Senin, 22 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 19


Chapter 19

            “Ini, kopi kaleng dingin. Sepertinya kau membutuhkannya, agar matamu yang indah itu bisa tetap terjaga sampai kita masuk ke dalam pesawat nanti.” Ucapnya sambil menyodorkan kaleng yang sudah di bukanya itu.

            “Terima kasih,” ucapku sambil mengambil kaleng tersebut dan meminumnya.
            “Pelan-pelan, sayang, nanti kau tersedak.”

            Aku akan benar-benar tersedak jika ka uterus menatapku seperti itu, Kyle. Meskipun saat ini Kyle sudah resmi menjadi suamiku. Tapi aku masih saja merasa tidak tahan dengan tatapan matanya itu. Dan selalu membuatku menjadi salah tingkah.

            Akhirnya kamipun masuk ke dalam pesawat. Dan aku langsung berdecak kagum melihat isi dari pesawat pribadi milik suamiku tercinta ini. Benar-benar interior yang mewah, suasana di dalam pesawat benar-benar seperti berada di sebuah apartemen. Karena di dalamnya terdapat sebuah tempat tidur, ada bar kecil.

            Ketika melihat ruang tidur, pikiranku langsung menerawang jauh. Jangan-jangan Kyle akan mengajaku bercinta di dalam pesawat malam ini. Baru saja aku mengatakan hal itu. Tiba-tiba saja Kyle menarikku kedalam pelukannya.

            Ia mengangkat daguku lalu menciumnya. Lidahnya dengan lincah menerobos masuk kedalam mulutku. Aku pun membalas ciumannya yang panas itu bahkan aku merasa bahwa ciumanku lebih panas daripada ciuman suamiku.                                                                                 

            Ia mendorongku perlahan ke tempat tidur dan menjatuhkan tubuhku dengan perlahan-lahan. Ia melepaskan ciumannya sesaat lalu kembali mencium bibirku.

            Perasaan dan akan keinginan akan kebutuhan benar-benar mendesak dan membuatku tak berdaya. Sempat terselip pemikiran kalau ia terus-terusan mengajakku bercinta apakah aka nada kemungkinan aku akan hamil?

            Itu agak membuatku sedikit cemas, bukannya tidak mau memikliki anak. Justru mempunyai anak dari Kyle adalah salah satu impianku. Hanya saja mengingat kuliahku yang belum selesai. Aku benar-benar ingin menyelesaikan kuliahku dulu, sebelum memiliki anak.

            “Sayang, tubuhmu benar-benar membuatku selalu menginginkannya setiap waktu. Bercinta denganmu tak cukup sekali.” Ia berkata dengan nafas yang terengah-engah.
            “Tapi jangan sampai membuatku hamil.” Balasku dengan nafas yang terengah juga.
            Kyle mengerutkan dahinya mendengar jawabanku, “Mengapa? Bukankah itu bagus jika kau mengandung anakku?”
            “Aku ingin menyelesaikan kuliahku. Aku ingin lulus tahun ini, dan itu hanya tinggal beberapa bulan lagi, Kyle. bisakan kalau kita menunda dulu untuk memiliki anak?”
            Ia cemberut mendengar perkataanku, “Kau tidak mau mengandung anakku? Apa karena kau masih marah dan kesal padaku?”
            “Tidak… Tidak, tidak seperti itu maksudku. Aku sangat ingin sekali mengandung anakmu, tapi setelah aku menyelesaikan kuliahku.”
            “Tapi itu lama, sayang. Kau tahu aku sangat ingin sekali memiliki seorang anak darimu. Buah cinta kita.”
            “Tidak lama, Kyle, aku hanya memintamu untuk menungguu beberapa bulan saja, hanya 3 bulan.”
            “Tapi untukku itu terasa lama sayang. Bagaimana kalau kita memulai program untuk mempunya keturunan setelah kau menyelesaikan tugas skripsimu?”
            “Kyle…”
            “Kau jangan menolaknya, sayang.”

            Oh, ya ampun dia masih saja sulit untuk di mengerti. Sifatnya masih sama seperti saat kami bertemu untuk pertama kalinya. Sangat susah di tebak.

            Tiba-tiba saja keinginanku untuk bercinta dengannya jadi padam. Karena sekarang kami hanya berdebat di atas tempat tidur.

***
             
            Aku merasakan seseorang menepuk-nepuk pipiku dengan lembut. Kyle membangunkanku dengan suara yang sangat lembut sekali.

            “Sayang, ayo bangun. Tak lama lagi kita akan segera mendarat di Venice.”

            Dengan malas aku pun membuka mata dan berusaha untuk bangun dari tempat tidur.

            “Apakah kita sudah hampir sampai?” tanyaku dengan suara yang masih mengantuk.
            “Sebenarnya sih, masih satu jam lagi kita sampai di sana.”
            “Lalu, mengapa kau membangunkanku?”
            “Karena aku belum bercinta denganmu,” ucapnya sambil berbisik di telingaku.

            Bisa di tebak apa yang terjadi selanjutnya. Akhirnya aku merasakan bagaimana rasanya bercinta di dalam pesawat yang sedang terbang di udara. Dan bisa aku bilang, sangat sangat sangat hebat sekali. Dan memacu adrenalin juga tentunya.

            Ketika pramugari memberitahu lewat speaker bahwa kami akan segera mendarat. Aku dan Kyle sudah kembali duduk di kursi penumpang menggunakan sabuk pengaman kami. Dan tentunya kami sudah mandi.

            Akhirnya kami mendarat dengan selamat di kota Venice. Ketika keluar dari bandara sudah ada sebuah mobil yang menunggu kami. Dari situ kami langsung menuju ke hotel.

***
            Waktu satu minggu benar-benar terasa sangat cepat sekali. Hari ini aku sudah berada kembali di New York. Dan memulai kembali aktifitasku sebagai seorang mahasiswa dan sebagai seorang istri tentunya.

            Dan sepertinya aku menyukai peran baruku sebagai seorang istri. Bangun di pagi hari membangunkan suamiku untuk bekerja, lalu menyiapkan pakaiannya untuk ke kantor dan memasak untuk sarapan.

            “Kau tahu, sayang, bahwa Tuhan telah mendengar do’aku. Menikahimu adalah do’aku selama ini, sayang.”
            “Aku pun berdo’a seperti itu, meskipun aku tidak pernah menyangaka akan secepat ini. Habiskan sarapannya.”
            “Tentu saja istriku tersayang. Bagaimana kalau nanti kita makan siang bersama? Aku akan menjemputmu di kampus.”
            “Tidak usah, biar aku saja yang datang ke kantormu. Bukankah kau akan ada pertemuan penting hari ini. Dan aku tidak mau menunggumu datang menjemputku.”
            “Baiklah kalau begitu.”

            Selesai sarapan kami langsung pergi. Kyle mengantarkanku ke kampus barulah ia pergi ke kantornya. Setelah Kyle pergi aku berjalan menuju kampus. Sampai tiba-tiba ada seseorang yang menghadang langkahku.

            “Edward…?” ucapku pelan.
            “Ya, ini aku, Edward. Mantan kekasihmu, Izzie.”
            “Mau apa kau ada di sini?”
            “Aku ingin melihat keadaanmu Izzie, dan ternyata kau terlihat sangat baik dan bahagia sekali. Kau juga terlihat sangat cantik sekali.” Ucapnya sambil berjalan mendekatiku.
            “Jangan coba-coba mendekat, Ed. Cepat katakana padaku apa maksudmu?”
            “Tenanglah Izzie sayang, jangan bersikap galak padaku.” ucapanya sambil tertawa kecil. “Jadi, sekarang kau berpacaran dengan lelaki itu, Izzie?”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar