Sabtu, 20 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 15

Chapter 15


            “Maafkan kakak Izzie.”
            “Sudahlah, Kak. Tidak apa-apa kok, tapi bolehkah aku menginap disini untu beberapa hari?”
            “Tentu saja Izzie, kau boleh tinggal disini selama yang kau mau.” Jawab Manda lembut.
            “Terima kasih.” Jawabku singkat lalu meminum teh yang di buatkan oleh calon kakak iparku itu.

            Aku menyesap teh hangat itu sambil memejamkan mataku, berusaha untuk menenangkan pikiranku yang terberai. Kembali mengatur emosiku yang masih meluap-luap dan berusaha untuk meredakannya. Ya, dan aku sudah merasa jauh lebih baik sekarang.

            “Izzie, apakah kau membawa obat-obatanmu?” pertanyaan kakak langsung membuyarkan lamunanku.
            “Tidak, Kak, aku tidak membawanya. Aku sudah baik sekarang.”
            “Kau memang tidak pandai berbohong, Izzie. Tidak ada satu orangpun yang akan percaya bahwa kau baik-baik saja dengan wajah sepucat itu.”
            “Tapi aku merasa jauh lebih baik. Kak, bolehkah aku kembali tinggal di asrama?”
            Mendengar pertanyaanku itu tiba-tiba wajah kakak langsung berubah menjadi panic, “Apa? Tidak Izzie, aku tidak akan mengizinkanmu untuk kembali ketempat itu. Tidak akan pernah.”
            “Kenapa aku tidak boleh kembali ke tempatku? Saat ini aku benar-benar butuh waktu untuk sendiri.”
            “Tidak, Izzie, kau tidak bisa kembali kesana. Aku tidak akan membiarkanmu kembali ketempat itu dan membuat nyawamu terancam.”
            “Apa? Nyawaku terancam? Kak, jangan konyol, mana mungkin aku tinggal di sana akan membahayakan diriku sendiri? Aku sudah cukup lama tinggal disana.”
            “Iya, tapi tempat itu sekarang sudah tidak aman lagi untukmu, sejak seseorang menerobos masuk dan mengacak-acak kamarmu.”
            “Apa? Ada seseorang yang menerobos masuk kamarku? Siapa, Kak?”
            “Tidak tahu, Izzie, saat ini kakak masih menyelidikinya. Itu juga kenapa kakak menginginkamu untuk tinggal bersama Kyle. Karena Kyle akan bisa mengawasi dan menjagamu.”
            “Siapa orang yang berani berbuat seperti itu, Kak?” tanyaku sambil mengerutkan keningku. Tiba-tiba dugaanku mengarah pada Mary Jeane. Ya, pasti dia pelakunya. Karena dia sangat ingin memisahkanku dengan Kyle. Mary Jeane sangat mencintai Kyle. “Kak, aku mencurigai seseorang, tapi aku tidak yakin sepenuhnya. Ini hanya baru dugaanu saja.”
            “Siapa, Izzie?” tanya kakakku sambil mendekat ke arahku.
            “Mary Jeane…”
            “Mary Jeane? Siapa dia?” Manda yang sedari tadi diam akhirnya ikut berbicara juga.
            “Dia itu relasi bisnisnya Kyle. Seorang wanita karier yang masih muda dan cantik, dia menyukai Kyle. Penyebab pertengkaranku dan Kyle belakangan ini gara-gara dia, Kak.”
            “Mary Jeane? Sepertinya nama itu cukup familiar untukku?” kakakku berkata.
            “Kakak kenal juga dengan Mary Jeane?”
            “Iya, dia relasi bisnis kakak. Dan dia itu termasuk orang yang sangat ambisius.”
            “Sungguh keterlaluan kalau dia sampai melakukan hal sejauh ini, Tom.”
            “Tapi, Kak, ini hanya dugaanku saja. Aku belum yakin sepenuhnya.”
            “Kau tenang saja, Izzie. Aku tidak akan mengambil tindakan yang gegabah dalam hal ini, karena ini menyangkut keselamatanmu.”
            “Sebaiknya kau beristirahat saja, Izzie. Ini sudah sangat larut.” Manda memberitahu.
            “Apa perlu kakak hubungi, Kyle?”
            “Tidak, Kak. Aku…”
            “Kakak akan tetap memberitahu Kyle bahwa kau ada disini. Dia pasti sedang sangat panic dan khawatir sekali padamu.”
            “Tapi aku bellum mau menemuinya.”
            “Tenang saja, kakak akan menjelaskannya pada Kyle.”
            “Ya sudah, terserah kakak saja. Aku mau pergi ke kamar saja.”

            Aku pergi meninggalkan kakakku yang sudah mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi Kyle.

            Manda mengantarkanku ke salah satu kamar yang ada, lalu meninggalkanku sendiri. Karena Amanda tahu, saat ini aku sedang ingin sendiri saja.

            Dan pada akhirnya aku sama sekali tidak bisa memejamkan kedua mataku. Aku memikirkan Kyle. Aku sangat sangat ingin berada di sampingnya, tapi Mary Jeane benar-benar sudah merusak semuanya. Wanita itu benar-benar sudah mulai menunjukkan wujud aslinya.

            Haruskah aku datang menemui wanita itu? Dan memperingatkannya dengan mulutku sendiri?

            Baiklah, besok aku akan pergi untuk menemui wanita itu. Aku akan membuatnya menyesal. Salah dia sudah membuat perkara dengaku, mungkin saat ini ia berpikir bahwa aku ini gadis yang lemah dan tidak bisa apa-apa. Pemikiran yang salah jika dia berpikir seperti itu. Mary Jeane belum tahu seperti apa aku. Tunggu saja apa yang akan aku lakukan.

            Keesokan harinya saat sarapan. Aku sudah bertekad untuk melaksanakan rencanaku semalam. Tentu saja aku harus berhati-hati, jangan sampai kak Tom mengetahuinya.

            “Izzie, kenapa kau tidak memakan makananmu? Kau sedang memikirkan apa?”
            “Tidak ada, Kak. Aku sedang tidak memikirkan apa-apa.” Jawabku sambil cepat-cepat memakan rotiku.
            “Oh iya, hari inikami berdua sangat sibuk sekali. Kau tidak apa-apa sendirian di rumah?”
            Aku menggelengkan kepalaku pelan, “Tidak apa-apa, kalau merasa bosan aku akan pergi berjalan-jalan keluar.”
            “Baiklah, kakak akan menyuruh orang untuk menjagamu.”
            “Tidak perlu, aku janji akan baik-baik saja. Lagipula aku tidak akan pergi jauh-jauh.”
            “Ya sudah kalau begitu.”
            Setelah mereka pergi aku langsung mengambil kunci mobil dan segera pergi. Ketika dalam perjalanan aku melewati sebuah restoran. Dan aku melihat wanita itu sedang bersama kekasihku. Bagus sekali, sangat sangat bagus sekali.

            Aku langsung memutar mobilku dan masuk ke pelataran restoran itu. Aku masuk denga terburu-buru menuju meja mereka berdua.

            “Bagus sekali,” ucapku tiba-tiba.

            Mereka berdua langsung terpucat melihat kedatanganku yang tiba-tiba.

            “Sayang…”
            “Diam kau Kyle…” ucapku sambil memelototinya. Lalu kembali beralih memandang Mary Jeane.
            Well, senang melihatmu sudah sembuh Izzie.” Tanyanya dengan menyebalkan. “Aku tak mengira bahwa kau akan selamat dari kecelakaan itu.”
            Aku menatapnya dengan tatapan yang sangat tajam, “ Jadi kau ingin aku mati? Benar begitu Mary? Agar kau bisa mendapatkan kekasihku? Jangan mimpi, langkahi dulu mayatku.”
            “Kau menantangku Izzie?” sentaknya padaku.
            “Kau telah salah membuat perkara denganku Miss Mary Jeane Brown yang terhormat.” Kataku sambil menumpahkan kopi ke roknya.

            Kyle hanya melotot sambil menahan tawa melihat perbuatanku itu.

            “Kau… Kau, tunggu pembalasanku, Izzie.” Ancam Mary Jeane lalu pergi.

            Setelah wanita itu pergi barulah Kyle tertawa dengan lepasnya.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar