Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 6


Chapter 6

            Ternyata kakak tetap keras kepala. Ia tetap tidak menyetujui hubunganku dengan Ed. Darimana kakak tahu kalau Ed itu brengsek? Kenapa ia begitu cepat menilai seseorang? Yah, sebenarnya sih sifat kami berdua memiliki beberapa kesamaa. Salah satunya itu terlalu cepat menilai seseorang itu seperti apa.     

            Aku benar-benar tidak dapat memejamkan mataku. Mataku menyapu seluruh penjuru di kamar. Malam ini malam terakhir aku menempatinya. Entah untuk berapa lama aku hari tinggal di asrama? Pikiranku benar-benar sangat kacau seperti benang kusut.

            Dan pada akhirnya aku sama sekali tidak dapat memejamkan mataku hingga pagi menjelang. Dengan enggan aku melangkahkan kakiku ke kamar mandi. Aku membiarkan dinginnya air yang keluar dari shower mengguyur kepala dan tubuhku lama. Aku memejamkan mata merasakan dinginnya membasuh setiap inchi kulit tubuhku. Setelah selesai berpakaian aku bergegas menuju ke ruang makan. Pagi itu akan jadi sarapan bersama kami yang terakhir. Mom, Dad, dan kakak memandangiku ketika aku duduk di kursi kosong sebelah kakak.       

“Ada apa? Apa ada yang aneh.?” Tanyaku sambil memandangi mereka satu persatu.
            “Kau baik-baik saja, kan?” Tanya Mom lembut.
            “Aku baik-baik saja Mom, hanya sedikit sakit kepala saja.” Jawabku sambil meminum susu hangat yang tersaji di depanku.
           
Pagi itu aku sama sekali tidak menyentuh makananku. Hanya segelas susu hangat saja yang behasil aku habiskan.
           
“Kau tidak makan, sayang?” Tanya Dad.
            “Aku sedang tidak berselera makan, Dad. Kak, apa kita bisa berangkat sekarang?” tanyaku pada Kak Tom.
            “Tentu saja. Ayo kita berangkat sekarang,” jawabnya sambil beranjak berdiri dari tempat duduknya.
            Setelah berpamitan, kami berduapun bergegas berangkat ke kampus. Ketika di dalam mobil Kak Tom langsung membanjiriku dengan berbagai pertanyaan.
           
“Izzie, kau kenapa lagi?”       
            “Aku tidak apa-apa.” Jawabku datar.
            “Bagaimana mungkin aku percaya kalau kau baik-baik saja. Wajahmu terlihat sangat kacau sekali dan sangat pucat.”
            “Kak, aku baik-baik saja, sungguh. Hanya saja semalaman aku tidak dapat tidur.”
            “Kenapa kau jadi seperti ini Izzie,” uacapnya sambil menggelengkan kepala dan tetap focus mengemudikan mobilnya..
            “Dan berhentilah mengajukan berbagai pertanyaan padaku.” Ucapku sambil mengerucutkan bibirku.

            Perjalanan menuju ke kampus di  temani oleh keheningan kami berdua saling membisu hingga tiba di kampus.

            “Izzie, berhati-hatilah. Kau tahu bahwa aku benar-benar menyayangimu. Apa yang aku lakukan selama ini karena tidak ingin melihatmu menangis.”
            “Ya, aku sangat mengerti dan sangat paham. Bahwa kau menyayangiku, Kak. Terima kasih.” Ucapku sambil turun dari mobil dan bergegas meninggalkan kakakku.
            “Izzie, andai saja kau tahu bahwa aku mempunyai banyak bukti tentang Ed. Ia benar-benar tidak baik untukmu. Aku sangat ingin sekali memberitahumu semuanya, tapi aku tidak ingin membuatmu hancur dan terluka.”
           
*** 

            Rasanya hari ini aku tidak ingin masuk ke kelas. Ya, lebih baik aku pergi saja ke perpustakaan. Aku benar-benar butuh waktu untuk sendiri dan menjernihkan otakku. Di tengah lamunanku, tiba-tiba Kyle muncul.

            “Hai Izzie…” sapanya dengan senyuman yang lebih ceria daripada kemarin.
            “Ah, hai Kyle.” Balasku dengan lesu.
            “Izzie, kau baik-baik saja?” tanyanya dengan suara yang terdengar mulai khawatir.
            “Ya, aku baik-baik saja. Ada dengan semua orang hari ini? Kenapa selalu bertanya apakah saat ini aku baik-baik saja. Apakah aku terlihat tidak baik?”
            “Kau terlihat sangat pucat Izzie,” Kyle menempelkan telapak tangannya di keningku, “Kau demam Izzie.”
            “Ya, mungkin. Lebih baik aku pergi ke perpustakaan saja.”
            “Aku akan menemanimu Izzie,”
            “Tidak.. Tidak, tidak perlu Kyle, sungguh aku akan baik-baik saja. Terima kasih.”
            “Tapi, aku sangat mengkhawatirkanmu Izzie.” Tatapannya berubah menjadi sayu dan terlihat sedih.
            “Baiklah kalau begitu. Tapi kau harus segera menghubungiku jika ada apa-apa.”
            “Baiklah, aku akan segera menghubungimu Kyle. Terima kasih sudah peduli padaku.”
            “Kau tahu benar bagaimana perasaanku padamu seperti apa Izzie,” ucapnya dengan suara yang lembut. Tangannya membelai wajahku dengan lembut, “Aku sangat sangat mencintaimu Izzie, aku berharap kau bisa menjadi miliku Izzie. Milikku seutuhnya.”

            Aku benar-benar tidak tahu harus menjawab apa, aku benar-benar bingung dengan perasaanku sendiri, “Kyle, bolehkan aku pergi ke perpustakaan sekarang?” tanyaku ragu.

            “Ya, tentu saja. Hati-hati.” Kyle mendaratkan sebuah ciuman di keningku. Sebuah ciuman yang benar-benar dalam. Lalu melepaskan ciumannya dan membiarkanku pergi.

            Tuhan, kenapa dengan dia? Aku yakin sekali bahwa saat ini wajahku sangat merah. Dan aku berharap Kak Tom tidak melihat kejadian barusan. Entah mengapa alam bawah sadarku merasa sangat bahagia, melayang-layang karena kecupan di kening yang di berikan oleh Kyle. Sialan, aku benar-benar jatuh cinta padanya.  Tuhan, aku mulai mencintai Kyle, aku mencintainya. Jeritku dalam hati.

            Seharian itu aku habiskan untuk melamun di perpustakaan hingga jam kuliah berakhir. Lamunanku buyar ketika ponselku berdengung, ternyata ada pesan dari Ed. Dia sudah menunggu di depan kampus. Buru-buru aku membereskan semua buku-buku yang berserakan di atas meja. Lalu bergegas meninggalkan perpustakaan. Aman, Kyle tidak terlihat sama sekali.         

            Aku berlari-lari kecil menghampiri Ed yang sedang bersandar di kap mobil sambil melipat kedua tangannya, ya dia cukup membuat beberapa wanita yang lewat memperhatikannya.

            “Hai, Ed,” sapaku sambil tersenyum.
            “Ah, Izzie aku benar-benar merindukanmu,” ucapnya sambil menarikku ke dalam pelukannya.
            “Ed, ini masih di depan kampusku,” aku memperingatkannya.

            Ia pun melepaskan pelukannya, “Maafkan aku, sayang, aku benar-benar merindukanmu. Baiklah bagaimana kalau kita pergi untuk makan siang”

            “Baiklah, aku sudah sangat lapar.”

            Lalu Ed membukakan pintu mobilnya untukku. Lalu kami berduapun pergi. Sepanjang perjalanan Ed terus menggenggam tanganku erat, bahkan sesekali menciuminya. Tapi entah mengapa aku hanya terdiam, tak merespon apapun. Ada perasaan risih, bahkan perasaan rindu yang beberapa hari lalu masih menggebu-gebu kini hilang sama sekali. Sekarang apalagi? Apa aku mulai tidak mencintai Ed lagi?

            Kami berhenti di Costa Coffee Bar lalu memilih tempat duduk yang berada di ujung. Aku benar-benar merasa enggan dan canggung berada dengan Ed sekarang. Bahkan rasa lapar yang kurasakan hilang begitu saja.

            “Izzie, kau mau minum apa?”
            Cappucinno ice saja.”
            “Makannya?”
            “Tidak, terima kasih, Ed. Cukup itu saja.”
            “Baiklah, kau tunggu di sini.” Ucapnya sambil berlalu.        

            Beberapa saat kemudian Ed kembali sambil membawa nampan, lalu meletakannya di atas meja.

            “Ah, Izzie kau bertambah cantik saja, padahal kita tidak bertemu beberapa hari saja.”

            Aku tidak menjawab pertanyaannya, aku hanya mengaduk-aduk cappucinno ice-ku dengan sendok kecil.

            “Izzie, ada apa? Mengapa kau diam saja?”
            “Aku tidak apa-apa Ed, hanya sedikit lelah saja. Beberapa hari ini aku sangat sibuk dengan kuliahku.” Aku berbohong pada Ed.
            “Kau harus menjaga kesehatanmu Izzie.”
            “Ed, aku mau ke toilet dulu tidak apa-apa, kan?”
            “Baiklah, jangan lama-lama, ya.”

            Aku membawa tasku, lalu melangkah pergi menuju toilet. Sesampai di sana aku hanya termenung di depan kaca.

            “Aku ingin pulang, entah kenapa perasaanku mengatakan bahwa akan ada hal yang membuatku sakit. Dan pergi dengan Ed adalah sesuatu yang salah.” Ucapku pada diriku sendiri.

            Entah sudah berapa lama aku di dalam sana, setelah menarik napas panjang aku pun melangkahkan kakiku kembali menuju tempat Ed berada. Tapi sebelum aku mencapai tempatnya aku benar- benar tercengang melihat pemandangan di depanku.

            Aku memutuskan untuk kembali masuk ke dalam toilet. Dan entah sejak kapan pipiku sudah sangat basah oleh air mata. Oh Tuhan, aku berharap bahwa yang aku lihat di luar sana barusan itu hanyalah mimpi. Hatiku benar-benar terasa sangat sakit sekali, hancur berkeping-keping, dan aku hanya bisa menangis terisak di dalam toilet.

            Tiba-tiba saja ponselku berbunyi, ternyata Kak Tom yang menelepon. Bagaimana ini? Kakak pasti akan tahu bahwa aku menangis.

            Dengan gemetaran dan suara yang parau aku pun menjawab teleponnya, “H… halo…”
            “Izzie, kenapa kau lama sekali menjawab teleponnya dan kau kenapa?”
            “Aku… aku tidak apa-apa, Kak.” Air mataku tertahan tapi dapat jelas sekali terdengar dari suaraku.
            “Ya Tuhan Izzie, kau di mana dan sekarang?” tanya Tom panic.

            Kyle yang kebetulan sedang bersama Tom langsung merebut ponsel  Tom, setelah mendengar suara Tom yang panic.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar