Chapter 14
Akhirnya aku keluar juga dari rumah sakit itu. Cukup senang, meskipun selama seminggu kedepan aku tidak bisa kemana-mana. Tapi tak apalah, aku bisa lebih banyak menghabiskan waktuku untuk lebih mengenal Kyle.
“Sebaiknya kau istirahat, sayang. Aku akan berada di ruang kerjaku untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang sempat tertunda.”
“Oke.”
Lalu Kyle pergi meninggalkanku seteleh mencium keningku dengan penuh kasih sayang. Lebih baik aku tidur saja, karena obat yang baru saja ku minum barusan mulai bereaksi. Tak lama kemudian aku pun tertidur lelap.
Aku membuka mataku perlahan dam melirik jam yang ada di meja samping tempat tidur. Aku hampir berteriak ketika mengetahui sekarang sudah pukul 6 sore berarti aku sudah tertidur selama 8 jam. Aku langsung saja bangun dan turun dari tempat tidur. Aku yakin sekali Kyle masih berada di ruang kerjanya.
Dengan langkah yang sedikit gontai aku berjalan menuju ke ruang kerja Kyle di lantai satu. Ketika mendekati ruangannya aku mendengar ia sedang berbicara dengan seseorang. Dan ada suara seorang perempuan dalam ruangan itu.
Aku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mendekat dan melihat keadaan di dalam. Karena kebetulan sekali pintunya tidak tertutup. Jad aku bisa mengintip keadaan di dalam. Akku langsung terkejut sambil membekap mulutku sendiri ketika melihat keadaan di dalam.
Mary Jeane. Lagi-lagi wanita jalang itu yang sedang bersama Kyle, kali ini aku melihatnya sedang memeluk Kyle sangat erat. Tanpa ku sadari air mataku langsung tumbah begitu saja di pipiku. Aku menangis dalam diam. Tuhan, apalagi sekarang. Tak cukupkah kejadian waktu itu telah membuatku terluka.
Aku langsung pergi dari ruangan itu tanpa bersuara. Aku benar-benar tidak bisa tinggal di sini. Aku harus pergi, pergi dari sini. Pikiranku sangat kacau, rasa sakit di tubuhku semakin menjadi dan bertambah sakit dengan kejadian tadi.
Sesampainya di kamar aku langsung menganti pakaianku menngambil tas, dompet dan ponselku. Lalu aku bergegas pergi dari tempat itu, aku bersyukur karena kakakku ternyata memindahan mobilku kemari jadi aku tidak perlu memakai salah satu dari mobil yang di miliki oleh Kyle.
Tidak ada yang mengetahui kepergianku malam itu. Karena Nanny Kelly sedang sibuk mempersiapkan makan malam di dapur. Aku langsung mengarahkan mobilkuk menjauh dari apartemen itu. Aku tidak tahu akan pergi kemana saat ini, yang jelas aku harus berhati-hati mengendarai mobil ini karena aku tidak mau masuk lagi ke rumah sakit.
Akhirnya aku menghentikan mobilku di sebuah tempat yang sampai saat ini aku tak menngetahui namanya. Yang jelas tempat ini langsung menjadi tempat kesukaanku ketika Kyle pertama kali mengajakku datang kesini.
Aku langsung duduk diatas rumput hijau sambil memeluk kedua kakiku. Mataku menerawang jauh depen. Malam mulai semakin pekat, bintang-bintang di langitpun mulai bermunculan. Aku mengarahkan pandanganku untuk memandang bintang-bintang yang bertaburan di langit. Pemandangan yang sangat indah sekali, namun sayang hatiku tidak seindah bintang-bintang itu.
***
Sementara itu di apartemen…
“Mary, sudahlah.” Ucapku sambil melepakan pelukannya.
“Kyle, aku sangat sangat mencintaimu.”
“Sayangnya aku tidak mencintaimu. Mengapa kau tidak pernah mau ngerti juga,” ucapku sengit.
“Tidak Kyle, aku tidak akan pernah mengerti. Karena yang aku mengerti hanyalah perasaan cintaku yang begitu besar padamu.”
“Sebaiknya kau pergi Mary, jangan membuat masalah lagi. Aku tak ingin Izzie melihat kau ada disini.”
“Baguslah kalau dia melihatnya. Aku akan tertawa senang melihat dia menangis.”
“Kau… Kau… cepat pergi dari disini. Sebelum aku menyuruh orang untuk menyeretmu keluar dari sini.”
“Tidak, aku tidak akan pernah pergi, Kyle.”
Aku benar-benar marah sekali pada Mary Jeane, akhirnya aku menelepon petugas keamanan untuk menyeret Mary Jeane keluar dari apartemenku. Setelah itu aku langsung pergi untuk melihat keadaan Izzie di kamar.
Beteapa terkejutnya aku ketika melihat tempat tidur yang kosong. Dengan panic aku langsung mencarinya ke kamar mandi tapi ia tak berada di sana. Aku langsung turun untuk mencarinya, siapa tahu ia sedang berasama Nanny Kelly.
“Nanny, Izzie di mana?”
“Izzie? Bukannya dia masih tidur dikamar?”
“Tidak, Nanny. Izzie tidak ada di kamar. Aku sudah mencarinya, tapi tetap tidak ada.”
“Dia kan masih sakit, Kyle.”
“Jangan-jangan…”
Aku langsung keluar menuju tempat parkir dan benar saja dugaanku. Mobil milik Izzie tidak ada. Ya Tuhan, jangan-jangan Izzie melihatku ketika sedang bersama Mary Jeane tadi. Aku langsung berlari kembali ke apartemen untuk mengambil kunci mobilku, lalu pergi untuk mencari Izzie.
Tempat pertama yang aku tuju adalah pantai yang biasa kami datangi, tapi tak ada tanda-tanda Izzie di sana. Lalu aku langsung mengarahkan mobilku ketempat favorit Izzie, ketika sampai di sana aku tidak melihat siapa-siapa. Tapi aku menemukan bekas ban mobil di sekitar situ. Aku sangat yakin bahwa Izzie tadi kesini.
Aku benar-benar kacau ketika tidak menemukan Izzie disana. Aku tak tahu harus mencarinya kemana lagi. Berkali-kali aku hubungi, tapi ponselnya tidak aktif. Izzie, kau dimana sayang? Jangan buat aku ketakutan seperti ini.
***
Perhentianku selanjutnya adalah di sebuah restoran Italia. Aku masuk dan memilih tempat duduk yang berada di pojok ruangan. Aku langsung memesan lasagna dan hot cappuccino. Tapi aku hanya memandangi makanan di hadapanku saja, tanpa menyentuhnya sedikitpu. Ya, aku benar-benar sangat kacau dan sangat sakit sekali saat ini. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Mom yang sekarang memutuskan untuk menetap di Jerman.
“Hai, Mom.”
“Hai, sayang, akhirnya kau menelepon juga. Mom khawatir padamu sayang.”
“Aku baik-baik saja, Mom. Hanya sedang sibuk dengan kuliahku saja. Bagaimana di Jerman?”
“Di Jerman cukup menyenangkan, tapi Dad bertambah sibuk disini. Kapan-kapan kau dan Kyle harus datang berkunjung kemari.”
“Kyle saat ini sedang sangat sibuk, Mom.” Entah mengapa aku merasa tertekan ketika harus mengucapkan nama Kyle.
“Sayang, ada apa? Kau dan Kyle baik-baik saja, kan?”
Bagus sekali, insting seorang ibu memang benar-benar tajam. Mom menyadari bahwa sedang ada yang tidak beres dengan hubunganku dengan Kyle.
Aku menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Mom, “Well, sebenarnya tidak sedang dalam keadaan baik, Mom.”
“Sayang, jangan terlalu kau pikirkan. Kalian pasti bisa menyelesaikannya dengan baik dan dengan kepala dingin tentunya. Jangan pernah menggunakan emosi dalam menyelesaikan suatu masalah, sayang. Karena emosi hanya akan membuatnya semakit rumit.”
“Iya, Mom, mungkin aku akan berbicara dengan Kyle setelah emosiku mereda.”
“Tenangkanlah pikiranmu dahulu, sayang. Mom sangat yakin bahwa kalian berdua tidak mudah untuk di pisahkan. Sebesar apapun masalah yang menguji cinta kalian.”
“Terima kasih, Mom, aku merasa jauh lebih baik sekarang ini. Mom, you’re the best I love you so much Mom.”
“I love you too my little princess.”
“Mom, sudah dulu, ya. Aku akan menelepon lagi dalam waktu dekat.”
“Iya, sayang. Jaga diri baik-baik.”
“Salam buat Dad ya, Mom. Bye.”
Aku langsung menutup telepon. Tak lama kemudian banyak sekali pesan dari Kyle, entah ada berapa pesan yang ia kirimkan untukku. Apakah aku harus memberi kabar padanya? Akhirnya aku mengirimkan pesan singkat padanya.
Aku baik-baik saja, aku akan segera pulang jika aku sudah merasa tenang..!!
Setelah pesan itu terkirim aku langsung mematikan ponselku. Aku yakin saat ini Kyle pasti sangat khawatir padaku. Tapi aku tidak bisa pulang sekarang, tidak bisa. Karena sifat emosionalku hanya akan membuat semuanya semakin rumit. Dan akan sangat sulit sekali untuk mencari solusi dari semua ini. Maafkan aku Kyle, aku butuh waktu untuk sendiri.
Hari semakin larut dan dingin. Aku memutuskan untuk pergi ke rumah kakakku saja. Ya, meskipun aku harus menghadapi berbagai pertanyaan darinya karena datang pada tengah malahm seperti ini. Apalagi kondisiku yang masih belum pulih sepenuhnya.
Dan benar saja, ketika aku baru saja duduk di sofa kakak langsung meluncurkan berbagai pertanyaan yang membuat kepalaku jadi sakit.
“Kakak, bisakah berhenti untuk tidak menginterogasiku saat ini, please?”
“Izzie, benar sayang. Biarkan dulu Izzie tenang.”
“Tapi, Manda…”
“Tom, cukup tak bisakah kau tenang sedikit. Aku tahu kau sangat sayang pada Izzie, aku juga sayang padanya. Aku juga penasaran dan khawatir melihat dia datang kemari tengah malam seperti ini.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar