Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 7


Chapter 7

            “Izzie, kau di mana sekarang? Kau tidak apa-apa, kan?” Kyle bertanya tak kalah paniknya.
            Ya Tuhan, Kyle sedang berada dengan kakak. Bagaimana ini. “K… kyle…” ucapku gugup.
            “Cepat katakan kau sedang berada di mana sekarang? Aku akan segera menyusulmu.”
            “Aku berada di Costa Coffee Bar bersama Ed.”
            “Tunggu di situ aku akan segera menyusulmu ke sana.” Kyle langsung menutup teleponnya.
            “Izzie ada di mana Kyle?” Tom bertanya pada Kyle.
            “Dia ada di Costa Coffee Bar bersama Ed, Tom.”
            “Aku akan menghajar ‘si brengsek’ itu, kalau sampai terjadi sesuatu pada Izzie.” Ucap Tom penuh amarah.
            “Ayo, Tom, kita berangkat sekarang. Pakai mobilku.”
           
            Tom langsung mengikuti Kyle. Kyle mengemudikan Audi A3-nya dengan kecepatan yang tinggi. Dan akhirnya mereka berdua sampai di Costa Coffee Bar. Ketika masuk Tom melihat Ed sedang bermesraan dengan seorang wanita. Dan wanita itu bukan adiknya. Dengan penuh amarah Tom langsung mendatangi Ed. Sedangkan Kyle masih terpaku, karena ia sangat mengenali wanita yang sedang bersama Ed. Iya, wanita itu adalah Jenny kekasihnya.
           
            “Ed…” teriak Tom sambil menarik kerah baju Ed.
           
            Edward benar-benar terkejut mendapatkan serangan yang tiba-tiba dari Tom.
           
            “Tom, apa-apaan kau ini tiba-tiba menyerangku?”
            “Di mana adikku? Di mana Izzie. Apa yang kau lakukan hingga membuatnya menangis, hah?” cecar Tom penuh amarah.
            “Aku di sini, Kak.” Izzie tiba-tiba muncul sambil menangis.
            Melihat aku muncul Kyle langsung menghampiri dan langsung memeluk   “Izzie…” Kyle tiba-tiba muncul dan langsung memelukku,
            “Kau tidak apa-apa, kan?” tanyanya sambil mengusap punggungku.

            Melihat itu Ed dan Jenny marah.

            “Hey kau, siapa? Seenaknya memeluk pacarku seperti itu?” Ed berbicara dengan emosi.
            “Kau tidak pantas memanggil adikku dengan sebutan itu brengsek.”
            “Aku baik-baik saja, terima kasih,” ucapku sambil melepaskan diri dari pelukannya.
            “Bagus sekali Jenny, jadi Eddy itu adalah Edward kekasihnya Izzie. Selama ini kau dan Ed telah membohongi aku dan Izzie.”

            Aku langsung terbelalak mengetahui wanita yang sedang bermesraan dengan Ed adalah Jenny pacarnya Kyle, “Apa? Jadi perempuan ini pacarmu Kyle? Oh Tuhan, ini benar-benar hebat sekali.” Ucapku tak percaya.

            “Izzie, tolong dengar dulu penjelasan dariku,” Ed memohon.
            “Oke, jelaskan padaku dengan singkat. Karena aku benar-benar sangat muak melihat wajahmu Ed.”
            “Aku dan Jenny adalah teman bermain ketika masih kecil, ketika beranjak remaja kami berduapun saling menyukai. Tapi ketika masuk SMA kami berpisah dan bertemu kembali saat kami sedang melakukan study tour di Belfast.” Jelas Ed.
            “Cukup, kau tak perlu mejelaskan lagi padaku Ed, karena aku tahu benar kelanjutan dari ceritamu itu apa,” ucapku dengan sangat datar dan sangat dingin, “Kau tahu aku kan, Ed, aku sangat membenci dengan yang namanya pengkhianatan, dan aku tidak bisa mentolerir hal itu. Ed, mulai hari ini hubungan kita berakhir.         
            “Izzie, aku sangat mencintaimu,” ucap Ed dengan suara memohon.
            “Persetan dengan semua cintamu itu.” Ucapku dengan sengit.
            “Dan Jenny, sepertinya inilah saatnya aku juga mengatakan bahwa hubungan kita harus berakhir. Aku tidak sekuat itu Jenny, aku tidak mungkin diam melihatmu terus mengkhianatiku. Dan aku juga mau bilang terserah apa yang akan kau lakukan setelah ini, karena aku tidak akan peduli sama sekali. Ayo Izzie, kita pergi dari sini.” Ucap Kyle tak kalah sengitnya.

            Kyle menggenggam tanganku erat dan mengajakku pergi dari tempat itu di ikuti oleh Kak Tom. Kami bertiga pulang menuju ke asrama. Kyle agak terkejut mengetahui aku tinggal di asrama sekarang.

            “Istirahatlah Izzie, kalau ada apa-apa kakak ada di kamar.” Ucap Kak Tom lalu keluar dari kamarku.

            Tinggallah aku dan Kyle di dalam kamar. Saling terdiam dalam keheningan.        

            “Mengapa kau masih berada di sini Kyle? Pergilah ke kamarmu.”
            “Tidak Izzie, aku tidak akan pergi sebelum aku yakin bahwa kau sudah baik-baik saja.”
            “Aku baik-baik saja Kyle, pergilah,” ucapku sambil membelakangi Kyle.
            “Tidak, aku tidak akan pergi. Tatap mataku Izzie, katakan bahwa kau memang baik-baik saja. Katakan itu sambil menatap mataku Izzie.”

            Aku membalikkan tubuhku secara perlahan. Aku langsung terduduk di lantai, menutup wajahku dengan kedua tangan dan menangis terisak. Aku memang tidak dalam keadaan baik, aku benar-benar terpukul dengan semua ini.                          

            Kyle menghampiri dan memelukku dengan sangat erat, “Jangan menangis Izzie, aku mohon. Jangan menangis,” ucapnya sambil membelai rambutku dengan lembut.

            “Jangan tinggalkan aku Kyle, aku butuh kamu di sini, aku mohon jangan tinggalkan aku sendiri.” Aku berkata sambil menangis dalam pelukannya.          

            Hatiku memang sangat sakit, tapi di peluk seperti ini aku jauh merasa lebih baik. Pelukan Kyle benar-benar sangat hangat, hangat sekali. Tanpa sadar kedua tanganku melingkar di pinggangnya dan memeluknya juga dengan erat.
            “Aku ada di sini Izzie, kemarin aku sudah bilang padamu. Bahwa aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu ada untukmu Izzie,” Kyle melepaskan pelukannya.
            “Tidak, jangan pergi Kyle,” ucapku sambil menggenggam erat tangannya.
            “Izzie, aku tidak akan pergi ke mana-mana. Aku hanya akan duduk di depan. Kau harus mandi dan mengganti pakaianmu. Aku tidak mungkin berada di dalam.”
            Wajahku memerah mendengar perkataannya, “Baiklah, aku akan segera membersihkan diriku.”
            “Aku ada di luar, ya.” Kyle pun pergi keluar dari kamarku.

            Aku pun segera membersihkan badanku dan berpakaian. Lalu pergi ke dapur membuat coklat hangat untuk Kyle. Dan saat kembali ke ruang depan, ternyata Kyle sudah ada di sana dan sudah berganti pakaian, menggunakan kaos tanpa lengan dan celana pendek, sambil memutar-mutar senar gitar lalu sesekali memetik senarnya. Entah mengapa aku sangat sangat gugup sekali sore ini.

            “Hey, rupanya kamu sudah kembali, ini untukmu,” ucapku sambil menyodolkan segelas coklat hangat untuknya.
            “Terima kasih Izzie,” jawabnya sambil mengambil gelas yang ku berikan padanya.
            “Bagaimana keadaanmu sekarang?”
            “Yah, kau tahulah. Aku masih shock sekali.” Jawabku sambil duduk di sampingnya.
            “Aku sangat mengerti perasaanmu Izzie, aku tahu bagaimana rasanya di sakiti oleh orang yang kita cintai dan kita sayangi.”
            “Kau benar, rasanya memang sangat-sangat sakit sekali. Tapi aku tak ingin berlarut-larut dalam kesedihanku, Kyle. Oh iya, apa Kak Tom ada di kamarnya?”
            “Tom ada di kamarnya bersama Amanda,”
            “Heh, Amanda suka berkunjung ke kamar kalian?”
            “Iya, dan aku sangat risih. Kau tahulah apa yang mereka lakukan,” jawabnya sambil tertawa.
            “Memang mereka melakukan apa?” tanyaku dengan sangat polos.
            Lagi-lagi Kyle tertawa mendengar pertanyaan bodohku, “ Izzie, masa kau tidak tahu. Mereka sering melakukan hubungan badan.”
“Heh! Masa sih? Ternyata aku tidak begitu tahu tentang kakakku di luar seperti apa, ya. Aku benar-benar tak menyangka bahwa kakakku berani sampai sejauh itu”
            “Hey, apa kau mau belajar bermain gitar lagi?”
            “Jari-jariku sakit tahu, padahal baru satu kali memegang gitar.”
            “Memang seperti itu Izzie, jari-jarimu akan terluka karena bergesekan dengan senar gitar. Tapi nanti juga tidak akan menimbulkan efek apapun, kok. Hey bagaimana kalau kita pergi keluar? Kau mau, kan?”
            “Kemana?”
            “Pergi cari makan atau kita pergi ke pantai, itupun kalau kau mau.”
            “Bagaimana kalau kita ke pantai saja, tapi kau harus berjanji jangan mengacuhkanku.”

            Kyle tertawa mendengar ucapanku yang seperti anak kecil itu, “Baiklah, aku Kyle Patrick berjanji tidak akan mengacuhkan Lizzie Isabella Williams lagi ketika di pantai,” ucapnya sambil mengangkat telapak tangan kanannya menghadap ke muka.

            Aku tertawa kecil melihat tingkahnya “Aku pegang janjimu Kyle.”
            “Baiklah ayo kita berangkat,” ucapnya sambil menyodorkan tangannya padaku.
           
Aku menyambut tangannya. Kami pergi sambil bergandengan tangan. Ada perasaan bahagia, tapi aku benar-benar belum siap untuk menjalin kembali sebuah hubungan dengan lelaki manapun. Hari itu Kyle mengajaku ke pantai mengunakan motor sportnya.
           
***
Di pantai…

            Ternyata Kyle memang tidak main-main dengan ucapnya tadi. Ia terus saja menggenggam tanganku. Kali ini Kyle memang terlihat berbeda, ia terlihat lebih ceria. Senyuman selalu menghiasi wajah tampannya. Dan itu membuatku bahagia. Aku jadi sedikit melupakan rasa sakit yang Ed berikan padaku hari ini. Aku tak pernah memalingkan pandanganku dari wajah Kyle, meskipun kami sedang berjalan menyusuri pantai sambil bertelanjang kaki.
            “Izzie, berhenti menatapku seperti itu.”
            “Memangnya kenapa? Aku senang melihatmu seperti ini Kyle,” ucapku sambil menatap lekat matanya.
            “Aku benar-benar tidak tahan melihat matamu Izzie,”                     
            “Memangnya ada yang salah dengan mataku?” tanyaku sambil melotot.
            “Iya, matamu memabukanku.”

            Tiba-tiba saja Kyle mengunci bibirku, dan kali ini aku membalas ciumannya itu. Di pinggir pantai, di hiasi oleh indahnya matahari tenggelam. Kami berciuman di sana dan entah berapa lama kami melakukannya. Jika ada yang melihatnya pasti mereka mengira kami ini sepasang kekasih, padahal di antara kami tidak ada hubungan apa-apa.         

            Puas berjalan-jalan, kami menuju ke tempat duduk yang biasa kami duduki jika pergi ke sana.

            “Izzie, maafkan aku,” ucapnya tiba-tiba.
            “Maaf untuk apa, Kyle?” ucapku sambil memiringkan kepalaku dan menatap wajahnya.
            “Ciuman tadi, aku benar-benar minta maaf. Aku benar-benar tidak bisa menahan diriku Izzie. Aku benar-benar…”         

            Ia kembali mencium bibirku. Tuhan, kenapa aku tidak bisa menghindar dan menolaknya? Bahkan aku sangat suka dan menikmati setiap ciumannya di bibirku, sentuhannya saat membelaiku, ah aku benar-benar tidak bisa menolaknya.  Aku sangat menginginkan Kyle.

            Perasaanku begitu bergejolak. Sangat menginginkannya, tapi di lain sisi aku merasa belum siap untuk menjalin sebuah hubungan yang baru. Tidak secepat ini. Aku benar-benar membutuhkan waktu, untuk menyembuhkan luka yang menganga lebar dalam hatiku saat ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar