Senin, 22 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 18


Chapter 18

            Setelah pesta usai aku dan Kyle bermalam di hotel itu. Dan aku merasa sangat gugup sekali, padahal ini bukan kali pertama aku dan Kyle tidur bersama dalam satu kamar.

            Setelah kami mandi dan berganti pakaian dengan pakaian tidur, kami berdua hanya duduk di atas tempat tidur saling diam. Kami berdua jadi merasa canggung dan gugup sekali tentunya. Ya Tuhan, mengapa aku jadi gemetaran seperti ini? Apa yang harus aku lakukan untuk mencairkan suasana di antara kami berdua.

            Aku memutar mataku sambil berpikir tiba-tiba saja Kyle menegurku, “Mengapa kau memutar matamu seperti itu, Izzie?”
            Aku terkesiap mendengar ucapannya, “Ah, tidak, tidak apa-apa.” Jawabku tergugu.
            “Izzie…”
            “Ya…”
            “Kau tahu, bahwa saat ini aku benar-benar sangat-sangat gugup sekali.”
            “Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Rasanya aneh sekali, padahal ini bukan pertama kalinya kita berada di dalam satu kamar yang sama. Tapi mala mini benar-benar membuatku merasa canggung dan bingung.”
            “Lucu sekali ya.” Ucapnya sambil memamerkan kedua lesung pipit.
            “Iya, sangat lucu sekali…” timpalku sambil menguap, aku sudah mulai mengantuk. Semua ini membuatku sangat kelelahan.
            “Kau sudah mengantuk?”
            “Iya, aku sangat mengantuk. Rasanya semua ini membuatku sangat lelah, Kyle.” jawabku sambil membaringkan tubuhku.
            “Ya sudah, tidurlah, aku akan menjagamu.”
            “Kau tidak akan tidur juga?”
            “Aku akan tidur, kok.” Jawabnya sambil berbaring disampingku dan memeluk erat tubuhku.

            Kyle membungkus tubuhku dengan tubuhnya yang panas. Aroma tubuhnya benar-benar memabukkanku. Aroma ini sudah menjadi milikku selama aku takkan membiarkan Mary Jeane atau wanita manapun mendekati suamiku tersayang. Aku akan mempertahankannya meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya.

            Aku berusaha memejamkan mata dengan mengatur nafasku agar menjadi teratur. Aku berusaha menutupi perasaan gugupku. Aku mendengar nafas Kyle yang terdengar tidak teratur dan terengah-engah. Sepertinya ada yang membuatnya tidak nyaman.

            Akhirnya aku memberanikan diri untuk bertanya padanya, “Kyle, kau baik-baik saja, kan?” tanyaku sambil mendongkakan wajahku memandang wajahnya.
            “Aku… Aku baik-baik sajay, sayang. Hey, apa aku mengganggu tidurmu?”
            “Tidak, aku hanya merasa bahwa kau terdengar sangat gelisah.”
           
            Mendengar perkataanku ekspresinya jadi berubah. Matanya menjadi gelap dan tatapannya sangat intens menatap mataku dan mengunci diriku. Matanya lalu berubah menjadi berapi-api. Mata yang sama ketika pertama kali kami bercinta. Apakah factor kebutuhan yang membuatnya menjadi gelisah?

            “Sayang, aku benar-benar sangat menginginkanmu malam ini.”
            Aku hanya bisa menelan ludah sebelum akhirnya berbicara, “Ya, aku mengerti, Kyle. Hanya saja aku merasa gugup sekali malam ini.”
            “Tapi, kondisi tubuhmu sedang dalam pemulihan. Kau baru saja keluar dari rumah sakit. Kau ingat, kan.”
            “Ya, aku ingat. Tidak apa-apa, Kyle, kalau kau memang menginginkannya malam ini. Bukankah itu sudah menjadi salah satu kewajibanku sebagai seorang istri.”

            Merasa telah mendapatkan izin dariku, Kyle langsung melumat habis bibirku, lidahnya mendesak masuk ke dalam mulutku dan menghisap lidahku dengan sangat lembut.

            Mulutnya menyusuri telingaku dan dia menggigit lembut daun telingaku, yang membuat aku mengerang merasakan tubuhku yang semakin memanas akibat ciumannya.

            Dan ia kembali mencium bibirku, sampai aku mengerjap-ngerjapkan mataku berusaha untuk mendapatkan oksigen di sela-sela ciumannya yang sangat intens sekali. Tangannya bergerilya ke seluruh tubuhku.

            Tangannya menangkup di payudaraku sebelum akhirnya ia menyelinap masuk dan melepaskan pengait bra yang kupakai. Lalu aku bisa merasakan panas tangannya di kulitku. Dam mulai membauat putingku mengeras dan mencuat.

            Nafasnya mulai terdengar tidak teratur, desahan nafas kami memenuhi kamar. Aku merangkul lehernya dan menyelipkan jari-jariku di rambutnya. Lalu ia melepaskan ciumannya, tubuhnya terlihat naik turun berusaha untuk mengatur nafasnya. Lalu ia mulai melepas baju tidurku dan melemparnya ke lantai, setelah itu ia membuka baju tidurnya juga dan menyisakan celananya saja.

            Kyle menidih tubuhku dan mulai menciumi tubuhku mulai dari kening terus turun kebawah. Menciumi payudaraku dan menghisap putingnya, seolag-olah ia sedang minum dari situ. Nafasku semakin memburu dan tak karuan ketika ia menciumi perutku.

            “Kyle…” panggilku dengan suara yang serak dan terengah-engah.
            “Belum, sayang. Bertahanlah.” Jawabnya dengan terengah-engah juga.
            “Kau sengaja mempermainkanku?”
            “Iya…” jawabnya sambil tersenyum penuh kemenangan.

            Oh, berapa lama lagi dia akan terus mempermainkanku seperti ini? Aku ingin dia berada di dalam diriku secepatnya. Dia terus saja membuatku menggelinjang, meskipun aku merasakan bahwa ereksinya sudah sangat besar dan sangat kerasa sekali di bawah sana. Dan sepertinya aku akan segela mengalami orgasmeku.

            “Tidak, sayang, kau harus menahannya untukku.” Ucapnya sambil mendesak ereksanya itu masuk kedalam diriku secara perlahan.

            Lalu ia membuat gerakan maju mundur, mengeluarkan dan memasukan ereksinya itu. Erangan demi erangan keluar dari mulut kami berdua. Malam itu kami bercinta hingga benar-benar kehabisan tenaga.

***

            Cahaya matahari mengintip dari tirai aku masih bergelung dalam pelukan Kyle, tanpa sehelai pakaianpun di tubuh kami berdua. Ia membungkus tubuhku dengan badannya dengan begitu erat. Bahkan aku merasakan ereksinya yang mengeras di pinggangku.

            Aku menatap wajah lelaki yang ada di sampingku dengan lekat. Ya lelaki ini sudah menjadi suamiku sekarang. Semua yang ada didirinya adalah milikku, hanya milikku seorang. Aku tak pernah menyangka akan menikah dengan lelaki tampan seperti Kyle.

            Sangat beruntung. Tuhan, semoga kami bisa terus bersama selamanya, dan kami dapat melalui coba-cobaan yang datang untung menggoyahkan hubungan kami. Perkuatlah hubungan kami berdua Tuhan.

            Tiba-tiba Kyle membuka matanya, ia terlihat masih sangat mengantuk, “Pagi, sayang…”
            “Selamat pagi, suamiku tersayang.” Jawabku sambil memberikan senyuman terbaikku.
            “Ah, sayang, senyumanmu itu benar-benar membuatku bahagia. Aku bisa melihat mu tidur dan tersenyum ketika bangun di pagi hari selamanya. Semuanya milikku, kau milikku.” Ucapnya sambil memelukku lebih erat.
            “Ya, aku milikmu selamanya, Kyle.”
            Aku hendak bangun bangun tapi Kyle mencegahku, “Kau mau kemana, sayang? Ayo sebaiknya kita tidur saja lagi.”
            “Kau tidak pergi ke kantor?”
            “Tidak, aku sudah mengajukan cuti selama satu minggu untuk pergi berbulan madu denganmu sayang.”
            “Berbulan madu? Memangnya kita mau pergi kemana?”
            “Bagaimana kalau ke Venice Italia? Kau suka dengan Negara itu, kan?”
            “Ide yang bagus, suamiku. Dan tetap saja aku harus bangun, bukankah kita harus mempersiapkan keperluan kita untuk bulan madu nanti.”
            “Tidak perlu, semuanya sudah beres. Kita hanya tinggal berangkat saja.”
            Aku memelototinya, “Kyle, kapan kau memberikanku kesempatan untuk menyiapkan sesuatu untuk kita?”
            “Nanti setelah pulang dari Italia, kau akan menyiapkan berbagai hal untuk suamimu tercinta ini.” Jawabnya dengan enteng.

            Aku hanya mendengus kesal mendengar penjelasannya. Lalu tiba-tiba ia kembali menindih tubuhku. Mulai menciumiku dengan liar, pagi hari ia sangat-sangat bernafsu sekali. Dan pada akhirnya kami bercinta kembali. Entah berapa lama. Karena ketika kami keluar dari hotel dan menuju ke bandara hari sudah gelap.

***

            Sambil menunggu jam keberangkatan ke Itali tiba, kami menunggu di ruang tunggu khusus, karena kami akan berangkat ke sana menggunakan pesawat pribadi milik Kyle. jujur saja, aku baru mengetahui bahwa Kyle memiliki sebuah pesawat pribadi. Ya Tuhan, wanita mana yang bisa tahan tidak melirik suamiku ini.

            Aku terkantuk-kantuk di kursiku, Kyle benar-benar membuatku lelah dari malam hingga pagi. Dan ketika mataku hampir tertutup sepenuhnya, tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Sontak aku langsung membuka mataku.

            “Hai, sayang,” sapanya ketika melihatku membuka mata.
            “Apa itu? Dingin sekali?” tanyaku sambil mengusap pipiku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar