Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 4


Chapter 4

            “Izzie, jangan menatapku seperti itu,” ucap Kyle resah.
            “Apa maksud dari perkataanmu barusan, Kyle?”
            “Jangan paksa aku untuk membicarakan hal itu Izzie, beri aku waktu. Aku pasti akan memberitahumu, tapi tidak sekarang. Maafkan aku Izzie,” ia kembali memelukku dan mencium keningku dan aku hanya bisa terdiam.

            Tuhan,bagaimana bisa aku membiarkan cowok aneh seperti Kyle memelukku seperti ini? Dan mengapa aku tidak bisa menjauh darinya, kenapa?

            Cukup lama Kyle memelukku, sampai akhirnya  ia melepaskan pelukkannya dan mengajakku untuk pulang. Suasana di antara kami berdua benar-benar terasa sangat kaku sekali. Sampai akhirnya kami pun sampai.

            “Terima kasih sudah mengantarku pulang.”
            “Sudah jadi kewajibanku, mana mungkin aku membiarkanmu pulang sendiri. Langsung istirahat jangan begadang.”
            “Iya, kau juga hati-hati di jalan. Jangan mengebut.”
            Kyle mengangguk, “Aku pulang, ya. Nite Izzie.”
            Nite too, Kyle. Hati-hati.”

            Kyle baru menjalankan motornya setelah aku masuk ke dalam rumah. Hari ini aku sangat lelah sekali. Ketika Mom menyuruhku untuk makan malam bersama, aku menolaknya dan lebih memilih untuk beristirahat saja di kamar.

            Sesampainya di kamar aku langsung melempar tasku begitu saja. Aku langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dan berpakaian menggunakan piyama aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidur. Berusaha untuk menutup mataku, tapi tidak bisa. Banyak sekali hal dalam otakku saat ini.
             Sebenarnya yang ada dalam pikiranku saat ini sih Cuma dua hal, yaitu tentang perkataan Kyle di pantai tadi dan Ed yang tak kunjung mengabariku. Tidak seperti biasanya Ed seperti ini, aku jadi khawatir. Karena Ed mulai melakukan hal-hal yang tidak pernah di lakukannya sebelumnya. Kau sebenarnya kenapa Ed? Apa ada hal yang kau sembunyikan dari aku? Ah, aku benar-benar pusing memikirkannya. Lebih baik aku minum obat tidur saja, agar bisa tidur pulas malam ini dan tidak memikirkan mereka berdua.

            Lalu aku membuka laci meja yang berada di samping tempat tidurku. Aku mengeluarkan botol yang berisi obat tidur. Lalu aku meminum dua tablet sekaligus setelah itu aku berusaha untuk memejamkan mata. Sampai akhirnya aku benar-benar tertidur pulas.

Aku merasakan sesuatu yang hangat di pipiku. Dengan malas aku pun membuka mataku, dan dari luar jendelaku terlihat sudah terang. Aku melihat jam waker yang berada di atas mejaku. Yup, pukul enam pagi, tapi sudah sangat terang di luar sana. Aku melompat turun dari tempat tidurku dan bergegas menuju ke kamar mandi. Pagi ini aku lebih memilih untuk mandi dengan shower dan air dingin. Itu benar-benar bisa membuka mataku dan menjadi lebih segar. Setelah selesai berpakaian aku langsung turun menuju ruang makan.

“Pagi Mom, pagi Dad,” sapaku sambil mengecup pipi kedua orang tuaku.
“Pagi juga sayang, sangat bersemangat sekali tampaknya,” Mom berkomentar sambil terus memandangi wajahku.         
“Mungkin karena aku bisa tidur dengan sangat nyenyak tadi malam,” jawabku sambil meminum susu hangat yang sudah Mom siapkan. Tentu saja aku tidak bilang bahwa aku berhasil tidur dengan bantuan obat tidur.
“Dad perhatikan beberapa hari ini kau sepertinya agak kacau Izzie,” Dad yang sedari tadi asyik membaca Koran akhirnya membuka suaranya.
“Aku baik-baik saja, hanya saja tugas-tugas kuliahku agak sedikit membuatku stress,” jawabku sambil menggigit kecil roti panggang coklat kesukaanku. Well, setidaknya aku tidak berbohong seluruhnya untuk masalah ini. Meskipun selain tugas-tugas yang menumpuk aku cukup di pusingkan juga oleh Kyle. Sahabat kakakku yang baru ku kenal beberapa hari ini.
“Sudah selesain Izzie?” ucapan Dad menyadarkanku dari lamunan.
“Ya,” jawabku singkat.

Setelah berpamitan pada Mom aku pergi ke kampus di antar Dad. Dalam perjalanan menuju ke kampus, tiba-tiba pikiranku tertuju pada Kyle. Ah, apa yang harus aku lakukan jika aku bertemu dengannya nanti? Jujur saja, saat ini aku tidak ingin melihat wajahnya. Ah, iya aku juga teringat dengan Ed, dia belum mengabariku sejak kemarin siang. Dan itu benar-benar membuatku cemas. Aku benar-benar tenggelam dalam pikiranku sendiri. Sampai akhirnya suara Dad mengembalikanku ke bumi.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya penuh perhatian.
“Iya, aku baik-baik saja. Aku masuk dulu, makasih sudah mengantarkanku, Dad,”
“Hati-hati sayang.”
“Kau juga Dad, jangan lupa untuk makan siang yang benar dan jangan terlamabat,”
“Kau semakin mirip dengan ibumu,” ucap Dad sambil menggelengkan kepalanya, lalu pergi meninggalkan aku yang terkekeh melihat ekspresi wajahnya.

Aku melangkahkan kakiku masuk ke dalam kampus sambil tersenyum. Yah, sebenarnya sih aku hanya berusaha untuk memperbaiki suasana hatiku saat ini. Aku terus melangkahkan kakiku sambil bersenandung. Dan semua senyumku langsung hilang ketika seseorang menghadang langkahku. Kyle… Nama itulah yang langsung terlintas dalam pikiranku, aku mendongkakan kepalaku. Dan ternyata benar saja tebakanku. Mau apa dia pagi-pagi seperti ini menemuiku?

“Hai Izzie,” sapanya di sertai dengan senyuman yang bisa membuatku kembali melunak dan akhirnya menyerah padanya. Oh, tidak lagi Kyle. Jangan perlihatkan senyuman itu padaku.
“Hey, mengapa kau terdiam Izzie? Oh, ayolah, jangan bilang kau masih marah padaku? Aku mohon maaf Izzie,” ia meminta maaf dengan bersungguh-sungguh. Dan aku hanya bisa memandanginya dengan tatap dingin yang langsung menusuk matanya.
“Izzie, jangan pernah tatap aku seperti itu. Itu membuatku gila, aku mohon Izzie,” ia terus memohon padaku.

Berhenti memandangiku juga dengan mata itu Kyle, aku benar-benar tidak tahan. Aku menghela napas panjang, “Oke, permintaan maafmu di terima. Bisakah aku lewat sekarang?”

“Tidak. Belum maksudku, aku masih ingin berbincang-bincang denganmu.”
“Kyle, jangan membuatku kesal hari ini. Aku mohon, beri aku waktu untuk menjernihkan semua pikiranku,”
“Oke, tapi aku ingin mengajakmu pergi setelah kuliah selesai. Dan aku akan ada di depan ruang kelasmu, sebelum jam terakhir selesai.”

Aku kembali menarik napas dalam-dalam dan akhirnya berkata, “Oke, terserah kau saja. Kalau begitu aku permisi.”

“Bagus, sampai nanti siang Izzie.”

Dalam perjalanan menuju ke kelas pikiranku kembali kacau. Aku benar-benar tidak bisa menghindar dari Kyle. Ada apa sebernarnya ini? Mengapa Kyle begitu sangat rumit, dia benar-benar tidak dapat tertebak. Dan aku sekarang mulai terjebak dengannya, meskipun aku mengakui bahwa aku senang bisa mengenalnya (meskipun tidak sepenuhnya). Aku jadi bingung dengan persaanku padanya. Dan Ed, aku harus segera menemuinya dan membicarakan banyak hal dengannya.

Tepat pukul satu siang kuliahku selesai. Dengan enggan aku beranjak dari kursiku, aku tak berani keluar, karena aku yakin bahwa Kyle ada di depan kelasku saat ini. Tapi aku tak bisa pergi kemana-mana. Ayo Izzie, sejak kapan kau jadi ciut begini menghadapi seorang cowok. Setelah menarik napas dalam-dalam sebanyak dua kali aku mulai merasa sedikit lebih tenang dan melangkah ke kuar kelas. Dan Kyle langsung menyambutku dengan senyumannya yang mematikan. Oh Tuhan, tolong aku.

“Hai, Kyle, sudah lama menungguku?” aku berusaha bersikap setenang mungkin.
“Tidak juga kok, baru lima menit aku di sini. Jadi, apakah kita sudah siap untuk pergi?”
“Kapanpun, Kyle.”
“Bagus, kalau begitu ayo kita berangkat sekarang.”

Aku berjalan di samping Kyle sambil menunduk, entah mengapa aku merasa gugup sekali. Mungkin karena aku belum pernah mempunyai pacar satu kampus. Karena aku merasa semua orang di kampus ini memandangku, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kali ini Kyle tidak membawaku ke parkiran motor seperti biasanya, melainkan ke parkiran mobil.
“Bukankah seharusnya kita pergi ke parkiran motor?” tanyaku dengan suara kebingungan.
“Kali ini aku akan mengajakmu pergi menggunakan mobil pribadiku.” Jawabnya sambil memamerkan senyuman mautnya.

Aku tak membalas ucapannya dan hanya mengikutinya dari belakang. Dan dia mendekati semuah mobil Audi A3 berwarna hitam. Wow, apalagi yang akan dia tunjukan padaku selain sifatnya yang membingungkan dan mobil mewah ini?

“Izzie, silakan masuk,” ia menahan pintu depan untukku. Aku pun segera masuk ke dalam mobil dan tak lama kemudia ia menyusulku dan duduk di bangku pengemudi.
“Izzie, pakai dulu sabuk pengamanmu.” Perintahnya.

Aku hanya melotot mendengar ucapannya yang terdengar seperti perintah itu. Tapi ia hanya tersenyum menanggapi ekspresi itu. Dan ia pun langsung menyalakan mesin mobil lalu mulai melaju keluar dari parkiran kampus. Aku menebak-nebak kemanakah dia akan membawaku hari ini. Ah, paling ke pantai lagi, ucapku dalam hati. Tapi, aku terbengong ketika Kyle terus menjalankan mobilnya dan melewati pantai yang biasa kami kunjungi.

“Jadi, kemanakah kita akan pergi saat ini?”
“Duduk manis saja Izzie, nanti kau pun akan mengetahuinya,” ia memberikan jawab yang menggantung.

Aku menghempaskan tubuhku dengan agak keras ke jok mobil. Kenapa aku bisa-bisanya setuju dengan ajaknnya? Apa dia punya mantra khusus yang di ucapkannya padaku, sehingga aku benar-benar menurutinya? Harusnya tadi aku lari saja ketika kami sedang berada di parkiran mobil. Kenapa aku tidak punya keberanian untuk menghindar darinya, bahkan aku yakin sekali saat ini kakakku sendiri tidak akan bisa menolongku dari Kyle. Aku bahkan mencium keberadaan kakakku tersayang dalam semua ini. Pasti dia sengaja mempertemukanku dengan Kyle. Aku harus segera bertanya padanya jika aku pulang nanti. Begitu banyak rencana dan pertanyaan dalam kepalaku saat ini.  

Semua ini membuatku mudah lelah dan sangat mengantuk. Sungguh, ini benar-benar mengurasku secara emosional. Aku mencoba memejamkan mataku dan meresapi suara mesin mobil yang menderu halus, dan sampai akhirnya aku tertidur. Entah sudah berapa lama aku tertidur, aku baru terbangun ketika ada sebuah tangan yang mengguncang tubuhku dengan hati-hati untuk membangunkanku.

“Izzie, bangunlah kita sudah sampai.”
“Hah, kita sudah sampai? Berapa lama aku tertidur?” pertanyaan itulah yang meluncur dari mulutku ketika aku membuka mataku.
“Hmmm, cukup lama,” jawabnya dengan santai.
“Apa aku mendengkur atau mengigau dalam tidurku?”
“Iya,” jawabnya sambil tertawa renyah, “Kau mendengkur cukup keras.”
“Tidak mungkin aku mendengkur. Karena aku tidak pernah mendengkur dalam tidurku,” sanggahku.
“Iya, kau memang tidak mendengkur Izzie, aku hanya sedikit menggodamu,”
“Apa? Menggodaku?” ucapku sambil memutar mata padanya.
“Hey, ayo kita turun, kau tidak akan terus-terusan berdiam diri di dalam mobil kan?”
“Iya, aku akan segera turun,” jawabku sambil mengerucutkan bibirku.

Kyle cepat-cepat turun dari mobil, memutar dan membukakan pintu untukku. Kenapa aku bisa begitu ceroboh tertidur begitu saja. Ketika aku menginjakan kaki di tanah hamparan padang rumput yang hijau dan sangat luas langsung menyambutku. Dan aku begitu terpesona dengan pemandangan ini. Hijau… ya hijau adalah warna kesukaanku setelah warna putih, hitam dan biru. Warna hijau yang menyegarkan mata.

“Izzie, kemarilah,” Kyle memanggilku dengan nada sedikit terdengar memerintah.

Tapi aku terdiam, aku ragu…

“Izzie, cepatlah kemari dan duduk di sampingku sekarang.”
“Oke, dan berhentilah  berbicara dengan nada yang memerintah seperti itu.”
“Apa aku terdengar seperti memerintahmu?” ia bertanya sambil membuka matanya lebar menatapku.
“Iya, dan berhentilah memelototiku,” balasku sambil mengalihkan pandanganku darinya.
“Maafkan aku Izzie, aku tidak bermaksud seperti itu padamu.”
“Kyle, berhentilah meminta maaf padaku. Karena hari ini kau sudah banyak sekali mengucapkan kata maaf padaku.”
“Oke, aku mengerti,” ucapnya sambil mengangguk cepat.
“Jadi, untuk apa kau membawaku ke sini?”
“Aku hanya ingin mengajakmu menikmati pemandangan di sini. Tom bilang kau sangat suka sekali dengan tempat yang memiliki padang rumput hijau yang sangat luas.”
“Oh, sial. Kakakku itu pasti sudah terlalu banyak bicara tentangku padamu.”
“Dia tidak salah Izzie, aku yang memintanya untuk mencerita tentangmu. Semua hal, apa yang kau sukai dan apa yang tidak kau sukai.”

Aku memiringkan wajahku dan menatap penuh Tanya padanya.

“Kau ingin tahu tentang aku?”
“iya, aku ingin mengetahui semua hal tentangmu. Karena aku merasa sangat tertarik padamu Izzie. Jauh sebelu kita bertemu dan berkenalan. Diam-diam aku selalu mengawasimu, dan aku yakin kau tidak menyadarinya sama sekali. Aku begitu mengagumimu Izzie, aku kagum pada semua yang ada didirimu, tanpa terkecuali.”
“Kyle, apa ini menjadi semacam ‘penembakan’?”
“Hahaha, mungkin. Tapi lebih tepatnya ‘pengungkapan isi hati’, karena aku tahu bahwa kau sudah punya pacar dan begitupun juga aku.”

Orang ini benar-benar aneh dan sangat sangat menyebalkan. Jadi apa maksudnya dia bilang bahwa dia menyukaiku sejak lama? Benar-benar cowok yang begitu kompleks, begitu rumit dan begitu sulit di tebak. Mungkin pendapatku tentang Kyle terlalu berlebihan, mengingat kami yang belum terlalu lama saling mengenal. Tapi di mataku, seperti itulah ia.
“Iya, aku memang sudah punya pacar. Tapi Kak Tom sama sekali tidak pernah menyukai Ed, ia selalu bilang bahwa Ed itu brengsek. Dia tidak setia, dan dugaan ia semakin kuat setelah Ed melanjutkan kuliahnya di Irlandia. Menjalani hubungan jarak jauh memang cukup sulit”
“Sangat sulit Izzie, karena pacarku juga saat ini sedang melanjutkan pendidikkannya di London.”
“Lalu yang kemarin siapa?”
“Itu Jenny, Izzie. Ia sedang libur kuliah. Tapi, sikapnya menjadi sangat aneh.”
“Benarkah? Ed juga sedang ada di sini, yah, sepertiya aku harus mengatakan bahwa aku mengalami hal yang sama denganmu. Ed, melakukan hal-hal yang amat tidak biasa dari yang sering ia lakukan. Aku bingung, aku cemas, dan juga khawatir. Kadang aku berpikir bahwa ia menyembunyikan sesuatu dariku. Sesuatu yang akan membuatku terluka dan sangat merasa sakit. Aku tak berani menebak dan membayangkan apa yang sedang di sembunyikannya dariku. “ aku terhenti dan mulai terisak.

Kyle mengusap punggungku dengan lembut, “Menangislah jika kau ingin Izzie, atau tidak sama sekali.” Kyle berusaha menguatkanku. “Tidak apa-apa Izzie, aku ada di sini dan akan selalu ada kapanpun kau membutuhkan aku.”

Aku menatapnya dengan pandangan yang berkabut karena air mataku yang mulai menetes keluar dan makin tak terbendung. Ya, aku menangis. Setelah menahannya selama satu tahun ini untuk tidak menangis. Semua pertahanan diriku runtuh, aku menangis terisak dalam pelukkan Kyle.

Apalagi yang akan terjadi padaku kali ini Tuhan? Bagaimana bisa aku begitu percaya pada orang ini? Bagaimana bisa aku menceritakan semua hal yang mengganjal di hatikku dan menangis dalam pelukan orang seperti ini? Seseorang yang mengaku menyukaiku, tapi dia benar-benar begitu membingungkanku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar