Rabu, 17 Oktober 2012

Take Me Home Chapter 2


Chapter 2

Aku terlena dengan nyanyian Kyle, sampai-sampai aku tidak sadar kalau ternyata ia sudah selesai bernyanyi.

“Izzie... Izzie, kau nggak apa-apa, kan?“

Aku pun langsung tersadar dari keterpukauanku, “Eh, iya. Lho sudah ya nyanyinya?“

“Sudah selesai dari tadi, kau sih malah bengong.“
“Maaf, habis lagumu bagus, sih. Eh, kok Kak Tom lama sekali, ya. Dia pergi kemana?“
“Biasa, lagi pergi sama Amanda.“ jawabnya enteng.
“Apa? Kenapa tidak bilang dari tadi, Kak Tom pasti lama kalau pergi dengan pacarnya. Dan aku jadi percuma jauh-jauh datang kesini, di hari Minggu pula.“
“Jadi secara tidak langsung kau menganggap pertemuan denganku hari ini percuma?“
“Bukan... bukan seperti itu. Aku senang bisa bertemu denganmu. Hanya saja semua tugas-tugas kuliahku yang menumpuk itu jadi terbengkalai.“
“Ya sudah kalau begitu, aku antar kau pulang sekarang.“
“Tapi... belajar gitarnya bagaimana?“
“Masih banyak waktu untuk belajar bermain gitar.“

Kyle memakai jaket kulit berwarna hitam miliknya. Lalu menarik tanganku keluar dari kamar. Di sepanjang perjalanan menuju tempat parkir Kyle terus saja menggenggam tanganku.

Ya Tuhan, apa kata-kataku menyinggung perasaannya? Sikapnya saat ini benar-benar berbeda. Tuhan, aku nggak mau punya pacar seperti Kyle. Dia seperti punya dua kepribadian, pokoknya jangan sampai.

Kamipun akhirnya sampai di pelataran parkir motor di kampus. Keadaan di situ cukup lengang dan sepi. Wajarlah weekend seperti ini pasti banyak mahasiswa dan mahasiswi yang pergi. Kyle mengajakku mendekati sebuah motor sport berwarna hitam metalik yang terpakir di salah satu bagian pelataran parkir di situ.

“Izzie, ayo cepat naik dan pakai dulu helmnya.“ ucapnya sambil menyodorkan sebuah helm padaku.

Aku pun langsung memakai helmnya dan langsung duduk manis di atas motor.

“Pegangan yang kuat, ya,“ perintahnya.

Aku pun memegang pinggang Kyle. Perjalanan pulang kali ini terasa sangat lama sekali. Dan aku sadar Kyle tidak menuju ke rumahku. Melainkan ke arah yang berlawanan dan menuju sebuah tempat. Pantai... Itulah kata yang terucap olehku ketika kami melewati jalan yang di sebelah kirinya di suguhi oleh pemandangan laut biru yang sangat indah. Benar saja dugaanku, Kyle menghentikan motornya, lalu mengajaku duduk di sebuah kursi yang langsung menghadap ke laut.

“Hei, ayo duduk. Jang berdiri saja.“
“Kenapa kita kesini?“ tanyaku masih dalam posisi berdiri.
“Duduk dlu, please Izzie.“

Aku pun akhirnya duduk di samping Kyle dengan bingung, “Kyle, kenapa kau malah mengajakku ke pantai?“ tanyaku lagi.

Tapi Kyle tidak menjawab pertanyaanku. Matanya menerawang jauh sambil menatap lurus ke laut. Aku akhirnya melakukan hal yang sama dengannya. Lautan biru yang amat luat terbentang luas di depan kami. Ombak-ombak saling berkejaran dan menghasilkan suara yang menderu-deru dan bergemuruh. Hmmm, pemandangan yang indah dan cukup bisa membuat pikiran jadi tenang.

***

Entah sudah berapa lama kami berada di sana. Karena pemandangan laut yang ada di depan kami sudah berubah. Laut yang berwarna biru kini menjadi berwarna orange. Sunset.. Baru kali ini aku melihatnya secara langsung. Dan sangat indah sekali dan aku berdecak kagum melihatnya. Aku baru tersadar ketika merasakan sesuatu membalut tubuhku.

“Pakailah, aku tidak ingin kau sampai.masuk angin.“
“Makasih.“

Ternyata Kyle memakaikan jaketnya padaku. Tuh, kan benar. Kyle memang aneh dan punya kepribadian ganda. Sikapnya sekarang benar-benar lembut sekali. Sayang itu tidak mengubah pemikiranku, bahwa dia itu cowok aneh.

“Maaf Izzie, aku memaksa kau untuk menemaniku disini.“
“Nggak apa-apa kok. Kebetulan aku cukup suka dengan laut,“
“Eh, sudah semakin malam udaranya juga mulai dingin. Ayo kita pulang.“

Kyle beranjak pergi dan aku mengikutinya dari belakang sambil menggerutu dalam hati. Setelah perjalanan yang cukup panjang akhirnya aku sampai di rumah. Kyle langsung pamit pulang begitu aku turun dari motor dan mengembalikan helm yan ku pakai tadi. Aku hanya bisa geleng-geleng kepala mengingat kelakuan Kyle.

Memasuki halaman rumah aku melihat sebuah mobil porche berwarna merah terpakir di halaman. Aku langsung berlari menuju ke rumah dengan bibir yang terus menyunggingkan senyuman.
Aku langsung membuka pintu tanpa mengucapkan salam. Ternyata benar dia yang datang. Aku langsung menghambur memeluk si pemilik porche merah itu.

“Boo...!“ aku berseru sambil langsung memeluknya, lupa kalau di situ ada Mom dan Dad.
“Bee, lepasin malu. Ada Mom sama Dad mu tuh.“

Aku pun langsung melepaskan pelukanku. Pipiku merah, sedangkan Mom hanya tersenyum sambil geleng-geleng kepala.

“Ya sudah, kami tinggal dulu ya Ed, sepertinya ada yang sudah kangen berat tuh.“ sindir Mom.
“Apaan sih Mom...“ aku berkata sambil mengerucutkan bibirku.

Mom dan Dad pergi dan meminggalkan kami berdua di ruang tamu.

“Kenapa nggak bilang kalau kau mau pulang ke New York?“
“Aku kan mau memberimu kejutan. Aku betul-betul kangen kau Izzie.“

Ed membelai pipiku lembut. Wajahnya semakin lama semakin mendekat. Dan ia mencium bibirku. Bibir kami saling berpagutan cukup lama. Sudah cukup lama aku tidak merasakan kehangatan dari ciuman Edward.

Edward adalah pacarku. Kami sudah dua tahun berpacaran, tapi saat ini kami sedang menjalani hubungan jarak jauh. Karena Ed melanjutkan kuliahnya di Trinity University di Irlandia sana. Sudah hampir satu tahun kami tidak bertemu.

“Darimana tadi?“
“Asrama Kak Tom, biasa minta di bantuin buat tugas. Hehehe.“

Maaf Ed, aku bohong sama kamu. Mana mungkin aku bilang kalau dari tadi siang sampai malam aku berduan sma Kyle. Yang ada kamu bakalan salah pahan Ed. Sekali lagi maaf karena aku bohong sma kamu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar