Chapter 18
Setelah
pesta usai aku dan Kyle bermalam di hotel itu. Dan aku merasa sangat gugup
sekali, padahal ini bukan kali pertama aku dan Kyle tidur bersama dalam satu
kamar.
Setelah
kami mandi dan berganti pakaian dengan pakaian tidur, kami berdua hanya duduk
di atas tempat tidur saling diam. Kami berdua jadi merasa canggung dan gugup
sekali tentunya. Ya Tuhan, mengapa aku jadi gemetaran seperti ini? Apa yang
harus aku lakukan untuk mencairkan suasana di antara kami berdua.
Aku
memutar mataku sambil berpikir tiba-tiba saja Kyle menegurku, “Mengapa kau
memutar matamu seperti itu, Izzie?”
Aku
terkesiap mendengar ucapannya, “Ah, tidak, tidak apa-apa.” Jawabku tergugu.
“Izzie…”
“Ya…”
“Kau
tahu, bahwa saat ini aku benar-benar sangat-sangat gugup sekali.”
“Aku
juga merasakan hal yang sama denganmu. Rasanya aneh sekali, padahal ini bukan
pertama kalinya kita berada di dalam satu kamar yang sama. Tapi mala mini
benar-benar membuatku merasa canggung dan bingung.”
“Lucu
sekali ya.” Ucapnya sambil memamerkan kedua lesung pipit.
“Iya,
sangat lucu sekali…” timpalku sambil menguap, aku sudah mulai mengantuk. Semua
ini membuatku sangat kelelahan.
“Kau
sudah mengantuk?”
“Iya,
aku sangat mengantuk. Rasanya semua ini membuatku sangat lelah, Kyle.” jawabku
sambil membaringkan tubuhku.
“Ya
sudah, tidurlah, aku akan menjagamu.”
“Kau
tidak akan tidur juga?”
“Aku
akan tidur, kok.” Jawabnya sambil berbaring disampingku dan memeluk erat
tubuhku.
Kyle
membungkus tubuhku dengan tubuhnya yang panas. Aroma tubuhnya benar-benar
memabukkanku. Aroma ini sudah menjadi milikku selama aku takkan membiarkan Mary
Jeane atau wanita manapun mendekati suamiku tersayang. Aku akan
mempertahankannya meskipun nyawaku yang menjadi taruhannya.
Aku
berusaha memejamkan mata dengan mengatur nafasku agar menjadi teratur. Aku
berusaha menutupi perasaan gugupku. Aku mendengar nafas Kyle yang terdengar
tidak teratur dan terengah-engah. Sepertinya ada yang membuatnya tidak nyaman.
Akhirnya
aku memberanikan diri untuk bertanya padanya, “Kyle, kau baik-baik saja, kan?”
tanyaku sambil mendongkakan wajahku memandang wajahnya.
“Aku…
Aku baik-baik sajay, sayang. Hey, apa aku mengganggu tidurmu?”
“Tidak,
aku hanya merasa bahwa kau terdengar sangat gelisah.”
Mendengar
perkataanku ekspresinya jadi berubah. Matanya menjadi gelap dan tatapannya
sangat intens menatap mataku dan mengunci diriku. Matanya lalu berubah menjadi
berapi-api. Mata yang sama ketika pertama kali kami bercinta. Apakah factor kebutuhan
yang membuatnya menjadi gelisah?
“Sayang,
aku benar-benar sangat menginginkanmu malam ini.”
Aku
hanya bisa menelan ludah sebelum akhirnya berbicara, “Ya, aku mengerti, Kyle.
Hanya saja aku merasa gugup sekali malam ini.”
“Tapi,
kondisi tubuhmu sedang dalam pemulihan. Kau baru saja keluar dari rumah sakit.
Kau ingat, kan.”
“Ya,
aku ingat. Tidak apa-apa, Kyle, kalau kau memang menginginkannya malam ini.
Bukankah itu sudah menjadi salah satu kewajibanku sebagai seorang istri.”
Merasa
telah mendapatkan izin dariku, Kyle langsung melumat habis bibirku, lidahnya
mendesak masuk ke dalam mulutku dan menghisap lidahku dengan sangat lembut.
Mulutnya
menyusuri telingaku dan dia menggigit lembut daun telingaku, yang membuat aku
mengerang merasakan tubuhku yang semakin memanas akibat ciumannya.
Dan
ia kembali mencium bibirku, sampai aku mengerjap-ngerjapkan mataku berusaha
untuk mendapatkan oksigen di sela-sela ciumannya yang sangat intens sekali.
Tangannya bergerilya ke seluruh tubuhku.
Tangannya
menangkup di payudaraku sebelum akhirnya ia menyelinap masuk dan melepaskan
pengait bra yang kupakai. Lalu aku bisa merasakan panas tangannya di kulitku.
Dam mulai membauat putingku mengeras dan mencuat.
Nafasnya
mulai terdengar tidak teratur, desahan nafas kami memenuhi kamar. Aku merangkul
lehernya dan menyelipkan jari-jariku di rambutnya. Lalu ia melepaskan
ciumannya, tubuhnya terlihat naik turun berusaha untuk mengatur nafasnya. Lalu
ia mulai melepas baju tidurku dan melemparnya ke lantai, setelah itu ia membuka
baju tidurnya juga dan menyisakan celananya saja.
Kyle
menidih tubuhku dan mulai menciumi tubuhku mulai dari kening terus turun
kebawah. Menciumi payudaraku dan menghisap putingnya, seolag-olah ia sedang
minum dari situ. Nafasku semakin memburu dan tak karuan ketika ia menciumi
perutku.
“Kyle…”
panggilku dengan suara yang serak dan terengah-engah.
“Belum,
sayang. Bertahanlah.” Jawabnya dengan terengah-engah juga.
“Kau
sengaja mempermainkanku?”
“Iya…”
jawabnya sambil tersenyum penuh kemenangan.
Oh,
berapa lama lagi dia akan terus mempermainkanku seperti ini? Aku ingin dia
berada di dalam diriku secepatnya. Dia terus saja membuatku menggelinjang,
meskipun aku merasakan bahwa ereksinya sudah sangat besar dan sangat kerasa
sekali di bawah sana. Dan sepertinya aku akan segela mengalami orgasmeku.
“Tidak,
sayang, kau harus menahannya untukku.” Ucapnya sambil mendesak ereksanya itu
masuk kedalam diriku secara perlahan.
Lalu
ia membuat gerakan maju mundur, mengeluarkan dan memasukan ereksinya itu.
Erangan demi erangan keluar dari mulut kami berdua. Malam itu kami bercinta
hingga benar-benar kehabisan tenaga.
***
Cahaya
matahari mengintip dari tirai aku masih bergelung dalam pelukan Kyle, tanpa
sehelai pakaianpun di tubuh kami berdua. Ia membungkus tubuhku dengan badannya
dengan begitu erat. Bahkan aku merasakan ereksinya yang mengeras di pinggangku.
Aku
menatap wajah lelaki yang ada di sampingku dengan lekat. Ya lelaki ini sudah
menjadi suamiku sekarang. Semua yang ada didirinya adalah milikku, hanya
milikku seorang. Aku tak pernah menyangka akan menikah dengan lelaki tampan
seperti Kyle.
Sangat
beruntung. Tuhan, semoga kami bisa terus bersama selamanya, dan kami dapat
melalui coba-cobaan yang datang untung menggoyahkan hubungan kami. Perkuatlah
hubungan kami berdua Tuhan.
Tiba-tiba
Kyle membuka matanya, ia terlihat masih sangat mengantuk, “Pagi, sayang…”
“Selamat
pagi, suamiku tersayang.” Jawabku sambil memberikan senyuman terbaikku.
“Ah,
sayang, senyumanmu itu benar-benar membuatku bahagia. Aku bisa melihat mu tidur
dan tersenyum ketika bangun di pagi hari selamanya. Semuanya milikku, kau
milikku.” Ucapnya sambil memelukku lebih erat.
“Ya,
aku milikmu selamanya, Kyle.”
Aku
hendak bangun bangun tapi Kyle mencegahku, “Kau mau kemana, sayang? Ayo
sebaiknya kita tidur saja lagi.”
“Kau
tidak pergi ke kantor?”
“Tidak,
aku sudah mengajukan cuti selama satu minggu untuk pergi berbulan madu denganmu
sayang.”
“Berbulan
madu? Memangnya kita mau pergi kemana?”
“Bagaimana
kalau ke Venice Italia? Kau suka dengan Negara itu, kan?”
“Ide
yang bagus, suamiku. Dan tetap saja aku harus bangun, bukankah kita harus
mempersiapkan keperluan kita untuk bulan madu nanti.”
“Tidak
perlu, semuanya sudah beres. Kita hanya tinggal berangkat saja.”
Aku
memelototinya, “Kyle, kapan kau memberikanku kesempatan untuk menyiapkan
sesuatu untuk kita?”
“Nanti
setelah pulang dari Italia, kau akan menyiapkan berbagai hal untuk suamimu
tercinta ini.” Jawabnya dengan enteng.
Aku
hanya mendengus kesal mendengar penjelasannya. Lalu tiba-tiba ia kembali
menindih tubuhku. Mulai menciumiku dengan liar, pagi hari ia sangat-sangat
bernafsu sekali. Dan pada akhirnya kami bercinta kembali. Entah berapa lama.
Karena ketika kami keluar dari hotel dan menuju ke bandara hari sudah gelap.
***
Sambil
menunggu jam keberangkatan ke Itali tiba, kami menunggu di ruang tunggu khusus,
karena kami akan berangkat ke sana menggunakan pesawat pribadi milik Kyle.
jujur saja, aku baru mengetahui bahwa Kyle memiliki sebuah pesawat pribadi. Ya
Tuhan, wanita mana yang bisa tahan tidak melirik suamiku ini.
Aku
terkantuk-kantuk di kursiku, Kyle benar-benar membuatku lelah dari malam hingga
pagi. Dan ketika mataku hampir tertutup sepenuhnya, tiba-tiba aku merasakan
sesuatu yang dingin menyentuh pipiku. Sontak aku langsung membuka mataku.
“Hai,
sayang,” sapanya ketika melihatku membuka mata.
“Apa
itu? Dingin sekali?” tanyaku sambil mengusap pipiku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar