Chapter
10
Kyle membawaku ke kamarnya, dan
menidurkanku di atas tempat tidurnya.
“Izzie, apa kau yakin akan melakukan
ini? Aku tidak akan memaksamu jika kau berubah pikira.” Ucapnya dengan suara
terengah dan mata yang membara penuh gairah.
“Aku ingin sekarang, Kyle. Aku
mohon, aku sudah tidak kuat.”
“Baiklah, kalau kau memang
menginginkannya, aku akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Karena aku
tidak ingin membuatmu kesakitan.”
“Apa? Apakah akan sangat sakit?”
tanyaku terkaget.
“Iya, tapi hanya awalnya saja.
Setelah itu kau tidak akan merasakan sakit lagi. Apa kau siap?”
Mendengar perkataannya, mendadak aku
menjadi amat sangat gugup sekali. Sekarangkah saatnya? “Oh, oke aku siap,”
jawabku gugup.
Kyle kembali menciumi leherku dan
terus turun, semetara itu sebelah tangannya mulai menyusup ke dalam kaosku. Dan
sentuhan tangannya di perutku membuatku menggelinjang. Lalu tangannya bergerang
naik menuju ke payudaraku dan menyusupkan tangannya itu ke salah payudaraku.
Aku langsung mengerang kecil ketika merasakan tangannya itu memegang
payudaraku. Kyle berada di atas tubuhku, dan aku merasakan ada sesuatu yang
pengeras di antara kedua pahanya. Sesuatu yang keras, berdenyut dan membesar.
Ia semakin liar menggerakan
tangannya yang menyusuri tiap inci tubuhku. Dan aku benar-benar di buatnya tak
berdaya, dengan nafsu dan gairah yang meluap-luap. Kyle membuka kancing
kemejanya satu persatu, dan melemparnya begitu saja kelantai. Dan tanganku
mulai menjelah di dadanya yang bidang. Dengan perlahan Kyle membuka kaos dan
bra yang kupakai. Ya Tuhan, aku telanjang di depannya dan ada perasaan malu di
tatapnya dengan keadaan seperti ini. Tak hanya sampai itu, Kyle membuka celana
jinsku lalu menciumi kedua pahaku. Dan rasanya, ya Tuhan, aku benar-benar tak dapat
mengungkapkannya.
“Kyle…”
“Tenanglah, sayang, kau tidak ingin
Tom mendengar, kan.”
Aku kembali terdiam, dengan perasaan
yang campur aduk. Tapi tetap saja mulutku tetap mengeluarkan suara erangan yang
halu. Sampai akhirnya aku medengarnya membuka sesuatu, menjauhkan kedua pahaku.
Lalu tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang berusaha masuk ke dalam diriku. Aku
terpekik tertahan, karena rasanya sangat sakit sekali.
“Tenanglah, sayang aku akan
perlahan-lahan melakukannya.” Ucapnya menenangkanku.
Perlahan ia mendorong dirinya masuk
ke dalam diriku, sedangkan aku hanya bisa mengerjap-ngerjapkan mataku. Berusaha
untuk merepasi perasaan yang aku rasakan saat ini. Ketika ia mulai memaju
mundurkan badannya, tiba-tiba butuhku mengejang, rasanya seperti akan mencapai
apa yang orang-orang sebut sebagai orgasme. Lagi-lagi aku terpekik dan tubuhku
langsung lemas, sedangkan Kyle makin lama makin mempercepat gerakannya. Sampai
aku merasakan tubuhnya mengejang, mengerang pelan melepaskan orgasmenya. Lalu
ia pun terkulai lemas di atas tubuhku.
Kami berdua benar-benar lemas,
dengan nafas yang masih terengah-engah.
“Terima kasih sayang, aku
sangat-sangat mencintaimu,” ucapnya sambil mencium bibirku, lalu melepaskan
dirinya dari diriku dan menggulingkan badannya di samping tubuhku.
“Bagaimana perasaanmu? Apakah masih
terasa sakit?” ucapnya sambil memiringkan tubuhnya dan menopang kepalanya
dengan tangan.
“Ya, masih terasa sangat sakit. Tapi
aku tidak tahu bahwa melakukan ini akan benar-benar menguras tenagaku. Karena
saat ini aku merasa sangat lapar, Kyle.”
Kyle tersenyum mendengar
perkataanku, lalu ia memelukku. Ya, kami berpelukan dalam keadaan telanjang tak
ada sehelai kain pun yang menutupi tubuh kami.
“Apa kau masih merasa lelah?”
“Sedikit, tapi aku ingin makan?”
“Baiklah, kita akan pergi makan di
luar. Berpakaianlah. Atau kau mau mandi dulu agar terlihat lebih segar.”
“Sepertiya aku akan mandi terlebih
dahulu. Karena tubuhku sangat lengket.”
Kyle bangun dari tempat tidur, lalu
menuju lemarinya dan mengambil selembar handuk dan memberikannya untukku,
dengan lemas aku bangun dan sempat melirik kea rah tempat tidur. Ada noda darah
disana, ya, itu darah keperawananku, lalu aku berjalan menuju kamar mandi.
Sambil meringis, karena rasa sakit itu masih terasa.
Aku menyalakan shower dan air yang
dingin membasuh tubuhku. Rasanya sangat sejuk sekali. Aku mengambil shampoo dan
membersihkan rambutku, ternyata wangi Kyle, begitu juga dengan sabun mandinya.
Setelah membersihkan rambut dan seluruh tubuhku dengan sabun, aku membiarkan
air yang keluar dari shower mengguyur tubuhku. Aku memejamkan mata, sambil
berusaha mengingat apa baru saja terjadi antara aku dan Kyle.
Setelah selesai aku melilitkan
handuk yang Kyle berikan dan keluar dari kamar. Ketika masuk kedalam kamar,
keadaannya sudah rapi, bahkan Kyle sudah mengganti seprainya dengan yang
bersih. Pakainku tersimpan rapi di atas tempat tidur.
“Lama sekali. Cepat berpakaian nanti
masuk angin. Aku juga mau mandi dulu,” tegurnya lembut.
Aku hanya mengangguk sambil
tersenyum, lalu ia pun masuk kedalam kamar mandi. Aku memakai pakainku, lalu
pergi mengeringkan rambut di ruang depan sambil mendengarkan ipod milik Kyle.
Aku cekikikan sendiri mengingat apa yang baru saja terjadi, aku benar-benar
sudah menjadi miliknya. Karena terlarut dalam music sambil menngeringkan
rambut, tiba-tiba saja Kyle memelukku dengan penuh kasih sayang.
Aku yang terkaget langsung
melepaskan earphone yang terpasang di telingaku, “Maaf, aku tidak mendengar
kedatanganmu,” ya ampun dia benar-benar sangat tampan sekali. Wajahnya terlihat
sangat segar sehabis mandi, meskipun rambutnya yang tidak terkena air dan masih
berantakan.
“Hey, berhenti memandangiku seperti
itu.”
“Dan jangan berhenti tersenyum
seperti itu untukku,” ucapku sambil tersenyum
“Apapun, Izzie. Asalkan aku bisa
melihatmu bahagia. Dan mata itu selalu berbinar indah akan kulakukan apapun.
Rambutmu sudah kering?”
“Sudah, kok. Tinggal menyisirnya
saja.” Ucapku sambil mengambil sisir yang terletak di sebelah Tv, lalu
menyisirnya. “Aku sudah selesai.”
“Baiklah, Princess. Mari kita pergi
mencari sesuatu yang enak.” Ucapnya sambil menarik tanganku dan menciumnya
dengan lembut.
Lalu kami pun pergi. Ketika dalam
perjalanan menuju tempat parker mobil. Kami bertemu dengan Kak Tom dan Manda.
Kakak langsung bersikap menyelidiki seperti biasanya, apalagi ia mendapati Kyle
yang menggenggam erat tanganku.
“Hai, Tom, hai Manda. Mau pergi
keluar?” tanya Kyle santai.
Kakakku langsung menyipikan matanya,
“Kalian mau kemana? Dan mengapa sambil berpegangan tangan seperti itu?”
“Ah, Tom, aku lupa bahwa mulai
sekarang kau menjadi calon kakak iparku,”
“Hah? Kalian sekarang berpacaran?
Benarkan itu, Izzie?”
Aku hanya mengangguk sambil
tersenyum.
“Ah, akhirnya kau berhasil
menaklukkan Izzie, Kyle. Selamat untuk kalolian berdua, ya.” Ucap Manda sambil
memelukku dengan hangat.
“Baguslah, aku memang mengharapkan
kalian berpacaran sejak lama sekali. Nah Kyle, mulai sekarang kaulah yang akan
menjaga Izzie.”
“Tentu saja, Tom, aku akan
menjaganya dengan nyawaku.” Jawab Kyle sambil memandangku dengan tatapan yang
berbinar-binar.
“Tom, ayo kita pergi. Jangan
mengganggu mereka berdua.” Ucap Manda sambil menarik kakakku.
“Kalian berdua hati-hati di jalan,
ya.” Teriaknya sambil di seret oleh Manda.
Aku dan Kyle tertawa melihat tingkah
kakakku dan Manda.
“Satu lagi yang baru aku tahu
tentang kakakku selepas ia memutuskan untuk tinggal di asrama?”
“Memangnya apa?”
“Ia tuduk pada Manda. Padahal dia
itu galak dan sok berkuasa.”
“Dan akupun tunduk padamu Izzie. Ayo
kita berangkat sekarang.” Ucapnya sambil menuju Audi A3 hitam miliknya.
Kyle pun melajukan mobilnya ke
sebuah kafe. Waktu masuk aku agak terkejut dan terkesan. Karena tempatnya
sangat romantic. Kyle bilang di sinilah ia suka menyanyi.
“Tempat yang indah, Kyle,” ucapku
ketika memasuki kafe itu sambil menggandeng tangan Kyle.
“Iya, kafe ini memang sangat bagus.
Syukurlah kalau kau suka. Ayo kita cari tempat duduk.”
Kami pun melangkah masuk, dan Kyle
memilih meja yang dekat dengan panggung kecil. Lalu salah seorang pemain music
disana menyapa Kyle.
“Hai, Kyle.” sapa cowok itu
“Hai, Jose. Oh iya, kenalkan ini
Izzie, kekasihku.
“Hai, Izzie, senang bertemu
denganmu.” Ucapnya sambil menjabat tanganku, “Sangat cantik Kyle.”
“Jangan macam-macam Jose, dia
milikku,” tegurnya sambil melotot.
“Hahaha, iya aku tahu. Hanya
bercanda saja. Ya sudah aku permisi, ya.” Jose berpamitan dan meninggalkan kami
berdua.
“Ayo duduk, Princess,” ucapnya
sambil menarikkan sebuah kursi untukku.
“Terima kasih,” jawabku sambil
duduk, “Dia temanmu?”
“Iya, kami sering bernyanyi di kafe
ini.”
“Benarkah? Kau harus menyanyikan
sebuah lagu untukku.”
“Tentu saja, aku akan bernyanyi
untukmu, sayang.”
“Apakah kau pernah mengajak Jenny
kesini?”
“Tidak pernah sama sekali, Izzie,
kau yang pertama aku ajak kesini. Kau bisa tanya Jose.”
“Oke, aku mengerti.” Jawabku sambil
tersenyum
Tidak ada komentar:
Posting Komentar