Chapter
19
“Ini,
kopi kaleng dingin. Sepertinya kau membutuhkannya, agar matamu yang indah itu
bisa tetap terjaga sampai kita masuk ke dalam pesawat nanti.” Ucapnya sambil
menyodorkan kaleng yang sudah di bukanya itu.
“Terima
kasih,” ucapku sambil mengambil kaleng tersebut dan meminumnya.
“Pelan-pelan,
sayang, nanti kau tersedak.”
Aku
akan benar-benar tersedak jika ka uterus menatapku seperti itu, Kyle. Meskipun
saat ini Kyle sudah resmi menjadi suamiku. Tapi aku masih saja merasa tidak
tahan dengan tatapan matanya itu. Dan selalu membuatku menjadi salah tingkah.
Akhirnya
kamipun masuk ke dalam pesawat. Dan aku langsung berdecak kagum melihat isi
dari pesawat pribadi milik suamiku tercinta ini. Benar-benar interior yang
mewah, suasana di dalam pesawat benar-benar seperti berada di sebuah apartemen.
Karena di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur, ada bar kecil.
Ketika
melihat ruang tidur, pikiranku langsung menerawang jauh. Jangan-jangan Kyle
akan mengajaku bercinta di dalam pesawat malam ini. Baru saja aku mengatakan
hal itu. Tiba-tiba saja Kyle menarikku kedalam pelukannya.
Ia
mengangkat daguku lalu menciumnya. Lidahnya dengan lincah menerobos masuk
kedalam mulutku. Aku pun membalas ciumannya yang panas itu bahkan aku merasa
bahwa ciumanku lebih panas daripada ciuman suamiku.
Ia
mendorongku perlahan ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhku dengan
perlahan-lahan. Ia melepaskan ciumannya sesaat lalu kembali mencium bibirku.
Perasaan
dan akan keinginan akan kebutuhan benar-benar mendesak dan membuatku tak
berdaya. Sempat terselip pemikiran kalau ia terus-terusan mengajakku bercinta
apakah aka nada kemungkinan aku akan hamil?
Itu
agak membuatku sedikit cemas, bukannya tidak mau memikliki anak. Justru
mempunyai anak dari Kyle adalah salah satu impianku. Hanya saja mengingat
kuliahku yang belum selesai. Aku benar-benar ingin menyelesaikan kuliahku dulu,
sebelum memiliki anak.
“Sayang,
tubuhmu benar-benar membuatku selalu menginginkannya setiap waktu. Bercinta
denganmu tak cukup sekali.” Ia berkata dengan nafas yang terengah-engah.
“Tapi
jangan sampai membuatku hamil.” Balasku dengan nafas yang terengah juga.
Kyle
mengerutkan dahinya mendengar jawabanku, “Mengapa? Bukankah itu bagus jika kau
mengandung anakku?”
“Aku
ingin menyelesaikan kuliahku. Aku ingin lulus tahun ini, dan itu hanya tinggal
beberapa bulan lagi, Kyle. bisakan kalau kita menunda dulu untuk memiliki
anak?”
Ia
cemberut mendengar perkataanku, “Kau tidak mau mengandung anakku? Apa karena
kau masih marah dan kesal padaku?”
“Tidak…
Tidak, tidak seperti itu maksudku. Aku sangat ingin sekali mengandung anakmu,
tapi setelah aku menyelesaikan kuliahku.”
“Tapi
itu lama, sayang. Kau tahu aku sangat ingin sekali memiliki seorang anak
darimu. Buah cinta kita.”
“Tidak
lama, Kyle, aku hanya memintamu untuk menungguu beberapa bulan saja, hanya 3
bulan.”
“Tapi
untukku itu terasa lama sayang. Bagaimana kalau kita memulai program untuk
mempunya keturunan setelah kau menyelesaikan tugas skripsimu?”
“Kyle…”
“Kau
jangan menolaknya, sayang.”
Oh,
ya ampun dia masih saja sulit untuk di mengerti. Sifatnya masih sama seperti saat
kami bertemu untuk pertama kalinya. Sangat susah di tebak.
Tiba-tiba
saja keinginanku untuk bercinta dengannya jadi padam. Karena sekarang kami
hanya berdebat di atas tempat tidur.
***
Aku
merasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku dengan lembut. Kyle membangunkanku
dengan suara yang sangat lembut sekali.
“Sayang,
ayo bangun. Tak lama lagi kita akan segera mendarat di Venice.”
Dengan
malas aku pun membuka mata dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.
“Apakah
kita sudah hampir sampai?” tanyaku dengan suara yang masih mengantuk.
“Sebenarnya
sih, masih satu jam lagi kita sampai di sana.”
“Lalu,
mengapa kau membangunkanku?”
“Karena
aku belum bercinta denganmu,” ucapnya sambil berbisik di telingaku.
Bisa
di tebak apa yang terjadi selanjutnya. Akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya
bercinta di dalam pesawat yang sedang terbang di udara. Dan bisa aku bilang,
sangat sangat sangat hebat sekali. Dan memacu adrenalin juga tentunya.
Ketika
pramugari memberitahu lewat speaker bahwa kami akan segera mendarat. Aku dan
Kyle sudah kembali duduk di kursi penumpang menggunakan sabuk pengaman kami.
Dan tentunya kami sudah mandi.
Akhirnya
kami mendarat dengan selamat di kota Venice. Ketika keluar dari bandara sudah
ada sebuah mobil yang menunggu kami. Dari situ kami langsung menuju ke hotel.
***
Waktu
satu minggu benar-benar terasa sangat cepat sekali. Hari ini aku sudah berada
kembali di New York. Dan memulai kembali aktifitasku sebagai seorang mahasiswa
dan sebagai seorang istri tentunya.
Dan
sepertinya aku menyukai peran baruku sebagai seorang istri. Bangun di pagi hari
membangunkan suamiku untuk bekerja, lalu menyiapkan pakaiannya untuk ke kantor
dan memasak untuk sarapan.
“Kau
tahu, sayang, bahwa Tuhan telah mendengar do’aku. Menikahimu adalah do’aku
selama ini, sayang.”
“Aku
pun berdo’a seperti itu, meskipun aku tidak pernah menyangaka akan secepat ini.
Habiskan sarapannya.”
“Tentu
saja istriku tersayang. Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama? Aku
akan menjemputmu di kampus.”
“Tidak
usah, biar aku saja yang datang ke kantormu. Bukankah kau akan ada pertemuan
penting hari ini. Dan aku tidak mau menunggumu datang menjemputku.”
“Baiklah
kalau begitu.”
Selesai
sarapan kami langsung pergi. Kyle mengantarkanku ke kampus barulah ia pergi ke
kantornya. Setelah Kyle pergi aku berjalan menuju kampus. Sampai tiba-tiba ada
seseorang yang menghadang langkahku.
“Edward…?”
ucapku pelan.
“Ya,
ini aku, Edward. Mantan kekasihmu, Izzie.”
“Mau
apa kau ada di sini?”
“Aku
ingin melihat keadaanmu Izzie, dan ternyata kau terlihat sangat baik dan
bahagia sekali. Kau juga terlihat sangat cantik sekali.” Ucapnya sambil
berjalan mendekatiku.
“Jangan
coba-coba mendekat, Ed. Cepat katakana padaku apa maksudmu?”
“Tenanglah
Izzie sayang, jangan bersikap galak padaku.” ucapanya sambil tertawa kecil.
“Jadi, sekarang kau berpacaran dengan lelaki itu, Izzie?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar