Chapter
3
Malam itu kami berdua saling melepas
rindu. Rindu yang tertahan selama satu tahun ini akhirnya bisa berbalaskan
juga. Meskipun tidak begitu lama, karena Ed harus pamit pulang karena hari
sudah semakin malam. Setelah mengantarkan Ed pulang aku langsung pergi ke
kamar. Dan ketika sedang merebahkan badan di atas tempat tidur aku langsung
teringat dengan tugas-tugas kuliahku yang belum tersentuh sama sekali.
“Oh God, aku lupa dengan tugas-tugasku. Bagaimana ini? Mana besok
aku masuk pagi lagi, ah ada apa dengan hari ini? Kenapa aku begitu terlena
dengan hari Minggu kali ini.” Rutukku kesal.
Dengan perasaan kesal aku bangun
dari tempat tidur dan menuju ke meja belajarku. Malam ini aku tidak bisa
beristirahat karena harus menyelesaikan semua tugas-tugas ini. Dan aku mulai
mengerjakan satu persatu tugas-tugasku itu. Waktu terus berjalan, entah sudah
berapa kali aku menguap dan terkantuk-kantuk. Sampai akhirnya aku pun tertidur
dengan posisi meja aku jadikan bantal dengan buku dan kertas-kertas yang
berserakan di sana sini. Aku mendengar suara Mom yang sudah mulai kesal karena
aku tidak juga bangun. Dengan mata masih tertutup sebagian aku pun memaksakan
diri untuk bangun dan melirik jam waker yang ada di mejaku, dan….
“Oh my God, I’m gonna be late.”
Aku langsung pergi mandi secepat kilat, lalu berpakaian dan
membereskan semua buku dan kertas yang ada di atas mejaku dan memasukkannya ke
dalam tas. Aku langsung keluar kamar dan langsung pamitan pada Mom dan Dad.
Susah payah aku mencari taxi, tapi setelah mendapatkannya aku malah terjebak
macet padahal kampusku jaraknya masih sekitar setengah kilo meter lagi. Aku pun
nekat berlari ke kampus. Aku tidak peduli dengan keringat yang membasahi
tubuhku, daripada aku harus terlambat masuk kelas dan terlambat menngumpulkan
tugasku. Apa kata para dosen nanti kalau seorang Izzie Williams datang terlambat
dan tidak mengumpullkan tugas. Oh, jangan sampai hal itu terjadi.
Akhirnya aku sampai juga di kampus dan untung saja kelas baru di
mulai sekitar lima belas menit lagi.
“Thanks God, aku tidak
terlambat, jadi aku bisa beristirahat dulu sejenak,” ucapku dengan nafas yang
terengah-engah.
Ketika aku dengan berusaha mengatur nafas tiba-tiba Kak Tom dating
menghampiriku.
“Izzie, kau kenapa?” tanyanya dengan tatapan seperti orang yang
terkejut.
“Jangan banyak tanya,” bentakku.
“Jangan bilang kau terlambat bangun karena tidak tidur semalam
mengerjakan tugas,” tebaknya.
“Tahu darimana? Ini semua kan gara-gara Kakak, yang pergi kencan sangat
lama dan membuat aku menunggu di asrama untung saja ada Kyle yang menemani.”
Cerocosku.
“Jadi kau sudah bertemu dengan Kyle? Maafkan aku, kau tidak toleran
sekali pada Kakakmu ini.”
“Ah, sudahlah terserah Kakak saja. Aku mau masuk ke kelas dulu.” Aku
pun pergi meninggalkan Kakakku itu.
Hari ini benar-benar membuatku sangat lelah sekali. Terlebih lagi
karena aku kurang tidur semalam. Dengan lesu aku pun menelepon Ed, memintanya
untuk menjemputku.
“Boo, jemput aku ya, aku malas naik taxi.”
“Maaf Bee, aku tidak bisa menjemputmu hari ini. Aku sedang ada
keperluan, maaf ya,”
“Ya sudah tidak apa-apa. Bye,” aku menutup telepon dengan perasaan
yang sedikit kecewa.
Ed biasanya tidak pernah seperti ini, biasanya kalau tidak bisa
menjemput pasti dia menjelaskan secara rinci apa alasannya. Tapi barusan ia
hanya bilang ‘ada urusan’. Terserahlah, aku sedang malas memikirkan Ed, lebih
baik aku menelepon Kak Tom dan memintanya untuk mengantarku pulang. Tapi, dia
malah menyuruhku untuk menunggunya di asrama.
Dengan langkah gontai aku menuju ke tempat kakakku. Ketika hampir
sampai aku melihat seorang wanita keluar dari kamar kakakku dan diikuti oleh
Kyle. Berbagai pertanyaan bermunculan di dalam otakku. Ah, tapi itu bukan
urusanku, sekalipun cewek tadi itu adalah pacar Kyle. Aku duduk di kursi
panjang yang berada tepat di depan pintu kamar. Yah, aku menunggu Kyle datang
karena akan sangat tidak sopan kalau aku masuk begitu saja.
“Sudah 10 menit, tapi Kyle belum juga kembali. Hah, mana Kak Tom
malah pergi dengan pacarnya lagi. Ya sudahlah, aku lebih baik pulang saja,”
keluhku dalam hati sambil melirik arloji yang terpasang di tangan kiriku.
Ketika aku beranjak berdiri tiba-tiba Kyle memanggilku.
“Izzie…” panggilnya sambil berlari ke arahku. “Maaf, kau pasti sudah
lama menungguku.”
Hah??? Aku menunggu Kyle? Yang benar saja.
“Ah, tidak tadinya aku ke sini Cuma mau menumpang istirahat
sebentar, karena Kak Tom bilang dia akan mengantarku pulang. Makanya aku
kesini.”
“Aku pikir kau datang untuk belajar main gitar.”
“Baiklah, daripada aku kesal menunggu Kak Tom datang lebih baik kau
mengajariku bermain gitar saja.”
“Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam,” ucapnya sambil tersenyum
memamerkan kedua lesung pipitnya.
Kami berdua masuk ke dalam. Aku langsung menghempaskan tubuhku di
sofa dan melempar tasku begitu saja.
“Kau terlihat sangat lelah sekali Izzie. Apa kau tidur nyenyak
semalam?”
“Bagaimana aku bisa tidur dengan nyenyak kalau tugas-tugasku belum
aku kerjakan.”
“Hari ini kau ada tugas lagi tidak?“
“Ada, sih, tapi Cuma satu mata kuliah saja,”
“Bagaimana kalau kau kerjakan dulu tugasmu itu baru aku akan
mengajarimu bermain gitar setelah kau selesai.”
“Hah, yang benar saja? Tak bisakah aku beristirahat dulu sebentar
saja.”
“Ayolah Izzie, jangan malas seperti itu. Aku akan membantumu, agar
tugas itu cepat selesai,”
Dengan setengah hati aku menuruti perkataan Kyle. Dan benar saja, ia
membantuku menyelesaikan tugas kuliahku dan kami selesai dalam waktu lima belas
menit.
“Kyle, thanks ya sudah mau membantuku,”
“Bukan bantuan yang berarti, kok. Sudah siap buat belajar bermain
gitar?”
“Yup, I’m ready.” Jawabku
bersemangat.
Kyle mengambil gitar kesayangannya lalu memberikannya padaku. Aku
benar-benar bingung, bagaimana cara memegang gitar yang benar.
“Kyle, ini pegangnya gimana, ya?” jawabku polos.
“Hah, jadi kau tidak tahu bagaimana memegang gitar?” tanyanya dengan
ekspresi yang lucu.
Dan aku hanya membalasanya dengan menggeleng kepala.
“Ya ampun Izzie, kau ini benar-benar lucu sekali.” Ucapnya sambil
menahan tawa.
Aku hanya mengerucutkan bibirku mendengar perkataan Kyle.
“Maaf, ya sudah aku ajarkan sini,” Kyle mulai mengajariku cara
memegang gitar yang benar itu seperti apa. Karena selalu salah akhirnya Kyle
memegangi tanganku, jadi posisinya Kyle memelukku dari belakang sambil
memegangi tanganku agar benar memegang gitarnya.
“Nah, seharusnya seperti ini memegang gitarnya,” ucapnya sambil
terus memegangi tanganku.
“Ahh, iya, iya… Lalu setelah ini apalagi?”
“Belajar kunci dasarnya dulu, kalau kau sudah hafal dan bisa baru
kita belajar dengan lagu ang mudah,”
Masih dengan posisi yang sama Kyle mengajarkanku kunci-kunci
dasarnya. Enatah sudah berapa lama kami belajar. Karena waktu kami memutuskan
untuk beristirahat langit di luar mulai berwarna jingga.
“Izzie, kau pasti lapar, aku tinggal sebentar untuk membeli makanan
tidak apa-apa, kan?”
“Hmmm, aku tidak apa-apa, kok.”
“Aku pergi, kau hati-hati, ya.”
“Iya, aku akan berhati-hati. Kau juga, ya,”
Kyle pun pergi keluar untuk membeli makanan untuk kami berdua. Benar-benar
aneh, aku dan Kyle baru kenal beberapa hari tapi rasanya kami sudah kenal lama
sekali. Ya, meskipun Kyle orangnya agak susah di tebak tapi dia cowok yang
baik. Dan aku merasa nyaman berada di dekatnya. Aku jadi berpikir tentang cewek
yang tadi bersamanya? Apa dia itu pacarnya, tapi kalaupun benar itu pacarnya
Kyle itu benar-benar tidak ada hubungannya denganku sama sekali.
“Kyle kok lama, ya. Katanya Cuma pergi sebentar. Hoaaammmm,” aku
menguap karena sangat mengantuk sekali. Tanpa sadar aku pun tertidur di sofa.
***
Ketika aku kembali ke asrama aku
melihat Izzie sedang tertidur di sofa. Wajahnya terlihat sangat kelelahan. Aku
jadi tidak tega untuk membangunkannya. Lalu aku pergi mengambil sebuah selimut
dan memakaikannya pada Izzie. Aku menatap lekat wajahnya dan dengan perlahan
membelai pipinya. Ya, Izzie memang sangat cantik dan begitu polos, aku benar-benar
gemas melihatnya tertidur seperti ini. Dan tanpa sadar aku mengecup bibirnya.
Izzie, kaulah satu-satunya gadis
yang benar-benar membuatku gila. Kau membuatku bertekuk lutut. Meskipun aku
tahu saat ini aku tidak bisa memilikimu. Tapi, aku sangat yakin bahwa suatu
hari nanti aku bisa memilikimu seutuhnya. Jadi akan milikku seorang.
***
Perlahan aku membuka mataku. Aku
benar-benar kaget melihat keadaan disekelilingku, karena ternyata aku masih
berada di asrama kakakku. Selimut? Siapa yang memakaikan selimut ini padaku?
Sayup-sayup aku mendengar suara gitar yang sedang dimainkan dari beranda kamar
asrama. Pasti Kyle ada di sana, dengan keadaan kepala yang masih agak pusing
aku pun bangun dan langsung menuju ke beranda. Benar saja, Kyle ada ada di situ
dengan bermain gitar sambil bernyanyi.
“Kyle…” panggilkku dengar suara yang agak parau.
“Hey, kau sudah bangun rupanya,” ia menghentikan permainan gitarnya
dan menghampiriku.
“Sudah malam rupanya, Kak Tom masih belum pulang, ya?”
“Dia daritadi belum pulang,”
“Kemana lagi sih dia? Kerjaannya pacaran terus,” keluhku sambil
membalikan badan dan masuk ke dalam. Tentu saja Kyle mengikutiku.
“Izzie, bagaimana kalau kita makan dulu. Habis itu biar aku saja
yang mengantarmu pulang. Bagaimana?”
“Boleh, aku sudah sangat-sangat lapar sekali,”
Kyle memasukan makan cepat saji yang di belinya tadi sore. Dan
setelah beberapa menit di panaskan, Kyle mengeluarkannya dari microwave dan memberikannya pada Izzie.
Mereka berdua makan dengan lahapnya. Dan setelah selesai Kyle mengajak Izzie
pergi. Tadinya Izzie mengira bahwa Kyle akan mengantarkannya pulang, tapi
perkiraannya itu salah. Lagi-lagi Kyle mengajaknya pergi ke pantai.
“Kyle, kenapa kita malah ke sini malam-malam?”
Kyle hanya terdiam lalu duduk di kursi yang kami duduki beberapa
hari yang lalu. Aku paling tidak suka
jika didiamkan seperti ini. Dan akhirnya aku bertanya hal yang seharusnya tidak
ku tanyakan.
“Kau kenapa, sih? Memikirkan pacarmu yang tadi siang keluar kamar
sambil berlari-lari?”
Mendengar ucapanku Kyle langsung memandangku dengan tatapan yang
menyeramkan. Stupid Izzie…!!!!
“Jadi kau melihatnya? Lalu apalagi yang kau tahu, Izzie?” ucapnya
dengan suara yang meninggi dan panik.
“Tidak ada, aku tidak sengaja melihatnya dan aku juga tidak
mendengar apapun. Lalu apa salahku dan kenapa kau jadi membentakku?”
“DIAM IZZIE…”
Aku langsung terdiam mendengar Kyle berteriak padaku. Well, great bagaimana bisa aku bersama
dengan orang aneh seperti ini? Kenapa orang aneh seperti dia harus masuk ke
dalam kehidupanku?
“I’m go…” ucapku sambil beranjak pergi meninggalkan
Kyle.
“Izzie, tunggu…”
Kyle mengejarku dan dia langsung memelukku dengan erat ketika ia
berhasil mengejarku.
“Izzie, aku minta maaf. Aku benar-benar tidak bermaksud untuk
membentakmu.” Ucapnya sambil membelai rambutku.
Aku hanya bisa terisak dalam
pelukannya.
“Izzie, kau menangis? Ku mohon jangan menangis Izzie, maafkan aku. Aku
benar-benar bodoh, satu-satunya wanita yang paling tidak ingin ku liha menangis
adalah kau Izzie.”
Aku melepaskan pelukannya dan menatapnya dengan nanar, meminta
penjelasan dari perkataannya barusan. Menciumku seenaknya, lalu mengacuhkanku
begitu saja. Seperti boneka yang tidak mempunyai perasaan. Dia pikir siapa
dirinya? Bisa seenaknya memperlakukan aku seperti itu.
Aku berharap tidak pernah bertemu
dan mengenal orang aneh seperti dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar