Chapter 7
“Izzie,
kau di mana sekarang? Kau tidak apa-apa, kan?” Kyle bertanya tak kalah
paniknya.
Ya
Tuhan, Kyle sedang berada dengan kakak. Bagaimana ini. “K… kyle…” ucapku gugup.
“Cepat
katakan kau sedang berada di mana sekarang? Aku akan segera menyusulmu.”
“Aku
berada di Costa Coffee Bar bersama Ed.”
“Tunggu
di situ aku akan segera menyusulmu ke sana.” Kyle langsung menutup teleponnya.
“Izzie
ada di mana Kyle?” Tom bertanya pada Kyle.
“Dia
ada di Costa Coffee Bar bersama Ed, Tom.”
“Aku
akan menghajar ‘si brengsek’ itu, kalau sampai terjadi sesuatu pada Izzie.”
Ucap Tom penuh amarah.
“Ayo,
Tom, kita berangkat sekarang. Pakai mobilku.”
Tom
langsung mengikuti Kyle. Kyle mengemudikan Audi A3-nya dengan kecepatan yang tinggi.
Dan akhirnya mereka berdua sampai di Costa Coffee Bar. Ketika masuk Tom melihat
Ed sedang bermesraan dengan seorang wanita. Dan wanita itu bukan adiknya.
Dengan penuh amarah Tom langsung mendatangi Ed. Sedangkan Kyle masih terpaku,
karena ia sangat mengenali wanita yang sedang bersama Ed. Iya, wanita itu
adalah Jenny kekasihnya.
“Ed…”
teriak Tom sambil menarik kerah baju Ed.
Edward
benar-benar terkejut mendapatkan serangan yang tiba-tiba dari Tom.
“Tom,
apa-apaan kau ini tiba-tiba menyerangku?”
“Di
mana adikku? Di mana Izzie. Apa yang kau lakukan hingga membuatnya menangis,
hah?” cecar Tom penuh amarah.
“Aku
di sini, Kak.” Izzie tiba-tiba muncul sambil menangis.
Melihat
aku muncul Kyle langsung menghampiri dan langsung memeluk “Izzie…” Kyle tiba-tiba muncul dan langsung
memelukku,
“Kau
tidak apa-apa, kan?” tanyanya sambil mengusap punggungku.
Melihat
itu Ed dan Jenny marah.
“Hey
kau, siapa? Seenaknya memeluk pacarku seperti itu?” Ed berbicara dengan emosi.
“Kau
tidak pantas memanggil adikku dengan sebutan itu brengsek.”
“Aku
baik-baik saja, terima kasih,” ucapku sambil melepaskan diri dari pelukannya.
“Bagus
sekali Jenny, jadi Eddy itu adalah Edward kekasihnya Izzie. Selama ini kau dan
Ed telah membohongi aku dan Izzie.”
Aku
langsung terbelalak mengetahui wanita yang sedang bermesraan dengan Ed adalah
Jenny pacarnya Kyle, “Apa? Jadi perempuan ini pacarmu Kyle? Oh Tuhan, ini
benar-benar hebat sekali.” Ucapku tak percaya.
“Izzie,
tolong dengar dulu penjelasan dariku,” Ed memohon.
“Oke,
jelaskan padaku dengan singkat. Karena aku benar-benar sangat muak melihat
wajahmu Ed.”
“Aku
dan Jenny adalah teman bermain ketika masih kecil, ketika beranjak remaja kami
berduapun saling menyukai. Tapi ketika masuk SMA kami berpisah dan bertemu kembali
saat kami sedang melakukan study tour di Belfast.” Jelas Ed.
“Cukup,
kau tak perlu mejelaskan lagi padaku Ed, karena aku tahu benar kelanjutan dari
ceritamu itu apa,” ucapku dengan sangat datar dan sangat dingin, “Kau tahu aku
kan, Ed, aku sangat membenci dengan yang namanya pengkhianatan, dan aku tidak
bisa mentolerir hal itu. Ed, mulai hari ini hubungan kita berakhir.
“Izzie,
aku sangat mencintaimu,” ucap Ed dengan suara memohon.
“Persetan
dengan semua cintamu itu.” Ucapku dengan sengit.
“Dan
Jenny, sepertinya inilah saatnya aku juga mengatakan bahwa hubungan kita harus
berakhir. Aku tidak sekuat itu Jenny, aku tidak mungkin diam melihatmu terus
mengkhianatiku. Dan aku juga mau bilang terserah apa yang akan kau lakukan
setelah ini, karena aku tidak akan peduli sama sekali. Ayo Izzie, kita pergi
dari sini.” Ucap Kyle tak kalah sengitnya.
Kyle
menggenggam tanganku erat dan mengajakku pergi dari tempat itu di ikuti oleh
Kak Tom. Kami bertiga pulang menuju ke asrama. Kyle agak terkejut mengetahui aku
tinggal di asrama sekarang.
“Istirahatlah
Izzie, kalau ada apa-apa kakak ada di kamar.” Ucap Kak Tom lalu keluar dari
kamarku.
Tinggallah
aku dan Kyle di dalam kamar. Saling terdiam dalam keheningan.
“Mengapa
kau masih berada di sini Kyle? Pergilah ke kamarmu.”
“Tidak
Izzie, aku tidak akan pergi sebelum aku yakin bahwa kau sudah baik-baik saja.”
“Aku
baik-baik saja Kyle, pergilah,” ucapku sambil membelakangi Kyle.
“Tidak,
aku tidak akan pergi. Tatap mataku Izzie, katakan bahwa kau memang baik-baik
saja. Katakan itu sambil menatap mataku Izzie.”
Aku
membalikkan tubuhku secara perlahan. Aku langsung terduduk di lantai, menutup
wajahku dengan kedua tangan dan menangis terisak. Aku memang tidak dalam
keadaan baik, aku benar-benar terpukul dengan semua ini.
Kyle
menghampiri dan memelukku dengan sangat erat, “Jangan menangis Izzie, aku
mohon. Jangan menangis,” ucapnya sambil membelai rambutku dengan lembut.
“Jangan
tinggalkan aku Kyle, aku butuh kamu di sini, aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri.”
Aku berkata sambil menangis dalam pelukannya.
Hatiku
memang sangat sakit, tapi di peluk seperti ini aku jauh merasa lebih baik.
Pelukan Kyle benar-benar sangat hangat, hangat sekali. Tanpa sadar kedua tanganku
melingkar di pinggangnya dan memeluknya juga dengan erat.
“Aku
ada di sini Izzie, kemarin aku sudah bilang padamu. Bahwa aku tidak akan
meninggalkanmu, aku akan selalu ada untukmu Izzie,” Kyle melepaskan pelukannya.
“Tidak, jangan pergi Kyle,” ucapku
sambil menggenggam erat tangannya.
“Izzie, aku tidak akan pergi ke
mana-mana. Aku hanya akan duduk di depan. Kau harus mandi dan mengganti
pakaianmu. Aku tidak mungkin berada di dalam.”
Wajahku memerah mendengar
perkataannya, “Baiklah, aku akan segera membersihkan diriku.”
“Aku ada di luar, ya.” Kyle pun
pergi keluar dari kamarku.
Aku pun segera membersihkan badanku
dan berpakaian. Lalu pergi ke dapur membuat coklat hangat untuk Kyle. Dan saat
kembali ke ruang depan, ternyata Kyle sudah ada di sana dan sudah berganti
pakaian, menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, sambil memutar-mutar
senar gitar lalu sesekali memetik senarnya. Entah mengapa aku sangat sangat
gugup sekali sore ini.
“Hey, rupanya kamu sudah kembali,
ini untukmu,” ucapku sambil menyodolkan segelas coklat hangat untuknya.
“Terima kasih Izzie,” jawabnya
sambil mengambil gelas yang ku berikan padanya.
“Bagaimana keadaanmu sekarang?”
“Yah, kau tahulah. Aku masih shock
sekali.” Jawabku sambil duduk di sampingnya.
“Aku sangat mengerti perasaanmu
Izzie, aku tahu bagaimana rasanya di sakiti oleh orang yang kita cintai dan
kita sayangi.”
“Kau benar, rasanya memang
sangat-sangat sakit sekali. Tapi aku tak ingin berlarut-larut dalam
kesedihanku, Kyle. Oh iya, apa Kak Tom ada di kamarnya?”
“Tom ada di kamarnya bersama Amanda,”
“Heh, Amanda suka berkunjung ke
kamar kalian?”
“Iya, dan aku sangat risih. Kau
tahulah apa yang mereka lakukan,” jawabnya sambil tertawa.
“Memang mereka melakukan apa?”
tanyaku dengan sangat polos.
Lagi-lagi Kyle tertawa mendengar
pertanyaan bodohku, “ Izzie, masa kau tidak tahu. Mereka sering melakukan
hubungan badan.”
“Heh! Masa sih? Ternyata aku tidak begitu tahu tentang kakakku di
luar seperti apa, ya. Aku benar-benar tak menyangka bahwa kakakku berani sampai
sejauh itu”
“Hey, apa kau mau belajar bermain
gitar lagi?”
“Jari-jariku sakit tahu, padahal
baru satu kali memegang gitar.”
“Memang seperti itu Izzie,
jari-jarimu akan terluka karena bergesekan dengan senar gitar. Tapi nanti juga
tidak akan menimbulkan efek apapun, kok. Hey bagaimana kalau kita pergi keluar?
Kau mau, kan?”
“Kemana?”
“Pergi cari makan atau kita pergi ke
pantai, itupun kalau kau mau.”
“Bagaimana kalau kita ke pantai
saja, tapi kau harus berjanji jangan mengacuhkanku.”
Kyle tertawa mendengar ucapanku yang
seperti anak kecil itu, “Baiklah, aku Kyle Patrick berjanji tidak akan
mengacuhkan Lizzie Isabella Williams lagi ketika di pantai,” ucapnya sambil
mengangkat telapak tangan kanannya menghadap ke muka.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya
“Aku pegang janjimu Kyle.”
“Baiklah ayo kita berangkat,”
ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku.
Aku menyambut tangannya. Kami pergi sambil bergandengan tangan. Ada
perasaan bahagia, tapi aku benar-benar belum siap untuk menjalin kembali sebuah
hubungan dengan lelaki manapun. Hari itu Kyle mengajaku ke pantai mengunakan
motor sportnya.
***
Di
pantai…
Ternyata Kyle memang tidak main-main
dengan ucapnya tadi. Ia terus saja menggenggam tanganku. Kali ini Kyle memang
terlihat berbeda, ia terlihat lebih ceria. Senyuman selalu menghiasi wajah
tampannya. Dan itu membuatku bahagia. Aku jadi sedikit melupakan rasa sakit
yang Ed berikan padaku hari ini. Aku tak pernah memalingkan pandanganku dari
wajah Kyle, meskipun kami sedang berjalan menyusuri pantai sambil bertelanjang
kaki.
“Izzie, berhenti menatapku seperti
itu.”
“Memangnya kenapa? Aku senang
melihatmu seperti ini Kyle,” ucapku sambil menatap lekat matanya.
“Aku benar-benar tidak tahan melihat
matamu Izzie,”
“Memangnya ada yang salah dengan
mataku?” tanyaku sambil melotot.
“Iya, matamu memabukanku.”
Tiba-tiba saja Kyle mengunci
bibirku, dan kali ini aku membalas ciumannya itu. Di pinggir pantai, di hiasi
oleh indahnya matahari tenggelam. Kami berciuman di sana dan entah berapa lama
kami melakukannya. Jika ada yang melihatnya pasti mereka mengira kami ini
sepasang kekasih, padahal di antara kami tidak ada hubungan apa-apa.
Puas berjalan-jalan, kami menuju ke
tempat duduk yang biasa kami duduki jika pergi ke sana.
“Izzie, maafkan aku,” ucapnya
tiba-tiba.
“Maaf untuk apa, Kyle?” ucapku
sambil memiringkan kepalaku dan menatap wajahnya.
“Ciuman tadi, aku benar-benar minta
maaf. Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku Izzie. Aku benar-benar…”
Ia kembali mencium bibirku. Tuhan,
kenapa aku tidak bisa menghindar dan menolaknya? Bahkan aku sangat suka dan
menikmati setiap ciumannya di bibirku, sentuhannya saat membelaiku, ah aku
benar-benar tidak bisa menolaknya. Aku
sangat menginginkan Kyle.
Perasaanku begitu bergejolak. Sangat
menginginkannya, tapi di lain sisi aku merasa belum siap untuk menjalin sebuah
hubungan yang baru. Tidak secepat ini. Aku benar-benar membutuhkan waktu, untuk
menyembuhkan luka yang menganga lebar dalam hatiku saat ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar