Chapter 2
Aku terlena dengan
nyanyian Kyle, sampai-sampai aku tidak sadar kalau ternyata ia sudah selesai
bernyanyi.
“Izzie... Izzie, kau nggak
apa-apa, kan?“
Aku pun langsung tersadar
dari keterpukauanku, “Eh, iya. Lho sudah ya nyanyinya?“
“Sudah selesai dari tadi,
kau sih malah bengong.“
“Maaf, habis lagumu bagus,
sih. Eh, kok Kak Tom lama sekali, ya. Dia pergi kemana?“
“Biasa, lagi pergi sama
Amanda.“ jawabnya enteng.
“Apa? Kenapa tidak bilang
dari tadi, Kak Tom pasti lama kalau pergi dengan pacarnya. Dan aku jadi percuma
jauh-jauh datang kesini, di hari Minggu pula.“
“Jadi secara tidak
langsung kau menganggap pertemuan denganku hari ini percuma?“
“Bukan... bukan seperti
itu. Aku senang bisa bertemu denganmu. Hanya saja semua tugas-tugas kuliahku
yang menumpuk itu jadi terbengkalai.“
“Ya sudah kalau begitu,
aku antar kau pulang sekarang.“
“Tapi... belajar gitarnya
bagaimana?“
“Masih banyak waktu untuk
belajar bermain gitar.“
Kyle memakai jaket kulit
berwarna hitam miliknya. Lalu menarik tanganku keluar dari kamar. Di sepanjang
perjalanan menuju tempat parkir Kyle terus saja menggenggam tanganku.
Ya Tuhan, apa kata-kataku
menyinggung perasaannya? Sikapnya saat ini benar-benar berbeda. Tuhan, aku
nggak mau punya pacar seperti Kyle. Dia seperti punya dua kepribadian, pokoknya
jangan sampai.
Kamipun akhirnya sampai di
pelataran parkir motor di kampus. Keadaan di situ cukup lengang dan sepi.
Wajarlah weekend seperti ini pasti banyak mahasiswa dan mahasiswi yang pergi.
Kyle mengajakku mendekati sebuah motor sport berwarna hitam metalik yang
terpakir di salah satu bagian pelataran parkir di situ.
“Izzie, ayo cepat naik dan
pakai dulu helmnya.“ ucapnya sambil menyodorkan sebuah helm padaku.
Aku pun langsung memakai
helmnya dan langsung duduk manis di atas motor.
“Pegangan yang kuat, ya,“
perintahnya.
Aku pun memegang pinggang
Kyle. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat lama sekali. Dan aku sadar Kyle
tidak menuju ke rumahku. Melainkan ke arah yang berlawanan dan menuju sebuah
tempat. Pantai... Itulah kata yang terucap olehku ketika kami melewati jalan
yang di sebelah kirinya di suguhi oleh pemandangan laut biru yang sangat indah.
Benar saja dugaanku, Kyle menghentikan motornya, lalu mengajaku duduk di sebuah
kursi yang langsung menghadap ke laut.
“Hei, ayo duduk. Jang
berdiri saja.“
“Kenapa kita kesini?“
tanyaku masih dalam posisi berdiri.
“Duduk dlu, please Izzie.“
Aku pun akhirnya duduk di
samping Kyle dengan bingung, “Kyle, kenapa kau malah mengajakku ke pantai?“
tanyaku lagi.
Tapi Kyle tidak menjawab
pertanyaanku. Matanya menerawang jauh sambil menatap lurus ke laut. Aku
akhirnya melakukan hal yang sama dengannya. Lautan biru yang amat luat
terbentang luas di depan kami. Ombak-ombak saling berkejaran dan menghasilkan
suara yang menderu-deru dan bergemuruh. Hmmm, pemandangan yang indah dan cukup
bisa membuat pikiran jadi tenang.
***
Entah sudah berapa lama
kami berada di sana. Karena pemandangan laut yang ada di depan kami sudah
berubah. Laut yang berwarna biru kini menjadi berwarna orange. Sunset.. Baru
kali ini aku melihatnya secara langsung. Dan sangat indah sekali dan aku
berdecak kagum melihatnya. Aku baru tersadar ketika merasakan sesuatu membalut
tubuhku.
“Pakailah, aku tidak ingin
kau sampai.masuk angin.“
“Makasih.“
Ternyata Kyle memakaikan
jaketnya padaku. Tuh, kan benar. Kyle memang aneh dan punya kepribadian ganda.
Sikapnya sekarang benar-benar lembut sekali. Sayang itu tidak mengubah
pemikiranku, bahwa dia itu cowok aneh.
“Maaf Izzie, aku memaksa
kau untuk menemaniku disini.“
“Nggak apa-apa kok.
Kebetulan aku cukup suka dengan laut,“
“Eh, sudah semakin malam
udaranya juga mulai dingin. Ayo kita pulang.“
Kyle beranjak pergi dan
aku mengikutinya dari belakang sambil menggerutu dalam hati. Setelah perjalanan
yang cukup panjang akhirnya aku sampai di rumah. Kyle langsung pamit pulang
begitu aku turun dari motor dan mengembalikan helm yan ku pakai tadi. Aku hanya
bisa geleng-geleng kepala mengingat kelakuan Kyle.
Memasuki halaman rumah aku
melihat sebuah mobil porche berwarna merah terpakir di halaman. Aku langsung
berlari menuju ke rumah dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.
Aku langsung membuka pintu
tanpa mengucapkan salam. Ternyata benar dia yang datang. Aku langsung
menghambur memeluk si pemilik porche merah itu.
“Boo...!“ aku berseru
sambil langsung memeluknya, lupa kalau di situ ada Mom dan Dad.
“Bee, lepasin malu. Ada
Mom sama Dad mu tuh.“
Aku pun langsung
melepaskan pelukanku. Pipiku merah, sedangkan Mom hanya tersenyum sambil
geleng-geleng kepala.
“Ya sudah, kami tinggal
dulu ya Ed, sepertinya ada yang sudah kangen berat tuh.“ sindir Mom.
“Apaan sih Mom...“ aku
berkata sambil mengerucutkan bibirku.
Mom dan Dad pergi dan
meminggalkan kami berdua di ruang tamu.
“Kenapa nggak bilang kalau
kau mau pulang ke New York?“
“Aku kan mau memberimu
kejutan. Aku betul-betul kangen kau Izzie.“
Ed membelai pipiku lembut.
Wajahnya semakin lama semakin mendekat. Dan ia mencium bibirku. Bibir kami
saling berpagutan cukup lama. Sudah cukup lama aku tidak merasakan kehangatan
dari ciuman Edward.
Edward adalah pacarku.
Kami sudah dua tahun berpacaran, tapi saat ini kami sedang menjalani hubungan
jarak jauh. Karena Ed melanjutkan kuliahnya di Trinity University di Irlandia
sana. Sudah hampir satu tahun kami tidak bertemu.
“Darimana tadi?“
“Asrama Kak Tom, biasa
minta di bantuin buat tugas. Hehehe.“
Maaf Ed, aku bohong sama
kamu. Mana mungkin aku bilang kalau dari tadi siang sampai malam aku berduan
sma Kyle. Yang ada kamu bakalan salah pahan Ed. Sekali lagi maaf karena aku
bohong sma kamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar