Chapter
6
Ternyata kakak tetap keras kepala.
Ia tetap tidak menyetujui hubunganku dengan Ed. Darimana kakak tahu kalau Ed
itu brengsek? Kenapa ia begitu cepat menilai seseorang? Yah, sebenarnya sih
sifat kami berdua memiliki beberapa kesamaa. Salah satunya itu terlalu cepat
menilai seseorang itu seperti apa.
Aku benar-benar tidak dapat memejamkan
mataku. Mataku menyapu seluruh penjuru di kamar. Malam ini malam terakhir aku
menempatinya. Entah untuk berapa lama aku hari tinggal di asrama? Pikiranku
benar-benar sangat kacau seperti benang kusut.
Dan pada akhirnya aku sama sekali
tidak dapat memejamkan mataku hingga pagi menjelang. Dengan enggan aku
melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Aku membiarkan dinginnya air yang keluar
dari shower mengguyur kepala dan tubuhku lama. Aku memejamkan mata merasakan
dinginnya membasuh setiap inchi kulit tubuhku. Setelah selesai berpakaian aku
bergegas menuju ke ruang makan. Pagi itu akan jadi sarapan bersama kami yang
terakhir. Mom, Dad, dan kakak memandangiku ketika aku duduk di kursi kosong
sebelah kakak.
“Ada apa? Apa ada yang aneh.?” Tanyaku sambil memandangi mereka satu
persatu.
“Kau baik-baik saja, kan?” Tanya Mom
lembut.
“Aku baik-baik saja Mom, hanya
sedikit sakit kepala saja.” Jawabku sambil meminum susu hangat yang tersaji di
depanku.
Pagi itu aku sama sekali tidak menyentuh makananku. Hanya segelas
susu hangat saja yang behasil aku habiskan.
“Kau tidak makan, sayang?” Tanya Dad.
“Aku sedang tidak berselera makan,
Dad. Kak, apa kita bisa berangkat sekarang?” tanyaku pada Kak Tom.
“Tentu saja. Ayo kita berangkat
sekarang,” jawabnya sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.
Setelah berpamitan, kami berduapun
bergegas berangkat ke kampus. Ketika di dalam mobil Kak Tom langsung
membanjiriku dengan berbagai pertanyaan.
“Izzie, kau kenapa lagi?”
“Aku tidak apa-apa.” Jawabku datar.
“Bagaimana mungkin aku percaya kalau
kau baik-baik saja. Wajahmu terlihat sangat kacau sekali dan sangat pucat.”
“Kak, aku baik-baik saja, sungguh.
Hanya saja semalaman aku tidak dapat tidur.”
“Kenapa kau jadi seperti ini Izzie,”
uacapnya sambil menggelengkan kepala dan tetap focus mengemudikan mobilnya..
“Dan berhentilah mengajukan berbagai
pertanyaan padaku.” Ucapku sambil mengerucutkan bibirku.
Perjalanan menuju ke kampus di temani oleh keheningan kami berdua saling
membisu hingga tiba di kampus.
“Izzie, berhati-hatilah. Kau tahu
bahwa aku benar-benar menyayangimu. Apa yang aku lakukan selama ini karena
tidak ingin melihatmu menangis.”
“Ya, aku sangat mengerti dan sangat
paham. Bahwa kau menyayangiku, Kak. Terima kasih.” Ucapku sambil turun dari
mobil dan bergegas meninggalkan kakakku.
“Izzie, andai saja kau tahu bahwa
aku mempunyai banyak bukti tentang Ed. Ia benar-benar tidak baik untukmu. Aku
sangat ingin sekali memberitahumu semuanya, tapi aku tidak ingin membuatmu hancur
dan terluka.”
***
Rasanya hari ini aku tidak ingin
masuk ke kelas. Ya, lebih baik aku pergi saja ke perpustakaan. Aku benar-benar
butuh waktu untuk sendiri dan menjernihkan otakku. Di tengah lamunanku,
tiba-tiba Kyle muncul.
“Hai Izzie…” sapanya dengan senyuman
yang lebih ceria daripada kemarin.
“Ah, hai Kyle.” Balasku dengan lesu.
“Izzie, kau baik-baik saja?”
tanyanya dengan suara yang terdengar mulai khawatir.
“Ya, aku baik-baik saja. Ada dengan
semua orang hari ini? Kenapa selalu bertanya apakah saat ini aku baik-baik saja.
Apakah aku terlihat tidak baik?”
“Kau terlihat sangat pucat Izzie,”
Kyle menempelkan telapak tangannya di keningku, “Kau demam Izzie.”
“Ya, mungkin. Lebih baik aku pergi
ke perpustakaan saja.”
“Aku akan menemanimu Izzie,”
“Tidak.. Tidak, tidak perlu Kyle,
sungguh aku akan baik-baik saja. Terima kasih.”
“Tapi, aku sangat mengkhawatirkanmu
Izzie.” Tatapannya berubah menjadi sayu dan terlihat sedih.
“Baiklah kalau begitu. Tapi kau
harus segera menghubungiku jika ada apa-apa.”
“Baiklah, aku akan segera
menghubungimu Kyle. Terima kasih sudah peduli padaku.”
“Kau
tahu benar bagaimana perasaanku padamu seperti apa Izzie,” ucapnya dengan suara
yang lembut. Tangannya membelai wajahku dengan lembut, “Aku sangat sangat
mencintaimu Izzie, aku berharap kau bisa menjadi miliku Izzie. Milikku
seutuhnya.”
Aku
benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, aku benar-benar bingung dengan
perasaanku sendiri, “Kyle, bolehkan aku pergi ke perpustakaan sekarang?”
tanyaku ragu.
“Ya,
tentu saja. Hati-hati.” Kyle mendaratkan sebuah ciuman di keningku. Sebuah
ciuman yang benar-benar dalam. Lalu melepaskan ciumannya dan membiarkanku
pergi.
Tuhan,
kenapa dengan dia? Aku yakin sekali bahwa saat ini wajahku sangat merah. Dan
aku berharap Kak Tom tidak melihat kejadian barusan. Entah mengapa alam bawah
sadarku merasa sangat bahagia, melayang-layang karena kecupan di kening yang di
berikan oleh Kyle. Sialan, aku benar-benar jatuh cinta padanya. Tuhan, aku mulai mencintai Kyle, aku
mencintainya. Jeritku dalam hati.
Seharian
itu aku habiskan untuk melamun di perpustakaan hingga jam kuliah berakhir.
Lamunanku buyar ketika ponselku berdengung, ternyata ada pesan dari Ed. Dia
sudah menunggu di depan kampus. Buru-buru aku membereskan semua buku-buku yang
berserakan di atas meja. Lalu bergegas meninggalkan perpustakaan. Aman, Kyle
tidak terlihat sama sekali.
Aku
berlari-lari kecil menghampiri Ed yang sedang bersandar di kap mobil sambil
melipat kedua tangannya, ya dia cukup membuat beberapa wanita yang lewat
memperhatikannya.
“Hai,
Ed,” sapaku sambil tersenyum.
“Ah,
Izzie aku benar-benar merindukanmu,” ucapnya sambil menarikku ke dalam
pelukannya.
“Ed,
ini masih di depan kampusku,” aku memperingatkannya.
Ia
pun melepaskan pelukannya, “Maafkan aku, sayang, aku benar-benar merindukanmu.
Baiklah bagaimana kalau kita pergi untuk makan siang”
“Baiklah,
aku sudah sangat lapar.”
Lalu
Ed membukakan pintu mobilnya untukku. Lalu kami berduapun pergi. Sepanjang
perjalanan Ed terus menggenggam tanganku erat, bahkan sesekali menciuminya.
Tapi entah mengapa aku hanya terdiam, tak merespon apapun. Ada perasaan risih,
bahkan perasaan rindu yang beberapa hari lalu masih menggebu-gebu kini hilang
sama sekali. Sekarang apalagi? Apa aku mulai tidak mencintai Ed lagi?
Kami
berhenti di Costa Coffee Bar lalu memilih tempat duduk yang berada di ujung.
Aku benar-benar merasa enggan dan canggung berada dengan Ed sekarang. Bahkan
rasa lapar yang kurasakan hilang begitu saja.
“Izzie,
kau mau minum apa?”
“Cappucinno ice saja.”
“Makannya?”
“Tidak,
terima kasih, Ed. Cukup itu saja.”
“Baiklah,
kau tunggu di sini.” Ucapnya sambil berlalu.
Beberapa
saat kemudian Ed kembali sambil membawa nampan, lalu meletakannya di atas meja.
“Ah,
Izzie kau bertambah cantik saja, padahal kita tidak bertemu beberapa hari
saja.”
Aku
tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya mengaduk-aduk cappucinno ice-ku dengan sendok kecil.
“Izzie,
ada apa? Mengapa kau diam saja?”
“Aku
tidak apa-apa Ed, hanya sedikit lelah saja. Beberapa hari ini aku sangat sibuk
dengan kuliahku.” Aku berbohong pada Ed.
“Kau
harus menjaga kesehatanmu Izzie.”
“Ed,
aku mau ke toilet dulu tidak apa-apa, kan?”
“Baiklah,
jangan lama-lama, ya.”
Aku
membawa tasku, lalu melangkah pergi menuju toilet. Sesampai di sana aku hanya
termenung di depan kaca.
“Aku
ingin pulang, entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa akan ada hal yang
membuatku sakit. Dan pergi dengan Ed adalah sesuatu yang salah.” Ucapku pada
diriku sendiri.
Entah
sudah berapa lama aku di dalam sana, setelah menarik napas panjang aku pun
melangkahkan kakiku kembali menuju tempat Ed berada. Tapi sebelum aku mencapai
tempatnya aku benar- benar tercengang melihat pemandangan di depanku.
Aku
memutuskan untuk kembali masuk ke dalam toilet. Dan entah sejak kapan pipiku
sudah sangat basah oleh air mata. Oh Tuhan, aku berharap bahwa yang aku lihat
di luar sana barusan itu hanyalah mimpi. Hatiku benar-benar terasa sangat sakit
sekali, hancur berkeping-keping, dan aku hanya bisa menangis terisak di dalam
toilet.
Tiba-tiba
saja ponselku berbunyi, ternyata Kak Tom yang menelepon. Bagaimana ini? Kakak
pasti akan tahu bahwa aku menangis.
Dengan
gemetaran dan suara yang parau aku pun menjawab teleponnya, “H… halo…”
“Izzie,
kenapa kau lama sekali menjawab teleponnya dan kau kenapa?”
“Aku…
aku tidak apa-apa, Kak.” Air mataku tertahan tapi dapat jelas sekali terdengar
dari suaraku.
“Ya
Tuhan Izzie, kau di mana dan sekarang?” tanya Tom panic.
Kyle
yang kebetulan sedang bersama Tom langsung merebut ponsel Tom, setelah mendengar suara Tom yang panic.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar