Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 10


Chapter 10

            Kyle membawaku ke kamarnya, dan menidurkanku di atas tempat tidurnya.

            “Izzie, apa kau yakin akan melakukan ini? Aku tidak akan memaksamu jika kau berubah pikira.” Ucapnya dengan suara terengah dan mata yang membara penuh gairah.
            “Aku ingin sekarang, Kyle. Aku mohon, aku sudah tidak kuat.”
            “Baiklah, kalau kau memang menginginkannya, aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Karena aku tidak ingin membuatmu kesakitan.”
            “Apa? Apakah akan sangat sakit?” tanyaku terkaget.
            “Iya, tapi hanya awalnya saja. Setelah itu kau tidak akan merasakan sakit lagi. Apa kau siap?”
            Mendengar perkataannya, mendadak aku menjadi amat sangat gugup sekali. Sekarangkah saatnya? “Oh, oke aku siap,” jawabku gugup.

            Kyle kembali menciumi leherku dan terus turun, semetara itu sebelah tangannya mulai menyusup ke dalam kaosku. Dan sentuhan tangannya di perutku membuatku menggelinjang. Lalu tangannya bergerang naik menuju ke payudaraku dan menyusupkan tangannya itu ke salah payudaraku. Aku langsung mengerang kecil ketika merasakan tangannya itu memegang payudaraku. Kyle berada di atas tubuhku, dan aku merasakan ada sesuatu yang pengeras di antara kedua pahanya. Sesuatu yang keras, berdenyut dan membesar.

            Ia semakin liar menggerakan tangannya yang menyusuri tiap inci tubuhku. Dan aku benar-benar di buatnya tak berdaya, dengan nafsu dan gairah yang meluap-luap. Kyle membuka kancing kemejanya satu persatu, dan melemparnya begitu saja kelantai. Dan tanganku mulai menjelah di dadanya yang bidang. Dengan perlahan Kyle membuka kaos dan bra yang kupakai. Ya Tuhan, aku telanjang di depannya dan ada perasaan malu di tatapnya dengan keadaan seperti ini. Tak hanya sampai itu, Kyle membuka celana jinsku lalu menciumi kedua pahaku. Dan rasanya, ya Tuhan, aku benar-benar tak dapat mengungkapkannya.

            “Kyle…”
            “Tenanglah, sayang, kau tidak ingin Tom mendengar, kan.”
            Aku kembali terdiam, dengan perasaan yang campur aduk. Tapi tetap saja mulutku tetap mengeluarkan suara erangan yang halu. Sampai akhirnya aku medengarnya membuka sesuatu, menjauhkan kedua pahaku. Lalu tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berusaha masuk ke dalam diriku. Aku terpekik tertahan, karena rasanya sangat sakit sekali.

            “Tenanglah, sayang aku akan perlahan-lahan melakukannya.” Ucapnya menenangkanku.

            Perlahan ia mendorong dirinya masuk ke dalam diriku, sedangkan aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku. Berusaha untuk merepasi perasaan yang aku rasakan saat ini. Ketika ia mulai memaju mundurkan badannya, tiba-tiba butuhku mengejang, rasanya seperti akan mencapai apa yang orang-orang sebut sebagai orgasme. Lagi-lagi aku terpekik dan tubuhku langsung lemas, sedangkan Kyle makin lama makin mempercepat gerakannya. Sampai aku merasakan tubuhnya mengejang, mengerang pelan melepaskan orgasmenya. Lalu ia pun terkulai lemas di atas tubuhku.

            Kami berdua benar-benar lemas, dengan nafas yang masih terengah-engah.

            “Terima kasih sayang, aku sangat-sangat mencintaimu,” ucapnya sambil mencium bibirku, lalu melepaskan dirinya dari diriku dan menggulingkan badannya di samping tubuhku.
            “Bagaimana perasaanmu? Apakah masih terasa sakit?” ucapnya sambil memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya dengan tangan.
            “Ya, masih terasa sangat sakit. Tapi aku tidak tahu bahwa melakukan ini akan benar-benar menguras tenagaku. Karena saat ini aku merasa sangat lapar, Kyle.”

            Kyle tersenyum mendengar perkataanku, lalu ia memelukku. Ya, kami berpelukan dalam keadaan telanjang tak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh kami.

            “Apa kau masih merasa lelah?”
            “Sedikit, tapi aku ingin makan?”
            “Baiklah, kita akan pergi makan di luar. Berpakaianlah. Atau kau mau mandi dulu agar terlihat lebih segar.”
            “Sepertiya aku akan mandi terlebih dahulu. Karena tubuhku sangat lengket.”
            Kyle bangun dari tempat tidur, lalu menuju lemarinya dan mengambil selembar handuk dan memberikannya untukku, dengan lemas aku bangun dan sempat melirik kea rah tempat tidur. Ada noda darah disana, ya, itu darah keperawananku, lalu aku berjalan menuju kamar mandi. Sambil meringis, karena rasa sakit itu masih terasa.

            Aku menyalakan shower dan air yang dingin membasuh tubuhku. Rasanya sangat sejuk sekali. Aku mengambil shampoo dan membersihkan rambutku, ternyata wangi Kyle, begitu juga dengan sabun mandinya. Setelah membersihkan rambut dan seluruh tubuhku dengan sabun, aku membiarkan air yang keluar dari shower mengguyur tubuhku. Aku memejamkan mata, sambil berusaha mengingat apa baru saja terjadi antara aku dan Kyle.

            Setelah selesai aku melilitkan handuk yang Kyle berikan dan keluar dari kamar. Ketika masuk kedalam kamar, keadaannya sudah rapi, bahkan Kyle sudah mengganti seprainya dengan yang bersih. Pakainku tersimpan rapi di atas tempat tidur.

            “Lama sekali. Cepat berpakaian nanti masuk angin. Aku juga mau mandi dulu,” tegurnya lembut.

            Aku hanya mengangguk sambil tersenyum, lalu ia pun masuk kedalam kamar mandi. Aku memakai pakainku, lalu pergi mengeringkan rambut di ruang depan sambil mendengarkan ipod milik Kyle. Aku cekikikan sendiri mengingat apa yang baru saja terjadi, aku benar-benar sudah menjadi miliknya. Karena terlarut dalam music sambil menngeringkan rambut, tiba-tiba saja Kyle memelukku dengan penuh kasih sayang.

            Aku yang terkaget langsung melepaskan earphone yang terpasang di telingaku, “Maaf, aku tidak mendengar kedatanganmu,” ya ampun dia benar-benar sangat tampan sekali. Wajahnya terlihat sangat segar sehabis mandi, meskipun rambutnya yang tidak terkena air dan masih berantakan.
            “Hey, berhenti memandangiku seperti itu.”
            “Dan jangan berhenti tersenyum seperti itu untukku,” ucapku sambil tersenyum
            “Apapun, Izzie. Asalkan aku bisa melihatmu bahagia. Dan mata itu selalu berbinar indah akan kulakukan apapun. Rambutmu sudah kering?”
            “Sudah, kok. Tinggal menyisirnya saja.” Ucapku sambil mengambil sisir yang terletak di sebelah Tv, lalu menyisirnya. “Aku sudah selesai.”
            “Baiklah, Princess. Mari kita pergi mencari sesuatu yang enak.” Ucapnya sambil menarik tanganku dan menciumnya dengan lembut.

            Lalu kami pun pergi. Ketika dalam perjalanan menuju tempat parker mobil. Kami bertemu dengan Kak Tom dan Manda. Kakak langsung bersikap menyelidiki seperti biasanya, apalagi ia mendapati Kyle yang menggenggam erat tanganku.

            “Hai, Tom, hai Manda. Mau pergi keluar?” tanya Kyle santai.
            Kakakku langsung menyipikan matanya, “Kalian mau kemana? Dan mengapa sambil berpegangan tangan seperti itu?”
            “Ah, Tom, aku lupa bahwa mulai sekarang kau menjadi calon kakak iparku,”
            “Hah? Kalian sekarang berpacaran? Benarkan itu, Izzie?”

            Aku hanya mengangguk sambil tersenyum.

            “Ah, akhirnya kau berhasil menaklukkan Izzie, Kyle. Selamat untuk kalolian berdua, ya.” Ucap Manda sambil memelukku dengan hangat.
            “Baguslah, aku memang mengharapkan kalian berpacaran sejak lama sekali. Nah Kyle, mulai sekarang kaulah yang akan menjaga Izzie.”
            “Tentu saja, Tom, aku akan menjaganya dengan nyawaku.” Jawab Kyle sambil memandangku dengan tatapan yang berbinar-binar.
            “Tom, ayo kita pergi. Jangan mengganggu mereka berdua.” Ucap Manda sambil menarik kakakku.
            “Kalian berdua hati-hati di jalan, ya.” Teriaknya sambil di seret oleh Manda.

            Aku dan Kyle tertawa melihat tingkah kakakku dan Manda.

            “Satu lagi yang baru aku tahu tentang kakakku selepas ia memutuskan untuk tinggal di asrama?”
            “Memangnya apa?”
            “Ia tuduk pada Manda. Padahal dia itu galak dan sok berkuasa.”
            “Dan akupun tunduk padamu Izzie. Ayo kita berangkat sekarang.” Ucapnya sambil menuju Audi A3 hitam miliknya.

            Kyle pun melajukan mobilnya ke sebuah kafe. Waktu masuk aku agak terkejut dan terkesan. Karena tempatnya sangat romantic. Kyle bilang di sinilah ia suka menyanyi.

            “Tempat yang indah, Kyle,” ucapku ketika memasuki kafe itu sambil menggandeng tangan Kyle.
            “Iya, kafe ini memang sangat bagus. Syukurlah kalau kau suka. Ayo kita cari tempat duduk.”
            Kami pun melangkah masuk, dan Kyle memilih meja yang dekat dengan panggung kecil. Lalu salah seorang pemain music disana menyapa Kyle.

            “Hai, Kyle.” sapa cowok itu
            “Hai, Jose. Oh iya, kenalkan ini Izzie, kekasihku.
            “Hai, Izzie, senang bertemu denganmu.” Ucapnya sambil menjabat tanganku, “Sangat cantik Kyle.”
            “Jangan macam-macam Jose, dia milikku,” tegurnya sambil melotot.
            “Hahaha, iya aku tahu. Hanya bercanda saja. Ya sudah aku permisi, ya.” Jose berpamitan dan meninggalkan kami berdua.
            “Ayo duduk, Princess,” ucapnya sambil menarikkan sebuah kursi untukku.
            “Terima kasih,” jawabku sambil duduk, “Dia temanmu?”
            “Iya, kami sering bernyanyi di kafe ini.”
            “Benarkah? Kau harus menyanyikan sebuah lagu untukku.”
            “Tentu saja, aku akan bernyanyi untukmu, sayang.”
            “Apakah kau pernah mengajak Jenny kesini?”
            “Tidak pernah sama sekali, Izzie, kau yang pertama aku ajak kesini. Kau bisa tanya Jose.”           
            “Oke, aku mengerti.” Jawabku sambil tersenyum

Tidak ada komentar:

Posting Komentar