Chapter 1
Namaku Lizzie Isabella Williams, panggil saja aku Izzie. Aku
tinggal di kota New York. Yah, menurut banyak orang kota kelahiranku ini adalah
kota impian mereka. Tapi bagiku biasa saja, aku justru sangat ingin merasakan
tinggal di daerah pinggiran kota atau peternakan. Sudah sering aku
membayangkannya. Hamparan rumput hijau yang luas, binatang ternak yang sedang
merumput dan dengan aroma khas peternakan yang tercium. Ah, kapan aku bisa ke
sana?
Karena keluargaku mana
mungkin mau pindah ke daerah peternakan, Mom dan Dad harus mengurusi perusahaan
mereka disini, belum lagi kakak lelakiku yang sedang menyelesaikan semester
akhirnya di Colombia University, aku juga kuliah disitu dan mengambil jurusan
psikologi.
Aku memiliki rambut berwarna hitam legam yang pajang
sepinggang, dan bola mataku berwarna abu-abu. Teman-temanku selalu bilang bahwa
aku ini memiliki wajah yang cantik. Hanya saja aku tidak pernah merasa
demikian. Karena menurutku kecantikan fisik itu tidak terlalu penting. Yang aku
utamakan adalah kecantikan yang berasal dari dalam diri kita.
Bagiku kota New York itu adalah kota sangat ramai, tidak
sesuai dengan diriku yang memang sangat senang menyenderi dan menyenangi
ketentraman.
Hari itu aku pergi menemui kakakku Tom, yang tinggal di asrama
kampus. Aku mengetuk pintu kamarnya tapi ternyata bukan kakak yang buka pintu.
“Hei, kau pasti Izzie, kan?“ tanya lelaki itu.
“I... iya, aku Izzie.“ jawabku sambil gemetaran.
“Ayo masuk, kebetulan Tom sedang pergi keluar sebentar.“ dia
mempersilakan aku masuk.
Dengan sedikit gugup aku pun masuk ke dalam.
“Mau minum apa?“ ia menawarkan.
“Nanti saja, deh. Oh, iya kok kamu tahu namaku, sih?“
“Tom suka cerita tentang kau Izzie,“ jawabnya sambil tersenyum.
Ya Tuhan, senyumannya itu membuat detak jantungku bermasalah,
karena debarannya sangat kencang dan tidak beraturan. Selain itu tubuhku
rasanya memanas seperti terbakar.
“Oh iya, perkenalkan namaku Kyle Patrick. Panggil saja aku Kyle,“
ucapnya sambil menjulurkan tangannya.
Dengan gugup aku pun menjabat tangannya.
“Temanmya Kak Tom?“
“Iya, kami teman satu kamar.“
“Tapi kok aku baru lihat sekarang, ya?“
“Karena aku memang jarang pulang ke asrama.“
Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah. Sorot matanya memancarkan
kesedihan. Hatiku ikut merasa sesih dan tidak enak.
“Kak... Kak Kyle baik-baik saja, kan?“
“Aku tidak apa-apa, kok. Oh iya, panggil aku Kyle saja jangan
kakak. Aku merasa sudah sangat tua jika ada yang memanggilku dengan sebutan
kakak.“
“Oh oke deh, Kak eh Kyle maksudku. Hehehe...“
“Ternyata kau lucu ya, cantik dan imut,“
“Jangan bikin aku geer. Hahaha,“
Aku sudah sangat yakin kalau wajahku sudah sangat merah. Pipiku
terasa panas. Aku pun mengalihkan perhatian Kyle yang terus saja memandangiku
sambil memamerkan kedua lesung pipit yang ada di pipinya itu.
“Eh, ada gitar.“
“Kau bisa main gitar?“
“Nggak, apa kau mau mengajarkannya padaku?“
“Kalau kau mau, aku akan mengajarimu.“
“Hmmm, bisakah kau menyanyikan sebuah lagu untukku?“
“Tentu saja.“
Kyle mulai memainkan jari-jarinya pada senar gitar dan mulai bernyanyi.
“I can see your shadow…
Layin‘ in the moonlight,
I can feel your heart beat playin‘ on my righ side
, every night I long for thing makin‘ up what i miss. I can hear you
breathin‘ lettin‘ out a sad sight. You try so hard to hide your scars always on
your guard. Don‘t don‘t let me go, don‘t make me hold on when you‘re not..
Don‘t don‘t turn away what can I say so you won‘t. No don‘t don‘t let me go...“
Aku terpukau mendengarnya bernyanyi. Seperti mendengarkan isi
hatinya saja. Tuhan, perasaan apa ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar