Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home chapter 3


Chapter 3

            Malam itu kami berdua saling melepas rindu. Rindu yang tertahan selama satu tahun ini akhirnya bisa berbalaskan juga. Meskipun tidak begitu lama, karena Ed harus pamit pulang karena hari sudah semakin malam. Setelah mengantarkan Ed pulang aku langsung pergi ke kamar. Dan ketika sedang merebahkan badan di atas tempat tidur aku langsung teringat dengan tugas-tugas kuliahku yang belum tersentuh sama sekali.
“Oh God, aku lupa dengan tugas-tugasku. Bagaimana ini? Mana besok aku masuk pagi lagi, ah ada apa dengan hari ini? Kenapa aku begitu terlena dengan hari Minggu kali ini.” Rutukku kesal.

            Dengan perasaan kesal aku bangun dari tempat tidur dan menuju ke meja belajarku. Malam ini aku tidak bisa beristirahat karena harus menyelesaikan semua tugas-tugas ini. Dan aku mulai mengerjakan satu persatu tugas-tugasku itu. Waktu terus berjalan, entah sudah berapa kali aku menguap dan terkantuk-kantuk. Sampai akhirnya aku pun tertidur dengan posisi meja aku jadikan bantal dengan buku dan kertas-kertas yang berserakan di sana sini. Aku mendengar suara Mom yang sudah mulai kesal karena aku tidak juga bangun. Dengan mata masih tertutup sebagian aku pun memaksakan diri untuk bangun dan melirik jam waker yang ada di mejaku, dan….

Oh my God, I’m gonna be late.”
           
Aku langsung pergi mandi secepat kilat, lalu berpakaian dan membereskan semua buku dan kertas yang ada di atas mejaku dan memasukkannya ke dalam tas. Aku langsung keluar kamar dan langsung pamitan pada Mom dan Dad. Susah payah aku mencari taxi, tapi setelah mendapatkannya aku malah terjebak macet padahal kampusku jaraknya masih sekitar setengah kilo meter lagi. Aku pun nekat berlari ke kampus. Aku tidak peduli dengan keringat yang membasahi tubuhku, daripada aku harus terlambat masuk kelas dan terlambat menngumpulkan tugasku. Apa kata para dosen nanti kalau seorang Izzie Williams datang terlambat dan tidak mengumpullkan tugas. Oh, jangan sampai hal itu terjadi.
           
Akhirnya aku sampai juga di kampus dan untung saja kelas baru di mulai sekitar lima belas menit lagi.

Thanks God, aku tidak terlambat, jadi aku bisa beristirahat dulu sejenak,” ucapku dengan nafas yang terengah-engah.
           
Ketika aku dengan berusaha mengatur nafas tiba-tiba Kak Tom dating menghampiriku.

“Izzie, kau kenapa?” tanyanya dengan tatapan seperti orang yang terkejut.
“Jangan banyak tanya,” bentakku.
“Jangan bilang kau terlambat bangun karena tidak tidur semalam mengerjakan tugas,” tebaknya.
“Tahu darimana? Ini semua kan gara-gara Kakak, yang pergi kencan sangat lama dan membuat aku menunggu di asrama untung saja ada Kyle yang menemani.” Cerocosku.
“Jadi kau sudah bertemu dengan Kyle? Maafkan aku, kau tidak toleran sekali pada Kakakmu ini.”
“Ah, sudahlah terserah Kakak saja. Aku mau masuk ke kelas dulu.” Aku pun pergi meninggalkan Kakakku itu.
           
Hari ini benar-benar membuatku sangat lelah sekali. Terlebih lagi karena aku kurang tidur semalam. Dengan lesu aku pun menelepon Ed, memintanya untuk menjemputku.

“Boo, jemput aku ya, aku malas naik taxi.”
“Maaf Bee, aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Aku sedang ada keperluan, maaf ya,”
“Ya sudah tidak apa-apa. Bye,” aku menutup telepon dengan perasaan yang sedikit kecewa.
           
Ed biasanya tidak pernah seperti ini, biasanya kalau tidak bisa menjemput pasti dia menjelaskan secara rinci apa alasannya. Tapi barusan ia hanya bilang ‘ada urusan’. Terserahlah, aku sedang malas memikirkan Ed, lebih baik aku menelepon Kak Tom dan memintanya untuk mengantarku pulang. Tapi, dia malah menyuruhku untuk menunggunya di asrama.
           
Dengan langkah gontai aku menuju ke tempat kakakku. Ketika hampir sampai aku melihat seorang wanita keluar dari kamar kakakku dan diikuti oleh Kyle. Berbagai pertanyaan bermunculan di dalam otakku. Ah, tapi itu bukan urusanku, sekalipun cewek tadi itu adalah pacar Kyle. Aku duduk di kursi panjang yang berada tepat di depan pintu kamar. Yah, aku menunggu Kyle datang karena akan sangat tidak sopan kalau aku masuk begitu saja.

“Sudah 10 menit, tapi Kyle belum juga kembali. Hah, mana Kak Tom malah pergi dengan pacarnya lagi. Ya sudahlah, aku lebih baik pulang saja,” keluhku dalam hati sambil melirik arloji yang terpasang di tangan kiriku.
           
Ketika aku beranjak berdiri tiba-tiba Kyle memanggilku.

“Izzie…” panggilnya sambil berlari ke arahku. “Maaf, kau pasti sudah lama menungguku.”
           
Hah??? Aku menunggu Kyle? Yang benar saja.

“Ah, tidak tadinya aku ke sini Cuma mau menumpang istirahat sebentar, karena Kak Tom bilang dia akan mengantarku pulang. Makanya aku kesini.”
“Aku pikir kau datang untuk belajar main gitar.”
“Baiklah, daripada aku kesal menunggu Kak Tom datang lebih baik kau mengajariku bermain gitar saja.”
“Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam,” ucapnya sambil tersenyum memamerkan kedua lesung pipitnya.
           
Kami berdua masuk ke dalam. Aku langsung menghempaskan tubuhku di sofa dan melempar tasku begitu saja.

“Kau terlihat sangat lelah sekali Izzie. Apa kau tidur nyenyak semalam?”
“Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak kalau tugas-tugasku belum aku kerjakan.”
“Hari ini kau ada tugas lagi tidak?“
“Ada, sih, tapi Cuma satu mata kuliah saja,”
“Bagaimana kalau kau kerjakan dulu tugasmu itu baru aku akan mengajarimu bermain gitar setelah kau selesai.”
“Hah, yang benar saja? Tak bisakah aku beristirahat dulu sebentar saja.”
“Ayolah Izzie, jangan malas seperti itu. Aku akan membantumu, agar tugas itu cepat selesai,”
           
Dengan setengah hati aku menuruti perkataan Kyle. Dan benar saja, ia membantuku menyelesaikan tugas kuliahku dan kami selesai dalam waktu lima belas menit.

“Kyle, thanks ya sudah mau membantuku,”
“Bukan bantuan yang berarti, kok. Sudah siap buat belajar bermain gitar?”
“Yup, I’m ready.” Jawabku bersemangat.
           
Kyle mengambil gitar kesayangannya lalu memberikannya padaku. Aku benar-benar bingung, bagaimana cara memegang gitar yang benar.

“Kyle, ini pegangnya gimana, ya?” jawabku polos.
“Hah, jadi kau tidak tahu bagaimana memegang gitar?” tanyanya dengan ekspresi yang lucu.

Dan aku hanya membalasanya dengan menggeleng kepala.

“Ya ampun Izzie, kau ini benar-benar lucu sekali.” Ucapnya sambil menahan tawa.
           
Aku hanya mengerucutkan bibirku mendengar perkataan Kyle.

“Maaf, ya sudah aku ajarkan sini,” Kyle mulai mengajariku cara memegang gitar yang benar itu seperti apa. Karena selalu salah akhirnya Kyle memegangi tanganku, jadi posisinya Kyle memelukku dari belakang sambil memegangi tanganku agar benar memegang gitarnya.
“Nah, seharusnya seperti ini memegang gitarnya,” ucapnya sambil terus memegangi tanganku.
“Ahh, iya, iya… Lalu setelah ini apalagi?”
“Belajar kunci dasarnya dulu, kalau kau sudah hafal dan bisa baru kita belajar dengan lagu ang mudah,”
           
Masih dengan posisi yang sama Kyle mengajarkanku kunci-kunci dasarnya. Enatah sudah berapa lama kami belajar. Karena waktu kami memutuskan untuk beristirahat langit di luar mulai berwarna jingga.

“Izzie, kau pasti lapar, aku tinggal sebentar untuk membeli makanan tidak apa-apa, kan?”
“Hmmm, aku tidak apa-apa, kok.”
“Aku pergi, kau hati-hati, ya.”
“Iya, aku akan berhati-hati. Kau juga, ya,”
           
Kyle pun pergi keluar untuk membeli makanan untuk kami berdua. Benar-benar aneh, aku dan Kyle baru kenal beberapa hari tapi rasanya kami sudah kenal lama sekali. Ya, meskipun Kyle orangnya agak susah di tebak tapi dia cowok yang baik. Dan aku merasa nyaman berada di dekatnya. Aku jadi berpikir tentang cewek yang tadi bersamanya? Apa dia itu pacarnya, tapi kalaupun benar itu pacarnya Kyle itu benar-benar tidak ada hubungannya denganku sama sekali.

“Kyle kok lama, ya. Katanya Cuma pergi sebentar. Hoaaammmm,” aku menguap karena sangat mengantuk sekali. Tanpa sadar aku pun tertidur di sofa.

***

            Ketika aku kembali ke asrama aku melihat Izzie sedang tertidur di sofa. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. Aku jadi tidak tega untuk membangunkannya. Lalu aku pergi mengambil sebuah selimut dan memakaikannya pada Izzie. Aku menatap lekat wajahnya dan dengan perlahan membelai pipinya. Ya, Izzie memang sangat cantik dan begitu polos, aku benar-benar gemas melihatnya tertidur seperti ini. Dan tanpa sadar aku mengecup bibirnya.

            Izzie, kaulah satu-satunya gadis yang benar-benar membuatku gila. Kau membuatku bertekuk lutut. Meskipun aku tahu saat ini aku tidak bisa memilikimu. Tapi, aku sangat yakin bahwa suatu hari nanti aku bisa memilikimu seutuhnya. Jadi akan milikku seorang.

*** 

            Perlahan aku membuka mataku. Aku benar-benar kaget melihat keadaan disekelilingku, karena ternyata aku masih berada di asrama kakakku. Selimut? Siapa yang memakaikan selimut ini padaku? Sayup-sayup aku mendengar suara gitar yang sedang dimainkan dari beranda kamar asrama. Pasti Kyle ada di sana, dengan keadaan kepala yang masih agak pusing aku pun bangun dan langsung menuju ke beranda. Benar saja, Kyle ada ada di situ dengan bermain gitar sambil bernyanyi.

“Kyle…” panggilkku dengar suara yang agak parau.
“Hey, kau sudah bangun rupanya,” ia menghentikan permainan gitarnya dan menghampiriku.
“Sudah malam rupanya, Kak Tom masih belum pulang, ya?”
“Dia daritadi belum pulang,”
“Kemana lagi sih dia? Kerjaannya pacaran terus,” keluhku sambil membalikan badan dan masuk ke dalam. Tentu saja Kyle mengikutiku.
“Izzie, bagaimana kalau kita makan dulu. Habis itu biar aku saja yang mengantarmu pulang. Bagaimana?”
“Boleh, aku sudah sangat-sangat lapar sekali,”
           
Kyle memasukan makan cepat saji yang di belinya tadi sore. Dan setelah beberapa menit di panaskan, Kyle mengeluarkannya dari microwave dan memberikannya pada Izzie. Mereka berdua makan dengan lahapnya. Dan setelah selesai Kyle mengajak Izzie pergi. Tadinya Izzie mengira bahwa Kyle akan mengantarkannya pulang, tapi perkiraannya itu salah. Lagi-lagi Kyle mengajaknya pergi ke pantai.
“Kyle, kenapa kita malah ke sini malam-malam?”
           
Kyle hanya terdiam lalu duduk di kursi yang kami duduki beberapa hari  yang lalu. Aku paling tidak suka jika didiamkan seperti ini. Dan akhirnya aku bertanya hal yang seharusnya tidak ku tanyakan.

“Kau kenapa, sih? Memikirkan pacarmu yang tadi siang keluar kamar sambil berlari-lari?”
           
Mendengar ucapanku Kyle langsung memandangku dengan tatapan yang menyeramkan. Stupid Izzie…!!!!

“Jadi kau melihatnya? Lalu apalagi yang kau tahu, Izzie?” ucapnya dengan suara yang meninggi dan panik.
“Tidak ada, aku tidak sengaja melihatnya dan aku juga tidak mendengar apapun. Lalu apa salahku dan kenapa kau jadi membentakku?”
“DIAM IZZIE…”
           
Aku langsung terdiam mendengar Kyle berteriak padaku. Well, great bagaimana bisa aku bersama dengan orang aneh seperti ini? Kenapa orang aneh seperti dia harus masuk ke dalam kehidupanku?

I’m go…”  ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan Kyle.
“Izzie, tunggu…”
           
Kyle mengejarku dan dia langsung memelukku dengan erat ketika ia berhasil mengejarku.

“Izzie, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk membentakmu.” Ucapnya sambil membelai rambutku.
            Aku hanya bisa terisak dalam pelukannya.

“Izzie, kau menangis? Ku mohon jangan menangis Izzie, maafkan aku. Aku benar-benar bodoh, satu-satunya wanita yang paling tidak ingin ku liha menangis adalah kau Izzie.”
           
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan nanar, meminta penjelasan dari perkataannya barusan. Menciumku seenaknya, lalu mengacuhkanku begitu saja. Seperti boneka yang tidak mempunyai perasaan. Dia pikir siapa dirinya? Bisa seenaknya memperlakukan aku seperti itu.

            Aku berharap tidak pernah bertemu dan mengenal orang aneh seperti dia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar