikan.
Oh Tuhan, tolong aku.
“Hai, Kyle, sudah lama menungguku?” aku berusaha bersikap setenang
mungkin.
“Tidak juga kok, baru lima menit aku di sini. Jadi, apakah kita
sudah siap untuk pergi?”
“Kapanpun, Kyle.”
“Bagus, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang.”
Aku berjalan di samping Kyle sambil menunduk, entah mengapa aku
merasa gugup sekali. Mungkin karena aku belum pernah mempunyai pacar satu
kampus. Karena aku merasa semua orang di kampus ini memandangku, dari ujung
rambut hingga ujung kaki. Kali ini Kyle tidak membawaku ke parkiran motor
seperti biasanya, melainkan ke parkiran mobil.
“Bukankah seharusnya kita pergi ke parkiran motor?” tanyaku dengan
suara kebingungan.
“Kali ini aku akan mengajakmu pergi menggunakan mobil pribadiku.”
Jawabnya sambil memamerkan senyuman mautnya.
Aku tak membalas ucapannya dan hanya mengikutinya dari belakang. Dan
dia mendekati semuah mobil Audi A3 berwarna hitam. Wow, apalagi yang akan dia tunjukan
padaku selain sifatnya yang membingungkan dan mobil mewah ini?
“Izzie, silakan masuk,” ia menahan pintu depan untukku. Aku pun
segera masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudia ia menyusulku dan duduk di
bangku pengemudi.
“Izzie, pakai dulu sabuk pengamanmu.” Perintahnya.
Aku hanya melotot mendengar ucapannya yang terdengar seperti
perintah itu. Tapi ia hanya tersenyum menanggapi ekspresi itu. Dan ia pun
langsung menyalakan mesin mobil lalu mulai melaju keluar dari parkiran kampus.
Aku menebak-nebak kemanakah dia akan membawaku hari ini. Ah, paling ke pantai
lagi, ucapku dalam hati. Tapi, aku terbengong ketika Kyle terus menjalankan
mobilnya dan melewati pantai yang biasa kami kunjungi.
“Jadi, kemanakah kita akan pergi saat ini?”
“Duduk manis saja Izzie, nanti kau pun akan mengetahuinya,” ia
memberikan jawab yang menggantung.
Aku menghempaskan tubuhku dengan agak keras ke jok mobil. Kenapa aku
bisa-bisanya setuju dengan ajaknnya? Apa dia punya mantra khusus yang di
ucapkannya padaku, sehingga aku benar-benar menurutinya? Harusnya tadi aku lari
saja ketika kami sedang berada di parkiran mobil. Kenapa aku tidak punya
keberanian untuk menghindar darinya, bahkan aku yakin sekali saat ini kakakku
sendiri tidak akan bisa menolongku dari Kyle. Aku bahkan mencium keberadaan
kakakku tersayang dalam semua ini. Pasti dia sengaja mempertemukanku dengan
Kyle. Aku harus segera bertanya padanya jika aku pulang nanti. Begitu banyak
rencana dan pertanyaan dalam kepalaku saat ini.
Semua ini membuatku mudah lelah dan sangat mengantuk. Sungguh, ini
benar-benar mengurasku secara emosional. Aku mencoba memejamkan mataku dan
meresapi suara mesin mobil yang menderu halus, dan sampai akhirnya aku
tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku baru terbangun ketika ada
sebuah tangan yang mengguncang tubuhku dengan hati-hati untuk membangunkanku.
“Izzie, bangunlah kita sudah sampai.”
“Hah, kita sudah sampai? Berapa lama aku tertidur?” pertanyaan
itulah yang meluncur dari mulutku ketika aku membuka mataku.
“Hmmm, cukup lama,” jawabnya dengan santai.
“Apa aku mendengkur atau mengigau dalam tidurku?”
“Iya,” jawabnya sambil tertawa renyah, “Kau mendengkur cukup keras.”
“Tidak mungkin aku mendengkur. Karena aku tidak pernah mendengkur
dalam tidurku,” sanggahku.
“Iya, kau memang tidak mendengkur Izzie, aku hanya sedikit
menggodamu,”
“Apa? Menggodaku?” ucapku sambil memutar mata padanya.
“Hey, ayo kita turun, kau tidak akan terus-terusan berdiam diri di
dalam mobil kan?”
“Iya, aku akan segera turun,” jawabku sambil mengerucutkan bibirku.
Kyle cepat-cepat turun dari mobil, memutar dan membukakan pintu
untukku. Kenapa aku bisa begitu ceroboh tertidur begitu saja. Ketika aku
menginjakan kaki di tanah hamparan padang rumput yang hijau dan sangat luas
langsung menyambutku. Dan aku begitu terpesona dengan pemandangan ini. Hijau…
ya hijau adalah warna kesukaanku setelah warna putih, hitam dan biru. Warna
hijau yang menyegarkan mata.
“Izzie, kemarilah,” Kyle memanggilku dengan nada sedikit terdengar
memerintah.
Tapi aku terdiam, aku ragu…
“Izzie, cepatlah kemari dan duduk di sampingku sekarang.”
“Oke, dan berhentilah berbicara
dengan nada yang memerintah seperti itu.”
“Apa aku terdengar seperti memerintahmu?” ia bertanya sambil membuka
matanya lebar menatapku.
“Iya, dan berhentilah memelototiku,” balasku sambil mengalihkan
pandanganku darinya.
“Maafkan aku Izzie, aku tidak bermaksud seperti itu padamu.”
“Kyle, berhentilah meminta maaf padaku. Karena hari ini kau sudah
banyak sekali mengucapkan kata maaf padaku.”
“Oke, aku mengerti,” ucapnya sambil mengangguk cepat.
“Jadi, untuk apa kau membawaku ke sini?”
“Aku hanya ingin mengajakmu menikmati pemandangan di sini. Tom
bilang kau sangat suka sekali dengan tempat yang memiliki padang rumput hijau
yang sangat luas.”
“Oh, sial. Kakakku itu pasti sudah terlalu banyak bicara tentangku
padamu.”
“Dia tidak salah Izzie, aku yang memintanya untuk mencerita
tentangmu. Semua hal, apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai.”
Aku memiringkan wajahku dan menatap penuh Tanya padanya.
“Kau ingin tahu tentang aku?”
“iya, aku ingin mengetahui semua hal tentangmu. Karena aku merasa
sangat tertarik padamu Izzie. Jauh sebelu kita bertemu dan berkenalan.
Diam-diam aku selalu mengawasimu, dan aku yakin kau tidak menyadarinya sama
sekali. Aku begitu mengagumimu Izzie, aku kagum pada semua yang ada didirimu,
tanpa terkecuali.”
“Kyle, apa ini menjadi semacam ‘penembakan’?”
“Hahaha, mungkin. Tapi lebih tepatnya ‘pengungkapan isi hati’,
karena aku tahu bahwa kau sudah punya pacar dan begitupun juga aku.”
Orang ini benar-benar aneh dan sangat sangat menyebalkan. Jadi apa
maksudnya dia bilang bahwa dia menyukaiku sejak lama? Benar-benar cowok yang
begitu kompleks, begitu rumit dan begitu sulit di tebak. Mungkin pendapatku
tentang Kyle terlalu berlebihan, mengingat kami yang belum terlalu lama saling
mengenal. Tapi di mataku, seperti itulah ia.
“Iya, aku memang sudah punya pacar. Tapi Kak Tom sama sekali tidak
pernah menyukai Ed, ia selalu bilang bahwa Ed itu brengsek. Dia tidak setia,
dan dugaan ia semakin kuat setelah Ed melanjutkan kuliahnya di Irlandia.
Menjalani hubungan jarak jauh memang cukup sulit”
“Sangat sulit Izzie, karena pacarku juga saat ini sedang melanjutkan
pendidikkannya di London.”
“Lalu yang kemarin siapa?”
“Itu Jenny, Izzie. Ia sedang libur kuliah. Tapi, sikapnya menjadi
sangat aneh.”
“Benarkah? Ed juga sedang ada di sini, yah, sepertiya aku harus
mengatakan bahwa aku mengalami hal yang sama denganmu. Ed, melakukan hal-hal
yang amat tidak biasa dari yang sering ia lakukan. Aku bingung, aku cemas, dan
juga khawatir. Kadang aku berpikir bahwa ia menyembunyikan sesuatu dariku.
Sesuatu yang akan membuatku terluka dan sangat merasa sakit. Aku tak berani
menebak dan membayangkan apa yang sedang di sembunyikannya dariku. “ aku
terhenti dan mulai terisak.
Kyle mengusap punggungku dengan lembut, “Menangislah jika kau ingin
Izzie, atau tidak sama sekali.” Kyle berusaha menguatkanku. “Tidak apa-apa
Izzie, aku ada di sini dan akan selalu ada kapanpun kau membutuhkan aku.”
Aku menatapnya dengan pandangan yang berkabut karena air mataku yang
mulai menetes keluar dan makin tak terbendung. Ya, aku menangis. Setelah
menahannya selama satu tahun ini untuk tidak menangis. Semua pertahanan diriku
runtuh, aku menangis terisak dalam pelukkan Kyle.
Apalagi yang akan terjadi padaku kali ini Tuhan? Bagaimana bisa aku
begitu percaya pada orang ini? Bagaimana bisa aku menceritakan semua hal yang
mengganjal di hatikku dan menangis dalam pelukan orang seperti ini? Seseorang
yang mengaku menyukaiku, tapi dia benar-benar begitu membingungkanku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar